Sekilas Info
Home | Inspirasi | BLUSUKAN CYBER : MENDEWASAKAN CITIZENSHIP : BBM

BLUSUKAN CYBER : MENDEWASAKAN CITIZENSHIP : BBM

Presiden Jokowi telah menetapkan bahwa harga BBM, harga Gas Elpiji sebagaimana termuat diberbagai media. Begitu pun Presiden2 Republik Indonesia di masa-masa sebelumnya.  Responsnya macam2, mulai ada yang dewasa sampai ada yang thengil…… Anda mungkin punya data lebih baik lagi.  

Blusukan Cyber adalah menjelajah dunia maya untuk mencari kepahaman apa yang pernah/telah atau tengah terjadi terkait sesuatu.  Kepahaman ini dimaksudkan untuk lebih mendewasakan diri sebagai warga negara.  Kali ini topiknya adalah seputar BBM.

Kurun penjelajahan adalah seputar Presiden Soeharto sampai Jokowi. Data ini relatip lebih lengkap tersedia dilokasi blusukan (dunia maya).  Beberapa istilah yang muncul seputar kebijakan BBM secara cethar membahana antara lain :

  • Galang rambu anarki, anakku ………. BBM naik tinggi , susu tak terbeli, orang pinter tarik subsidi, anak kami kurang gizi (Iwan Fals).
  • Kebijakan Yoyo ( bu Megawati )
  • Rieke Diyah Pitaloka yang dulunya keras dan kenceng menolak kenaikan BBM dengan segala dalih dalam orasinya, kini sepertinya terkena “vertigo” dan menjawab berbagai pertanyaan seputar kenaikan BBM dengan segala dalih dan alasannya yang silakan simak sendiri (referensi video di atas – kompas teve).
http://animationguildblog.blogspot.com/2007/06/magic-of-mainstream-media.html

http://animationguildblog.blogspot.com
/2007/06/magic-of-mainstream-media.html

 

Ayam Mati di Lubung Padi. Ini adalah peribahasa warisan nenek moyang yang memberikan pesan bahwa ada kondisi dimana kelimpahan “energy” justru membuat sengsara.

Ayam adalah binatang berkaki dua yang penggunaan otaknya terbatas dibanding manusia.  Ayam juga suka padi seperti manusia. Namun Manusia tidak mati jika memiliki lumbung padi, karena manusia mampu mengelola “energy”.  Nenek moyang kita mewasiatkan bahwa hanya ayam yang mengalami kehidupan tragis ditengah karunia nikmat ilahi.

Artinya : Mikir dong !!!

Di dalam textbook mikroekonomi, terdapat suatu paradoks ekonomi yang disebut Dutch Disease. Istilah ini muncul pada tahun 1970-an, setelah pada awal tahun 1960-an ditemukan cadangan gas bumi yang besar di lepas pantai Belanda. Ternyata, produksi gas bumi tersebut justru menurunkan pertumbuhan ekonomi Belanda beberapa tahun setelah penemuan cadangannya, karena telah menimbulkan kelesuan di sektor industri manufaktur. Dutch Disease kemudian menjadi suatu contoh bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu bangsa tidak akan membawa kemakmuran bagi bangsa tersebut apabila tidak dikelola dengan baik.

Dalam kasus Indonesia, sepertinya kita mengalami Dutch Disease dalam bentuk yang lain. Kekayaan alam yang kita miliki seringkali justru menjadi bahan sengketa dan menyengsarakan masyarakat di sekitarnya. Kekayaan alam yang menurut Undang Undang Dasar harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, ternyata dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh kalangan tertentu.  ( simak situs http://bbmwatch.blogspot.com/ )

Tidak dijelaksan siapa pihak tertentu itu. Apakah mafia BBM ? ataukah pihak negara lain yang cerdik mensiasati kekuarangan sumberdaya alam ? atau negara lain yang mampu mengelola tren dunia dalam berbagai industri ? Entah bagaimana respons pihak luar ? apakah mereka tertawa terbahak-bahak alias LoL  melihat tingkah polah elit2 kita ?

Wallohu a”lam.

Galang Rabu Anarki.   Saat itu (sekitar tahun 82-an) ada lagu yang pas dan nge-hit secara cethar membahana, seolah mewakili perasaan sebagian (besar) rakyat (kaum bawah) di Indonesia. Lagunya berdjudul “Galang Rambu Anarki” yang sepertinya menceritakan seputar kenaikan BBM. Persisnya apa yang melatar belakanginya, tentu mas Iwan Fals yang paling paham – beliau yang menggubah sekaligus yang membawakannya dengan amat bagus.

