Sekilas Info
Home | Inspirasi | BELUM MOVE ON.

BELUM MOVE ON.

Kalau mempersepsi Presiden sekarang – pak Jokowi,  dilakukan dengan cara yg sama dalam mempersepsi figure pemimpin sebelumnya, misal pak SBY atau pak Harto, maka Anda keliru atau belum MOVE ON

HMS SBY JKWBeberapa kesamaan memang ada dalam beliau2 semua, namun dalam banyak hal, memiliki perbedaan yang relatip jauh.  Ini hanya pengamatan alias niteni, sehingga tidak ilmiah dan tidak ada jaminan kebenarannya. Kalau pun ada kebenaran yang akan anda rasakan, itu hanyalah kebetulan saja.

SAMA : Kesamaannya yang sama2 bisa kita simak adalah : semuanya menaruh hormat bhakti kepada orangtuanya, sungkem tulus kepada Ibu masing2, relatip sholeh dan …. tentu saja (kita tahu)  semuanya menjadi Presiden RI.

Presiden Kita Semua. Insya Allah semuanya bertujuan baik untuk bangsa dan negara dalam keyakinannya yang kuat bahwa kepemimpinannya adalah amanah dari Allah yang akan dimintakan pertanggung jawabannya saat masih hidup (hayat)  maupun setelah terpisahnya jiwa dengan raganya (almarhum).

Saat masih hayat dan masih menjabat, karena itu adalah Presiden kita semua, maka layak jika kita berharap orientasi kepemimpinannya adalah untuk bangsa dan negara Indonesia, untuk memajukan dan memakmurkan rakyat Indonesia. Bukan rakyat, bangsa dan negara lain.

Ketika kesejahteraan rakyat terabaikan, maka wajar jika rakyat mengingatkannya.

Bukan juga menjadikan dirinya sebagai perpanjangan tangan kepentingan pihak lain (misal menjadikan adanya agenda poros Peking, Poros Moscow, poros Washington, poros Hongkong, poros Berlin, dsb).

Siapapun pemimpin kita, jika kepentingan asing lebih didahulukan, maka wajar jika rakyat mengingatkannya.

KUNJUNG.  Dari pengamatan soal dikunjungi/mengunjungi, sekilas :

  • pak Jokowi itu lebih suka mengunjungi, salah satu ciri yang amat populer dalam pak Jokowi adalah blusukan. Blusukan pada dasarnya adalah mengunjungi, bukan dikunjungi.
  • pak SBY lebih suka dikunjungi. Jadi wajar saja kalau pak SBY jarang dikenal sebagai figure yang suka blusukan. Malah menjadi aneh kalu pak SBY kok blusukan. Beliau lebih sibuk menerima kunjungan tamu negara, kolega, atau siapa saja.
  • pak Harto suka dikunjungi namun sedia juga berkunjung, terutama jika beliau merasa perlu. Simbiosis antara mengunjungi dan dikunjungi adalah dalam bentuk klompencapir (acara dimana pak Harto ke suatu tempat, dan di tempat itu, para petani setempat berkumpul. Dua pihak melakukan komunikasi timbal balik, namun biasanya dimulai dari pertanyaan dari pak Harto).

UNDANG. Dari pengamatan soal diundang/mengundang, sekilas :

  • pak Jokowi itu lebih suka mengundang, termasuk mengundang BEM ke istana sehari sebelum rencana demo besar 20 Mei 2015 yg akhirnya dilakukan tgl 21 Mei 2015.
  • pak SBY lebih suka diundang, terlebih diundang perguruan tingggi untuk memberikan kuliah umum, misal di IPB.
  • pak Harto lebih suka mengundang namun sedia juga untuk diundang, terutama jika beliau merasa sreg dan cocok dg keperluannya, misal hadir di undangan muktamar NU meski beliau terkesan Muhammadiyah.

Dan masih banyak lagi…. silakan simak sejarah dan kegiatan updatenya.

