Sekilas Info
Home | Inspirasi | BINTARO

BINTARO

Kecelakaan yang bersifat massal, moda transportasi apa saja, dalam pemahaman tradisi di kebanyakan orang Indonesia, sering2 dikait2kan dengan hal yang mistis. …. Kok bisa ya ?

Gerbong maut, perlintasan angker, tikungan maut,  hantu penunggu meminta korban, dsb adalah beberapa novel, cerpen bahkan beberapa tayangan tivi juga ada menyajikan hal serupa. Tidak terkecuali dengan komentar mistis atau “explorasi”  pewarta dari jenis mistis, terkait kecelakaan KA di Bintaro – 9 Desember 2013,  tujuh orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, pun nampak.   Mengedepankan mistis dan kurang memberikan kesempatan logika berkembang sebagaima mestinya, itu mungkin yang menjadi faktor utama perilaku berkomentar, bertutur atau menyimpulkan kejadian2 serupa itu. Beruntung para pemmpin kita : pak SBY, pak Jokowi pak Menhub dll tidak terbisiki arus mistis.  Logika dan solusinya masuk akal dan wajarnya Emangbegitu. Tinggal bagaimana menangani masyarakatnya masih banyak yang mistis, masyarakat yang ilogic dan suka menerabas.

Anemia meniru Kemajuan Indonesia. Di Anemia, jumlah pewarta, penovel, pencertita, perumors, peng-isu yang mistis sangat  dominan, sehingga kebenaran yang terbentuk di masyarakat Anemia juga mistis. Dengan kata lain, “mistis adalah kebenaran” yang menjadi panduan kehidupan masyarakat tersebut.  Entah siapa yang mengembangkannya, dulu budaya “mistis” pernah berkembang. Sisa2nya masih bisa dilacak : hobi ngerumpi,  hobi memfitnah, hobi character assaination dll masih mewarnai  pembicaraan, tulisan, berita atau tayangan di tivi Amenia.

rebutan balungSetelah capek “rebutan balung” berbentuk jabatan dll, banyak perilaku manusianya yang mirip  hyena atau ajak atau anjing kurap. Padahal, para Ulama yang bener2 ulama Anemia sudah sering dan tak henti2nya menasehati bahwa kalau mati,  semua yang diserobot secara rakus bin bakhil itu tidak akan dibawa masuk ke kubur. Justru akan menjadi dosa jariyah, yang memberatkan siksa kubur dan juga ketidak berkahan hidup para penerusnya (anak2 dan cucu2-cicit2nya). Transformasi Anemia telah memberikan pelajaran berharga.  Seperti halnya di Indonesia, rakyat Anemia juga bangga dengan salah satu hasil transformasi Anemia, dimana telah terbentuk lembaga KPPUN ( Komite Pemberantas Penjarah Uang Negara ) – seperti KPK di Indonesia.

Keberhasilan Komite Pemberantasan Penjarah Uang Negara menjerat para Penjarah Uang Negara,  sebagai hasil dari hasil kerja bareng dan dukungan rakyat Anemia serta berbagai pihak seperti Lembaga Sebening Kaca yang memantau dan bersuara terkait transparansi birokrasi dan penyelenggaraan administrasi negara; Lembaga yang tak kalah berperan antara lain adalah Watch for Anemia’s Robber  ( WAR ) yang memantau perilaku yang mengindikasikan adanya Penjarahan Uang Negara;  Lembaga lain yang juga berperan penting adalah Lembaga Pelacakan Track Record Lalu Lintas Keuangan yang Aneh2, yang bekerja demi dan untuk pengamanan uang negara ( disebut Lembaga Pemantau Transaksi Finansial ); dan  para elit pencinta negri sejati.