Disisi lain catatan dunia (menurut wikipedia) secara pokok adalah ada kejadian global yang dikenali dengan  banjir minyak, lalu (dalam waktu singkat kemudian) disusul dengan  krisis minyak.

Duluuuuuuuuuuu, Indonesia masuk  ke dalam (dan bahkan sempat me-lead ) organisasi Negara Penghasil Minyak (OPEC). OPEC saat itu mampu menjadi pengendali harga minyak dunia. Anggotanya kebanyakan adalah negara2 berkembang yang kaya sumber minyak bumi seperti Indonesia, Arab Saudi, dsb. Hasil pengelolaan dan pengendalian harga BBM untuk membangun negara masing2 anggota OPEC.

Konon, untuk menjaga agar rakyat di negara itu dapat menikmati harga minyak yang murah (selaku warga negara penghasil minyak), maka pemerintahan negara anggota OPEC ada yang menerapkan kebijakan subsidi. Artinya jika pun diputuskan harga OPEC naik, maka rakyat tidak mengalami akibat itu.

Entah mengapa (Anda mungkin lebih paham), subsidi secara perlahan dikurangi, dan (sepertinya) OPEC tidak lagi menjadi penentu utama harga minyak dunia.

Wikipedia juga menginfokan bahwa dengan jatuhnya harga minyak, OPEC kehilangan kesatuannya. Perekonomian negara-negara eksportir minyak seperti Meksiko, Nigeria, dan Venezuela – yang perekonomiannya berkembang sepanjang 1970-an – berada diambang kebangkrutan.

Beruntung, Indonesia (di saat itu ) tidak mengalami “kegagalan manajemen APBN” akibat krisis energi saat itu.  Boleh jadi karena tahapan Pembangunan saat itu sudah memberikan kekokohan pondasi. Pengembangan varitas padi menjadi salah satu sokoguru kebijakan ketahanan pangan dalam Pelita. Tentu banyak lagi aspek dan pondasi di GBHN dan Repelita (Anda mungkin lebih paham).

Kalau nggak keliru, disektor ini saja dikembangkan pondasi ketahanan pangan berupa pengembangan varitas yang berkelanjutan seperti varitas  padi PB8 (1977), padi PB5 (1968), padi Pelita (1971) sampai juga padi Krueng Aceh (1981), dsb selain beras2 unggulan lainnya seperti Rojolele, Cianjur, dsb.  Belum lagi ngomongin infrastruktur irigasinya yang terintegrasi dengan pembangunan enegry kelistrikan dan telekomunikasi. Bendungan dibangun, sampai saluran dititik sawah. Pembangkitan Listrik Tenaga Air sampai distribusinya. Pembangunan Telepon Otomat dan SLJJ-isasi sampai ke kecamatan2.   

Apakah ini juga menjadi bagian dari cerita lagunya mas Iwan Fals, pemahaman para pendemo dan …………. politisi saat itu   ?

Wallohu a”lam.

http://www.nytimes.com/2012/12/13/business/global/opec-leaves-production-quotas-in-place.html?pagewanted=all&_r=0

http://www.nytimes.com/2012/12/13/business/global/opec-leaves-production-quotas-in-place.html?pagewanted=all&_r=0

Banjir & Krisis Minyak.  (Wikipedia) Pada bulan Juni 1981, The New York Times menulis: “Banjir minyak! … ada di sini”, dan Majalah Time menyatakan: “dunia untuk sementara mengapung dalam banjir minyak.” 

Namun, pada minggu berikutnya, sebuah artikel di The New York Times memperingatkan bahwa kata “banjir” ini menyesatkan, dan pada kenyataannya, surplus sementara ini telah menjatuhkan harga, harga minyak masih jauh di atas harga pra-krisis energi.

Sentimen ini bergema pada bulan November 1981, saat CEO Exxon Corp juga menganggap bahwa peristiwa ini hanyalah surplus sementara, dan bahwa kata “banjir” ini adalah contoh dari perilaku “warga Amerika yang gemar melontarkan bahasa yang berlebihan”. Ia menyatakan bahwa penyebab utama banjir minyak ini adalah menurunnya konsumsi.

