Sekilas Info
Home | Inspirasi | BOLT, TELKOMSEL, INDUSTRY:??

BOLT, TELKOMSEL, INDUSTRY:??

Apa yang dilakukan oleh Bolt, sepertinya mirip dengan apa yang (telah pernah) dilakukan oleh Telkomsel di jaman2 awal dulu…. apakah Bolt akan meraih kesuksesan sebagaimana yang dialami Telkomsel ? …………..  wallahu a’lam.

Maju kena, mundur kena. Jaman sekarang ini, dunia telco sepertinya sedang berada di persimpangan jalan yang “menyulitkan”.  Pengamat sampai praktisi dan mungkin regulatori,  terkesan sedang galau dalam menyikapinya. Mirip situasi kegalauan di pasca jaman digitalisasi sistem telepon, telex dan sistem transmisinya.  Semua kemungkinan tentang “masa depan” seolah nampak jelas, gamblang sekaligus membingungkan.

Saat itu (pasca digitalisasi sistem telekomunikasi),  video conference melalui telepon bukan tidak terbayangkan, bahkan sudah ada roadmap yang sebagian juga sudah diimplementasikan.  Ada yang berjenis videotelephony, ada yang menggunakan modus TVRO (Television Receive Only) dan berbagai uji implementasi dengan tujuan atau mimpi yang sama, semuanya workable dan semua possible. Begitupun menyongsong jaman wireless, sudah ada roadmap dan uji implmentasinya.  Ada ultraphone, ada WLL, ada AMPS, Ada Pager, dsb

Jika dibandingkan dengan situasi dan kondisi saat itu, maka uji implementasi itu luar biasa canggih dan nampak menjanjikan secara bisnis.

Kini ? ada WiFi yang konon sedang dipikirkan untuk bisa hands-over antar hotspot, ada LTE sebagai next step dalam roadmap mobilephone sekarang, ada WiMax sebagai variant besar WiFi yang entah sedang dipikirkan kemana lagi, dsb.

Di sisi aplikasi, hampir semua aplikasi sekarang memungkinkan untuk me-replace layanan “basic” dari para operator selular sekarang ( voice and messeging, video call/conference).  Ada layanan searh engine yang kini bermetamorfosis menyediakan berbagai hal.  Aplikasi2 ini berpotensinsi “menghisap” semua yang ada di layer bawahnya, layaknya ponsel “telah berhasil menghisap” telex, pager, kartu pos, bahkan membuat nyaris mati suri fixedphone dan boleh jadi sudah menghalangi layanan internet by line.

Belum lagi berbagai aksi korporasi di industry ini dalam jagad luas, aksi dari berbagai pemain global. Ada perusahaan yang mirip tag line iklan mobil panther jaman kemarin “Nyaris Tak Terdengar”, ada yang mati suri, ada yang dissapear, ada yang bermutasi, ada yang berkonvergensi, ada yang dicaplok, ada yang me-lay off, dsb. Yang dulunya dikenali sebagi lintas industry, kini seolah konvergensi atau bahkan terintegrasi. Integrasi dan konvergensi juga menembus berbagai layanan, bisnis dan industry, dsb dsb.

So ? semuanya jelas, semuanya mungkin, dan …. kemana semua itu menuju ?.

http://crackberry.com/history-research-motion

http://crackberry.com/history-research-motion

Flashback. Saat jaman transisi pasca digitalisasi sistem telepon fixed/PSTN, seperti ada bayang2 (shadow) tapi sosoknya nyata2 ada didepan mata (real), yang memberikan tekanan/desakan pada engineer/pengambil keputusan/pengelola layanan/ regulator. Yakni (1) trend dan kapabilitas teknologi untuk men-digital-isasi telepon bergerak/telepon mobil dan wireless-isasi telepon fixed/PSTN. Digitalisasi telepon bergerak/telepon genggam/telepon mobil dari Analog ke Digital ( contoh AMPS ==> D-AMPS).   (2) Wireless-isasi PSTN, ada yang berfitur keleluasaan bergerak hanya seputar home base, ada juga yang memiliki keleluasaan bergerak secara lebih ( mendekati Mobile Telephony).

(3) Disisi lain, saat itu juga ada trend digitalisasi serta revolusi perubahan end user terminal pelanggan telex. Bisnis telex, saat itu menyasar segmen korporat dan memberikan value hebat serta sebagai lifestyle para usahawan. (4) Di bidang lain (bisnis pager – dulunya benar2 bisnis kinclong), ada juga trend technology yang akan mampu meningkatkan kemampuan pager, sehingga bisa untuk berkirim “gambar”, suara dan bisa dibawa ke mancanegara. dsb dsb.

Pendek kata, persimpangan jalan yang kompleks dirasakan saat itu. Terutama jika ditera dari sudut pandang dan dimensi berpikir berdasar existing paradigm, berdasar root telekomunikasi yang ada saat itu.

