Sekilas Info
Home | Inspirasi | 70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

70 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia

Wahai para pembenci, wahai para pengkultus. Emang apanya yang penting di tahun ke-70 Indonesia merdeka ? …. Semua Presiden kita itu manusia, mereka berjasa untuk negri ini. Presiden Jokowi baru setahun menjabat, jadi ya begitu. 

Banyak hal terjadi selama 70 Tahun Indonesia Merdeka.  Melalui proses panjang sejak dijajah kumpeni, pergerakan sporadic, pergerakan terstruktur sampai perlawan frontal dengan pengorbanan nyawa dan tekad mulia, tahun 1945 Soekarno-Hatta didorong oleh pemuda2 pejoeang saat itu untuk memproklamirkan kemerdekaannya (membacakan naskah proklamasi Kemerdekaan Repoeblik Indonesia).

Perjalanan negri ini penuh romantika. Pernah dipimpin Presiden yg dendi suka dikelilingi wanita2 dengan gagasan NEFO dan gelora Asia Afrika, dsb. Presiden yang bersikap otoriter namun memiliki senyuman khas dengan Pembangunan Nasional,dsb. Presiden suka melotot dengan kehebatan ipteknya. Presiden fenomenon secara fisik dengan kehebatan nalar dan instuisinya. Presiden politikus wanita yang penuh bergelora. Sampai Presiden yang mahal senyum, cerdas dan menggalakan kampanye anti korupsi (bagian dari KKN).

untitled-12Penuh keindahan, meski tidak selama indah.  Ada dinamika Nefo dan Swadesi, Non-Blok, ASEAN,  OPEC, OKI dan Pembangunan Nasional, hingar-bingar Reformasi dan kampanye anti KKN.

Di negri ini juga ada cerita pengkhianatan untuk menghancurkan NKRI sampai mengganti lambang dan dasar Negara Republik Indonesia, sampai konon ada juga upaya pemberantasan terorisme (meski terkesan bersifat sepihak atau terkesan pesanan pihak asing tertentu) sampai ke perang narkoba (herannya malah lebih gencar perang menghantam rokok produk andalan sendiri), dsb.

Tulisan ini nggak ilmiah.  Jika Anda melihat/merasa ada yang benar, maka itu hanya kebetulan saja.

Monggo !!!

photo JkwEra Baru.  Kini, Allah mentakdirkan ada orang yang menjadi Presiden di era “transisi” menuju ke “sono” –  Indonesia dipimpin oleh Presiden pilihan rakyat yang Terbebas Dari Masa Lalu dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya.

Indonesia, konon, sedang memasuk era dimana banyak pihak memprediksi akan menjadi negri yang amat berpengaruh secara ekonomi global sampai berpengaruh dalam penjabaran Islam yang rakhmantan lil ‘alamin (mudah2an saja tafsirnya sama dengan yang sering saya dengar).

Pendek kata negri yang baldatun thoyibbatun robbun ghofurur rokhim, yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kertarahardja, negri yang penuh limpahan berkah.

Langkahnya apa ?

Memimpin dengan semangat dan kebijaksanaan yang benar2 anti KKN.

Benar2 Pancasilais, mengembang amanah penderitaan dan perjoeangan para pahlawan/syuhada bangsa INDONESIA, bukan bangsa lain.  Menjalankan cita2 luhur sebagai mana terkandung dalam Pemboekaan UUD tahun 1945 (bukan konstitusi negri lain seperti Jerman, Tiongkok, Afrika Selatan, atau negri2 lainyang sering dijadikan benchmark oleh sekelompok orang yang mengaku2 pakar tapi nggak jelas nasionalismenya).

Kami rakyat menanti kebijakan dan hasil2nya, memantaunya.

Jika dirasa benar dan bagus, wajar jika diberikan tabik/salute. Begitu pun jika buruk, melenceng, atau ngawur, ya wajar juga mengingatkan sampai mengkritik habis.

Kenapa ? Karena pak Jokowi sekarang adalah Presiden Republik Indonesia.

