Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | BANCI TAMPIL

BANCI TAMPIL

Ada yang mengatakan bahwa kondisi sekarang ini lebih dikarenakan bangsa Indonesia baru seumur jagung dalam berdemokrasi, mungkin saja benar. Lalu apa pelajarannya ………………….. ?

Beberapa keanehan perilaku sebagian tokoh dan pemimpin di negri Anemia, mungkin bermanfaat untuk menjadi pelajaran bagi warga negri manapun, termasuk Indonesia yang akan menyelenggarakan Pemilu 2014 mendatang, Pemilihan Legeslatip maupun Pemilihan Presiden.   Sebagian penduduk Anemia mencermati dan mengambil hikmah atas berbagai aksi kampanye  para calon senat, para calon  perdana mentri dalam pemilihan perioda2 sebelumnya, keanehan perilaku dan pencitraan diri para calon itu.

ELECTION 2 Missi Penyelenggara Pemilihan di Anemia.  Komisi Pemilu Indonesia 2014 menggunakan “tag-line” dari pepatah asli Indonesia. Sebagaimana bisa disaksikan di iklan pemilu di tivi, pepatah itu adalah “Tak kenal maka tak sayang”. Entah apa yang ada dibalik dari penggunaan kalimat itu, kita tidak tahu persis. Mudah2an dengan pepatah yang dipakai KPU itu, masyarakat pemilih di Indonesia bisa mencermati mana calon2 yang  (1) orang2 yang bener2 baik dari keluarga baik2, bener2 punya kemampuan yg menjadi wakil sejati, jujur berani hebat, asli NKRI dan asli Takut pada Allah (2) mana orang2 yang sepertinya baik2 jangan sampai ternyata berasal dari kelompok gengster atau bank robber, (3) mana orang aslinya jahat namun disalut citra baik2, dsb.

Di Anemia,  KPA ( Komisi Pemilihan Anemia) memiliki missi ” (1) mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bernegara melalui moment berdemokrasi,  (2) menjadikan pemilu Anemia sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa menuju negara dan bangsa yang lebih kokoh, lebih bermartabat, lebih adil, lebih makmur, (3)  membangun system pemilu Anemia yang jujur, berani dan hebat dalam proses penyelenggaraan maupun dalam menghadirkan para calon senat dan calon perdana mentri.

Bagi Anemia, tujuan bernegara itulah yang ingin diraihnya. Demokrasi itu hanyalah proses untuk mengukur kepantasan diri para calon senat dan calon perdana mentri dalam menghantar sejarah perjalanan berbangsa dan bernegara yang dicita2kan para pendahulu (bukan oleh cita2 kaum tikus yang kental dengan keserakahan, pengkhianatan, dsb). Tolok ukur kepantasan itu adalah kewajaran umum yang ada keterkaitan dengan bangsa dan negara dari suatu posisi.  Bukan keterkaitan terhadap permintaan bini, dominasi partai ini itu apalagi keterkaitan ala dynasty mbelgedes.

Kewajaran itu misalnya tentang posisi senator. Wajarnya, seorang senator itu mengerti benar aspirasi konstituen yang diwakilinya ( ini misal lho, tentu masih banyak poin kriteria yang seharusnya ada di para calon wakil itu ). Aspirasi ini terkait itu yang bagaimana ?  KPA menetapkan bahwa aspirasi itu adalah yang berkaitan dengan hajat kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan aspirasi yang sifatnya perorangan yang relatip atau aspirasi terkait dengan keinginan seseorang, yang tentu sangat subyektip.

Jika ia menjadi senator yg hebat  berani jujur dalam ikut membangun kondisi yang kondusif bagi kemajuan bangsa dan negara, pemikiran dan politiknya mampu ikut menghantarkan negara dan bangsa lebih maju, lebih hebat, lebih bermartabat, lebih makmur, dsb, bukankah partainya otomatis dapat nama, ? akan berkibar secara blink-blink dan lebih kinclong.  Sebaliknya, jika ternyata korup, serakah, tengil, tukang plintir,  mengkhianatai rakyat, menterlantarkan bangsa dan negaranya, dsb, maka partainya juga dapat nama (buruk) dan wajar jika electabilitasnya turun – sebagai konsekuensi itu semua.

