Sekilas Info
Home | Inspirasi | ANTI DISKRIMINASI

ANTI DISKRIMINASI

Beberapa orang sensitip dengan kata diskriminasi,  saking sensitipnya, malah menjadi latah nggak keruan…………………………………………………..

discrimination

Sebenarnya,  apa salahnya kalau orang Batak dipanggil “hei Batak, kita makan yuk !” oleh orang bukan Batak. Begitupun dengan “hei Jawa, untuk apa torang  disitu?” teguran oleh rekan dari Papua, atau “hei Arab, betulin dulu sorban lo” teguran juga oleh santri asal Betawi.

Konstitusi dan Regulasi itu Logic.  Di sisi lain, acapkali kita mendengar kalimat2 dari penduduk asli Indonesia “sebagai orang Jogja, saya sih manut2 saja jika semua ini untuk kemaslahatan bersama, namun kalau untuk kepentingan seseorang atau kelompok tertentu ya kami nggak sudi …. dst” atau kalaimat “saya ini orang Papua, wajar to kalau kulitku lebih tegas dari kau ? … dst” atau kalimat “beta orang Ambon, kalo bicara tidak meledak-ledak itu bukan orang Ambon …. dst”.  

Pertanyaannya : kenapa  orang Jogja, orang Papua, orang Ambon, orang Batak, orang Inggris, dsb malah lebih merasa mantap mengucapkan jati aslinya ?.  Apakah ini diskriminasi ? atau justru  ini soal perasaan ? soal yang ilogic ? atau apa begitu ?

Kalau ada pelayanan publik kok dikhususkan bagi orang Jogja dan selain orang Jogja dilarang masuk pelayanan publik, maka ini diskriminasi !  perlu dikembalikan kepada dasar azasi, yakni dasar dari alam, dasar dari Tuhan, dasar sunatullah. Bukan diada-adakan dengan regulasi lagi.  Jadi bukan kata Jogja, Papua, Ambon, Inggris itu yang perlu diatur, tapi perlakuannya yang mesti diatur. Bukankah hukum itu mengatur perilaku ?  Akan jadi aneh jika ada regulasi kok didasarkan pada suatu yang ilogic dan senitimental  (bukankah ini cenderung menjadi unfair ?)

presiden Republik IndonesiaPerlindungan Warga Asli Indonesia. Di negri yang terbelakang sampai negri modern, ada perlindungan terhadap warga negaranya.  Begitu pun para penggagas negri, ingin melindungi warga (asli) Indonesia dari potensi kembali dijajah, dalam waktu cepat maupun latent, oleh penjajah dulu maupun penjajah “bentuk” yang lain ( bahasa bung Karno adalah neo-kolonialisme ).  Perlindungan itu selain kepada penduduk (asli) juga pada institusnya ( negara Indonesia). Ternyata hal ini sudah menjadi praktek lazim di berbagai perusahaan (dalam suatu komunitas, biasanya ada aturan bahwa selain anggota komunitas tidak diberikan/memiliki hak yang sama dengan anggota komunitas).

Contoh : lembaga penyiaran televisi (misal TVDuoKribo – ini hanya misal), ruangan tertentu hanya boleh diakses oleh karyawan, selain karyawan dilarang masuk, kecuali sudah mendapatkan ijin sesuai dengan aturan di TVDuoKribo. Tamu hanya boleh melakukan sebatas tamu, tidak boleh seperti pekerja apalagi pemilik perusahaan. Bahasa lain sering ditulis “Staff Only”. Apakah ini bukan diskriminasi ?. Ini adalah bentuk perlindungan dari founders terhadap warga dan institusi/perusahaan.  Begitupun aturan yang ada diberbagai pasal di UUD 1945, adalah cara pendiri negara Indonesia melindung segenap anak bangsa, tumpah darah Indonesia dari penjajahan jenis baru.  Ini juga bukan diskriminasi.   Jadi pelajari dan laksanakan dulu aturannya, nanti kalau ternyata dalam perjalanan perlu ada perubahan yang tidak merusak tatanan atau mengundang penjajahan “bentuk” baru, ya itu boleh2 saja.

