Sekilas Info
Home | Menjalani Kehidupan | CARA MENGHINDARI PENYAKIT VERTIGO, MINDER, DAN JAHILYAH

CARA MENGHINDARI PENYAKIT VERTIGO, MINDER, DAN JAHILYAH

Partai bisa bikin seseorang terkena “vertigo” atau “disorientasi”.  Sekolah bisa bikin seseorang menjadi bodoh ! kemistri itu bisa menjadi jahiliyah atau bisa juga menjadi minder wardeg…. aneh  nggak ya ?.                                                                                                                                                                                                               
Dulu saya nggak terlalu percaya, kalau ada orang yang bersekolah  justru menjadi bodoh, menjadi urakan, menjadi semakin tidak santun, bahasa Jawanya adalah keblinger, mungkin bahasa lainnya setara jahiliyah. Limabelas tahun kemudian, atau bahkan yang paling hangat ini, kok ada semacam evident yang memberikan sinyal bahwa pernyataan itu mengadung kebenaran.
Flo JogjaPinter Keblinger.   Mahasiswi S2 yang studi di Yogyakarta, hanya karena diingatkan oleh petugas pompa BBM, menjadi marah-marah penuh emosional di jejaring-sosial, dan….. ternyata lulusan S1 dan sekolah S2, menjadikan diri seseorang (mahasiswi) menjadi lebih bodoh ketimbangan seseorang (petugas pompa BBM) yang (boleh jadi) hanya tamat STM.
Kebebasan berpendapat dalam alam demokrasi, teknologi, modernitas sosial, ternyata tidak dipahami oleh orang dengan solusi berpendidikan (S2 lagi, bidang hukum lagi, di Jogja lagi)………….  Aneh kan ?
faisal bangsatBeberapa selang waktu kemudian, seorang dengan gelar berjajar (artinya orang berpendidikan tinggiiiiiiiiiiiiiii sekali), membuat pernyataan dengan menggunakan kata BANGSAT kepada pihak yang (sepertinya) tidak memiliki jumlah gelar sebanyak dirinya.
Kata (bangsat) ini, dulu hanya menjadi kosa kata yang wajar digunakan oleh orang2 tak berpendidikan yang suka cangkruk (ngongkrong2 dan suka iseng menggangu orang), terutama preman pasar atau preman terminal/stasiun.
Ternyata pembahasan tentang alternatip cara  memilih pemimpin tidak dimengerti hanya dengan pendidikan yang tinggiiiiiiiiii sekali, justru nampak ada semacam kebodohan dan sikap emosional yang bersalutkan logika dan teori2.
Masih soal alternatip cara memilih pemimpin.  Demokrasi itu barang impor, di negri produsennya (suatu negri di belahan Eropah) entah membuat bagaimana penerapannya dan entah pula bagaimana perasaan rakyatnya dengan sistem itu.
Namun demokrasi itu memandang WAJIB untuk menjadikan SAMA PERSIS, nilai keputusan orang berpendidikan tinggiiiiiiiiiiiiiiii sekali dengan keputusan yang diambil oleh orang bodoh buta huruf bin kuper.  Sementara orang yang berpendidikan tinggiiiiii sekali  justru marah2 tatkala ada pendapat berbeda tentang cara memlih pemimpin.  Aneh ngak ?
http://smc-mait-carver.blogspot.com/

http://smc-mait-carver.blogspot.com/

Vertigo atau Disorientasi.  Masih soal alternatip cara memilih pemimpin. Para politisi suka mengkritik perilaku dan kebijakan eksekutip, terutama jika kebijakannya TIDAK SESUAI dengan keinginannya. Eksekutip disini itu ya termasuk Direksi di BUMN , sehingga muncullah gagasan perlunya cara memilih Direksi BUMN melalui Fit and Proper Test (FnP) .