Sebagaimana diketahui, saat itu masing2 jenis komunikasi belum terintegrasi dalam satu system. Mau ngobrol – ada sistem telepon tersendiri, mau kirim text paper-less – ada sistem pager tersendiri, mau kirim long distanse letter secara instant – ada sistem telex/teleprinter tersendiri sendiri, mau ngobrol One on One sambil jalan2 – ada sistem telepon moble/bergerak/genggan tersendiri, mau ngobrol rame sambil apasaja – ada Handtalky tersendiri, dsb .

Di saat itu, dunia nggak terlalu mengenal RIM (Research In Motion), yang kalah pamor dengan Motorola atau Siemens, Ericson, Philips, Sony, dsb.  Namun, kalau nggak keliru, RIM – saat itu, sudah membuat end user terminal pager dengan ada tombol2 querty. Ukuran dan beratnya 3 kali dari Blackberry Bold sekarang. Kebayang kan ? namun untuk jamannya, itu hebat. Hanya saat itu sekali lagi RIM belum seterkenal seperti sekarang ini dengan Blackberry-nya.

Even as the Inter@ctive Pager 900 – aka the Bullfrog due to its size – launched Lazaridis and RIM were at work on its successor, the Leapfrog. Ready to get the jump on the competition, the new device was planned to be smaller and more useable. A trackwheel was soon added, allowing menus and messages to be traversed with ease. RIM wrote the software code that ran on the device.

Entah mengapa, di tahun 90-an, RIM sepertinya lebih melihat celullarphone menjadi “masa depan” ketimbang pager, sehingga dengan berbagai aksi korporasinya serta tetap melakukan inovasi, kini RIM berhasil mewarnai dunia dengan produk smartphone Blackberry dan malahan berani me-release aplikasi khasnya ke publik – yakni BBM (Blackberry Messenger).  Di jaman yang sama, di Indonesia juga ada sebagian (kecil) orang yang melihat “masa depan” ada di GSM, bukan di WLL, bukan di D-AMPS, bukan di PHS, bukan di pager, bukan di digital-teletext, dsb.

Di jaman itu, siapa saja yang mengembangkan pemikiran yang “meyakini” bahwa GSM adalah “masa depan” sungguh amat sangat tidak realistik dan dipandang aneh. Karena fakta yang ada dan dominan instrumen disekitarnya, tidak memberikan indikasi akan datangnya “satria piningit GSM” itu. Di Indonesia, tokohnya adalah Garuda Sugardo sehingga ada seloroh GSM itu singkatan dari Garuda Sugardo Mumet ( mumet = pusing, karena terbentur sana terbentur sini ). Garuda S seperti “dukun” yang bicaranya dianggap nggak nyentuh bumi, menerawang ruang hampa, dsb

Kini jaman telah berganti, konon jaman ini sedang menuju jaman braodband. Dan ………..situasi serupa dalam dimensi dan jaman yang berbeda sepertinya tengah berlangsung.  Siapakah dan bagaimana kah serta berkas cahaya apa kah yang bakal menuju “masa depan” ? boleh jadi sudah ada sekelompok kecil orang yang sudah “menerawang” dan melihatnya.

Apakah Bolt juga (akan) bisa menerawang atau melihat yang serupa Telkomsel itu ? silakan periksa sendiri.

Kecil, ternisbikan, namun tetap semangat dengan mimpi besar, itulah kira2 situasi kejiwaan dari mereka yang saat itu di”buang” dan dimasukan ke “sel” (penjara) bernama proyek Telkom(sel) – cikal bakal Telkomsel.  Indonesia beruntung, saat itu ada “titisan mahapatih Gajahmada”  yang bernama Garuda Sugardo, yang secara usil dan kreatip mengumpulkan laskar2 yang mirip “titisan Bandungbondowoso”. Mereka, laskar2 ini terserak di berbagai “pinggiran yang kebanyakan amat sepi” di keriuhan negri makmur. Para laskar ini di-”indoktrinasi” secara non-formal dan kapan pun Garuda S menjumpainya, dimanapun, sedang apapun. Indoktrinasi untuk mewujudkan mimpi besarnya menjadikan negri Nusantara dan rakyatnya terlayani oleh sesuatu yang saat itu hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan.  Meski tidak semuanya demikian, namun secara dominan, laskar dari manusia yang “terpenjara dalam sel” itu memiliki mentalitas sepi ing pamrih, rame ing gawe.  Mereka itu memang berasal dari “kapal” Telkom dan Indosat.

CentralindoProyek ini di jamannya “kalah pamor” dibanding kejayaan telepon begerak jenis AMPS yang dioperasikan oleh perusahaan seperti Centralindo Pancasakti, NMT yang dioperasikan oleh Rajasa Hasanah Perkasa mapun GSM (Jakarta only) yang dioperasikan oleh Satelindo atau proyek telepon fixed wireless baik itu konsep “rural/ultraphone” maupun konsep wireless local loop, atau bahkan dibanding kinclongnya perusahaan pager yang saat itu konon sudah mampu digunakan di mancanegara.