Coba pelajari konstitusi Amerika dan berbagai perubahannya, semua ditujukan untuk menyesuaikan secara dinamis namun tetap melindungi Amerika (kepentingan, negri, bangsa, warga ).  Coba pula pelajari konstitusi Inggris, Perancis, China, Singapura, dsb.

veteranImpor Presiden. Agak aneh jika ada gagasan Indonesia perlu impor Presiden, hanya karena kesal dengan sosok orang yang terpilih menjadi Presiden. Ini justru wujud lain dari sikap diskriminatip (namun berada di titik nadir). Kata impor saja mengandung makna bukan orang asli Indonesia. Apakah penggagas itu (impor Presiden) belum khatam membaca UUD 1945 (tapi malah khatam membaca konmstitusi negri asing ?).  Amerika boleh jadi memiliki materi konstitusi yang berbeda dengan Indonesia. Negri2 lain seperti : negri Singapura, Malaysia, Philipina,  Korea, China, negri2 di jazirah Arab  juga punya konstitusi sendiri, sejarah sendiri yang berbeda2.  Ini bukan diskriminasi, ini soal sejarah dan proses pembentukan negara masing2.

Nilai Indonesia sudah jelas – Bhineka Tunggal Ika.  Negri lain berbeda dengan Indonesia itu seharusnya jelas sekali (kalau belum juga paham ya balik lagi ke sekolah dasar), alamnya juga berbeda, nilai2nya berbeda, semua itu adalah kasih sayang Allah (bagi yang paham), semua itu mengandung pelajaran untuk kemajuan peradaban manusia secara keseluruhan.

Indonesia itu bukan Singapura, bukan Malaysia, bukan Amerika, bukan China, bukan Arabia, bukan pula Eropa, bukan yang lain.  Kalau ada rasa tidak suka dengan sosok yang terpilih jadi Presiden, maka jangan Indonesia-nya yang “dibakar”. Bukankah pesan2, gagasan2, pemikiran2 nilai2 yang diwariskan sekaligus sebagai amanat bagi generasi penerus untuk mewujudkannya. Jadi pilihlah sosok yang sesuai dengan legacy ( pesan2, gagasan2, pemikiran2 nilai2 yang diwariskan) dari para syuhada  pejuang kemerdekaan Indonesia, para founders negri Indonesia ! (bukan negri lain ya).

Indonesia ya Indonesia !

Sensitip Diskriminasi. Kembali ke laptop !!!!.  Aneh sekali  kalau ada orang Jawa marah2 karena dipanggil “hei Jawa” oleh orang bukan Jawa. Heran juga kalau ada orang Arab, Cina, atau Londo marah2 gara2 dipanggil dengan “hai Arab”, “hei Cina” atau “hei Londo” oleh yang bukan Arab, bukan Cina, dan bukan Londo.  Apakah itu menunjukan adanya rasa rendah diri, atau perasaan yang memandang bahwa sebutan itu sebagai merendahkannya ? Kalau begitu persoalannya, maka yang duluan merendahkannya adalah yang merasa seperti itu.

Okeylah ! Paling baik memang menanggil orang dengan namanya. Namun memanggil “hei brewok, hei sipit, hei gempul, dsb” bukanlah hal yang harus menjadi sensitip, kalau kenyataannya memang begitu. Bukankah nggak masalah juga, kalau anda yang kenyataannya sudah menjadi kakek dipanggil dengan “hei kakek”, atau anda yang menjadi cucu atau dianggap sebagai cucu disapa dengan “hai cucu”. Kalau pun perlu tersinggung, kasusnya mungkin sbb  jelas-jelas ia orang berwajah jelek dan tongos kok dipanggil “hei ganteng” atau “hei lesung pipi”.  Itu pun kalau perlu tersinggung.  Jawa, Batak, Arab, Papua, Cina, Londo, dsb itu takdir, bahkan ganteng, cantik, jelek, hitam, sawomatang, putih, dsb, itu urusan yang Maha Mencipta.

Tak ada seorang pun minta dilahirkan seperti itu, bahkan kalau bisa dikatakan : tak ada orang yang ingin dilahirkan. Yang ada adalah “terlahir” dan tercipta.  Mengapa kita mempersoalkan sesuatu yang bukan urusan manusia ? Penggiat antidiskriminasi sekalipun nggak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai keturunan orangtuanya.  Kalau kebetulan orangtuanya tajir, terkenal, baik hati, dsb maka biasanya si anak ikutan senang (padahal nggak pernah minta kan ?). Begitu pun kalau orangtuanya gembel, jorok, dsb maka terkadang ada yang sensitip dan menolak untuk disebut keturunan gembel atau keturunan si jorok (karena dia juga nggak minta kan?).  Itulah rahasia kehidupan, agar tidak sombong agar tidak minder, agar ikhlas menerima apa yang telah Allah hadirkan.

