Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | BADAI SIKLON BARU AKAN HADIR ………………………………………………. Konvergensi Lintas Industri yang Revolusioner

BADAI SIKLON BARU AKAN HADIR ………………………………………………. Konvergensi Lintas Industri yang Revolusioner

Perusahaan2 (yang kini besar dan kokoh), pada umumnya didirikan dengan idealisme dan kultur alami yg kokoh, sikap kejuangan tak kenal lelah, dan berbagai nilai heroik lainnya. Salah satunya adalah PT ASTRA. Tentu saja ada perusahaan nasional lainnya yang serupa dengan ASTRA. 

Pemenang Punya Visi & Kultur ASLI HEBAT.  Tengoklah cerita2 yang melatarbelakangi kesuksesan perusahaan yang berangkat dari tidak punya apa-apa dan tidak dikenal oleh siapa2, menjadi punya segala rupa dan siapa pun mengenalnya.

logo astraFounders – orang2 yang diawal mengawali pembentukan lembaga itu menjadi perusahaan (yang kini kokoh hebat)  itu memiliki visi yang jauh, mulia tapi  jelas . Memiliki kultur yang kuat serta idealisme tak kenal menyerah.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia biasa, almarhum Michael D Ruslim, Presdir PT ASTRA International Tbk (2005-2010), diakui dan dinilai oleh banyak kalangan sebagai figur pemimpin yang konsisten mengingatkan tentang pentingnya perubahan dan mewanti-wanti para karyawannya agar tidak pernah puas dengan kejayaan yang telah diraih.

Di tengah segala aktivitasnya mendorong Astra memburu pertumbuhan, Michael D Ruslim juga giat menggelorakan spirit nasionalisme: Semangat kebangsaan serta persatuan di tubuh Astra.

TELKOMSEL artikel dekat-nyataDi Industri telekomunikasi, TELKOMSEL adalah sosok perusahaan yang proses kelahirannya juga digelorakan dengan semangat nasionalime, visi pelayanan, idealisme melayani Indonesia dengan ramah, mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat, tersebar di seluruh negri,   menghadirkan solusi dan pelayanan dengan kultur nusantara yang sepi ing pamrih rame ing gawe.

Tim pembabat alas TELKOMSEL dalam segala lini dan level menyatu padu secara sukacita dalam kesukarelaan mewujudkan impian membangun Indonesia lebih baik, membangun industri telco yang lebih terbuka bagi partisipasi siapa saja, membangun konsep pelayanan modern bercitarasa nusantara yang terbuka bagi sebanyak2nya masyarakat.

Jika di seputar tahun 1995-an henpon hanya untuk kalangan atas dan terbatas. Telkomsel melihat bahwa henpon itu untuk kemajuan Indonesia, untuk menghubungkan seluruh rakyat Indonesia. Dengan segala upayanya, semua yang tadinya eksklusif menjadi terbuka (misal opend distribution channel yang memungkinkan siapa saja bisa jualan pulsa, wartawan diajak peran serta dan boleh ikut diskusi untuk pengembangan pelayanan, dsb ), dari umumnya pelayanan itu mbulet dan amat birokratip menjadi pelayanan yang mudah dan ramah untuk siapa saja namun tetap modern dan hi-tech (misal GraPARI), dsb dsb.

Lebih jelas tentang bagaimana proses kelahiran TELKOMSEL ? …………….. Anda lebih paham.

Monggo !!!

https://www.cartoonstock.com/ directory/s/shopping_bags.asp

https://www.cartoonstock.com/
directory/s/shopping_bags.asp

Comfort Zone. Dalam banyak obrolan tentang Comfort Zone, pada umumnya lebih membahas kepada tips dan peruntukannya kepada pribadi/bagi diri sendiri.

Disini, memang tidak ada pembahasan seperti itu. Yang ada hanya obrolan seputar Comfort Zone saja.

Kondisi comfort zone, biasanya di”definisikan” sebagai kondisi dimana segala sudah ada, uang ada, akses kekuasaan ada, networking ada, sampai tidur pun uang mengalir sendiri.

Kondisi seperti ini, terjadi juga pada perusahaan.

Sehingga siapa pun yang berada di perusahaan dengan kondisi comfort zone tersebut mirip naik pesawat “auto pilot company”   Nyaman, penuh fasilitas, sampai mau berlagak lagu bagai kaum borjo pun bisa.

Efek berada pada kondisi perusahaan auto pilot company adalah adanya semacam amplifier (penggandaan) dari sifat2 manusiawi seperti menganggap enteng segala sesuatu, menjadi lengah adanya perubahan internal maupun external, sampai menimbulkan perilaku jumawa, sindikasi kaum ABS dan borjouis.

kelompokAgar diwaspadai benar2, jangan sampai hal2 seperti ini terjadi di perusahaan dimana Anda ditakdirkan (atau memilih secara sukarela) berperan sebagai apapun di dalamnya :

1.   Tanpa terasa, kultur yang berkembang justru lebih dominan diwarnai oleh apatisme, borjouisme, ABS, dsb.

2.   Perkoncoan menjadi semacam pola sosial yang mewarnai birokrasi, tidak lagi mengedepankan kejujuran dan profesionalisme, dsb.

3.   Kultur masa lalu dan sejarahnya ( entah mengapa – sengaja atau tidak) hilang atau terpinggirkan.

4.   Sulit menemukan susana kerja dengan semangat “holobis kuntul baris, rawe-rawe rantas malang-malang putung, sepi ing pamrih mare ing gawe”

5.   Mayoritas sumberdaya manusianya sudah terasuki pesan aneh ” I don’t care the history, all previous values and culture were obsolete ……….” maka perusahaan itu bagai freestyle party di atas pesawat auto pilot, yang efeknya adalah (6)

6.   Kondisi umum internalnya adalah :  yang waras sedikit, yang mabok banyak, semangat kejar target dengan cara apapun termasuk manipulatip misalnya.