RESPONS.  Seperti halnya kita, beliau semua adalah juga manusia biasa, bukan dewa, bukan setengah dewa. Jika tujuan, rencana atau pun suasana dirasakan akan jauh panggang dari api, maka wajar saja jika sebagai pemimpin tertinggi di pemerintahan negri kita itu, akan melakukan respons.  Hanya responsnya berbeda2.

  • Pak Harto, boleh jadi  akan memberikan respons keras jika ada pihak2 yang menjegal tujuannya dalam mengelola negara.
  • Pak SBY,  akan merespons keras jika ada pihak2 yang mengacaukan rencananya dalam mengelola negara.
  • Pak Jokowi, juga akan lebih merespons keras jika ada pihak2 yang mengusik ketenangannya dalam mengelola negara.

Respons masing2 berbeda2.

JENIS RESPONS. Respons itu ada macam2 bentuknya. Biasanya, pemimpin itu memliki respons yang intinya adalah untuk menghentikan semua hal yang dirasa mengganggu (tujuan, rencana/citra diri, suasana/ketenangan) :

  • Jika kepribadian sang pemimpin, lebih menonjol Kolerik, maka bisa jadi responsnya berbentuk  attack, hit atau hard action. Biasanya pemimpin seperti ini sudah memiliki rencana jelas, tekad kuat dan tujuannya yang kokoh.  Terbuka dan suka menjelaskan tujuannya, namun akan keras jika tujuannya diganggu. Ciri pokok pemimpin jenis ini adalah : kokoh, tujuannya jelas.
  • Jika kepribadian sang pemimpin adalah dominan melanklolik, maka bisa jadi responsnya dalam bentuk menuduh/pointing finger atau judge atau charge. Meski punya rencana bagus dan rinci, namun jarang/kurang sedia untuk menjelaskan ke publik,  citra sebagai yang terbaik serta yakin benar rencananya benar dan kesan  keberhasilan, merupakan hal yang amat penting. Siapapun yang  dipandangnya akan/telah merusak atau potensi menggangu  rencana, akan dikucilkan/tidak dipakai atau dituduh akan berbuat sesuatu yg membahayakan. Ciri pokoknya : Detail/Teliti, Sensitip/Mudah Tersinggung.
  • Jika kepribadian sang pemimpin dominan plegmatik, maka boleh jadi responsnya  tidak terlalu nampak dipermukaan atau baru dirasakan setelah beberapa waktu berselang. Rencana dan tujuan itu penting, namun baginya proses itu harus dijaga benar, sehingga sering terkesan lamban dan penakut. Jika ada pihak yang dipandang bisa mempengaruhi proses, maka biasanya akan merespons dg “nggathuk-e rasa”, mengundangnya dan melakukan upaya memahami apa yang membuatnya beda. Termasuk sedia mempersilakan pihak lain mengungkapkan rasa dan unek2nya. Ia yakin bahwa dengan seperti itu, dapat  untuk melepaskan “enegry negative”, agar tidak terjadi kompresi dan meledak, sehingga kegaduhan bisa diminimalisir.

Ikhlas. Layaknya kita juga, manusia, tentu saja diantara yang benar2 ada terselip atau tertutupi dengan yang salah2.

Kyai Mursyid menyampaikan bahwa terkadang kita merasa lebih bener ketimbang orang lain, termasuk ketimbang pemimpin kita ( termasuk para Presiden kita). Apakah perasaan itu (merasa paling bener) itu dalam konteks berpegang pada “buhul tali yang kokoh”, atau pada rasa tidak suka, atau pada hal lainnya.  Masing2 kita yang tahu.

Namun kita juga akan mendapatkan kebaikan jika sedia mengingatkan orang yang keliru jalan (memberitahu arah yg benar),  mengingatkan orang akan janjinya (menasehati untuk menepati janji), termasuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (mendorong/mengajak untuk melakukan kebaikan, dan mencegah dari potensi bertindak buruk).

Masing2 jenis pemimpin, memiliki kepribadian yang berbeda, sehingga cara dan responsnya juga berbeda.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22).

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (An-Nisa: 125)

Wallohu a’lam

 

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

 

 

Scroll To Top