Contoh aspirasi perorangan yang tidak ada kaitan dengan berbangsa dan bernegara adalah “mas, aku dibelikan mobil ferari dong”. Contoh aspirasi yang berakaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah “boss, jangan lupa, wilayah ini irigasinya sudah tidak memadai,  pertanian kita bisa hancur berantakan diterjang pasar bebas.  Doronglah mentri terkait untuk segera beresi ini. Okay ?”  Jadi kalau ada calon senat yang ngerti saja kagak wilayahnya, sudi saja nggak dengan permasalahan yang dihadapi wilayah itu, maka sebaiknya masyarakat di wilayah itu tidak usah memilihnya.  Jangan terkecoh dengan slogan, jangan terkecoh dengan pakaiannya, jangan terkecoh dengan janji2nya, dsb.

Tag line Asli Indonesia. Anemia banyak menggunakan pepatah atau ungkapan yang edukatip yang bisa dipakai di alam demokrasi negri Anemia dan ternyata berasal dari  bahasa Indonesia.  Pepatah atau ungkapan ini juga edukatip dan langsung berhubungan dengan soal pengambilan keputusan yang penting bagi kehidupan bermasyarakat ke depan.   Misal : “bagai musang berbulu ayam”. “bagai serigala berbulu domba”, “keledai pun tidak terperosok di lubang yang sama”, dan berbagai pepatah yang memberikan semacam edukasi publik untuk senantiasa berhikmah pada peristiwa yang telah lalu, agar ke depan lebih baik lagi, termasuk dalam berbangsa dan bernegara melalui moment pemilu.

Beberapa calon senat atau calon perdana mentri di pemilu Anemia ada yang telinganya gatal2 mendengar pepatah dari Indonesia itu. Terutama jika memang dirinya adalah dari kaum berjenis Ori Imitation @KW4 Inside. Sementara bagi para calon senat maupun calon perdana mentri yang benar2 asli jujurnya, asli nasionalismenya, yang asli religiusnya, yang asli kemampuan manajerialnya, yang asli kemampuan dan paham bener2 tentang geo politic dan geostrategis Anemia, bisa membaca konstelasi politik dan dinamika lingkungan negri Anemia, dsb, maka semboyan atau pepatah dari Indonesia di atas itu wajar2 saja atau bahkan baik bagi pendidikan bangsa dalam menentukan pilihannya yang bakal berdampak untuk 5 tahun ke depan.   Menghidarkan kekeliruan masa lalu ( kalau pun ada dan dialami oleh sebagian rakyat Anemia ) yakni ternyata pilihannya itu terdominasi oleh kaum “wani piro” dan kaum yang bukan saja melupakan janji2nya, namun juga melupakan rakyat,  dan boro2 mikirin untuk memajukan kemampuan negri Anemia dalam menyongsong terbukanya pasar global.

Nasehat lain dari Indonesia untuk Anemia. Di Indonesia, sejak dulu dikenal wayang kulit. Wayang kulit itu bisa dikatakan memberikan pengajaran publik bahwa kalau aslinya rahwana, maka bayangan di kelir pun rahwana, hanya tidak full color sebagaimana aslinya. Itulah pencitraan yang ideal.  Banyang atau image atau citra tentulah mendekati atau sama dengan aslinya. Hanya dikarenakan dimensi/spektrum warnanya yang terbatas, tidak selengkap aslinya, maka ada perbedaan yang bukan distorsi,  namun blegernya ya tetep sama.  Jika aslinya Kresna kok bayangan di kelir menjadi Burisrawa, maka ada setan atau sifat jahat yang membuatnya demikian, ada yang jahil, ada yang merekayasa ( fitnah yang keji).  Jika aslinya laki2 kok yang ditampakkan adalah sosok perempuan, maka itu bancil tampil. Dan sebagainya.

Distorsi CitraCharacter Assassination. Orang baik2 kok kesannya buruk, itu banyak faktor.  Namun dalam sejarah manusia, biasanya kejadian seperti itu disebabkan oleh adanya distorsi (ada yang alamiyah ada juga yang  rekayasa pihak lain) .  Dalam “dunia digital”, distorsi ini membuat pixel terkirim dirubah sedemikian rupa sehingga tidak sama atau bahkan bertentangan dengan karakter, sikap, moralitas yang sebenarnya. Rekayasa distorsi oleh pihak2 yang tidak menyukainya atau yang iri atas keberhasilan yang diperoleh sosok seseorang.  Tujuannya merusak citra dari sang target, motivnya macam, misal iri dengki, keserakahan, dsb.