Kesadaran Baru. Kini pemerintah, politisi, sampai el-es-em di Anemia sudah sepakat memandang bahwa tujuan negara itulah yang harus diraih, bukan “rebutan balung”. Berdemokrasi hanyalah sarana untuk mematut diri secara bergiliran menjadi sopir pembawa enterprise menuju cita2 negri. Rezim hanyalah tim giliran bekerja, shifting of worker team, yang merasa atau ingin mematutkan diri untuk menjajal kepiawaiannya menjadi pilot “pesawat Anemia”.  Mereka juga bersepakat mengakui kekeliruan selama ini yang tidak melengkapi diri dengan rute perjalanan dan sarana navigasi ( konon di Indonesia dikenal dg nama GBHN ), sebagaimana kesadaran atas kekeliruan bangsa Anemia yang membiarkan uang negara dirampok oleh para tikus serakah dan menjual asset negara karena kebodohan, upeti atau memang bermental kacung alias babu kumpeni asing.

Kesadaran baru juga muncul dan HEBAT, adalah kesepakatan moral para pemimpin dan elit serta sebagian besar ilmuwan asli (bukan Ori Imitation @KW4 Inside) bahwa jikalau setelah pemilu nanti terpilih suatu rezim, ternyata jalannya enterprise menjadi nggak jelas, melambat, ngaco, dsb maka tim atau rezim yang terpilih saat pemilu,  tidak perlu merasa malu untuk menyerahkan giliran pada yang lebih pantas, lebih patut. Karena taruhannya soal keberlangsungan kemajuan kekuatan negara, kesejahteraan keadilan kemakmuran rakyat serta keamanan dan martabat keseluruhan di percaturan dunia.

Para cendekiawan dan para elit bersama2 mendorong pembangunan iklim dan masyarakat serta kondisi lingkungan umum yang memberikan kesempatan bagi berkembangnya logika, berkembangnya nalar, berkembangnya akal, sehingga kebenaran masyarakat semakin diwarnai oleh nalar, oleh logika, oleh akal.  Bertahap tapi mendekati kepastian, budaya menghargai achievement, dan mengeliminir budaya banci tampil, budaya  gosip, berbagai budaya yang memproduksi generasi “wani piro”,  generasi Ori Imitation @KW4 Inside, bagi masyarakat  menjadi santapan paling digemari. Egoisme atau budaya sektoral ala partai atau ala dynasty semakin menurun.

Wajah Mistis Budaya Kita.  Coba search di situs2 berita atau tayangan tivi di negri anda.  Berapa banyak pemberitaan, tayangan terkait dengan kejadian (seperti di Indonesia ) :  macam eyang ghoib dan sejenisnya, berapa berita atau tayangan tivi yang bertopik pengembangan mobil listrik di berbagai institut teknologi di negri anda,  seberasa tertarik media2 di negri anda terhadap keseriusan perusahaan pengembang mass teransportation ( kalau di Indonesia : perusahaan monorail di Bekasi, pt INKA di Madiun, pt PAL di Surabaya, dsb ).  Jika hasilnya menunjukan bahwa media di negri anda didominasi oleh tayangan mistis, klenik, gosip, intrik, dan serupa itu, baik yang disalut dalam bentuk sinetron, lawakan (yang nggak lucu),  infotainment, dan serupa itu maupun yang terdapat dalam berbagai file pemberitaan (news).  Maka wajar jika negri anda

Setelah itu coba simak seberapa serius media mengawal peristiwa/gosip terkait eyang ghoib dan banding apakah ada pengawalan terhadap produk logika yang menuju kebaikan.

Wajar jika kaum terdidik di Indonesia yang mencintai keluarganya ada yang membuat keputusan ekstrim “No tivi”, ada juga yang moderate dengan  lebih memilih edukatip yang ringan seperti Tukang Bubur Naik Haji, Para Pencari Tuhan, Kick Andy, dan serupa itu serta tayangan tivi berbayar channel2 seperti NatGeo, History, atau Channel film yang membawa pesan edukatip seperti NCIS, dsb.   Ada dua cabang besar “pembiaran perkembangan budaya” atau “penciptaan tak sengaja budaya bangsa” : cabang yang satu berkembang dengan nilai2 yang mengedepankan logika, menjalankan religi  secara harmoni dalam bermasyarakat, sementara cabang lainnya sangat variatip dengan warna yang cenderung mengedepankan mistis dan disharmoni ( variant-nya banyak dan bisa ekstrim atau radikal ).