Di jaman itu, jangan coba2 tanya “apa itu Telkomsel ?” ke tukang becak, wong pejabat saja nggak tahu dan sebagian malah mengercingkan dahinya sambil mengucap  “apaan tuh” ( kalau Jaja Miharja, mengercingkan satu matanya).

Bekerja dalam “sel”,  nyaris laskar2 ini tidak ada pihak terdekat secara jarak yang bisa ditanya. Kuncinya adalah memegang “benang merah” yang didoktrin sang pemimpi, dan menjabarkannya secara kreatip di lokasi tinggalnya. Komunikasi antar laskar tidak semudah dan senyaman jaman sekarang, karena belum ada ponsel, belum jaman warnet, masih wartel dan telepon umum, fasilitas pager juga terbatas, “ruangan dan sarana” kerja pun minim.

Mobil operasional nggak ada, apalagi mobil dinas. Maka mereka banyak berkorban dengan kendaraannya sendiri, apapun itu jenis dan kondisinya. Namun mimpi yang dipompakan ke mereka, memang luar biasa, sehingga secara dominan, mereka tetap semangat dan tetap sepi ing pamrih rame ing gawe meski apapun situasinya, disaat kapanpun, serta semustahil apapun : kerja kerja kerja, kreatip kreatip kreatip, ikhlas ikhlas ikhlas, semangat semangat semangat, dsb.

Nah ………….kini, jangankan pejabat atau politisi, tukang rokok ketengan pun tahu dan akrab dengan nama Telkomsel.

Apakah Bolt juga (akan) membangun tim serupa ini ? silakan periksa.

So Close So Real.  Dalam waktu kurang dari dua tahun, masyarakat di seluruh ibukota propinsi (bahkan sampai ke Timor Timur saat itu) serta kota2 besar di Jawa dan Sumatra, sudah dapat menikmati “kemewahan” dengan cara yang lebih mudah, lebih cepat,  serta bebas menentukan pilihan ponsel sesuai selera dan kemampuan koceknya. Telkomsel hadir melayani secara dekat dan nyata, semakin hari semakin dekat dan semakin nyata memajukan Indonesia, melayani rakyatnya, membuat semakin banyak rakyat terkoneksi, terbuka secara nyata dari keterisolasian komunikasinya.

Kiprahnya yang mendobrak pasar dan mengubah cara berpikir industri dari birokratik dan “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” menjadi cara berpikir yang berorientasi pada memudahkan pasar untuk mengakses dan meniikmati produk/layanan telekomunikasi. Patih Gajahmada yang memberikan “pressure” kepada semua laskar yang (saat itu) memang dominan dari pasukan berjenis “sepi ing pamrih rame ing gawe” itu untuk senantiasa berupaya mencari “jalan baru” di segi apa saja untuk dan dalam rangka Semakin Dekat Semakin Nyata bagi kemajuan Indonesia, keterhubungan antar rakyat Indonesia dan dengan dunia luar.

Pembangunan hubungan baik dengan para pemimpin daerah juga dibangun secara sepi ing pamrih rame ing gawe, rawe-rawe rantas malang-malang putung, semua berholobis kuntul baris mewujudkan pembukaan akses untuk memungkinkan sebanyaknya rakyat terkonseksi dimanapun dan kapan pun. Semakin hari semakin dekat dan semakin nyata Telkomsel bersama semua elemen membangun Indonesia.

Apakah Bolt juga (akan) membangun strategy serupa ini ? silakan periksa.

Close and Real to Serve the Market & Customer.  Saat awal GSM dikembangkan, SMS hanyalah untuk one way, khususnya untuk mengirimkan text info dari operator ke customer. Fungsinya untuk mengirim notifikasi terkait dengan info2 baru (hotnews), info2 hak dan kewajiban, misalnya info coverage baru, info billing, info lokasi pembayaran, dsb. Namun Garuda Sugardo melihat bahwa SMS itu SMiLE, sebuah senyuman yang layaknya berbalas, alias two way communication by text messege. Dan Garuda S seolah memaksa untuk melakukan SMS di Telkomsel secara two way ( kini menjadi standar industry ).

