Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | APPLE HOLD THE WORLD : TRUE or FALSE ?

APPLE HOLD THE WORLD : TRUE or FALSE ?

 Banyak perusahaan ingin menggenggam dunia, di jaman kemarin banyak yang ingin berkaliber world class, dan sepertinya istilah world class ini lebih pas ketimbang menggenggam dunia yang terkesan jumawa – kecuali kapabilitasnya memang memadai ya silakan saja. Tapi sudahlah, itu urusan yang membuat kalimat. Yang jelas, Appale sudah mewarnai dunia dan ….. menggenggam tren dunia di bidang smartphone.

 response to : emangbegitu@emangbegitu.com

Cobalah simak bagaimana Google dan Apple melakukan pendataan informasi pelanggannya serta perilakunya ( customer profile  & behaviour ).  Mereka membuat konsep pemetaaan dan profiling yang amat menyenangkan pelanggannya, dan tak terasa serta  dengan sendirinya data dan perilaku pelanggan,  yang mengisinya ya pelanggan itu sendiri. Tanpa disuruh dan bahkan dengan sukacita. Hebatnya lagi, justru masing2 pelanggan yang sudah mengisi akan diberi bonus potensi ngetop dan diberi fasilitas untuk mengajak rekannya untuk melakukan serupa dalam “forum” layaknya festival atau lomba. Mereka saling mengajak yang lainnya untuk mengisi data dan perilakunya dengan penuh sukacita.

Jika ingin paham customer maka cobalah gunakan produk anda, rasakan bagaimana jika anda adalah user layaknya customer yang lain. Cobalah periksa baik2 ! Jangan lengah dan jangan pula anda ber-reaksi ala rujak sentul. merasakan layanan dari produk anda sendiri. Jangan sampai maunya ke timur (ngetan) kok jalannya ke selatan (ngidul), maunya membuat layanan layaknya super car dan itu bagus, namun jangan sampai malah justru yang dibuat malah bajaj dengan beragam aksesoris yang ramai dan hingar bingar.   Anda bisa seperti orang yang nenggak cukrik sehingga sempoyongan terkaget2 lalu menukik, dan ………  saat tersadar “ternyata hari menjelang malam”.

Standar teori marketing dari jaman sebelum internet dan jaman broadband datang antara lain adalah : perlu tahu siapa target marketnya, bagaimana profile mereka, suka jalan kemana,  dsb.  Ini . Karena sudah jaman broadband mobile internet, maka sebaiknya cara berpikir dan mendesain produk serta melayani (memahami ) pelanggan tidak menggunakan cara2 serta birokrasi dari jaman telepon engkol, atau bahkan jangan pula dengan cara atau prosedur dari  jaman telepon seluler barusan. Mudah-mudahan  anda tidak terlambat untuk hold the wolrd, jauh dari situasi sebagaimana Creed sampaikan di One Last Breath.

seven Layer 7 Layers. Semakin kuatnya pengaruh application layer dalam menawarkan model pemecahan permasalahan kehidupan modern, terutama sejak era braodband didengungkan, sepertinya membuat  ”pertempuran antara rezim transport layer dengan application layer” semakin seru.  Seolah ingin adu kuat dalam mengendalikan customer/user dari produk teknologi modern itu, untuk menjadi rezim penguasa industry. Pertempuran juga terjadi antar pemain di application layer,  sebagaimana konon terjadi antara Google dan Yahoo yang juga seru.

(Pembahasan ini lebih merujuk pada pembagian secara 7 layers, karena secara fakta ada perwakilannya, dan secara pemahaman lebih mudah dicerna publik awam – meski tidak sepenuhnya tepat).

