Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | BISNIS PASKA PENSIUN

BISNIS PASKA PENSIUN

Dalam “tradisi” menghadapi masa menjelang datangnya usia pensiun, banyak lembaga yang membekali karyawan/pejabatnya dengan berbagai materi. Namun ada yang menambahkan dengan “hantu”  bernama post power syndrom.

Benarkah “hantu” itu ada atau hanya mithos ?

 reebok-sepeda-mtb-26-inch-chameleon-pro-po49crm129-1972-760588-1Naik Speda. Membuka usaha sendiri itu ibarat mengendarai speda. Amat benar bahwa tidak ada teori untuk menjadi bisa dan mahir naik speda. Hanya : try and error saja.

Coba lakukan, gagal, jatuh. Coba lagi, gagal sedikit, nyaris jatuh dan hampir bisa.

Coba lagi, jarang jatuh, bisa dengan jalan terseok-seok. Coba lagi, dan bisa naik speda.

Setelah yakin bisa menguasai speda, maka coba dengan membawa beban. Bisa melakukan dengan sedikit telur rusak.

Coba lagi sampai tidak ada satupun telur rusak.

Coba tambah beban, bisa dan ban mulai kempes. Sadar dan coba lagi dengan persiapan baru. Ban aman, beberapa jeruji melengkung. Dst dst dst.

Konon, bisnis itu memiliki teori dasar “try and error”.

Menthal Switching. Tidak semua orang mampu untuk melakukan menthal switching. Switching dari menthal ambtenaar atau buruh  ke menthal entrepreneur.

Sebagian kecil eks pensiunan, ada yang berhasil membangun usaha sendiri.

ChangeNamun kebanyakan yang punya keinginan seperti itu menjadi “mangsa dari predator” alami di bidang seperti itu.

Sebagian sudah sejak masuk kerja menyadari bahwa dirinya adalah karyawan dan bakal pensiun.

Pada umumnya, jenis ini justru bisa menikmati masa pensiun dengan sukacita (pembahasan tersendiri).

Sebagian lagi tidak punya persiapan apapun menghadapi masa pensiun, ada yang bingung dan banyak yang manja.

Jika kepahaman tidak punya, kesadaran juga ora nduwe, mimpinya sundul langit, lalu termakan oleh syair sakti  ”Kalau mau bisnis jangan banyak berteori. Langsung terjun saja. Nanti kan bisa sendiri”.

Biasanya yang beginian lebih berpotensi untuk “terjun bebas”.

Tidak ada resep yang pas untuk ini, tulisan ini hanya mengabarkan suasana yang mudah2an bisa menyadarkan agar terhindar dari post power syndrom, bingung, manja dsb.

Semua keputusan yang Anda akan lakukan (paska pensiun) bergantung pada latar belakang, mimpi, sampai perilaku dan menthal selama masa aktip.

Note :

Belajar berspeda di usia muda, selain lebih cepat dan memiliki kesempatan untuk mahir, kalau pun terjatuh proses sembuhnya mudah dan cepat.

Bisakah Anda bayangkan kakek-nenek yang terjatuh belajar berspeda di usia melewati 50 tahun ?”

Monggo !!!

keinginanKeinginan & Atmosfir Itu ?.  Sama sekali tidak ada kesalahan jika seseorang punya keinginan untuk memiliki usaha sendiri paska pensiun.

Apalagi selama aktip, dapat dibilang memiliki prestasi dalam menduduki berbagai posisi.

Yang terlupakan dalam memandang “atmosfir” pada membuka usaha sendiri paska pensiun adalah bahwa sejak saat itu (pensiun), semua urusan menjadi tanggung jawab sendiri.

Bahkan pensiun itu sendiri secara “fasilitas dan salary”,  juga merupakan perubahan ke era “semua serba dipikir dan tanggung jawab sendiri“.

Mungkin Anda saat aktip, jago untuk menjaga  sustainable usaha. Kalau pun Anda gagal tidak seperti dalam kontrak manajemen, resikonya dicopot jabatannya (saja).

Namun  yang (akan) Anda usahakan (nanti) adalah usaha itu milik Anda sendiri (bukan perusahaan atau milik pihak lain)..

Mulai dari rencanakan sampai menjaga sustaibale growth (kalau tumbuh) itu ya menjadi kewajiban dan tanggung jawab Anda sendiri.