Saat itu, dunia telco fixed (juga di Indonesia) juga sedang gandrung dengan mesin penjawab telepon (Answering Machine ). Alat ini menjadi lifestyle yang mencerminkan status pemilik telepon ( bussy man, profesional, tight schedule, dsb). Saat itu, masang alat itu harus ijin, ada tambahan charge bulanan (padahal alatnya beli sendiri secara lepas di toko elektronik ), dsb.  Gambaran ini bisa dilacak pada film2 hollywood di jamannya.  Garuda S melihat bahwa semestinya semua pelanggan Telkomsel (kelak) memilikinya, sehingga dalam konsepnya layanan answering machine itu menjadi default, akan diberikan GRATIS sebagai nilai tambah, tidak dibebani biaya pemasangan atau pun sewa “space”. Diferensiasi pun dilakukan dengan memberikan nama yang memiliki kesan sangat pas – yakni VERONiCA.  Veronica saat itu identik dengan kesan sekretaris cantik yang profesional dan siap 24 jam mendukung kelancaran tugas boss.

Apakah Bolt  melihat dunia dan trend-nya saat ini  juga (akan) kreatip serupa itu ? silakan periksa sendiri.

Makan Bubur Panas. Proyek Telkom(sel) di awal entering-nya, dalam banyak dimensi menggunakan “teori Makan Bubur Panas”. Landasan dasarnya – oleh Garuda S, dicetuskan dengan rumus C3QS = Coverage Cost Capacity Quality and Service.  Teori ini tidak selamanya diterima dengan baik, bahkan ada yang menolak atau terkesan menghalang-halangi,  namun sepertinya lebih kepada karena ketidak-tahuan akan teori itu dan kemanfaatannya bagi Telkom dan Indonesia ke depan (situasi saat itu).

Sabang Merauke Alor pulau Rote

(1) Make it Easy and Simple.  Dijaman itu, iklim sangat birokrastik (di perusahaan BUMN apa saja ). Adalah umum kalau mengurus sesuatu itu berbelit2, lama dan terkesan di ping pong (entah beneran di ping pong atau sekedar kesan ), Garuda S “memaksa” laskar yang di “sel”-nya untuk menjadikan Telkomsel dan produknya mudah diakses, simple prosesnya, cepat penyelesaian, nyata manfaatnya dan dekat dihati masyarakat Indonesia.  ”Kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit, kalau bisa disederhanakan kenapa dibikin ruwet. Orang pinter itu mampu menyederhanakan yang kompleks” – begitu kira2 yang Garuda S lakukan dalam menyemangati timnya.

Apakah Bolt juga (akan) melakukan dobrakan serupa itu ? silakan periksa.

(2) Dimensi coverage menerapkannya dengan menggelar jaringan dimulai dari lokasi yang paling memungkinkan untuk “dimakan”.  Karena dalam “termometer” Telkomsel saat itu, memberikan indikasi bahwa  Jakarta sebagai lokasi yang amat sulit untuk digelar jaringan Telkomsel, maka roll-out dimulai dari luar Jakarta. Dimulai dari kota2 propinsi dan kota2 besar,  menyusul kota kabupaten, kota kecamatan sampai di hinterland antar kota2 itu.  Jakarta menjadi kota “paling akhir” dimasuki Telkomsel.

Pilihan paling efisien dan memenuhi konsep “mimpi” melayani seluruh rakyat Indonesia dari segi percepatan dan kecepatan roll-out jaringan/penyediaan akses, adalah diutamakan di lokasi Telkom ( yang secara korporasi sebagai induk bersama Indosat).  Kehebatan dan keuntungan dari lokasi2 ini – kebanyakan tinggalan ex PTT dimana secara LoS ( Line of Sight ) sudah pernah diukur efektitasnya untuk membangun radio link. Dengan demikian, minimal, sudah terbangun jaringan pokok ( semacam embrio back bone ) secara cepat dan tepat dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Setelah itu baru lokasi2 diseputar lokasi Telkom – lokasi umum. Dengan demikian, maka  C3QS  bisa terimplementasi dengan baik dalam dimensi network roll out. .

Apakah Bolt (juga) akan serupa itu ? silakan periksa sendiri.

pak Garuda S memperkenalkan ponsel ke siapa saja.

(3) Dimensi Product Design, C3QS diwujudkan dengan membangun emosional bounding sebagai perusahaan dengan produk yang paling memudahkan, menyenangkan, memberikan kebanggaan (calon) pelanggan.  Indonesian culture, dynamic, modern, lifestyle menjadi ramuan dasar mendesain product dan turunannya. Sasaran yang dituju dimulai dari segmen paling yang siap memakan produk/layanan Telkomsel, setelah itu segmen yang sudah mulai memahami, baru kemudian segmen yang lainnya.

Saat itu, segmen yang paling siap memakan produk Telkomsel adalah pedagang (toko sampai pemilik pabrik), kaum profesional kelas menengah dan atas, pejabat2, dan serupa itu.  Setelah itu adalah lingkungan terdekatnya, yakni isteri dan anak2 serta kolega mereka. Setelah itu barulah segmen lain sampai mimpi ada pedagang rokok ketengan pakai ponsel dan jualan produk Telkomsel terwujud. Mulai dari kartuHALO yang bernuansa Indonesia  - implementasi Think Globally Act Locally, dilanjutkan dengan simPATI kartu prabayar pertama di Asia lalu simPAT Nusantara sampai simPATI sekarang ini, demikian juga dengan  kartu As.