Di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, konsumsi minyak menurun 13% dari online casino 1979 hingga 1981 “sebagai reaksi terhadap kenaikan harga minyak yang sangat besar yang diterapkan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan eksportir minyak lainnya”, melanjutkan tren yang sudah dimulai sejak kenaikan harga minyak pada 1973.

Setelah tahun 1980, permintaan minyak berkurang dan produksi minyak yang melimpah membanjiri pasar dunia, hal ini menyebabkan menurunnya harga minyak, yang mencapai puncaknya pada 1986 dengan penurunan harga sebesar 46 persen.

Krisis minyak 1973 dan krisis minyak 1979 menjadikan minyak sebagai sumber energi yang sebelumnya berharga murah menjadi sangat mahal. Selama krisis energi 1973, harga minyak melonjak empat kali lipat. Harga minyak tidak pernah kembali pada tingkat pra-1973, baik secara riil ataupun nominal, bahkan selama banjir minyak 1980-an.

Harga nominal minyak terus meningkat secara perlahan setelah krisis berakhir. Enam tahun kemudian, harga melonjak dua kali lipat selama krisis energi 1979. OPEC dan Arab Saudi secara artifisial menaikkan harga minyak beberapa kali pada 1979 dan 1980. Pada saat yang sama, beberapa anggota OPEC lainnya secara signifikan menurunkan tingkat produksi mereka, yang diiringi dengan terjadinya krisis sandera Iran dan dimulainya Perang Irak-Iran.

Ada kekhawatiran bahwa sedikitnya pasokan minyak di pasar dunia akan mengakibatkan naiknya harga minyak, dan bahwa OPEC akan menerapkan harga yang sangat tinggi karena kurangnya pasokan

Monggo !!!

Kenaikan BBM Jaman SBY. Detik dotcom mencatatnya sbb http://finance.detik.com/ read/2013/06/21/230454/2280812/1034/kenaikan-harga-bbm-ke-4-kali-era-sby) : Semenjak dilantik jadi Presiden Indonesia bersama Wapres Jusuf Kalla pada 20 Oktober 2004, berselang kurang lebih 4 bulan sesudah dilantik SBY mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM subdidi.

http://sejarah.kompasiana.com/2014/07/20/presiden-sby-telah-menorehkan-sejarah-669326.html

http://sejarah.kompasiana.com/2014/07/20/presiden-sby-telah-menorehkan-sejarah-669326.html

Kenaikan harga BBM pertama Presiden SBY terjadi pada 1 Maret 2005, karena lonjakan harga minyak dunia. Waktu itu pemerintah menaikan harga BBM 32% untuk BBM premium dari Rp 1.810 menjadi Rp 2.400 per liter dan solar dari Rp 1.650 menjadi Rp 2.100 per liter atau 27%.

Masih pada tahun yang sama, pada 1 Oktober 2005, pemerintah kembali menaikkan harga BBM secara signifikan. Harga premium naik dari Rp 2.400 menjadi Rp 4.500 per liter atau naik 87% dan harga solar naik dari Rp 2.100 menjadi Rp 4.300 per liter atau naik 105%.

Semenjak itu, selama kurang lebih 3 tahun berselang tak ada kenaikan harga BBM subsidi. Namun pada 24 Mei 2008, pemerintah kembali menaikkan harga BBM premium menjadi Rp 6.000 per liter. Penyebabnya adalah krisis ekonomi global yang membuat harga minyak ikut melambung.

Kenaikan harga BBM itu hanya bertahan beberapa bulan saja, setengah tahun kemudian pemerintah menurunkan harga BBM premium dan solar pada 29 Januari 2009 menjadi Rp 4.500 per liter

Respons Opisisi di Jaman SBY.  Kompas dotcom mencatatnya (periksa di situs ini : http://travel.kompas.com/read/2009/01/27/12034545/Megawati.Pemerintah.Jadikan.Rakyat. seperti.Yoyo.) sbb :Selasa, 27 Januari 2009 | 12:03 WIB –  SOLO — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menyatakan, pemerintah gagal mengendalikan harga barang pokok kebutuhan rakyat (sembako).

BBM YoyoKebijakan penurunan harga BBM, dinilainya, sebagai kebijakan setengah hati yang hanya dilakukan untuk menarik simpati publik, bukan untuk meningkatkan daya beli dan kesejahteraan rakyat.