Jika pedagang Glodok membuat perkataan emosional dan ngawur,  maka biarin saja, karena dia bukan pejabat. Tapi kalau itu adalalh pejabat negara, apalagi Presiden negri besar, maka wajar jika diingatkan sampai ada dikritik yang bolehjadi dirasakan (terasa sepedas2nya) oleh pejabat penerima kritik itu. Kritik itu ungkapan dari sebagian rakyat yang merasa penderitaannya  jauh lebih pedas akibat kebijakan pejabat negara.

Monggo  !!!

6823414285_362c5c3d44Bebas Korupsi. Dengan latar belakang pengusaha daerah di bidang mebel dan sewa gedung, amat sedikit kemungkinannya pak Jokowi Korupsi.

Dengan bekal ini, maka kita punya Presiden yang (amat diharapkan) memiliki semangat pemberantasan korupsi secara massive dan konsisten. Termasuk sikap yang benar2 dan nyata mendukung fungsi KPK.

Diharapkan, pak Jokowi sadar dan kuat, karena bukan mustahil ada pihak2 ingin “mewarnai” pak Jokowi dan keluarganya dengan tindakan yang berwarna korupsi

Sebaiknya elin lan waspodo, godaan ini bisa berasal dari pihak2 yang dekat secara keluarga, dari politik maupun pertemanan. Semuanya itu berusaha memanfaatkannya untuk kepentingan diri dan golongannya, juga dari pihak2 yang memang ingin menjatuhkannya,  maupun dari pihak asing yang ingin momentum ini lepas dari Indonesia.

Monggo !!!

imagesBebas Nepotisme. Ini adalah Presiden kedua RI yang lahir dari keluarga sederhana dan bukan keturunan tokoh nasional. Yang pertama adalah pak Sby dan yang kedua adalah pak Jokowi. Pak Habibie lahir dari keluarga yang dari dulu sudah hebat soal pendidikan.

Bukan keturunan  dari Soekarno maupun Hatta. Bukan keturunan dari Soeharto maupun Adam Malik, Umar Wirahadi K, Sutrisno, dan wapres2 di jaman pak Harto. Bukan keturunan  Habibie. Bukan  keturunan Gus Dur, bukan keturunan Megawati dan wakilnya di jaman bu Mega, bukan keturunan Soesilo B Y dan wakilnya semasa jaman pak Sby. Bukan pula keturunan tokoh politik ternama lainnya.

Dengan latar belakang yang a la kadarnya dan bukan keturunan siapa2 itu, secara “tradisi” dan pemikiran sebagian elit di negri ini, maka pak Jokowi menjadi bisa dipahami jika tergolong manusia “yang wajib dicurigai”. Apalagi jika membiarkan adanya penyimpangan toleransi dan penyimpangan ideologi negara yang anti Pancasila, wajar sekali jika patut “diwaspadai dan dicurigai”

Dengan latar belakang ini pula,  kita punya Presiden yang (diharapkan) memiliki kemerdekaan untuk mengatakan TIDAK jika ada permintaan sesuatu dengan alasannya karena keturunan dari si itu-itu, termasuk dalam posisi direksi BUMN sampai jajaran kabinet sekali pun.  Tentu caranya adalah cara pak Jokowi yang cool calm itu (sebagian orang melihat pak Jokowi sebagai  lamban dan mbingungi).

Sebagian rakyat yang belum “move on”  berpotensi terbawa pada arus mencurigai dan itu wajar adanya. Sementara pada rakyat yang (merasa) sudah merasa atau kepingin dikatakan sudah “move on” malah mengkultuskannya, dan biasanya amat sangat menbenci habis pemimpin2nya dimasa lalu  atau tokoh2 yang tidak sependapat dengannya.

Mungkin lupa bahwa yang dibencinya, yang dikultuskannya itu manusia juga, bukan setan yang mengangkang, bukan malaikat yang baik sekali, bukan pula manusia setengah dewa atau manusia tiwikrama. Bukankah pula “mereka2″ yang kebenciannya sampai ubun2  ini ya anak orang, bukan sesuatu yang lahir dari batu atau yang keluar dari lubang buaya ?.

Monggo !!!

kolusiBebas Kolusi (Mudah2an).  Secara birokrasi, pak Jokowi relatip tidak memiliki sejarah yang bersifat kolutip. Secara politik juga demikian, meski kita tahu pak Jokowi anggota partai tertentu dan oleh sebagian orang disebut “petugas partai”.