Apakah Bolt (juga) akan serupa itu ? Silakan periksa sendiri.

(4) Dimensi Sales. C3QS dijabarkan dalam bentuk ODC – Open Distribution Channel ( kini sudah menjadi “standar” umum di industry ini ). Saat dulu, di jaman itu warna birokrasi di sektor pelayanan publik sangat kenthal.  Bahkan penyelenggara non-BUMN saat itu juga menggunakan konsep “kalau begini saja masyarakat mau, kenapa harus susah-susah mikirin dan mendekati pasar”.  Akibatnya, percaloan menjadi bagian dari warna pelayanan publik, harga tidak jelas rumusannya, akses pelayanan kaku dan lokasi terbatas. Publik/masyarakat hanya bisa mengeluh.

Dengan ODC, Telkomsel mengenalkan ke industry tata niaga baru yang sangat berbeda dan memudahkan masyarakat serta mempercepat penetrasi rakyat yang terkoneksi dengan telekomunikasi. Prinsipnya dimana pun masyarakat ingin menggunakan sarana telekomunikasi, Telkomsel akan siap melayani, akan menyediakan produk/layanannya. Tentu saja kalau itu dikerjakan sendiri akan memakan ongkos besar dan prosesnya lama, Telkomsel membuka kesempatan pihak lain untuk berpartisipasi menjadi mitra Telkomsel dengan konsep dealership untuk penyediaan aplikasi berlangganan. “You sediakan ponselnya, Telkomsel supply kartu GSM-nya” – kira2 begitu. Konsep ini memberikan keleluasaan mitra sekaligus mendapat value yang luar biasa. Saat itu, tanpa ada kartu GSM, mustahil ponsel para mitra bisa laku. Dengan kartu GSM Telkomsel yang coveragenya sangat cepat berkembang, maka jualan ponsel para mitra semakin kenceng. Pedagang senang, tokonya pun menyebar dan ujungnya masyarakat semakin mudah mendapatkan akses komunikasi.  Konsep ODC – saat itu dipandang aneh dan tidak sedikit yang menentang, meski akhirnya kini menjadi standar “dunia”.

Apakah Bolt (akan) juga seperti itu ? silakan periksan sendiri.

Salah satu majalah yg bertumbuh bersama Telkomsel

Salah satu majalah yg bertumbuh bersama Telkomsel

(5) Dimensi komunikasi. C3QS seolah tak ada hubungannya, namun Garuda S – saat itu – menekankan harus bisa, dan media itu sangat penting. Mereka memilki mimpi yang serupa, peran serupa dengan Telkomsel. Saat itu industry media yang tengah euforia juga menginginkan adanya peningkatan kecerdasan masyarakat, kebebasan memilih sesuai dengan selera dan kebutuhan serta tetap menjaga nasionalisme. Namun faktanya, media yang ada saat itu belum paham telekomunikasi, apalagi telepon seluler.  Yang terbanyak adalah media dengan content politik & birokrasi, pornografi, mode, wanita/feminis & girls. Rubrik pun seputar itu dan konsumerisme.

Kritik saat itu tabu dan (dianggap) bisa merusak citra, sehingga banyak “ahli komunikasi” saat itu yang menganggap kalau banyak tulisan di “redaksi Yth” itu citra akan rusak. Dengan C3QS  Telkomsel memberikan penekanan ke industry dan publik dengan konsep dasarnya komunikasi yang sehat. dan ….. citra adalah hasil dari proses komunikasi yang sehat itu PLUS cerminan karakter asli lembaganya. Agak berbeda dengan tren pencitraan sebagaimana banyak dilakukan oleh berbagai pihak  saat itu ( dan …… sekarang ini masih ada atau menjadi banyak lagi ya ?).

Diferensiasi pun dilakukan. Telkomsel “ngeyel” memperkenalkan lebih kenceng nama corporate communication di alam yang lebih senang menggunakan PR (Pi=Ar) dengan icon cewek cantik tik-tok-tik-tok, yang kenthal dengan nuansa paling menawan dan membuat “terpesona” atau Humas yang kenthal dengan kesan dan nuansa paling benar dan paling kuasa. Telkomsel ingin lebih dekat dan lebih nyata berbagi pengetahuan, bersinergy untuk bertumbuh bersama melayani dan mencerdaskan kehidupan rakyat bersama industry media.

Telkomsel mengajak media untuk bersama2 menjabarkan mimpi mencerdaskan masyarakat Indonesia, agar masyarakat mampu membuat keputusan untuk memilih berdasar kebutuhan dan nasionalisme. Yang paling mudah dilakukan adalah melalui cara berbagi “ilmu pengetahuan” dan bahu membahu untuk bertumbuh bersama2, bukan dengan cara membeli media atau serupa itu.