“Pemerintah telah menjadikan rakyat seperti permainan anak-anak yaitu yoyo yang terlempar ke sana ke mari. Kelihatannya indah, tetapi pada dasarnya membuat rakyat tak menentu hidupnya,” ujar Megawati dalam pengarahannya pada pembukaan Rakernas IV PDI-P di Hotel the Sunan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (27/1)

Megawati juga menilai kebijakan seperti itu menunjukkan ketidakrelaan pemerintah untuk berkorban lebih banyak bagi kepentingan rakyat banyak. Lebih lanjut, ia juga mengkritik kebijakan pembangunan ekonomi yang dinilainya membabi buta. Rakyat tidak menjadi subyek pembangunan, tetapi obyek. Yang terjadi kemudian, rakyat bersikap pasif, menerima keadaan.

Out of Context ? Tidak begitu jelas, apakah para pemimpin dan elit negri sudah keluar dari alur berpikir sebagai negarawan yang memprioritaskan kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat atau bagaimana ? Anda mungkin lebih paham.

Beberapa waktu terakhir justru dipertontonkan “sinyal” yang seolah menunjukan ketidak pahaman menjadi negarawan. Yang ada adalah saling menuduh (kalau saling menuduh ….. orientasi pelaksanaan tugas itu sebagai negarawan atau apa ya ?  Anda lebih paham ).

Mengaapa nggak berkomunikasi yang edukatip (nggak usah niru2 negri sarkastik lain), misal menjelaskan rencana besar dan kecilnya, lalu mengajak serta semua elemen untuk memahami dan berpartisipasi, serta mudah2an bisa berjalan baik.

Mungkin saja sangkaan itu benar, ada oknum2 yang justru menjadikan kondisi industri BBM ini dengan membangun mafia.  Bukankah instrumen negara dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal ini, toh ini untuk rakyat. Tinggal jelaskan saja.

Bukankah juga (jika benar adanya), para mafia itu (sebagian) adalah manusia Indonesia atau lembaga bentukan orang/pemerintah Indonesia ? Ada konstitusi, ada undang-undang, ada Undang-Undang Dasar 1945, ada Pancsila,

Mungkin bisa dilakukan dialog secara tidak emosional, tanpa pretensi, secara arif bijaksana.

Wallohu a”lam.

Beberapa cuplikan “out of context”  itu antara lain :

  • “Tidak ada yang senang-senang ketika kebijakan kenaikan harga BBM ini harus diambil,” kata SBY, di Kantor Kepresidenan, Rabu, 12 Juni 2013. ”Janganlah terlalu mudah pihak-pihak tertentu mengklaim bahwa merekalah yang mencintai rakyat,” ia menambahkan. “Kami semua mencintai rakyat. Tidak ada yang tidak mencintai rakyat.  Di tengah situasi ini, SBY mengajak para elit politik untuk menomorduakan kepentingan politik praktis atau kepentingan menjelang pemilihan umum 2014. “Marilah kita menomorduakan itu karena ada sesuatu yang harus kita lakukan bersama.” (periksa di situs ini : http://www.tempo.co/read/news/2013/06/12/078487828/Ini-Alasan-SBY-Menaikkan-Harga-BBM)
  • “Rini Sumarno, Sofian Djalil dan Sudirman Said, mereka Itu antek mafia migas jadi harus ditangkap, mereka ini think thank kenaikan BBM. Jokowi juga harus berani memberantas mafia migas dari hulu hingga ke hilir,” ujarnya. (periksa di situs ini : http://bisnis.liputan6.com/read/2133541/jokowi-bisa-tiru-megawati-dan-gusdur-soal-bbm )

Setuju dan salute untuk melakukan tata niaga baru seputar migas, termasuk (jika benar) akan dilakukan pemberantasan mafia migas.

Ujungnya harus rakyat sejahtera. Modusnya bukan “modus” (modal dusta). Jauhi emosi dan upaya pencitraan belaka.

Tidak jelas, apa motivnya. namun memberikan stempel seperti “mereka adalah antek mafia migas”  oleh pendemo kenaikan BBM baru2 ini, perlu dipikir ulang. Sebab akar masalahnya serupa, kejadiannya diwaktu yang tak sama terhadap rezim yang berbeda.

Apakah stempel itu juga berlaku pada jaman pak SBY, jaman Bu Megawati, jaman Gus Dur, jaman pak Habibie  sampai jaman pak Harto ?

Ngapain bertengkar, yang seneng ya pihak luar.

Revolusi menthal, sebaiknya dimulai dari diri sendiri.

Begitu apa begitua ya ?

Ya Emangbegitu 

 

Scroll To Top