Namun demikian, kita berharap agar pak Jokowi bakal terbebas dari upaya atau jebakan Kolusi. Presiden adalah pejabat negara. Kurang paham cara berpikirnya jika ada yang mendudukan sosok yang sedang menjabat Presiden itu sebagai petugas pompa bensin atau petugas penjaga ATM.

Tidak mustahil, orang2 “yang  merasa berjasa menaikkannya jadi Presiden”  atau kalangan tertentu akan  meminta “balas budi” dengan segala rupa.

Mereka“yang  merasa berjasa menaikkannya jadi Presiden”  ini ada yang berasal dari orang biasa, orang2 LSM, politisi sampai pengusaha.

Kolusi ini biasanya terkait dengan mencari keuntungan diri dan kelompoknya (kedudukan di pemerintahan sampai dapat proyek APBN).

Ada baiknya penunjukan posisi pejabat negara maupun pemenang proyek APBN dilakukan secara transparan, memiliki kriteria yang jelas, obyektip, professional, track record yang jelas2 baik.

Personil pejabat negara dan atau pihak2/perusahaan yang lemah profesionalismenya (dhoif) maupun yang buruk track recordnya (mardud), akan mengganggu proses Indonesia ke depan dan menghilangkan daya dan meomentum dari “revolusi menthal” ini.

Pelibatan KPK dalam penyusunan kabinet sebagaimana di awal waktu kepresidenan pak Jokowi, itu tradisi bagus dan sejalan dengan ini. Sebaiknya dijadikan konsensus atau preseden dari pemimpin negri atau konvensi dari semangat anti KKN, jika memang berniat untuk memberantas KKN.

Monggo !!!

images (1)Dipilih oleh Rakyat. Meski sebagian merasa bahwa pak Jokowi diusung oleh suatu partai, namun sebagian besar rakyat sebenarnya melihat pak Jokowi sebagai sosok “idaman” untuk dijadikan Presiden RI. Sosok yang bisa benar2 memutus rantai KKN ( Korupsi Kolusi dan Nepotisme), idealisme reformasi dalam penjabaran semangat dan nilai yang diwariskan pendiri bangsa, yang belum sepenuhnya direalisasikan oleh Presiden2 sebelumnya.

Indikasinya jelas kok  (1) kemenangannya titips dibanding pak Prabowo yang secara akademik, militer dan internasional memang memiliki popularitas dan reputasi tak ada tanding. Dan …. bagaimana pun pak Prabowo memiliki kesan dekat dengan keluarga pak Harto. (2) ketika terpilih menjadi Presiden,  hal2 terkait dengan Nepotisme, Korupsi dan Kolusi senantiasa menjadi sorotan tajam. Kalau baik dipuji rakyat,  kalau menjurus buruk banyak yg protes.

Karenanya mohon pak Jokowi jangan marah kalau terkait KKN di kritisi sampai di-bully sekalipun. Karena ini wujud tanggung jawab rakyat kepada Presidennya ( sebaliknya diharapkan adalah tanggung jawab Presiden kepada rakyatnya).

Jika ada “yang  merasa berjasa menaikkannya jadi Presiden” marah2 karena pak Jokowi dikritisi atau bahkan di-bully karena boleh jadi dari sudut sebagian rakyat terlihat perilaku/kebijakan pak Jokowi terkesan/ada indikasi menjurus (atau membiarkan) ada KKN. Wajar jika rakyat berharap pak Jokowi sebaiknya konsisten terkait semangat anti KKN, sebagai Presiden Republik Indonesia, di momentum yang (sepertinya) tepat ini.

Monggo !!!

cool n calm Tidak Rekasioner. Secara kepribadian, pak Jokowi sepertinya lebih dominan menampilkan karakter plegmatik-nya, meski karakter melankolik dan sanguin serta koleriknya juga ada.