Telkomsel membantu industry media melalui sharing knowledge ( saat itu search engine belum seperti sekarang ini),  sehingga sharing knowledge dalam pertemuan bersama, diskusi bersama, sangat bermanfaat. Bagi industry media, mungkin termasuk membantu memperingan dan mempercepat proses pelatihan kader2nya yang berdampak pada peningkatan mutu tulisan, widest view pada content-nya, pride para jurnalisnya, dsb.

Hampir semua leader di Telkomsel saat itu, menyukai untuk berbagi pengetahuan sepulang dari negri lain yang dipandang sudah lebih advance atau memiliki keunikan dalam pengembangan. Konsekuensinya menjadi terkenal dan sering menjadi narasumber serta manfaatnya adalah mewarnai industri. Jauh dari bayangan sebagian “pengamat” saat itu bahwa ada ambisi untuk ngetop. Kalau pun “tokoh” dan lembaga Telkomsel ngetop, itu karena memang begitu, bukan ala pencitraan atau banci tampil atau serupa itu.

Telkomsel saat itu, memandang bahwa  ngetop itu hasil dan itu pun kalau pantas. Sebab ngotot pengin ngetop, kalau aslinya tidak pantas, ya malah menjadi seperti banci tampil.( apakah sekarang ngetop ala “banci tampil” kembali menjadi tren dilakukan berbagai pihak ? entahlah ).

Materi sharing dengan para jurnalis terkait perkembangan tekno telepon seluler dan berbagai inovasinya. Dengan demikian, secara dekat dan nyata terbangun kesamaan platform antara Telkomsel dan industry media dalam memahami upaya mencerdaskan bangsa melalui ketersediaan akses ke seluruh pelosok negri.

Tanpa kesamaan platform atau menganggap dirinya paling bisa menjelaskan ke publik, maka yang ada adalah kultur pemberitaan yang ABS atau sebaliknya : muncul ketegangan hubungan, atau munculnya penulisan yang membuat mual2 bagi yang paham sebenar2nya kejadian,  dan……  bersiaplah akan hadirnya varitas WTS ( wartawan tanpa suratkabar ) atau “pasukan boderek”.

Beberapa media cetak yang juga bertumbuh bersama Telkomsel

Beberapa media cetak yang juga bertumbuh bersama Telkomsel

Prinsip corporat communication Telkomsel saat itu terhadap apa yang ada di media adalah : (1) kalau pun media akhirnya menulis suatu berita terkait dengam materi sharing itu, akan memiliki dasar yang setara. (2) Kalau pun ada media menulis berita miring, maka akan mudah melakukan diskusi tentang apa maksud dari berita itu. (3) Jika memang mengandung kebenaran fakta tentang adanya kekurangan atau bahkan fault terkait Telkomsel, maka Telkomsel akan menyampaikan terima kasih atas feedback melalui pemberitaan.

Telkomsel memposisikan media pada tempatnya, mungkin karena itu pula media juga menempatkan Telkomsel pada posisinya ( ngetop dengan sebenar2nya, asli ngetop).

(4) Begitu pun jika ada pemberitaan yang tendensius dan tidak berdasar, maka Telkomsel akan bertanya apakah begitu cara mencerdaskan bangsa dan nasionalisme yang kita kembangkan bersama ? (5) termasuk jika ada tulisan berondongan di rubrik komplain seperti “redaksi Yth”, Telkomsel saat itu mengunjungi penanggung jawab rubrik itu untuk berterima kasih atas feedback itu dan jika tidak berdasar alias fitnah, maka Telkomsel akan minta diberi kesempatan ke media untuk memberikan feedback juga kepada penulisnya.

Implementasi C3QS dimensi komunikasi yang dilakukan Telkomsel : sharing knowledge, keterlibatan manajemen, tidak tabu untuk dikritik, mengajak bertumbuh bersama-sama,  gentle dan fair serta diskusi bersama dalam suka cita (gathering) , mencerdaskan kehidupan bangsa, nasionalisme,  saling menghargai (apresiasi), meningkatkan mutu tulisan (awarding), dsb, telah membawa dampak ikutan yang positip, yakni “Wartawan boderek” yang kebanyakan adalah wartawan tanpa suratkabar telah secara alami menjadi tahu diri bahwa Telkomsel itu bukan “makanannya”. Bahkan secara perlahan industry telco nampak semakin menyusut jumlah “wartawan” dari varitas ini.

Telkomsel juga mendorong munculnya rubrik tekno dalam upaya meningkatkan oplag masing2 maupun munculnya majalah/tabloid yang segmented berkarakter cerdas, profesional dan lifestyle di media cetak serta menginspirasi serupa di media elektronik (radio & teve). dsb. Semakin Telkomsel menjangkau daerah, semakin di daerah itu industry media juga bertumbuh, karena konsepnya bertumbuh bersama.