Siapapun pemenangnya, dalam situasi sekarang ini, pihak pabrikan gadget (yang sepertinya menjadi produsen sarana perwujudan di presentation layer dan session layer = di konsep 7 layers OSI) seolah senantiasa diuntungkan, bebas tuduhan sebagai mata2, tidak pula dalam posisi yang genting  ….. dan sepertinya Apple memahami sejak awal, ia sudah berada di  zona integrasi gadget dan aplikasi. Sementara yang lain harus berjuang melakukan berbagai aksi korporasi yang belum tentu juga berhasil. Seru !!! bener2 seru.

duo steve appleKendali yang Kuat, Percaya Diri dan Inovatip = Apple. Itulah sebagian dari yang bisa kita lihat dari motor pemikiran di Apple.  Bicara Apple yang sampai mencuat seperti sekarang ini, tidak lepas dari tokoh yang mewarnainya :  Jobs dan Wozniak. Steve Jobs, lahir di San Francisco tahun 1955, konon orang tua biologis Jobs, bernama Abdulfattah Jandali, seorang sarjana berkebangsaan Suriah.  Ia diadopsi oleh pasangan Paul dan Clara Jobs.  Pada tahun 1975,  Jobs yang sudah mandiri dan tajir itu,  merajut kembali keakraban dengan rekan lamanya Steve Wozniak ( anak petani kelahiran 63 tahun lalu, yang saat Steve Jobs menggagas video game untuk produk Atari, dia sedang bekerja di Hewlett-Packard ). Wozniak, mirip dengan Jobs, konon dikenal cepat memahami dan konon rajin “berulah” di jagad aplikasi komputer ( di jaman hacker mulai populer di Amerika, ia konon pernah menjadi hacker ).  Duo Steve itu akhirnya mewujudkan mimpi2 sebagaimana produk2 Apple yang dikenali publik. Kedua Steve ini melakukan “resign” dari Apple, Jobs resign sebagai CEO Apple pada tahun 2011.

i-phone 3Stranger Action from Apple ?.  Setelah mengalami beberapa kali perubahan waktu launching (termasuk di Indonesia), akhirnya Apple pada pertengahan tahun 2007 secara resmi me-release “sesuatu” yang  berbeda. Di titik ini Apple menaruh “titik” perubahan radikal. Semula, perubahan yang dilakukan Apple ini ada yang menganggap mustahil dan sebagian memberikan kesan skeptik pada model ponsel dengan “teknologi nge-pet” – release I-Phone pertamanya. Saat itu, masyarakat dunia sudah terbiasa dengan ponsel yang ada tombol2 (terdidik bertombol di ponsel sejak sekitar 1995-an),  sebagaimana di produk2 yang populer saat itu seperti Nokia, Siemens, Ericson, Philips, dsb. Sementara konsep tombol yang revolusioner juga sudah dikenalkan oleh RIM,  ”inovasi”  struktur tombol ponsel secara querty itu diperkenalkan RIM melalui ponsel Blackberry yang juga telah memperngaruhi industry gadget dunia (sejak tahun 2000-an).

Apple yang saat itu relative “pendatang baru” di bisnis ponsel, malah memproduksi ponsel “tanpa” ada tombol. Bukan hanya itu, Apple juga seolah merubah cara dan paradigma lama seperti cara mengganti menu pun dengan cara menggeser jari di layar alias dioperasikan secara “nge-pet”.

comfortYang lain dalam Comfort Zone. Seperti halnya para operator di transport layer, saat itu, pabrikan ponsel yang lain (bukan Apple) sedang menikmati indahnya panen inovasi yang bersifat “value added”.  Ponsel telah bermutasi menjadi “transformer” yang tidak saja telah mengintegrasikan semua fungsi telco pada rezim sebelum transport layer berhasil disatukan oleh rezim GSM, namun juga mampu mengintegrasikan semua sarana hiburan seperti alat nge-game, camera, radio, teve, kalkulator, dsb.  Transformer bernama ponsel itu begitu hebat : mau main game ? berubah !!!! jadi alat game. Mau mengambil gambar ? berubah !!!! jadi camera. Mau dengerin musik ? berubah !!! jadi music player, dst dst.  Secara fitur dan model, semua pabrikan ponsel saling bersaing, saling “tiru” dsb, dsb.