Nah …………..Apakah memang demikian diskriminasi yang ingin dikedepankan ?

13752510091730651425Sensitip Anti Diskriminas.  Karena diskriminasi dipandang secara sensitip, maka sebuah kelurahan di negri Anemia yang tengah mencari calon lurah membuka lebar2 kesempatan menjadi CaLur ( Calon Lurah ).  Agar pemilihan terbebas dari nafas diskriminatip,  sekelompok warga yang (merasa) pernah terdiskriminasi, bersama dengan sebagian warga yang (pengin dianggap) modern dan (seolah) paham demokrasi, membiayai beberapa orang untuk menjadi “pakar anti diskriminasi” sekaligus mengkapanyekan antidiskriminasi.  Tentu saja kader penggiat yang akan mengkampanyekan ini harus punya bakat banci tampil plus ambisi popular, kalau perlu punya naluri seperti banci tampil.   Jurus adu domba bukan hal yang jauhi, bahkan menjadi semacam jurus wajib untuk dilakukan.

CaLur yang mendaftar ada yang dari kalangan terdidik dan kaum baik2 sampai dari kalangan pelacur, pemabok, perampok, dsb.

Situasi demokrasi terkadang unik bagi kaum terdidik nan baik-baik,  seperti maju kena mundur kena. Mau dikemanakan kelurahan kita ? Dalam arus demokrasi seperti itu menyampaikan idealisme “mosok CaLur kok dari kaum seperti itu ?”  akan serupa dengan melakukan tindakan subversi dijaman kemarin.   Begitu kata-2 mempertanyakan kualifikasi CaLur dilansir, maka  tim sukses CaLur kaum pelacur, pemabok dan perampok, langsung menyerang habis-habisan dengan peluru ANTI DISKRIMINASI.

Serangan hebat dan CAP “Tindakan Disktrimintaip” langsung menempel di jidat para penanya itu. Bagai “diktator baru” yang mampu memunculkan CAP kuat ditengah arus demokrasi yang konon menghargai perbedaan pendapat. Kalau di Indonesia, mungkin  (proses ini) mirip dengan menggantikan proses CAP  ”kamu PKI, kamu DI/TII, dsb”,    menggantikan CAP “kamu  inlander pembrontak”.

Masa Kampanye pun berlangsung.

Layaknya kaum terdidik dan baik2, maka CaLur dari kalangan ini memegang etika dan idealisme menjadi warna dasarnya. Sebaliknya, CaLur dari kaum yang lain karena memang moralnya demikian, maka segala cara ditempuh. Pamer dan bagi2 harta, menjadi tools tim sukses CaLur dari kaum perampok. Pamer botolan dan bagi2 miras adalah tools dari kaum pemabok.  Mungkin saja ada yang sampai menggunakan aurat sebagai tools pamer dan bagi2nya.

Singkat cerita, Calur dari kaum terdidik yang baik-2 mendapatkan suara paling sedikit. Walhasil, Lurah bukan dari kalangan terdidik dan baik2, mungkin saja pinter. minimal pinter ngapusi, pinter bohong, dsb.  Hebatnya lagi, sistem demokrasi ini telah memungkinkan, yang Lurah terpilih itu baru dua bulan menjadi warga kelurahan itu.

Apakah memang demikian tujuan anti diskriminasi ?

Sensitip HAM Ada orang mengaku bangsa Indonesia, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan mengganti kata “Indonesia” dengan namanya. Melodi tetap sama, yang beda hanya kata Indonesia diganti dengan namanya – misal “Indro”. Ada orang mengaku bangsa Indonesia, lalu pada tanggal 17 Agustus di kampungnya ia mengibarkan bendera merah putih terbalik dan diantara warna merah putih itu ada gambar babi. Pantaskah ia menyebut dirinya sebagai bangsa Indonesia ? Apalagi kalau dia mengajak orang lain untuk menghormat sebagaimana hormat kepada bendera resmi Indonesia.