Coba simak di lingkungan kantor (pemerintah, swasta, partai, elesem, dsb) atau di lingkungan tempat tinggal atau sosialita anda, apakah ada kejadian pendistorsian ? Jika anda pernah melakukan distorsi serupa di atas, maka anda akan bertanggung jawab sendirian di akhirat meski saat melakukannya berkomplot dengan rekan yang lain. Tukang distorsi biasanya penakut dan pecundang.  Dalam bahasa agama, pendistorsian seperti ini merupakan salah satu bentuk fitnah yang keji. Dalam bahasa politik, mungkin disebut character assassination - pembunuhan karakter. Ini perbuatan yang sangat keji, membuat sesorang “mati” padahal masih hidup.  Membunuh saja secara dasar hukumannya dibunuh, nah … character assasination lebih dari itu.  Mumpung belum didatangi malaikat maut, silakan bertaubat jika pernah melakukannya.

Taubat terkait kesalahan keji atas manusia lain, harus didahului dengan permintaan maaf yang tulus langsung kepada pihak yang telah anda distorsi.  Hukum bertaubat adalah wajib. Jika dosa itu berkaitan dengan manusia, hendaklah meminta maaf daripada manusia terbabit. Sekiranya dosa berkaitan dengan harta benda, hendaklah dikembalikan harta tersebut kepada tuannya. Bertaubat kepada Allah hendaklah dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan hati yang ikhlas kerana taubat yang tiada keikhlasan tidak mendatangkan apa-apa kesan terhadap individu terbabit. Taubat yang terbaik adalah taubat yang penuh penyesalan, keinsafan dan rasa rendah diri kepada Allah s.w.t.  silakan cari pemahaman lain, misal di wikipidea tentang Taubat menurut Islam .  

Rekayasa PencitraanBanci Tampil. Dalam tayangan tivi yang mengupas tentang kehidupan malam,  pernah tertayang  sosok yang kelihatannya cewek sexy………. banget, eh ….lhadalah nggak taunya peralatannya botol juga (penontonnya laki2).  Itulah banci tampil. Ia berlenggak lenggok gemulai, berdandan ala fantasi, bertujuan untuk memikat dan tentu saja dalam rangka mencari “mangsanya”.  Tampilan cewek sexy yang fantastik spektakuler ,  tapi isinya botol juga.  Apa yang ditampakkan di luarnya,  tidak sama dengan apa yang di dalam.  Ini menipu.

Dalam dunia “politic” teknik banci tampil ini  sering digunakan, tentusaja agar pihak lain tertarik, memutuskan untuk memilihnya ( meski ternyata akhianya tertipu ). Banci tampil di politik sangat terkait dengan perilaku sosok yang memang hobinya tipu menipu. Dari sini saja, sebaiknya anda berpikir untuk siap2 tidak memilih para banci tampil, pililah yang jujur berani hebat, asli NKRI, asli religinya, asli bijaknya, asli pinternya.

Banci tampil  tujuannya untuk mempengaruhi keputusan pilihan manusia dan membuat pihak lain terkecoh dalam memutuskan, maka itu mungkin salah satu ciri2 orang munafik.  Sikap “banci tampil” ini terkadang banyak dijumpai pada anak kecil, dan itu bisa dimaklumi.  Namun bukan untuk orang yang sudah dewasa.  Dalam dunia manusia dewasa, dalam dunia para ksatria,  sikap “banci tampil” menunjukkan rendahnya mutu, meski blink-blink bungkusnya ternyata busuk isinyanya.

grades-cartoon2Ayam Sayur (yang) Penuh Tatoo. Contoh lain dari sikap yang mirip “banci tampil” adalah tubuh penuh dengan tatoo, badan boleh saja gede atau malah kurus tengil, mata membelalak, mulut seolah enggan terbuka namun berdesis bercampur suara2 gigi yang seolah sedang mengunyah tulang belulang.  Sekilas, siapapun melihat akan mengira ia seorang warrior sejati. Tiba2, ada anak kecil sepulang pesta ulang tahun temannya membawa beberapa balon, lewat di depannya. Entah apa sebabnya, balon itu meletus dan suaranya keras (tapi sekeras2nya suara balon meletus ya masih lebih keras suara halilintar).  Eh … saat mendengar balon meledak,  manusia Penuh Tatoo itu kakinya berjingkat2 seperti menginjak2 bara api dan mulutnya mengeluarkan suara latah “eh.. ada hansip, eh ada pol pepe”, berkali-kali  sambil ngibrit pergi seolah mencari tempat untuk bersembunyi.