Kurangi Budaya Negative.  Mengembangkan budaya positip, paling mudah adalah dengan cara mengurangi budaya negatip. Sebab manusia pada dasarnya memiliki “ruang jiwa” yang senantiasa berkembang. Jika  budaya negatip dikurangi, maka pertumbuhan “ruang jiwa” akan membutuhkan isi dan jika lingkngan kondusip positip, maka “kekosongan ruang jiwa” itu akan terisi dengan budaya poistip.   Media, rumor, gosip dan kecenderungan sebagian masyarakat di Indonesia bisa dilihat dari porsi yang dikatakan/diberitakannya.  Jika media rajin dan serius memberitakan/mengkawal suatu kecelakaan mobil listrik ketimbang mengkawal/memberitakan proses pertumbuhan gagasan, implementasi, ujicoba, dsb,  maka kecil kemungkinan, media itu akan memberitakan bahwa kecelakaan dalam uji coba sebagai suatu error yang bukan dikehendaki, justru akan menjadi feedback.  Begitu pun dengan program monorail, busway, perbaikan sistem perkereta apian, sistem per-feri-an, dsb.

Media yang mengedepankan “mistis” dan budaya negatip, cenderung  memberitakan kecelakaan atau error lain dengan tone menghujat. Disini media ini telah menyumbang “ruang jiwa” masyarakat akan lebih banyak terisi negatip ketimbang positip. Namun media yang logic dan positip bukan berarti tidak boleh mencium, mengawal atau memberitakan kejanggalan, penyelwengan terkait dengan pelayanan publik, keselamatan masyarakat, sampai potensi perampokan uang negara yang berkedok macem2.  Disini media menyumbang “ruang jiwa” masyarakat dengan perilaku berpikir kritis dan peduli kejayaan bangsa/negara dan memerangi perilaku perampokan/penjarahan secara nyata.

Media dan Kejayaan Bangsa ke depan. Sebagian orang berpendapat bahwa, yang lalu biarlah berlalu. Sebagian lagi mengatakan yang lalu selalu ada pelajaran untuk kebakan ke depan, bagi yang mau berhikmah. Media berperan besar dalam ikut membangun “ruang jiwa” masyarakat pembaca/pendengar akan menjadi berpikir positip terhadap karya anak bangsa. Membangun optimisme bangsa, menjaga semangat anak muda di bidang positip kreatip dan kreatip positip.

Mencegah masyarakat yang ikutan menjelekan2 bangsa diri sehingga para “motor penggerak bangsa”, atau secara “tak sengaja” membuat para insinyur muda yang kreatip  menjadi patah arang.  Mungkin saja dalam uji coba itu (dan jicba apa saja, kini maupun ke depan) masih belum sempurna dan ada error. Dan ni menjadi kesadaran bersama : pelaku inovasi, masyarakat umum dan media.  Namun jika ada indikasi kejahatan (perampokan, penjarahan, dsb atas uang dan kekayaan negara) dan kesengajaan suatu rezim atau sekelompok orang atau dynasty mbelgedes dengan dalih kemuliaan itu atau dalih “menolong rakyat”, maka media wajib menggigit dan mengunakan dogma bad news is good news.  Diluar itu, media adalah agent of development, agent of change toward better and better ( fastabikul khoir, tawashul haq wal sobr ). 

Silakan simak ! Di negri super power saja banyak kejadian kecelakaan ujicoba yang diberitakan secara apik dan tetap memberikan semangat berprestasi pada para insinyur dan stakeholder terkait.  Itulah media negri super power. Mereka yakin bahwa tidak selama sempurna meski dibuat sesempurna mungkin, mereka sadar ada kemungkinan sabotase meski telah dilakukan upaya pencegahan secara kesisteman. Semua error menjadi feedback untuk penyempurnaan ke depan. Semua kelengahan untuk diperbaiki dengan meningkatkan kewaspadaan. Bukan untuk dihujat.

