Sekilas Info
Home | Inspirasi | DOG & BAD

DOG & BAD

Bad news is good news ……..jika anda digigit anjing sampai berdarah2 sekalipun, itu bukan berita;  jika anda menggigit anjing walau tidak berdarah-darah atau sebenarnya anda hanya pura-2 menggigitnya, itu baru berita………. 

Sebagian jurnalis negri Anemia, menggunakan kalimat di atas sebagai pegangan layaknya orang Jawa  - bagian dari negri Indonesia, sebagai  sabda pandita ratu. So ?  jangan heran jika tayangan tv, lembaran koran, laman di on-line, sampai buletin yang banyak beredar di Anemia didominasi oleh hal-hal yang buruk ( bad ) dan hal-hal yang anomali (aneh).

“Beberapa radaktur di media2 negri Anemia, juga memegang teguh “ajaran” diatas secara kuat,  lebih kenceng ketimbang berpegang pada ajaran Agama, Falsafah dan UUD Anemia.    Tidak heran jika liputan yang bernada good news, akan masuk dalam keranjang “this is not news”,  wartawan yang junior tentu akan mati kutu dan jika motivnya menjadi wartawan adalah mencari nafkah, maka ia akan melakukan switching menthal, berubah dari lebah menjadi dog&bad. Jangan heran jika di negri Anemia, siapapun yang masuk menjadi tim atau karyawan di media berkarakter dog&bad akan menjadi dog&bad juga.

dog downloadDi media type dog&bad di negri Anemia, mustahil ada rubrik yang menginspirasi prestasi, inovasi, perjuangan, keharmonisan , dsb hampir tidak ditemukan dalam media-media berkarakter dog&bad. Suatu ketika ada ide atau gagasan untuk merevitalisasi peran media ke arah bebas bertanggung jawab digulirkan ke publik di negri Anemia, maka penolakan datang dengan cepat dan keras “kami menolak keras !!! ini sama saja dengan apa yang pernah ada di negri Indonesia di jaman rezim Soeharto, rezim diktatktor yang membreidel semua media yang tidak sejalan, rezim yang tega terhadap jurnalis yang tidak sejalan dengannya “.

Negri Amenia terancam menjadi negri yang terdominasi oleh media dog&bad.

Bukan Pendidik

Dalam suatu talkshow, seorang jurnalis senior yang sudah menduduki posisi sebagai redaktur di media cukup besar di  negri Anemia, menyampaikan bahwa “emang benar, kami menggunakan hal itu sebagi pakem, karena itu menunjukan kekritisan kami”.  Di beberapa kalangan jurnalis Anemia, kekritisan diartikan sebagai “Bad, anomali, atau serupa itu. Kalau hal yang normal, prestasi, apalagi yang mengandung ajaran kemuliaan, amat sangat jarang diperhatikan dan dogma kami semua itu bukan kualifikasi berita.  Kami bukan pendidik sebagaimana penelpon tadi yang menanyakan peran edukasi publiknya. Edukasi itu tugas guru, tugas dosen”.

b_id_411914_cartoonSeorang penelpon lain “saya bukan guru, bukan pula berprofesi pendidik, juga bukan jurnalis, namun saya pengin bertanya apakah mas narasumber itu bukan hasil dari proses pendidikan, bukan orang kuliahan atau minimal jebolan sekolahan ?  dsb dsb …. “.  Inti yang dikatakannya adalah edukasi itu bukan hanya yang dilakukan guru. Edukasi itu juga dilakukan di keluarganya, diajarkan orangtuanya dan mendapat contoh dari kakak2nya. Kalau sudah gaul, ya termasuk menirukan yang dilakukan teman.  Kalau ia bersekolah ya apa yang disampaikan oleh gurunya atau dosennya saat kuliah.

Sopan santun, berpakaian, makan harus dikunyah, dsb,  tidak menjadi kurikulum sekolah, namun diajarkan oleh orangtua, masyarakat. Naik angkot, naik motor, naik mobil, nyebrang jalan, melintas melalui jembatan penyebrangan, dsb juga tidak menjadi kurikulum di sekolah/perkualiahan, namun teman dan lingkungan yang mengajarkan, yang mendidik kita.

Bim-bel di Anemia

Mirip dengan di Indonesia, di negri Anemia, banyak anak sekolah dari kalangan mid-up secara ekonomi yang di ikutkan dalam lembaga bimbingan belajar ( bim-bel ) –  misal bim-bel khusus pelajaran IPA. Motiv yang melatar-belakanginya  beragam, mulai dari kesadaran akan lemahnya penyerapan materi IPA di sekolah, mutu sekolah yang rendah untuk pelajaran IPA, sampai ingin mendapatkan nilai terbaik di pelajaran IPA. Dalam kursus di bim-bel, materinya adalah pemberitahuan seputar IPA, contoh menyelesaikan berbagai soal IPA, sampai pemberian tugas terkait dengan IPA.  Maka pada umumnya peserta bim-bel akan meningkat kemahiran/mutu hasil dalam menyelesaikan soal seputar IPA.

Orangtua dan masyarakat yang menyadari dan memperhatikan proses perbaikan mutu pemahaman IPA sampai melihat sendiri hasil kemahiran IPA-nya menjadi lebih baik, akan senang. Lembaga bim-bel akan mendapat manfaatnya sendiri. Dunia pendidikan secara keseluruhan, akan juga mendapatan manfaat kehadiran bim-bel.  Negri Anemia akan mendapatkan semakin banyak penduduk dengan kemahiran IPA yang terus meningkat.

Mendapatkan pengetahuan dan mepraktekannya dalam kehidupan seseorang,  tidak harus melalui jalur sekolah, namun dapat diperoleh dari mana-mana, termasuk dari media. Jika peran bim-bel kita ganti dengan peran media, maka semakin banyak media memberitakan “bad news”, maka semakin banyak perbendaharaan “bad news” di public yang mengakses media tersebut, semakin meningkat pemahaman dan kepintaran public dalam materi “bad news”.

Semakin banyak media dog&bad yang semakin sering memberitakan badnews, maka semakin tinggi mutu “bad” yang ada dalam benak, pikiran dan akal penduduk Anemia.  Ekstrimnya, akan berpuncak pada semakin banyak anak yang tidak sudi mendengarkan nasehat, semkian sepi rumah ibadah.  Disisi lain, semakin banyak penduduk di negri Anemia yang hobinya tawuran, hobinya kekerasan, hobinya bergosip dan memfitnah, dsb.  Negri Anemia menjadi negri Anemia Bad&Dog.

Konsep bad&dog oleh sebagian kalangan di negri Anemia  mulai dipertanyakan, minimal mereka mengajukan pertanyaan “jadi itu anjing siapa ?” atau “siapa  jadi anjing itu?”

Indonesia Berbeda.

Tidak semua media di Indonesia menerapkan konsep bad&dog, sebagian memandang bahwa bad&dog itu melambangkan kekritisan jurnalis dan keberpihakan media pada kebenaran serta tanggung jawab media meningkatkan kesadaran publik akan hak-2nya.  Media menyadari perannya sebagai  salah satu pilar demokrasi   yang memiliki tanggung jawab pada pembentukan karakter bangsa dan memajukan negara Indonesia.

Scroll To Top