Dalam pemakaiannya, tatoo itu mirip gelar. Bedanya tatoo itu melekat secara visual di tubuh dengan proses melukai kulit. Sementara, gelar ( bahasa umum di Indonesia terkadang disebut titel ) melekat secara imajiner pada person, melalui proses menuntut ilmu secara tertentu. Tatoo ada imitasi, gelar juga ada imitasi. Tatoo ada yang instant tanpa melukai kulit. Gelar juga ada yang instant tanpa perlu menuntut bidang keilmuan tertentu. Kesamaan pemakai imitasi adalah : ingin terlihat “keren” meski dalam innernya sama sekali tak memiliki apa yang “tergambar” pada tatoo atau apa yang tersebut dalam gelar/titelnya.

Bagi kaum sejati, maka gelar itu hanya konsekuensi dari keilmuan dan kepakarannya. Namun bagi kaum banci tampil dan kaum Ori Imitation @KW4 Inside, gelar itu gengsi, eksistensi, meski ilmunya jongkok atau bahkan nihil, kepakarannya juga nihil.   Kaum Ori Imitation @KW4 Inside sangat suka memamerkan diundangan pernikahan atau minta disebutkan oleh MC (emsi) di acara2 publik bahkan acara seminar. Jika lupa disebut (rentengan) gelarnya, maka  kaum banci tampil ini akan dengan caranya menegur, marah atau kalu bisa mengancam siapa saja yang menyebabkan gelarnya tidak disebut.

Saat ada masalah riil yang kecil di depan matanya yang menjadi tanggung jawabnya,  kaum banci tampil dan kaum Ori Imitation @KW4 Inside akan pura2 nggak tahu, nggak lihat atau pun kalau melihat atau ditegur orang lain bahwa ada permasalahan dalam tanggung jawabnya,  biasanya akan melakukan aksi “tai chi”, atau beralasan bahwa “itu sudah didelegasikan”.  Kalau memang didelegasikan, apa nggak ada fungsi kontrol ? lalu apa tugas dan tanggung jawabnya?  Itulah beberapa ciri manusia yang hobi “banci tampil: atau pencitraan semu – apa yang ditampakkan menjadi sangat menarik, padahal dalemannya beda banget. Mirip kisah Daryono yang mengaku sebagai Presiden Direktur.

Sebelum memilih dalam pemilu, carilah yang paling baik dari yang ada. Jika menurutmu semua buruk perangai dan track recordnya, sebaiknya juga pilih yang terbaik dari yang buruk2 itu. Golput atau tidak menggunakan suara, saat ini belum memiliki wakil di senat, di badan representative.  Jangan merasa kesal dengan kondisi seperti ini dan kalau pun terbesit menginginkan golput memiliki “wakil”,  maka jangan anarki. Pakailah cara2 yang konstitusional, toh sebagai warga negara anda punya hak yang sama dengan yang tidak golput.

Soal ilmu pengetahuan dan kemahiran, bangsa ini sangat luar biasa. Soal kekayaam sumberdaya alam, jangan bertanya lagi, Allah sudah melimpahkan ke negri ini. Soal posisi strategis, juga jangan tanya : sangat strategis dan sangat menantang.  Masalah dasar yang perlu dibenahi adalah akhlak yang takut pada Tuhan, kebangsaan yang percaya diri dan tidak sombong, mentalitas mengedepankan kepentingan negara bukan merampok uang negara. Jika yang ini sudah dibenahi, maka yang lainnya akan menjadi mudah, menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang percaya diri, bangsa yang kuat, bangsa yang disegani, dan  negri yang tata titi tentrem kerta raharja, yang gemah ripah loh jinawi, dsb.

Sekedar Saran. Cobalah simak pemikiran dan cita2 para pendiri negri ini sejak sebelum negri ini merdeka. Kendalikan hasrat kerakusan dan keserakahan menjarah dan merampok uang negri, jagalah martabat diri untuk tidak menjadi kacung penindas bangsa sendiri atau serupa itu.