7.   Muncul kesimpulan umum tentang sustainabilitas perusahaan dengan semboyan “hari esok emang gue pikirin”.

Sebaiknya dihindari, jangan sampai worst situation terjadi pada perusahaan dimana Anda ditakdirkan menjadi bagian dari perjalanan itu.

Monggo !!!

Revolusi Digital.  Revolusi digital menjelang abad milenium (tahun 1990-an) telah mampu melibas banyak perusahaan2 dunia yang besar dan kokoh. Telah mampu menghabiskan berbagai jenis profesi dan berbagai dampak “tak terduga” lainnya.

telexPada saat itu juga, tukang insinyur sampai operator telex ( telex adalah produk telco bergengsi berkelas hi-end) amat bangga dan cenderung “di atas angin” ketika bertemu dengan tukang insinyur tilpun.

Tekno tilpun dianggap hanya gagah karena baru saja bangun tidur dari tilpun engkol ke tilpun digital. Ketika itu, tekno tilpun digital baru melakukan lompatan eksponensiil menjadi digital mobilephone GSM (ponsel).

Kini profesi tukang insinyur telex entah bagaimana ? Bahkan tukang insinyur tilpun digital pun entah bagaimana kelanjutannya.

Anda lebih paham.

Tape recorderDi insdustri rekaman misalnya. Pada saat itu, perusahaan rekaman secara “tape recorder” amat kokoh mendikte musisi sampai industri musik.

Digital music player (seperti i-Pod, dan produk serupa KW1-4) amat sulit berkembang dengan platform, industri dan regulasi/aturan yang dikuasai oleh rezim tape recorder.

Namun ketika ponsel bermutasi menjadi smartphone dan dekstop/laptop semakin canggih serta jaringan internet semakin merata mendunia, maka profesi khas di industri tape recorder itu harus berpikir ulang atau “die”. Bahkan pelaku industri CD (Compact Disc) juga entah bagaimana ?

Serupa itu juga di inustri cetak photografi. Saat itu, banyak orang mengagungkan kehebatan cuci-cetak dari film seluloid jauh lebih berkualitas dibanding dengan dari kamera digital (faktanya benar, karena kamera digital saat itu masih rendah resolusinya, belum skala Megabyte).  Profesi ahli mesin cuci-cetak foto ( KODAK, FUJI, dsb) semakin hari semakin terdesak oleh revolusi digital.

Itu baru revolusi digital ! Belum revolusi yang konvergen di lintas industri !!!!

Masihkah ada yang belum sadar atau masih mabok ?

Ya silakan saja

ConvergenceKONVERGENSI lintas industri yang REVOLUSIONER.  Jika revolusi digital sedemikian hebatnya, maka sekarang ini memasuki jaman Konvergensi Lintas Industri yang Revolusioner.

Sebagian orang yang nyaman berada di industri “non-digital” atau secara tradisional amat jauh dari kemungkinan terdigitalisasi. Kini terjenggah dengan demo besar2an pengemudi taxi di kota besar indikator dunia (seperti Jakarta).

Industri digital telah memangkas (nyaris) habis semua pelaku konvensional di bidang ticketing (tiket pesawat, tiket KA, booking hotel ,dsb dsb).

Bukan saja bagian dari industri pariwisata (travel and hotel ) yang tergerus oleh konvergensi layanan ini, juga industri transportasi existing (taxi, ojek, dsb dsb) sudah tergerus oleh konvergensi ini.

Ini “hanyalah” sebuah era dimana sedang ada perubahan secara revolusioner dari berbagai aktivitas lintas industry secara konvergen.

Akan ada perubahan peran manusia dalam mengelola kehidupan dan alam semesta ini.

Meski belum begitu jelas peluang kerja atau peluang berusaha atau bentuk nyata dari perubahan secara konvergeng revolusioner ini, namun bakal muncul berbagai peluang baru dengan adanya revolusi ini sekaligus melibas sebagian yang ada selama ini.

Bisa itu berupa munculnya perusahaan baru dan matinya perusahaan yang lama. Munculnya profesi baru dan berkurangnya porsi profesi lama. Dan sebagainya.

Siapa2 perusahaan dimaksud, profesi apa yang dimaksud, dsb dsb …………..  Anda lebih paham

goaceh_gmee3_92 walisongoDzikir dan Fikir Menjauhkan dari Kondisi Fakir. Dalam revolusi seperti ini, kiranya pesan leluhur pun berlaku ” Ojo gumunan, ojo kagetan, lan ojo dumeh……………….. luwih becik sing eling lan waspodo”

Gumunan, berpotensi membuat kita mudah tertipu, mudah cemas, dsb

Kagetan, berpotensi membuat kita grusa-grusu atau malah lemes tak berdaya, dsb dsb

Dumeh, jelas membuat manusia terlena, lengah, menyebalkan, penuh makian, suka gegabah, dsb dsb

Semua perubahan itu keniscayaan kehidupan, sekaligus ujian keduniaan-keakhiratan bagi siapa saja yang mengaku dirinya manusia.

Luwih becik itu artinya lebih baik.

Eling itu ingat bahwa hidup dan kehidupan ini ada yang mengatur (Tuhan Semesta Alam), akan membuat jiwa tententeram dan bahagia.

Waspodo akan membuat kita memiliki kesediaan menggunakan akal dan pikirannya ( afala taqiluun afala tatafakkaruun) untuk mencermati lingkungan (internal dan eksternal) untuk dan dalam rangka melangkah ke depan secara prudent.

Wallohu a’lam

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

Scroll To Top