Apple melaju sendiri, sejak awalnya mengembangkan diri secara terpadu antara gadget sebagai instrumen yang terkontak langsung dengan user dan application layer yang terkontak ke system maupun ke transport layer. Perhatikan bedanya komputer Mac dengan komputer lainnya, pemutar music I-Pod dengan yang lainnya, dst. Sesuatu yang memang berbeda dengan cara pabrikan lain (saat itu ), sesuatu yang amat sangat “kaku” dan terlalu berlebihan dalam mengendalikan usernya yang boleh jadi sebagai suatu ekspresi dari terlalu takut dibajak strategy-nya.

Sebagian orang melihat bahwa ada perilaku aneh dari Apple ditengah2 yang lainnya sedang mabok di comfort zone. Keanehan juga  sering ditunjukan oleh Apple dalam me-release produk2nya.

Apple Coloring the World. I-Phone memberikan fitur lebih dari semua ponsel yang beredar di market saat itu. Ada fasilitas “perpusataan pribadi” bisa dibangun oleh pemakai di I-Phone-nya, ada “professional tour guide” yang siap menunjukan kemana pun anda ingin menuju, dsb.  Kemudian ia melengkapi dengan fitur hot-spot yang bisa memancarkan sinyal WiFi, sehingga mampu menghadirkan manfaat lain seperti untuk membantu komunikasi data perangkat/gadget lainnya seperti I-Pad, laptop, dsb yang bekerja dengan WiFi. Dengan demikian konsep mobile office atau orang yang aktivitasnya mobile (seperti workshop, concert, community, dsb ) akan terbantu.

Mungkin saja secara market atau sales, Apple tidak mendominasi, namun secara industry dan pabrikan gadget, Apple bisa dikatakan mendominasi warna dunia, layar sentuh dengan model “nge-pet”, chasing berbentuk persegi empat tipis dengan keempat sudutnya tumpul (lonjong) kini seolah menjadi “standar” atau keharusan produk bernama smartphone. Hampir semua gadget/smartphone ber”profile” mirip produk dari Apple seperti itu, bahkan Blackberry yang memperkenalkan model spesifik pun sudah memproduksi gadget ala produk Apple. Dan ….. 5 tahun kemudian sejak I-Phone pertama di-release,  ternyata perubahan itu menjadi tren dan lifestyle dan “memaksa” pabrikan lain untuk menstandarkan diri menyerupai I-Phone.  Bahkan RIM dengan Blackberry Z-10 juga terimbas oleh gelombang ini. Seolah jika nggak menirunya, produk gadget apapun itu akan terasa aneh dan kurang percaya diri memasuki pasar, sekalipun mutu dan fiturnya boleh jadi jauh lebih baik.

Nikah Siri dan Rock and Roll.  Jika Apple sejak awal memang sudah membangun konsep teritegrasi dengan aplikasi, maka produsen yang memproduksi smartphone lain “harus” beraliansi dengan produsen aplikasi yang saat itu memang sudah bagai jamur di musim hujan, tumbuh dimana-mana.  Aksi korporasi pun dilakukan oleh berbagai perusahaan gadget maupun perusahaan yang bergerak di application layer. Ada yang melakukan marger atau nikah secara terang-terangan ada juga yang nikah siri.

Semakin hari smartphone semakin sophistacated saja. Gagasan atau mimpi punya “bedinde” robot yang patuhnya minta ampun, seolah akan terlahir dari “rahim” smartphone atau smartphone adalah embrio lahirnya “smart bedinde”.   Disamping kepintarannya menjadi “bedinde” manusia untuk  tugas2 modern dan non fisik,  kemampuan intilijen dari smartphone juga mampu mengenali detail siapa saja pemakainya, seperti : anda akan/sedang menuju kemana atau barusan dari mana? sehingga bagi yang tidak paham dan amat menghargai privacy maka jika data “industry” ini karena suatu sebab diketahui oleh bukan yang berwenang, dapat membuat kalang kabut pemakainya.