Berbeda lagi dengan di Anemia, semua karya “banci tampil” malah menjadi berita yang sangat dikawal, meski kenyataannya justru sebaliknya. Kaum asli cinta negri, berharap agar jangan ada perampokan uang negara dilakukan melalui program berlabel “kemanusiaan”.  Akibatnya sebagian rakyat tersihir dan tertipu, dan pelaku tertawa terbahak sambil menjarah uang negara.  Tidak heran jika program kepedulian sosial dan tanggung jawab perusahaan2 di Anemia, menjadi lahan empuk untuk para “banci tampil” menari2 menipu rakyat, membodohi rakyatnya sendiri, merusak bangsanya sendiri dan menjadi kacung kampret kumpeni asing.  Para ulama Anemia yang benar2 ulama banyak yang mempertanyakan :  ”Apakah mereka itu benar2 manusia atau manusia jadi2an atau setan atau iblis.  Seolah logika dan nuraninya sudah nggak ada”.

Tikungan Angker. Jiwa budaya mistis di arus atas menimbulkan hobi rumors, gossip, dsb, sementara sisa budaya mistis di arus bawah bisa dilacak antara lain : Bunyikan klakson saat melalui tikungan di daerah anu sambil menggerak2kan saklar dimmer lampu kendaraan.  Banyak sopir bis yang mempraktekan ini dan mereka relatif “selamat” dalam mengemudikan kendaraan berpenumpang itu. Ada juga yang melakukan “ritual”  di beberapa jarak sebelum tikungan, bus dihentikan dulu, lalu sopir turun menuju salah satu pohon dan menepuk2  batang sambil mengatakan sesuatu.  Sopir2 bus ini memahami peristiwa secara mistis yang sudah mentradisi.

Pemuda “pesantren” yang juga anak kuliahan mencoba mencermati kepercayaan mistis itu sambil mempraktekan rute, namun tidak melakukan perilaku yang biasa dijalani para sopir bus, tanpa pretensi apapun. Hasilnya : sebagian pengalaman mengatakan bahwa menjelang tikungan (1) suasana terasa mengantuk setelah melalui jalanan yang lurus kemudian berbelok2 dan lulur  kemudian berbelok2 lagi (2) beberapa pengalaman lainnya mengatakan, badannya terasa capek, lelah dan sesekali mulutnya menguap (bhs Jawa : angop), (3) sebagian pengalaman lainnya tidak merasakan apapun, okay2 saja.  Kesimpulannya :  mistis itu mendekati benar ( ???? ). Sebagai “santri” dan well educated, maka kesimpulan ini perlu diragukan (minimal oleh diri sendiri), dan perlu “test” dengan model lain.

Lalu ujicoba dengan secara sadar mempraktekan perilaku2 atau ritual mistis para sopir. Hasilnya (1) rasa kantuk tidak ada, (2) rasa capek tidak ada, padahal idak menggunakan minuman berenergy. Kesimpulannya : mistis itu benar ( ?????????????????? ).  Semakin bingung hidup di budaya mistis.  Ini syirik, ini tindakan yang menjurus musyrik dan musyrik itu kebodohan.

Namun dengan analisa logika, hasilnya adalah : (1) ada pondasi kuat, yakni  ”alarm tubuh” yang secara sadar dibangun bahwa sebentar lagi akan memasuki daerah “rawan kecelakaan”, akan  membuat kesadaran diri tetap terjaga, sikap waspada bertumbuh/bangun, jiwa raga menjadi siapa.  (2) ada aktivitas yang relevan, yakni  membuyikan klakson atau menggerak2kan saklar dimmer lampu, membuat kesadaran, kewaspadaan dan kesiagaan diri semakin prima. Itu penjelasan logikanya.  Begitu pun degan menghentikan bus sebelum memasuki “daerah rawan kecelakaan” membuat kesadaran para sopir terjaga, menepuk2 pohon (mana saja) atau beton pinggir jembatan sambil mengucapkan sesuatu tanda permisi, memmbuat kesiagaan dan kehati2 an par sopir menjadi prima.

Gelombang Elektro Magnetik. Secara edukasi maupun jumlah lembaga pendidikan, jaman ini semestinya lebih well educated. Namun jarang sekali yang paham bahwa setiap  massa besi bergerak melintas massa besi yang panjang akan menimbulkan gelombang elktromagnetic. Semakin kencang pergerakan massa besi dan semakin massive dan besar ukuran massa besi itu, semakin besar pula gelombang elektromagnetic itu.  Kereta Api adalah massa besi yang masive dan berukuran besar dan berkecepatan tinggi. Gelombang ini dapat mempengaruhi kinerja mesin elekro apa saja yang ada di atas jalur kereta.  Semakin mendekat, semakin besar pengaruhnya.