Perhatikan (mungkin saya keliru lihat). Ketika mereaksi hal-hal yang pada umumnya membuat berang jika dilontarkan kepada tokoh2 nasional dan pemimpin masa lalu, pak Jokowi cuma senyam-senyum. Perhatikan juga kalau terdesak, jawab pak Jokowi “kata siapa ? hehehe …. ah kamu …. ngarang itu” sambil senyum2 , “nanti saya pikirkan  hehehehe ,,,,,” terkadang sambil kedip2 mata, dsb.

Jawaban yang jika ditera dari pengedepanan karakter kolerik dan masih terngiang ketegasan pak Harto, spontanitas pak Habibie,  ceplas-ceplosnya Gus Dur, merajuknya bu Mega dan pak Sby,  akan terpersepsi bahwa pak Jokowi sebagai sosok yang dalam kondisi “tidak well inform”, “ragu2″, dsb. Padahal itu menang reaksi pak Jokowi yang tidak rekasioner..

(entah setelah ini, boleh jadi akan ganti style ya pak ?).

Sikap ini menguntungkan semua pihak, karena semua kritikan, makian sampai bully (jika memiliki dasar kebenaran/faktual), akan memiliki waktu untuk terolah dengan lebih siap direspons dg pas.

Jadi, memiliki manfaat/kebaikan  untuk yang mengkritik dsb,  juga untuk  yang dikritik –  pak Jokowi, Presiden.

(kurang paham pikiran dari pihak2 yang mau menghidupkan pasal “heboh” itu)

Monggo !!!

NU MuhamaddiyahDeket dengan NU dan Muhamadiyah.  Pak Jokowi adalah Presiden ketiga yang memiliki kedekatan dengan kedua lembaga ini tanpa terpengaruh aliran politiknya.

Dua lembaga ini (NU dan Muhammadiyah) lahir dari rakyat pejuang.  Lembaga yang berbasis agama bukan bentukan kumpeni ini bersama2 semua elemen bangsa berjuang memerdekakan RI bahkan mempertahankan NKRI dari pihak2 yang mau makar maupun mau sparatis (separatis berdalih agama, berdalih komunis, berdalih primordial, dsb).

Wajar saja jika pihak luar menaruh perhatian serius kepada kedua lembaga ini. Ada yang serius mendukungnya, serius takutnya, serius mewaspadainya. Keduanya lembaga yang punya “ruh pejoeang kemerdekaan” yang berbasis agama (Islam).

NU yang di motori oleh para kyai, dalam berdakwah dan memerdekakan maupun menjaga NKRI lebih dekat dengan kaum abangan. Sementara Muhammadiyah lebih dekat kepada dunia kaum pedagang dan dunia pendidikan.

Kini, keduanya sudah semakin paham apa yang dilakukan oleh masing2 sehingga perbedaan kiprah (dari kembalinya ke khittah masing2) justru akan menghadirkan sinergy bagi kebaikan NKRI.

Langkah ini, selain ikhtiyar para kyai dan pengurus lembaga masing2, juga peran para Presiden RI yang paham tentang wathoniyah ini – missi menjabarkan Islam yang rokhmatan lil ‘alamin,  (seingat saya) seperti bung Karno, pak Harto dan pak Jokowi.

Ketiga presiden ini (seingat saya) dikenal dekat dengan ke dua lembaga ini tanpa batasan partai politik atau birokrasi ini-itu.

Jangan Mau Diadu Domba. Disadari, belum semua pihak paham missi wathoniyah ini. Ada yang mengira mau bikin negri kafir, mau bikin negri Islam, mau meng-agama-kan Pancasila, mau melakukan Islamaisasi, mau menghancurkan Islam dari dalam, dsb.

Bahkan sekilas terasakan, ada oknum2 yang menjual dirinya untuk jadi kacung pihak luar dan memfitnah kedua lembaga ini secara samar atau terang2an.

Disadari bahwa diantara warga Nahdliyin dan Muhammadiyah, tidak semuanya pinter dan waspada, namun fatanik dalam beragama. Mereka tidak paham agenda dan skenario rumit , sehingga ada yang “sukarela” untuk di adu domba, ada yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang di”bina” secara “amat halus” untuk melakukan tindakan yang brutal.

Ujungnya seolah ingin membangun kesan bahwa kaum muslimin itu teroris

Padahal skenario  ini bagian dari upaya mau memutar balikan fakta dan sejarah Indonesia – membalik polaritas sejarah dari kaum muslimin adalah pejoeang kemerdekaan menjadi terori.