Forum yang menguji dalam FnP ini adalah mereka yang masuk kategori pakar. artinya para pakar dan  para politis, pokoknya bukan orang sembarangan dech !!!.  Ini didasarkan pertimbangan bahwa BUMN ini menyangkut kekayaan negara, uang rakyat, strategis, dsb dsb.  Mulia dan strategis sekali ini manusia2 dalam berpikir dan berencana.  Ruarrrrrr Biasa !!!!.
Coba iseng2 usulkan, bagaimana kalau yang milih direksi BUMN itu tukang kebun, tukang pacul, kuli bangunan,  office boy, disamping manager perusahaan dan anda2 semua ?.  Niscaya anda akan didamprat habis2an dan dibilang “BEGO lu !!!”.
Coba ingatkan mereka tentang ini. Bukankah anda2 – orang2 pinter, tahu persis secara KONSTITUSI  bahwa Direksi BUMN itu hanyalah bawahan dari Menteri. Sementara para Menteri2 itu juga hanyalah pembantunya Presiden. Artinya Presiden itu majikannya majikan dari para Direksi BUMN.
http://komuniksos.blogspot.com/2014/04/yah-ampin-bego-amat-sih-kartun.html

http://komuniksos.blogspot.com/2014/04/yah-ampin-bego-amat-sih-kartun.html

Lha kok dengan segala teori dan ilmu impor, anda2 malah memaksa orang lain untuk menggunakan cara memilih majikan dari majikannya direktur BUMN dilakukan oleh orang2 sekelas si BEGO yang mengajukan usulan tadi (yang kena damprat).

Bukankah esensi demokrasi adalah menghargai pendapat berbeda dan mencari keutuhan sudut pandang atas sesuatu berkait dengan negara dan bangsa ?  Lha kok malah yang dimajukan one man one vote.  Aneh nggak ya ?

Forum seperti itu,  mungkin tidak lebih santun dan tidak pula lebih tinggi pendidikannya ketimbang petugas pompa BBM di Jogja, apalagi dibanding dengan mahasiswi yang ngumpat dan menTOLOLkan orang Jogja, apalagi dibanding dengan orang berpendidikan tinggiiiiii sekali yang memBANGSATkan mitra berpikir sesama anak bangsa dalam membangun Indonesia yang lebih baik.. Aneh nggak  ya?  .
Pembicaraan ini memang TIDAK ilmiah, hanya berdasar niteni saja.  Yah ……….., mudah2an dapat menginspirasi anak bangsa yang memang BENAR2 ingin menjadikan INDONESIA lebih baik lagi, yang ASLI cinta INDONESIA, bukan pura2 mencitai rakyat agar dicintai lalu malah ngapusi, malah korupsi, malah manipulasi, malah jadi malin kundang, malah KOPLAK..
Kalau memang cara kemarin ada kekurangannya dan kelemahannya, ya mbok dengan menggunakan  ilmunya yang sudah tinggiiiiii sekali, dipikirkan.  Toh ini bangsa dan negara anda juga. Misal, kalau ada KKN, ya jangan ditiru (anda mungkin punya data lengkap tentang KKN dari masa ke masa), ya…  bentuk lembaga KPK seperti yang sudah ada, dan …. ya harus dijaga independensinya, serta ya dipantau secara system transparansi prosesnya.
https://rdrevilo.wordpress.com/tag/sun/

https://rdrevilo.wordpress.com/tag/sun/

Kalau ada pelanggaran HAM, bentuklah pengadilan HAM yang berorientasi pada kepentingan negara INDONESIA (bukan kepentingan asing), jaga juga agar Mahkamah Konstitusi tidak digunakan untuk membelokan sejarah dan lebih merusak tatanan kehidupan yang beradab, terutama jika hanya karena takut dianggap negara kolot atau serupa itu. Jangan juga malah meniru negara yang baru sadar dari kekeliruannya (entah kalau selama ini yang ingin meniru juga belum sadar kekeliruannya).