Diam2 smartphone sudah menjadi soulmate dari “nikah siri” para manusia modern, akan terasa hampa jika pergi ke mana saja nggak bawa smartphone. Smartphone pun banyak “seranjang” dengan pemiliknya tatkala menjelang tidur. Di saat jaga, manusia yang kecanduan fitur2 smartphone, sering  berjingkrak2 sendiri saat menggunakan smartphone layaknya orang sedang rock and roll.

true or falseTransport Layer Bagaimana ?.  Salah satu fitur suatu smartphone , hanya bisa digunakan bukan dengan sinyal seluler : ini kelemahan smartphone atau kelebihan (penggagas) smartphone itu ?.  Jika dilihat dalam kacamata sekarang dan janga pendek ( mirip kacamata kuda), maka smartphone itu seperti ponsel goblok alias dumbphone.  Namun jika diamati gerak-geriknya, kok justru smart sekali. Adalah mustahil penghasil ponsel/smartphone tak mampu membuat fitur berbasis sinyal seluler. So ? ada apa gerangan !.

Kini, dengan hasil “pernikahannya” dengan layer aplikasi, smartphone bisa melayani keinginan manusia untuk berkomunikasi apa saja walau tak ada sinyal seluler ! Nah …. kelihatan pinternya mereka. Untuk saat ini , asal ada sinyal WiFi, (hampir semua) gadget bisa digunakan untuk berkomunikasi apa saja.  Itulah salah satu indikasi betapa gadget dan aplikasi yang sudah “nikah” itu seolah ingin berkata “jika memungkinkan dan saatnya tiba, semua kartu seluler tidak lagi diperlukan. Jika saatnya tiba, cara berkomunikasi akan dirubahnya secara radikal”.

Dan …. perubahan radikal bukan kali pertama terjadi di industry telcoPada perubahan rezim di transport layer dari  ala rezim PSTN dkk ke rezim GSM,  telah meluluh lantakan Telex, pager, kartu pos, dll. Jika ini adalah “pertempuran” yang sedang mencari titik keseimbangan baru, maka tentulah akan berimbas sampai diujung dimana ada manusia yang menggunakan teknologi telco-IT, harus memilih. Artinya ada yang tidak dipilih oleh manusia yang akan datang. Gelombang perubahan ini akan menjalar cepat ke seluruh dunia, mungkin lebih cepat dengan “tsunami” yang ditimbulkan oleh rezim GSM terhadap rezim sebelumnya di transport layer.  Mirip ledakan galaxy di tata surya yang mengacaukan tatanan dan model pengelolaan yang ada sekarang ini.

Secara teori, semua itu adalah evolusi teknologi. Secara bisnis ??????    Secara management ??????

Jika saat ini anda yang sedang mengamati industry ini,  cobalah ambil satu nama perusahaan apapun di posisi mana pun – silakan taruh di koordinat sesuai bayangan anda ( perusahaan itu bisa transport layer operator, gadget fabric company, application layer company ).  Letakan dalam koordinat yang anda bikin sendiri dimensinya :  dimana posisi perusahaan itu berada sekarang dan kemana perusahaan itu sedang dijalankan ?  Apakah anda sudah melihat mana yang berpotensi lead dan mana yang berpotensi lenyap ?

Seberapapun “kecilnya” pemikiran kontribustip anda atau seberapa kecilnya efek inspiratip yang anda lakukan, tentu sudah ada yang mencatatnya –  Dzat Agung yang menciptakan Steve Jobs, Steve Wozniak, anda serta semua alam semesta dan seisinya – Allah.   Begitupun sekecil apapun “wani piro” yang anda jadikan lifestyle bersama rekan2 anda  dan semungil apapun “cukrik” yang anda tenggak ramai2 dengan konco2 dewe,  kelak anda akan sendirian mempertanggung jawabkannya.

Steve Jobs berkontemplasi : “Everymorning I asked myself, if  today were last day of my life, would I want to do what I am about to do today” ( quoted by : Anna Vital, How to Start the Day, Entrepreneur, 16 Januari 2014).

Jika anda mengaku warga negara Indonesia dan mengaku cinta Indonesia, maka buktikan !!!

Ya Emangbegitu.

Bonus untuk memacu adrenalin dan mengasah akal untuk lebih kreatif, Steven Jhonson memberikan tutorial singkat dalam karikatur yang asyik dan mudah diikuti. Kebetulan yang digambar juga terkait industri Telco-IT. Silakan simak.

Scroll To Top