Apakah Bolt (juga) akan serupa itu ? silakan simak sendiri.

Dan banyak kreativitas mendobrak kebekuan pasar dan industry yang dilakukan Telkomsel untuk memungkinkan masyarakat yang berada di  Sabang sampai Merauke, dari Alor ke pulau Rote, terkoneksi secara personal dan mobile oleh layanan Telkomsel. Bertumbuh bersama media mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan negri Indonesia.

Semua sudah lewat, jaman sudah berganti, yang ada adalah hikmah dan pelajarannya. Kini boleh jadi sedang berada di titik persimpangan,  entah mana jalan yang menuju “masa depan”.

Konon, sekarang jaman menuju broadband,  konon ada keinginan untuk membuat agar masyarakat bisa terkoneksi internet dengan kecepatan melebihi negri Ginseng.  Mudah2an saja bisa begitu.

bolt1Bolt Mengusik ?.  Ada beberapa poin yang untuk sementara tertangkap, ada sinyal Bolt mengusik dengan cara mirip yang (pernah) dilakukan Telkomsel di jaman awal2 dulu. Entah benar entah tidak menyerupai, itu wajar-wajar saja. Silakan cermati diri.

(1) Kata “mobile WiFi” untuk peluncuran produknya, memberikan sinyal kepada industry dan penyedia layanan incumbent yang hanya bisa dinikmati secara on the (hot) spot secara statis. Dengan kata “Mobile WiFi”, maka industry tengah di-introduksi bahwa amat sangat mungkin sekali memberikan layanan WiFi secara mobile, baik dalam arti mobile sebenar-benarnya, maupun dalam arti hot spot-nya bisa digunakan secara mobile.  Pesan ini sepertinya ingin disampaikan ke industry, market dan other players. Seolah ingin menjelaskan positioning produknya dibanding dengan fixed wifi sebagaimana digenerate oleh layanan dari Firstmedia, Speedy, IndonesiaWiFi, dsb.

Kok ada kemiripan dengan cara Telkomsel di awal dulu yang mendobrak dengan kata ponsel (telepon seluler) untuk menegaskan bahwa ada perbedaan mendasar dengan telepon genggam atau telepon bergerak atau telepon mobil yang menjadi sajian dari operator incumbent saat itu.  Dengan kata ponsel, otomatis semua pemakainya merasa paling update di bidang teknologi telepon, minimal sejengkal di depan mereka yang saat itu memegang telepon genggam/telepon bergerak/telepon mobil.

(2) Kata “Super Cepat” memberikan sinyal ke industry bahwa yang dihadirkan itu bukan seperti internet ala WiFi yang ada selama ini maupun internet melalui layanan operator mobile selama ini.   Begitu pun dengan “embel2 4G/LTE” menegaskan kemutakhiran teknologi yang digunakan.  Pesan ini juga ingin disampaikan ke market dan other players. Seolah ingin menjelaskan ke market dan industry bahwa ini bukan janji, tapi bukti. Juga menegaskan positioningnya dibandingkan dengan produk internet mobile yang digenerate dari produk Telkomsel, Indosat, xl, dll

bolt4G YouthKok ada kemiripan dengan yang dilakukan Telkomsel dulu, dimana menggunakan “international roaming” dan “GSM” sebagai sinyal telak terhadap layanan incumbent saat itu (telepon genggam/telepon bergerak/telepon mobil) yang hanya bisa digunakan diseputaran Semanggi sampai Puncak, sebatas berada kota2 Semarang Jogja Solo, atau hanya beberapa ratus meter dari rumah/kantornya. Pemakai Telkomsel diberikan previllage seolah berada sejajar dengan masyarakat di Eropah.  Begitu pun teknologi yang digunakan, memberikan positioning pemakainya sebagai lebih well-educated.

(3) Kata bisa “untuk sampai 8 orang”,  sangat tegas menjelaskan manfaat produknya bagi community, mobile office, travelling or gathering activities, termasuk bazaar or event music atau serupa itu yang sifatnya community, togteher, join, share dsb. Seolah ingin menjelaskan bahwa cukup satu yang pakai kartu, yang 7 lainnya silakan buang kartunya, tetap bisa menikmati mobile internet. Positioning ini juga ingin membandingkan dengan layanan dari incumbent operator yang menyediakan layanan mobile internet dimana hanya one card one akses ( kecuali pakai handphone tertentu, kemungkinan bisa bareng2 meski menjadi turun kecepatannya).

Kok mirip yang dilakukan Telkomsel ya ? pakai kartu Telkomsel, maka anda nggak perlu telepon fix, nggak perlu mesin telex, nggak perlu kirim kartupos, nggak perlu beli answering machine, dsb. Semuanya sudah disediakan gratis oleh Telkomsel.