Kalau pun ada pihak yang perlu Anda pecat dari jabatannya akibat gagal melakukan sustainable growth,  ya ……………. ehmm …… Anda sendiri.

Mungkin ketika menerima surat pensiun, Anda mendapat uang dalam jumlah banyak. Tak sedikit di pikiran para pensiunan baru itu  muncul keinginan2 (termasuk keinginan punya usaha sendiri atau akibat kekhawatiran “masa depan”), namun banyak yang lupa bahwa ketika memiliki usaha sendiri maka :

1)  Soal modal usaha ya harus Anda siapkan sendiri (mengurangi uang yang Anda “genggam”).

2)  Soal alamat usaha (kantor) ya harus Anda usahakan sendiri, boleh jadi ada yg tidak sadar bahwa itu mempertaruhkan resiko perdata.

………………. dan seterusnya.

nasib-buruhU MR dan Serikat Pekerja. Dari obrolan dengan beberapa orang (penelitian/observasinya subyektip dan tidak ilmiah), kebanyakan tidak menyadari bahwa dirinya tidak lagi punya staf.

Mereka mengira bahwa yang dia rekrut nanti adalah staf, padahal itu adalah karyawan (Anda).

Artinya semua kebutuhan karyawan sesuai undang2 adalah menjadi tanggung jawab dan kewajiban Anda dan ……… Anda harus siapkan sendiri. Dan seterusnya

Banyak yang lupa hal yang boleh jadi saat aktip dirinya adalah bagian dari itu. Contoh ketidak puasan lingkungan kerja, ketidak puasan salary, sampai serikat kerja.

Potensi ketidak puasan karyawan, demo atau resign karyawan mutlak menjadi konsekuensi yang harus Anda pikirkan sendiri.

Seberapa besar/kecil pun usaha yang menjadi bayangan Anda saat memulainya.h

Amat berbeda ketika Anda masih aktip. Dimana (kalau pun Anda punya posisi hebat dulunya) gaji karyawan sampai promosi mereka, mungkin Anda yang merasa memutuskannya. Itu bagus sebagai tabungan amal baik mengapresiasi orang berprestasi secara profesional.

Namun sesungguhnya Anda hanyalah membuat keputusan kecil.

Ketidak puasan sampai demo karyawan, yang Anda (mungkin) ikut tangani, hanyalah sebagian kecil saja.

Karena semua akan menjadi beban perusahaan dimana (dulu) Anda beraktifitas.

Bagaimana bisa paham jika semasa aktif justru menjadi provokator emosional pada demo karyawan.

Karena manusia itu mahluk kebiasaan, maka hanya sebagian kecil yang bisa menthal switch.

Monggo !!!

kongsiBagaimana Jika Kongsi. Kongsi itu dapat  kita ibaratkan  seperti naik speda jenis tandem.

Kongsi itu serupa dengan menyatukan energy yang dimiliki oleh beberapa orang untuk menaiki “kendaraan” berupa perusahaan menuju ke tujuan yang (nyaris) sama.

Pada umumnya, kongsi itu minimal didasarkan  pada : “aku naruh apa dan kelak dapat apa serta prospeknya bagaimana ?’.

Itu kewajaran dalam realita kehidupan berwirausaha secara kongsi.

Bahkan untuk level merger antar perusahaan pun standar pertanyaan itu pun ada (tentu dalam bahasa dan struktur pengecekan yang berbeda).

Bagaimana kalau kongsi antar para pensiunan ? ya bisa saja, sah sah saja.

Ya monggo !!

http://quotesgram.com/big-commitment-quotes/

http://quotesgram.com/big-commitment-quotes/

Komitmen & Kesabaran. Pinter dan pengalaman semasa aktip, belum menjamin ketika seorang pensiunan itu memulai bisnis sendiri. Karena ia ibarat belajar speda di usia senja.

Naik speda itu kemahiran.

Mengendarai speda tandem itu kemahiran, stamina dan komitmen serta kesabaran dalam mengendalikan arah menapaki jalan.

Mengayuh speda tandem itu stamina, komitmen dan kesabaran.

Disini Anda bukan semata menaiki speda tandem, namun sekaligus sebagai pemiliknya (jangan bangga dulu).