Mengaku orang Indonesia, tapi nggak mau mengakui bendera merahputih sebegai benderanya, baginya bendera merahputih harus yang dibuat di negri tertentu dan ada gambar babinya. Apakah manusia seperti ini pantas menyebut dirinya sebagai orang Indonesia ?

Apakah sebagai orang Indonesia yang cinta Indonesia anda berdiam saja ? tidak kecewa, sedih atau bahkan tidak tersinggung ?.

Apakah salah kalau ada aparat melarangnya ?

Manusia2 seperti itu telah melakukan pelanggaran HAM dan sekaligus penghinaan atas Indonesia. Apakah salah kalau ada orang Indonesia protes dan meminta agar orang itu menghentikan kegiatannya ? kalau pun mau kembali menjadi orang Indonesia (bener2), maka ia harus mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak mekakukannya lagi.

Kalau ngotot dan memaksakan kehendaknya (bendera merahputih bergambar babi), maka ia wajib dilarang untuk menggunakan fasilitas negara bagi warga Indonesia, kalau tetap mbandel (setelah diperingatkan), sebaiknya diapakan coba ? Andalah yang paham benar ! terlebih anda yang (sok) jagoan HAM, (sok) jagoan Antidiskriminasi.

Mengekspresikan kreativitas sah dan boleh-boleh saja, namun merusak karya orang lain sebenarnya telah terlebih dahulu melanggar hak intelektual, apalagi itu karya yang sudah menjadi milik bangsa, itu lebih dari sekedar kurang ajar.  Silakan cari pola dan model yang serupa jika kita memperlakukan negri lain tanpa mengindahkan konstitusi negri itu.

Agar mudah menghayati, contoh berikut mungkin bisa membantu. Ada anak mengaku siswa SMAN XXII, namun pakaiannya mirip SMAN XXII dengan emblem/bedge Sekolah lain, memaksa masuk ke lingkungan SMNA XXII pada jam yang buka aturan SMAN XXII, cara memasuki sekolahannya pun tidak mengikuti aturan SNAN XII, dst.  Apakah anak seperti itu layak disebut siswa SMAN XXII ?? Salahkan jika Satpam sampai Kepala Sekolah melarang anak itu untuk menyatakan dirinya siswa SMAN XXII dan melarang juga masuk ke lingkungan SMAN XXII ? Apakah Satpam dan Kepala Sekolah Atau melanggar HAM atau melakukan diskriminasi ?  Kalau dia pernah dikecewakan oleh warga SMAN XXII, bukan berarti seenaknya merusak SMAN XXII.

Kekecewaan pada pemerintah boleh-boleh saja, tapi bukan dengan cara merusak karya cipta orang lain, apalagi lagi merusak dan menghancurkan karya manusia lain dan atau simbol eksistensi negara. Bukankah itu juga melanggar hak (azasi) manusia lain dan hak negara ?

Apakah manusia seperti ini berjenis KOPLAK ? Manusia yang membenci kebenaran dan kebaikan, namun mencintai dan memuja kerusakan dan kebejatan.  Pendiri Indonesia sudah menjelaskan bahwa Indonesia itu mengembangkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab bersadarkan ketuhanan yang mahaesa serta menjaga persatuan Indonesia. Kurang jelaskah itu semua ?

Kalau pun ada hal yang dirasa kurang memuaskan dari polah pemerintah, ya protes saja ke mereka, jangan negara dirusak, jangan tatanan nilai yang baik dibusukan, jangan membolak-balik sejarah.

antilatino Apakah memang demikian tujuan HAM ?.  Tidak nampak jelas, apakah Indonesia dalam sejarahnya pernah terjadi diskriminasi oleh penduduk asli Indonesia ? yang ada malah sebaliknya, penduduk asli Indonesia didiskrimasi sedemikian rupa. Jadi jangan membolak-balik sejarah. Semestinya yang suka gembar-gembor kampanye anti diskriminasi dan  kampanye anti pelanggaran HAM (dengan melindungi pelanggar HAM duluan), terlebih dulu paham negrinya, cintai negrinya, bukan menjual negrinya untuk popularitasnya.