Kurang atau Labil Logika.  Kemarin petang (12 Desember 2013), di lintasan rel KA berpalang pintu di dekat LP Cipinang Jaktim, ada pengendara motor matic yang roda depannya terperosok di sela2 rel.  Meski tidak sampai masuk – karena ukuran ban yang lebar, namun kondisi genangan dan KURANG/LABIL logika pengendara, membuat ia nyaris frustrasi menyelesaikan “soal kebidupan di jaman kini”. Mungkin ini salah satu gegar budaya. Penyebab kejadian di lintasa rel KA adalah “tidak terdidiknya” masyarakat pelintas rel KA atau  menggunakan logika yang keliru. Saat melintasi lintasa rel KA, bukannya membuat arah ban yang memotong secara tegak lurus terhadap rel yang akan dilintasi, malah ragu2 dan justru velg roda searah dengan arah rel. Sudah pasti ( bagi yang kuat logika) justru akan  menjadi “terperangkap” dalam celah antara rel dengan aspal yang biasanya disekat juga dengan besi.

Labil logika mungkin saja banyak menjangkiti masyarakat luas, terutama pada golongan yang mendekati OKB atau “ahli kredit”. OKB, membuat sesorang berperilaku aneh, tidak standar seperti layaknya atau sebagaimana mestinya. Untuk memudahkan membayangkan perilaku OKB adalah perilaku sopir dan pembantu yang ditinggal majikan mudik, namun di rumah “dipercaya” untuk merawat beberapa mobil yang ada. Detilnya silakan bayangkan sendiri ( lebih bayah lagi, jika sang majikan juga boleh jadi dari kaum berjenis OKB).

Meski bukan tanggung jawab Mendikbud atau Gubernur setempat, namun pendidikan berbudaya di jaman  masa kini, ada baiknya memuat hal-2 seperti ini. Menjadi muatan lokal, karena ini juga budaya yang sifatnya lokal. Boleh jadi di daerah2 dimana Feri menjadi sarana utama, maka pendidikan dengan mengambil pelajaran seperti tenggelamnya Feri akibat “berebut sinyal henpon” juga layak menjadi muatan lokal.

Jika edukasi publik terkait hal2 seperti ini tidak ada, maka standar umum tentang cara melintasi rel KA juga tidak berkembang di kehidupan masyarakat, yang berkenbang malah mistis.  Dalam situasi seperti kasus Bintaro dan serpa itu, maka umum akan mengatakan pengendara apes, daerah itu disebut sebagai daerah angker.

Keong ketimpringanKeong Ketimpringan & Ulat Bulu.  Perilaku pemakai jalan ada yang berjenis “Keong Ketimpringan”. Jenis pengguna ini  jalannya (seolah) sengaja melambat2in kendaraannya, sementara dirinya sedang menyetir  sambil bersolek atau merokok atau chatting atau nyuapin anak, atau bahkan memangku anak kecil, dsb. Mirip perilaku  fenomena sopir dan pembantu saat ditinggal week end atau mudik oleh majikan.  Selain perilaku “Keong Ketimpringan”, juga ada perilaku jenis “Ulat Bulu”. Biasanya jenis motor dari pengendaranya bergaya alay. Jalannya “loncat2″  alias zigzag tapi wagas (nggak pantes), terutama kalau pengin terlihat atau dilihat sebagai paling hebat.  Terkadang, sesekali ngerem dengan posisi motor di sebelah kendaraan anda, seolah menantang balapan ( seperti iklan salah satu stasiun pompa bbm  yang ditayangkan di tv berbayar ).  Kedua jenis pengendara itu ( keong ketimpringan dan  ulet bulu ) selain penyumbang kemacetan jalanan, juga membahayakan keselamatan sesama pemakai jalan raya.  Ada dugaan kaum berjenis keong ketimpringan itu bisa berasal dari OKB atau perilaku sopir dan pengasuh anak yang diminta majikan sambil bawa anak majikan itu yang mengira bahwa itulah gaya dari orang2 kaya terdidik dan modern, padahal kentara ………………….. .  Wallahu a’lam.