(4) Youth & Professional, picture yang ditampilkan dalam berbagai iklannya juga sangat jelas memposisikan target yang disasarnya : youth and or professional, metropolis, lifestyle, dan serupa itu. Inilah pasar yang memang sudah matang dan siap “memakan” layanan mobile internet berkecepatan tinggi.  Mereka, selain relative mature dalam pemahaman berinternet, juga memiiki purchasing power yang memadai.  Agak radikalnya, adalah taripnya berani memasang secara “menantang”.

Kok mirip juga ya ? emotional bounding. Bedanya konteksnya satu bernuansa nasionalism, satunya bernuansa metropolis.  Keduanya berusaha untuk  memberikan value dan pride kepada pemakainya. Taripnya radikal, dg kartu Telkomsel, komunikasi antara Cilacap dan Wonosobo adalah tarip lokal, sementara untuk PSTN sudah masuk kategori tarip SLJJ.  Bahkan dulu pun sudah ada gagasan yang sangat radikal, yakni single tariff se-Indonesia.

(5) Only Jakarta dan sekitar dulu, emmmm……… negatip apa positip ya ? bisa dilihat sebagai sebuah weakness namun juga bisa jadi kejelian melihat pangsa yang siap memakannya.   Ini juga mirip roll out Telkomsel di awal dulu, bedanya Telkomsel melakukan create demand melalui emosional bounding , sedang Bolt sepertinya lebih menggunakan Follow to the Market. Spiritnya yang (sepertinya) ditiru, yakni melayani selangkah di depan ( beyound expectation ).

(6) Testimoni di media cetak, media on-line dan media-sosial yang bebas mengkritik Bolt, boleh jadi ada kesadaran bahwa kritik pada dasarnya feedback untuk improvement.  Mirip C3QS dimensi komunikasi Telkomsel jaman awal dulu.  Bedanya, Telkomsel saat itu terkendala jumlah, jenis dan materi media, sehingga Telkomsel membangun semangat untuk bertumbuh bersama media,   Bolt sudah berada di jaman on-line dan bahkan sudah ada med-sos, materi dan kapabilitas jurnalisnya sudah nyaris mandiri dan setara. Spirit dan fairnessnya mungkin yang (sepertinya) ditiru.

(7) produknya mulai dari prabayar sampai pay as you go dengan paket2 yang disesuaikan dengan target dan kebutuhan, seolah ingin menjelaskan kami siap melayani siapapun anda. Ini juga mirip cara mendiferensiasi yang terkorekasi dengan segmen  pasarnya (segmen riil, bukan teoritik) .

Nah … mirip teori makan bubur ayam panas dan C3QS kan ? Apakah Bolt akan menyusul kesuksesan Telkomsel ? wallahu a’lam.

Saran untuk siapa saja.  Steve Jobs berkontemplasi : “Everymorning I asked myself, if  today were last day of my life, would I want to do what I am about to do today” ( quoted by : Anna Vital, How to Start the Day, Entrepreneur, 16 Januari 2014).

Mimpi untuk kebaikan Indonesia itu sangat baik dan semuanya juga mungkin2 saja, bahkan itulah kewajiban siapa saja yang mengaku orang Indonesia. Asal jangan didominasi dengan kesombongan, jangan didominasi dengan mentalitas “wani piro”, jangan punya pikiran dan niyat mengubur sejarah, insya Allah berkah dari Allah akan turun.

Ini berlaku untuk siapa saja yang sedia melayani rakyat, menjauhi mentalitas minta dilayani. Kata ninik-mamak : “berakit-rakit kehulu, berenang-renang ke tepian”.  Pak Kyai Mursyid berpesan : ” Barangsiapa bersyukur atas nikmatNYA, maka DIA akan menambahkan dengan nikmat2 lain yang lebih banyak dari cara yang tidak disangka2″. Bung Karno berpesan : “Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah”.   Mbok Kromo me-wanti2 : “ojo kurang ajar karo wong tuwo, mundhak kuwalat”.  Mbah Tirto juga berpesan “Ojo durjono, mengko suloyo”.  Koes Plus menuliskan pesan ” ….. nyambut gawe karo seneng”. Kata2 bijak mengatakan : “durian yang kita makan hari ini adalah buah dari tanaman generasi terdahulu”. Pak Mulyotani menyampaikan : “Tanamlah padi dan siangilah rumputnya jika ingin panenmu terus menerus membaik. Jangan berharap ada panen diwaktu mendatang jika yang kamu tanam itu rumput”.  Dan banyak sekali manusia bijak telah mewariskan legacy terbaik untuk kehidupan generasi penerus.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

Bonus untuk memacu adrenalin dan mengasah akal untuk lebih kreatif, Steven Jhonson memberikan tutorial singkat dalam karikatur yang asyik dan mudah diikuti. Kebetulan yang digambar juga terkait industri Telco-IT. Silakan simak.

Scroll To Top