Jika perlu, (atau malah itu merupakan hal yang wajib ) bertangung jawablah dengan semua akibat kekisruhan hasil democrazy dan degradasi moral serta apatisme terhadap negri serta munculnya gagasan bernada “seloroh” untuk impor Presiden.  Memang membuat gagasan nyleneh itu dalam masyarakat yang tengah euforia akan memberikan efek popularitas.   Populer itu boleh2 saja,  tapi mengabaikan dampak dari kegiatannya bagi kerusakan negrinya itu serupa dengan kedzaliman pada bangsa sendiri.

Kyai Mursyid mengingatkan bahwa semua manusia bakal mati, apapun warna kulitnya ya mati juga, ya rusak juga jasadnya sekalipun diawetkan ala Fir’aun. Yang perlu dicegah adalah diskrimnasi sebagaimana pernah terjadi di negri2 penjajah dan eksploitaor. Di negri seperti itu (dulu) sangat kejam, seperti ada jalan untuk orang berkulit putih dan semua orang berkulit selain putih akan dihukum (padahal dia tidak kriminal).  Indonesia bersyukur, para pendirinya benar2 paham agama dan menyusun dengan teliti konsep egaliterian dalam berbagai aspek.  Sebaiknya generasi penerus jangan keblinger, tidak mempelajari sejarah bangsanya, malah memaksa bangsa sendiri untuk sesuatu yang justru sudah ada dan lebih baik. Simaklah berbagai traktat yang ada (buatan asing) dengan berbagai gagasan kenegarawanan para syuhada, para perancang dan para pendiri negri Indonesia.

Dihadapan Tuhan semua manusia itu sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaan. Apakah yang dikerjakan semasa hidupnya itu didasarkan pada ketaqwaan atau tidak.  Yang dikerjakan selama hidup itu bebas, manusia boleh memilih, konsekuensinya dia tanggung sendiri.  Mau sok anti diskriminasi, monggo.  Mau sok jadi nabi palsu, monggo. Mau jadi koruptor, monggo. Mau jadi penyampai kebaikan, monggo. Mau menjadi presiden, monggo.  Dan mau jadi apa saja, Allah memberkan kebebasan.  Kegiatannya akan terrecord secara otomatis secara super software yang tersimpan dalam super server dengan huge capacity di “cloud”.   Jadi, mau jadi penggiat anti diskriminasi, ya silakan asal dasarnya ketaqwaan, dan kalau bukan itu anda tahu sendiri konsekuensinya (setelah mati nanti).papua-merahputih

Ada baiknya, pelajari dulu dengan bener sejarah bangsa sendiri,  Indonesia itu didirikan dengan tujuan yang jelas sebagaimana juga negri lain, termasuk soal antidiskrminasi. Doeloe, orang Indonesia ASLI (yang paling berhak atas Indonesia), disebut sebagai inlander, yang secara struktur DIDISKRIMINASI hanya sebagai warga klas tiga, sedang klas duanya adalah para pendatang yang cari makan di Indonesia yakni disebut sebagai kelompok timur asing ( Asal Cina, India, Arab, dsb) lalu kelompok klas satunya adalah mereka yang berkullit putih.

Dari cerita yang saya peroleh langsung dari penduduk asli di Papua saat kami mengundang makan bersama (saya tinggal disana selama nyaris 3 tahun – sekitar 30 tahu lalu), konon sampai tahun 60-an, orang Papua asli, tidak boleh melintasi jalan2 di Dok II Atas kota Jayapura, makan  pun tidak boleh bersama orang kulit putih, dsb.  Undangan untuk makan bersama itu dalam suasana Idul Fitri dengan beberapa saudara2 asli papua beserta keluarganya yang kebanyakan tidak ber-idulfitri .  Ada yang terharu meneteskan airmata dan merasa senang mendapat undangan makan bersama seperti ini, sesuatu yang mustahil d tempo doeloe.  Bersyukur, di jaman pemerintahan Soekarno, memerintahkan Soeharto dkk  untuk membebaskan Irian Barat, untuk bersama2 suku bangsa Indonesia yang lain membangun Indonesia Raya. Mereka sangat berterima kasih dan kagum pada Soekarno.

 So ? ………………… Jangan mencari2 kesalahan bangsa sendiri, kalau anda belum paham sejarah bangsa sendiri.

Janganlah membuat bangsa lain LOL karena boleh jadi anda justru yang akan terlihat  ”to LOL”.

Begitu apa begitu ya ?.

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top