Ulat buluPerilaku Penumpang dan Sopir Angkutan Umum.  Pada umumnya, beberapa meter setelah atau sebelum perlintasa rel KA, disitu menjadi kebiasaan angkot ngetem (menunggu penumpang). Juga ada bajaj, ojek dan taxi. Jika jumlah banyak dan dibiarkan, maka pengemudi angkot, bajaj, ojek, taxi, dsb boleh berhenti dan ngetem sembarangan diseputar lintasan KA, maka sehebat apapun petugas penjaga atau sistem palang pintu KA,  tetap saja “rawan kecelakaan”. Salah siapa ? Jumlah angkot terlalu banyak, banyak angkot liar, kompetisi sesama angkot, kompetisi sesama bajaj, kompetisi angkot vs bajaj/ojek atau sebaliknya,  dsb. Penumpang yang malas, halte yang tidak memadai, penyerobotan halte oleh pedagang K5, dsb.

Sebagai sesama penumpang,  sebaiknya paham bahwa menyetop atau naik di seputar itu membahayakan pihak lain, begitu pun sopir angkot yang tidak peduli keselamatan orang lain, dan juga bapak/ibu petugas yang tidak menindak tegas atau minimal mengusir secara tegas penumpang yang mbandel mau nyegat di lokasi itu, dsb dsb. Tapi intinya memang masyarakatnya yang “sakit”, sehingga tega membangun jebakan maut untuk sesama penumpang. Jika ada kereta lewat, lalu ada sopir angkot yang sedang stress lalu menghentikan kendaraannya sedemikian rupa sehingga kendaraan dibelakangnya terkendala, terhenti persis di atas rel KA. Beberapa saat kemudian palang pintu lintasa KA baru tertutup –  tanda kereta sudah dekat, namun masih ada kendaraan tepat di atas rela KA…. (na’udzubillahi mindzalik), maka gelombang elekromanetik akan berpotensi untuk berpengaruh sedemikian rupa yang ekstrinmnya adalah dapat mematikan semua sistem kelistrikan dan mesin kendaraan yang di atas rel (na’udzubillah).  Jika semua serba otomatis, maka pintu pun tak bisa dibuka, mesin tak bisa distarter, dsb.  Gilanya lagi, jika sopir sepertinya sedang stress tadi  langsung tancap gas (karena memang di depannya dari tadi sudah longgar),  maka kecelakaan seperti itu menjadi sulit dikenali sebab musababnya.

Di jaman ini, sarana transportasi yang lalu lalang melintasi rel KA di perlintasan sudah semakin beragam.  Di Jakarta, ada  : Angkot, Metromini, Ojek, Bajaj dan beberapa jenis angkutan umum.  Soal perilaku pengemudinya, saya kira anda paham benar.  Ada angkutan barang seperti : truk engkel pembawa barang pasokan atau pun kiriman ke toko atau gudang,  ada truk pasir, ada truk proyek, ada truk tangki BBM, dsb.  Perilaku rata2 para pengemudi ini, mungkin sedikit diatas jenis yang pertama.  Lalu ada kendaraan pribadi baik speda gowes, speda motor, maupun mobil yang jumlahnya juga banyak.  ”ksejahteraan” yang diwarnai budaya kredit dalam pembelian kendaraan, mempengaruhi sebagian pemilik kendaraan menjadi bermental OKB, sok Jago, sampai perlaku menjalankan mobil secara menyebalkan bagai “keong ketimpringan”.

Saran saya untuk pt KAI : (sambil menunggu/memproses overlay atau escalated atau uderpass sebagaimana gagasan pak Jokowi dan dukungan pak Menhub serta restu pak SBY) sebaiknya segera semua perlintasan KA pasang CCTV dan cctv beserta memory systemnya dijaga betul.  Maka pt KAI akan nyaman dalam memberikan pelayanan maupun operasional sehari2,  memberikan jaminan lebih baik bagi keselamatan penumpang, keselamatan lingkungan umum dan juga membantu pihak kepolisian dalam menganalisa TKP.

Ya Emangbegitu

Scroll To Top