Simaklah betapa para raja2 Jawa saja sejak tahun 1700-an sudah menggagas kesatuan kemakuran nusantara nengusir penjajah, begitu pun raja2 besar dan kecil di wilayah nusantara lainnya. Padahal mereka2 itu bisa saja melanggengkan dynasty-nya.  Menjadi terlihat aneh dan terkesan nggak tahu malu melihat ada manusia yang mengaku bagian dari bangsa Indonesia,  bukan keturunan raja, lha kok malah bikin dynasty.

Simaklah para cerdik cendekia yang di awal tahun 1900-an saja sudah ingin mencerdaskan saudara-2 di nusanatara. Mengapa kini ada kaum yang merasa pinter justru membikin bodoh atau membodohi saudara2nya di nusantara.  Apa nggak malu sama para penggagas Boedi Oetomo, mereka adalah bagian bangsa yang asli pinternya, asli NKRInya asli religinya, asli peduli bangsanya, asli mempersatukan dan membangun (bakalan) negrinya. .

Simaklah betapa kokohnya jiwa kebangsaan dan tulusnya perjuangan para pemoeda di tahun 1928, meski belum merdeka, belum menjadi satu kesatuan, malah membentuk tekad kuat dalam Soempah Pemoeda : menyatakan berbangsa, berbahasa dan bertanah air yang satoe – INDONESIA.  Malulah pada para pemoeda itu, sekarang ini ada sebagian kaum yang ingin mengubur sejarah hebat itu, mengubur the real masterpiece karya generasi muda (padahal waktu itu masih dijajah, belum bisa internetan ).   Simaklah di berita2, terdapat usia muda, pinter2, cewek dan cowok,  yang sebagian (terkesan) masih lugu, sebagian lagi nampaknya (memang) licik. Apakah dalam asuhan seniornya atau terkesan dilakukan secara solitair,  menjarah secara brutal dan rakus. Ada yang melakukan sebagai aktor maupun sekedar sebagai kacung perampok/penjarah uang rakyat atau kacung kumpeni penindas bangsa sendiri.   Tinggal meneruskan saja apa yang sudah bagus dan cita2 luhur mana belum terwujud, kok malah berkhianat pada bangsa, negara dan rakyat.  Jangan bicara soal masterpiece, sebab berpikirnya saja juuuuuuuuuuuuuuhh lebih rendah mutunya ketimbang para Pemoeda penggagas Soempah Pemoeda.

Simaklah kehebatan orang yang sakit2an dan kemana2 ditandu memimpin perang gerilya mengusir penjajah, tidak takut dibilang inlander pribumi pembrontak, ogah menjadi kacung kumpeni, karena memang perjuangan menuju kemerdekaan ya seperti itu, ia lah panglima Soedirman dkk. Malulah sama mereka, berjuang saja tidak, merebut kemerdekaan saja tidak, kok malah menjual aset negri, merampok uang negara, menindas bangsa sendiri. Masterpiece-nya jelas “Perang Gerilya”, tujuannya jelas “MERDEKA”.

Simaklah betapa cerdas teliti beraninya para pemoeda yang telah melihat hasil perjuangan perang gerilya dan moment yang terbaik, mengusung duet Soekarno Hatta untuk menyatakan MERDEKA ! Paham juga nggak tentang konstelasi politik, ngerti juga nggak tentang momentum penting bagi bangsa, dan serba nggak paham tentang isi negri ini dan cita2 luhur para suhada, lha kok malah rela mencalo ke bangsa sendiri, ada juga menjadi kacung kumpeni, ada lagi yang menjual manusia menjadi babu bagai jaman perbudakan.  Malulah sama mereka yang dengan gagah berani menegakkan keMERDEKAan bangsa dan negrinya. Masterpiecenya jelas “Deklarasi KEMERDEKAAN Indonesia”, tujuan moralitasya multi dimensi dengan esensi menghapus penjajahan dimana saja, kapan saja oleh siapa saja, idealismenya juga jelas “melindungi segala tumpah darah……. adil makmur”.

Semoga ke depan bangsa dan negri Indonesia semakin lebih baik lagi. Amin ya robbal ‘alamin.

Ya Emangbegitu.

 

 

Scroll To Top