Sekilas Info
Home | Jalan-jalan | BROMO ( Yang Pernah Kurekam)

BROMO ( Yang Pernah Kurekam)

Kata berita “Status Bromo sampai saat ini tetap level 3 siaga. Pantauan visual asap kelabu setinggi 200-300 meter. Terdengar suara gemuruh dari dalam kawah,” kata Ayu Dewi Untari, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) di Malang, Minggu (6/12).  Tentu saja keindahannya tidak terlalu bisa dinikmati,,,, ini bagian dari keindahan Bromo

Bromo1Gagal Melihat Sun Rise di Penanjakan.  Dari Jakarta ke Surabaya. Di  JW Marriot Hotel Surabaya, mestinya segera tidur karena harus jaga kondisi dan perlu bangun tengah malam, atau kalau nggak mau ya begadangan saja dilangsung dengan melek sepanjang hari berikutnya.

Tengah malam, antara ngantuk dan kepingin, kami harus berkemas menuju langsung ke kawasan Bromo dengan CRV.

Lalu-lintas lancar karena memang dinihari, namun menjelang subuh, di beberapa kota yang terlintasi sudah mulai banyak aktivitas. Kendaraan diperlambat kecepatannya.

Bromo12Sampai di kawasan, langit telah terang. Artinya kami gagal ke penanjakan.

Driver yang juga memandu kami menyampaikan bahwa keberangkatan dari Surabaya semestinya lebih aman sebelum pukul 12 malam. Lebih baik nyantai di kawasan barang beberapa menit.

Dalam “kekecewaan” itu, kami usil untuk tidak mau meninggalkan lokasi penanjakan, meski nggak dapet “srengenge mlethek”.

Kami mencoba memasuki “lebih dalam” lingkungan di seputar Penanjakan itu. Udara yang menurut tubuh yang biasa di daratan rendah, tergolong pagi hari yang amat dingin itu,  melihat sekeliling “ruarrrrrrrrrrrrr biasa indahnya !!! subhanalloh”

Berkuda Ke Arah Tangga Menuju Puncak.   Perjalanan dari lokasi parkir kendaraan menuju ke puncak Bromo, melalui padang pasir yang cukup luas. Pilihannya adalah jalan kaki atau naik kuda.

Bromo2Karena kami berencana untuk seharian di Bromo, maka stamina perlu dijaga agar keindahannya tetap terasakan,  Kami pilih naik kuda.

Sekitar sepuluh menit – bergantung kita dan joki dalam menghela kudanya, kami sudah sampai di ujung dekat tangga menuju puncak.  Kami pun turun dari kuda dan bersiap menaiki tangga itu.

Terlihat tangganya cuma beberapa meter, sehingga membuat kami bersemangat untuk menaikinya.

Wisatawan lokal dan mancanegara nampak banyak menaiki dan menuruni tangga.

Bromo3Ternyata baru sepertiga panjang tangga, kami melihat begitu banyak orang berhenti, berhenti seperti kami – kelelahan.

Beberapa saat berhenti untuk ambil nafas dan atur badan.

Hal serupa itu dilakukan di kira2 sepertiga berikutnya perjalanan menaiki tangga itu.

Bromo16Faktornya adalah : selain sudut elevasinya yang “nanjak”, juga banyaknya jumlah orang yang naik/turun, (mungkin) kerapatan oxigen serta “emosi karena bersemangat dan kekaguman atas keindahan alam ciptaan Allah itu” .

Sampai di puncak tangga, kita bisa menyaksikan langsung bagaimana kawah Bromo mengepul.

Disekelilingnya terdapat jalan yang dipersiapkan untuk mengelilingi melihat kawah (tidak keliling betul). Jalan itu dipagari untuk keamanan pengunjung.

Bromo4

 Bermain Di Padang Pasir.  Padang pasir pertama yang kami realisasikan dari bayangan ke kenyataan pandangan adalah saat kami umroh bersama keluarga.

Bromo5Kali ini padang pasirnya berada di puncak ketinggian gunung yang masuk ke dalam jajaran gunung2 yang tinggi di pulau Jawa.