Pesan founder : JASMERAH !!!!

Wahai penguasa dan elit waspadalah !!!

Wajar sebaiknya  ada yang terus mengkawal (NU & Muhammadiyah),  ada yang men-support ,  ada yang mengkritisi, ada yang memfitnah, sampai ada yang menjegal..

Monggo !!!

Ondel2 MetallicaSuka Budaya.  Pak Jokowi seperti halnya dengan bung Karno dan pak Harto serta pak Sby, (seingat saya) menyukai hal-hal yang bersifat budaya Indonesia maupun dari luar.

Bung Karno berupaya mengembangkan budaya asli yang saat itu belum tersentuh akibat penjajahan, namun amat suka dansa-dansi (budaya impor). Entah mengapa Koes Bersaudara malah dibui, kono gara2 membuat lagu yang ngak-ngek-ngok mendekati rock n roll the Beatles.

Pak Harto memfasilitasi perkembangan budaya Indonesia seperti memperknalkan berbagai atraksi kesenian saat HUT RI maupun kesempatan kenegaraan dan penerimaan tamu asing, sampai mempopulerkan wayang kulit, ketoprak dan ludruk di pentas televisi. Namun pak Harto juga hobinya main golf (budaya/olahraga impor).

Pak Sby memiliki perhatian serius pada budaya kerajinan asli Indonesia (contoh berhasil mem-patent-kan batik sbg aseli Indonesia), namun pak Sby juga menyukai memainkan hasil “kerajinan” impor (bermain electone dan golf).

Pak Jokowi nampak membuka kreativitas kombinasi berbagai budaya daerah di seluruh Indonesia dalam suatu festival atau moment2 tertentu. Pesta ondel2 di Jakarta, jika dicermati adalah kombinasi berbagai unsur pakaian yang berasal dari daerah2 di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali & Nusantenggara, Maluku dan Papua. Namun pak Jokowi juga menggemari musik metal (budaya/musik impor).

Yang perlu diingat adalah bahwa budaya itu bukan agama, walau pihak asing sekuler ada yang mengatakan begitu. Budaya itu semacam entertainment kehidupan, jika berlebihan dapat melupakan Tuhan.

Monggo !!!

Bukan dari Militer. Pak Jokowi adalah Presiden keempat yang bukan dari atau tidak pernah menjadi militer. Pertama adalah pak Habibie, kedua Gus Dur dan ketiga adalah bu Mega.

Dengan latarbelakang bukan dari militer dan berbagai latar belakang di atas, serta (mungkin masih banyak) latar belakang lainnya, maka pak Jokowi memiliki kesan “adem” bagi negri lain yang masih phobia atau memang minder atau punya makusd tertentu terhadap Indonesia.

Sebagai Presiden RI dari kalangan sipil, maka kekuatan negri2 yang mengandalkan militer maupun intelijen militer, akan merasa tenang, tidak takut diserbu, tidak takut aset yang telah dicaplok bakal diambil kembali, tidak takut pola militer mewarnai kebijakannya.

Namun konstitusi kita memandang dan menempatkan Presiden bukan sekedar itu. Pertahanan dan kedaulatan serta kewibawaan Indonesia tetap harus menjadi prioritas pak Jokowi, karena itu tugas Presiden Republik Indonesia.

Monggo !!!

Tahun Pertama. Yang menjadi bahasan pedas di tahun pertama pak Jokowi menjabat Presiden antara lain :

  • Ekonomi : harga sembako, beras plastik, harga daging sapi melejit jauh melebih jaman Sby, rupiah mencapai sekitar 13.700, dsb.
  • Sosial  : heboh syiah, tragedi Tolikara,  geng motor,  dsb
  • Politik :   terpecahnya Golkar dan PPP
  • Hukum : heboh calon Kapolri, heboh Polri vs KPK,
  • Tentu masih ada yang lainnya

Monggo !!!

Kita semua berada di negri yang indah bernama INDONESIA.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-70

Begitu apa begitu ?

Ya Emangbegitu.

Orang Inggris saja paham, nih simak saja.

Scroll To Top