Sekarang ada juga orang2 pinter yang mem-benchmark peraturan hukum tertentu dengan membandingkan dan dengan alasan bahwa negara Afrika Selatan dan Jerman sudah menerapkannya.
Coba ingatkan ! Bukankah negri Afrika Selatan itu baru keluar dari jebakan perilaku tak berperikemanusia yang disebut APARTHEID ?  bukankah, Jerman juga baru selesai menyadari kekeliruannya dalam berperilaku yang menyombongkan diri yang disesbut FASIS ? Aneh nggak ?         
Bapak Presiden dan Wakil Presiden, mohon hati2, jangan sampai disekitar anda2 itu dikelilingi kaum KOPLAK yang sok membenci FASIS justru malah akan menerapkan FASIS, mengkapanyekan antidiskriminasi malah secara systemic akan menyusun strata model wetbook jaman VoC versi baru dan bukan bikinan VoC, kaum yang sok menjaga MORAL malah akan menyusun tata hubungan manusia yang entah pakai moral apa, dsb.                                  
                                                                 
http://www.poetrysansonions.com/2012_07_01_archive.html

http://www.poetrysansonions.com/2012_07_01_archive.html

Minder Wardeg. Kenapa sih nggak mau belajar dan menghargai apa yang sudah dibangun oleh generasi pendahulu kita ? apakah minder ? atau menganggap generasi terdahulu bodoh dan tidak bisa ditiru. Periksa sendiri karya2 mereka (generasi pendahulu), lalu coba bandingkan secara obyektip.  Bagaimana ?

Kalau begitu kenapa geneasi pendahulu mampu berjuang dan memperjuangkan Bhineka Tunggal Ika, dan mengusir penjajah dengan bamboe runtjing, membuat komitmen hebat Soempah Pemoeda, melakukan strategi ruarbiasa dari tandu dalam kondisi sakit2an (Soedirman), nekad dan berhasil membunuh pentholan tentara asing (jendral Malaby).

Sementara dengan ilmu yang  ”dimilikinya”  (impor lagi),  sebagian orang2 yang kebelet justru dengan pongahnya menisbikan legacy generasi terdahulu yang ASLI baik2 dan ASLI INDONESIA, lalu tak merasa sungkan dengan jasa para generasi terdahulu atau bahkan tak menyadari dirinya sudah seperti papan catur, terkotak-kotak, terkena ilmu devide et impera varitas baru. Aneh nggak ?

Politik itu barang impor, karenanya bung Karno pernah menggagas Demokrasi Terpimpin, sementara pak Harto pernah menawarkan Demokrasi Pancasila.  Kedua konsep dari generasi pendahulu (Pemimpin Bangsa ASLI orang INDONESIA,  bung Karno dan pak Harto) malah ditertawakan oleh inlander2 yang minder wardeg dengan kedok logis teoritik dan global KOPLAK.

Politik dan demokrasi itu  bisa bikin senewen pikiran manusia2 yang kebelet, menjadikan wong cilik,- rakyat ASLI Indonesia terkena efek devide et impera varitas baru yang lebih ganas dari virus ebola. Pendidikan yang sekular bisa membuat manusia2 thomak menjadi keblinger, menjadi jahiliyah.
Reformasi yang diusung oleh mereka yang mengaku orang-orang pinter dengan semangat memberantas KKN pada jaman rezim yang Presidennya hanya lulusan SMA, ternyata menghasilkan fenomena  kemakmuran namun sekaligus menghasilkan pembiakan KKN secara masif dan merata. Kesimpulan kedua, semangat dan pendidikan yang tinggi, ternyata  tidak lebih pandai dari seseorang yang hanya lulusan SMA. Aneh kan ?
Nasionalisme itu bukan sekedar disanjung oleh orang2 yang masih belum paham demokrasi. Nasionalisme itu perilaku nyata yang berpihak pada kepentingan bangsa, kepentingan rakyat INDONESIA.

Moral itu Penting Bung !

Tanpa moral yang BAGUS,  hal-hal yang semestinya untuk keBAGUSan, justru menjadi senjata makan tuan.
Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

 

Scroll To Top