Pasirnya berasal dari letusan gunung Bromo tentunya.

Perjalanan kali ini masih menggunakan landrover yang secara mudah dapat kita sewa ketika kita pertama masuk/baru datang ke kawasan Bromo.

Mereka menawarkan beberapa opsi, harga antar kendaraan “off-road” relatip sama, namun bergantung pada opsi yang kita inginkan.

Bromo6Kami memilih untuk selain keliling savana dan berhenti di beberapa spot, juga menembus tebing sampai ke danau Ranupani dengan kondisi rute yang dijelaskan oleh pemandu (saat itu) kondisinya “menantang”.

Disekeliling perjalanan melalui padang pasir itu,  kami melihat terdapat bukit2 yang indah.

Saat itu sudah memasuki musim kemarau, sehingga pemandangan yang nampak warna kombinasi ada kehijauan dan beberapa sudut savana berwarna keemasan.

Bromo7

Menikmati Savana.  Savana, bagi kami saat itu merupakan istilah yang hanya ada di angan2.

Kali ini kami merealisasikannya dalam pemandangan nyata yang bisa disentuh.

Bromo8Savana di Bromo begitu luas.  Kita dapat bersembunyi di semak-semak savana yang (saat itu) sebagian mulai mengering.

Rerumputannya menebarkan aroma harum yang khas.

Selain rerumputan, di savana terdapat pula tumbuhan adas yang juga menebarkan aroma harum yang berbeda.

Bromo9Suhu udara masih dingin meski matahari bersinar dan tanah pasirnya sudah mengering, embun sudah lama pergi, kemarau pun sudah datang.

Sepertinya tidak ingin beranjak pergi untuk bermain di savana yang luas, indah dan harum alami.

Di ujung lain nampak pemandangan yang konon (kata pemandu) jika datang 3 bulan sebelumnya, dimana musim kemarau belum merasuk, masih banyak bukit “teletubis”.

Tidak ada bukit teletubis saja indah, apalagi ……

Perjalanan pun dilanjutkan menuju danau Ranupani (dari arah Bromo).

Ranupani.   Perjalanan ini memang “menantang”, tanjakan yang dilewati terjal untuk ukuran jeep dan bukan sedang off-road.

Perjalanan ini sebenarnya adalah perjalanan menaiki lereng kaldera Bromo.

Bromo10Sesekali melewati jalan tanah yang nyaris bisa membuat as mobil patah (kalau saya yang pegang setir kali ya ?).

Ada sekitar puluhan meter, perjalanan itu harus melewati jalan yang benar2 berada di ujung tanduk, kiri jurang kanan juga jurang.

Keduanya memiliki keterjalan yang memang menantang.

Bagi pemandu, mungkin itu hal yang biasa atau sengaja mengajak kami melewati jalan yang “menantang” seperti itu.

Yang jelas asyiiiik.

Sepanjan perjalanan menanjak menyusuri tebing ini, dihibur oleh harumnya aroma pohon adas yang sering “njawil” mobil. Semakin di jawil, semakin aroma harumnya terasa.

Bromo13Akhirnya menemukan jalan aspal dan ada lokasi berhenti di ujung tanjakan yang terawat baik.

Sesampai di ujung tanjakan, kami coba mengambil gambar bagaimana susananya.

Ternyata, perbedaan ketinggian antara savana dengan kami mengambil gambar, terasa benar.

Pantas saja pemandu mengatakan bahwa rutenya cukup “menantang”.

Akhirnya, kami sampai juga di danau Ranupani

(sambil membayangkan bagaimana nanti kembalinya ke kawasan Bromo melalui jalan yang “menantang” itu).

Bromo14Model piknik ini cocok bagi remaja, atau keluarga dengan anak usia di atas 8 tahun.

Bagi yang tidak ingin terlambat  moment sun rise di Penanjakan, dilokasi dekat kawasan Bromo, tersedia penginapan-penginapan yang layak/bagus.

Tentu saja persiapannya berbeda, karena disana tentu malamnya jauh lebih dingin ketimbang AC hotel di Surabaya.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu. 

Scroll To Top