Karenanya,  Anda perlu menyadari sekaligus melakukan upaya (langusng/tak langsung) untuk  perawatan/pemeliharaannya dan renewal komponen2 secara periodik (akibat usia/keausan maupun adanya faktor obsolete)

Bisa kebayang jika ada kongsi dengan tujuan yang amat bergantung masing2 ?  Sedikit saja berbeda, maka siap2 speda tandem itu akan roboh atau menjadi nggak keruan gerakannya.

Monggo !!!

Nikmati. Kalau pun Anda baru menyadari bahwa Anda ternyata sudah pensiun, atau baru sadar bahwa selama ini tidak melakukan persiapan menthal, maka mau tidak mau Anda harus sadar dulu bahwa sejak saat ini : PENSIUN !

legalKEPERDATAAN UMUM. Pensiun itu secara formal relation dengan lembaga sebelumnya, adalah batas antara boleh menikmati fasilitas perusahaan/lembaga dengan mengembalikan senua fasilitas itu kepada pemilik aslinya (lembaga/perusahaan).

Bukan saja adanya batas perubahan pada fasilitas take-home pay sebagaimana selama Anda aktip, namun juga boleh jadi termasuk kendaraan dinas, rumah dinas, telepon dinas, listrik dinas, dsb.

Segala akibat yang timbul dari perilaku Anda, perusahaan/lembaga tidak akan lagi ikut2an untuk memback-up Anda.

Kondisi ini, kalau tidak disadari, akan menimbulkan shock yang MERUGIKAN diri Anda sendiri.

Karena the show must go on. Dunia itu memiliki siklusnya sendiri.

RELATION. Hubungan Anda dengan manusia lain sejawat ditempat aktivitas Anda semula (peers, atasan, bawahan bahkan Office Boy, Security, Recepcionist dll), sudah AMAT BERBEDA.

Hubungan dengan mereka murni social relationship titik. Tidak lebih tidak kurang.

Hubungan Anda dengan mitra kerja selama aktip (Vendors, Event Organizer, Lawyer, dsb) pun tidak lagi memiliki “kekuatan dan power” sebagaimana dulu.

Hubungannya murni keperdataan titik. Tidak lebih tidak kurang.

Anda tidak lagi berhak, tidak juga berwenang untuk memaksa si fulan untuk melakukan ini itu sebagaimana saat masih aktip.

Karena bukan saja Anda yang bakal salah jalur, yang disuruh pun bisa salah jalur.

pensiunanSARAN.  Ketika masuk masa pensiun, cobalah nikmati suasana kejiwaan yang mulai memiliki kebebasan untuk mengatur diri.

Endapkan suasana jiwa untuk menikmati perioda baru (new age), biarkan berjalan sekitar 20 – 24 bulan.

Isilah dengan melakukan penyesuaian2 pola dengan mengurani kecenderungan berperilaku yang non-primer.

Sadari adanya perubahan mendasar pada struktur dan pola hubungan dari semasa aktip dan setelah pensiun.

Struktur semasa aktip :  anak2 masih kecil/remaja, dsb. Ketika pensiun : (mungkin) sudah menjadi kakek nenek.

Saat masih aktip, pola hubungan dengan keluarga sangat minim, lebih banyak di kantor perusahaan/lembaga, dsb. Ketika pensiun memiliki kesempatan lebih intensip dengan keluarga (anak2 dan mungkin cucu), dsb.

Ini saatnya Anda memiliki kebebasan waktu (time freedom).

Pikniklah kemana Anda suka …… Kini Anda tidak perlu lagi menunggu cutinya diijinkan atau menunggu “harpitnas”.

Kapan pun Anda mau boleh piknik.

Monggo !!!

FINANCIAL FREEDOM. Manusia itu mahluk kebiasaan.

Jika sejak muda rajin MEMBIASAKAN untuk hidup jujur, berbhakti kepada orangtua, menabung, hidup efisien, namun bisa enjoy travelling dengan duit sendiri, maka KEBIASAAN itu akan bisa dilakukan sampai kapan pun .

Itulah Financial Freedom (dibahas tersendiri).

Namun jika Anda TERBIASA menggunakan fasilitas perusahaan/lembaga untuk enjoy the time, maka ketahuilah bahwa ketika pensiun tiba, semua itu sudah END.

Bisa menjadi suasana seolah serasa “saatnya siksaan datang”

Sejak muda biasakan Do Your Best and Let Allah do the REST.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

Scroll To Top