Sekilas Info
Home | Inspirasi | CUKRIK

CUKRIK

Beberapa orang top di negri Anemia, terkena penyakit “ekstrim” sebagian disebabkan oleh zat cair bernama CUKRIK,  padahal yang terkena cuaca ekstrim itu Amerika dan sebagian jazirah Arab. Konon, ……… kok bisa ya ?

Cukrik (istilah dari Jawa Timur, Indonesia) adalah cairan mudah terbakar yang konon dicampur dengan obat pembasmi serangga dan berbagai ramuan mematikan lainnya, dan ……………….  (anehnya) sangat disukai oleh orang2 yang ingin hidupnya keblangsak dan ujungnya di penjara atau mati terkapar menenggak cukrik.  Sementara, kalau di Anemia, cukrik itu adalah cairan energy untuk mesin mekanik dari jenis apa saja. 

http://www.roystoncartoons.com/2012/02/topical-cartoon-buzz-phrase.html

http://www.roystoncartoons.com/2012/02/topical-cartoon-buzz-phrase.html

Ilmuwan Ekstrim.  Anemia memiliki banyak ilmuwan handal yang sekaligus juga pengajar yang dikenal baik2. Reputasi para ilmuwan macam ini, seolah menjadi “komoditas” yang mudah tercium sangat kuat di hidung para politisi Anemia. Mungkin saja kaum ilmuwan jenis ini cocok dan layak dibidik oleh sekelompok politisi dengan berbagai alasan yang mendasarinya, misal untuk keperluan mulia (memajukan negri Anemia), atau untuk dijadikan penguat icon intelek  (membangun kesan zaken kabinet) atau akan dijadikan alternative “korban” jika ada problem besar (karena biasanya ilmuwan ini belum paham liku2 birokrasi), dan sebagainya. Who knows ? wallahu a’lam.

Para “stakeholder” negri Anemia, ada yang ingin mengembangkan negri Anemia berubah menjadi lebih baik; Ada yang justru nggak peduli negara dan rakyat Anemia, yang penting “wani piro”. Ada juga yang inginnya negri Anemia itu hancur lebur.  Semua stakeholder dan ilmuwan itu jenis ini sepertinya kondisinya  ekstrim atau terkondisi menjadi ekstrim : ekstrim pinternya, eksrim lalainya atau “maboknya”, ekstrim nggragasnya, ekstrim culunnya, ekstrim gumunannya, ekstrim kagetannya, ekstrim berharap dan bergantungnya, bahkan ada yang ekstrim tidak tahu apakah sedang menjalankan perintah Sang Khalik (kerja adalah ibadah) atau sedang mengikuti perintah setan (menjarah uang negara/rakyat Anemia).

Namun …… warga Anemia bersyukur, karena masih banyak yang “eling lan waspodo”,  yang konsisten bahwa kerja itu ibadah, mengabdi untuk memajukan negara dan bangsanya itu ibadah, dsb. Konsisten tetap berbuat kebaikan bagi negara dan bangsa serta memakmurkan rakyat Anemia secara adil dan merata di seluruh negri Anemia, menghadirkan manfaat untuk kebaikan bersama (menurut istilah seorang ulama kondang dari Indonesia, melakukan jihad bil khal ).

Kiprah Ilmuwan Culun. Salah satu ilmuwan yang sepertinya tergolong ekstrim (culun) itu adalah Mulyo, profesor dan ahli teknologi yang menjadi pengajar hebat di perguruan terkenal di Anemia. Karena suatu sebab yang tragis, kini ia lebih dikenal dengan panggilan Mukiyo.  pak Mulyo behasil dirayu oleh kalangan “pembidik” untuk duduk di posisi yang strategis di bidang sumber penerimaan yang besar sekaligus sumber pengeluaran terbesar APBNA ( Anggaran Pengeluaran dan Belanja Anemia ), yakni mengatur pemrosesan dan distribusi cairan bernama CUKRIK.

Tugas sang profesor secara formal adalah membenahi secara kesisteman dan proses pengelolaan sumber alam dan distribusi terkait Cukrik. Sebagai ilmuwan dan profesor, ia pun sudah mencermati dan kini sudah bersentuhan dan mempelajari langsung berhubungan dengan sistem yang dimaksud.

Culun, dalam pengertian “trilogi jaman edan” adalah pinter tapi tidak waspada ( eling tapi ora waspodo).  Dalam “trilogi jaman edan” dikenal pepatah ” ……… luwih becik sing elin lan waspodo” atau ” ……. lebih mulia yang pinter dan waspada”.  Pinter itu penting (termasuk di dalam jaman edan),  namun harus punya kewaspadaan. Ibarat mengendarai mobil di “drug race”, kalau modalnya hanya mahir mengendarai mobil, maka dapat menjadi bulan2an dari mobil2 lain yang memang tujuannya “bermabok2an” tak peduli atau hilang rasa malu dan hilang sifat kemuliaannya.  Untuk bisa menjaga kemuliaan ( terlebih dalam kondisi “drug race”), maka seseorang perlu membekali akhlak mulia dan kepinteran.

Sebagai orang pinter, maka dalam sebulan saja, pak Mulyo sudah paham dan segera melakukan pembenahan mendasar. Dua bulan, ia mulai memonitor efek perubahan dan melakukan penyempurnaan secara kesisteman. Tiga bulan kemudian, ia sudah menemukan cara efektip untuk perbaikan menyeluruh agar sistem menjadi efektip dan efisisen sehingga sistem akan memiliki endurans yang bagus untuk menjaga kekuatan dan kehandalan dalam ikut menjadi penopang utama APBNA negri Anemia,  termasuk membawa kembali negri Anemia berjaya di kancah per-Cukrik-an global.

Si culun ditengah hiruk pikuk pesta mabok kaum perampok. Sebagai ilmuwan yang belum pernah menjadi birokrat negri Anemia, pak Mulyo sangat awam dengan perilaku para pedagang besar cukrik dan kepiawaian para politisi wani piro di Anemia.  Anemia masih bisa berharap banyak, karena masih ada sebagian pedagang sejati dan masih juga ada politisi sejati, masih ada kebaikan di Anemia. Hanya seolah kebaikan yang ada, sedang disandra oleh keburukan yang dijalankan oleh golongan “wani piro”.

Saat pak Mulyo bersentuhan pertama dengan golongan “wani piro”,  ia masih belum paham benar trik2 dan kelicikan mereka, dan pak Mulyo masih bisa berpegang pada ilmunya.  Sampai bulan ke delapan, sang profesor mampu bertahan untuk tidak menerima suap dari mereka yang menjadi stakeholder dari golongan “wani piro” di industri cukrik Anemia .

Pressure group atau stakeholders dari profesor culun dari golongan “wani piro” itu banyak. Ada stakeholder internal yang ingin menggagalkan perubahan kesisteman (program Culun), atau membelokan tujuan program sang profesor.  Tujuan golongan ini adalah melanggengkan sistem sekarang, karena peluang nyolong “secara legal” atau potensi menerima  sogokan dari berbagai pihak luar itu sangat besar.  Kondisi seperti ini,  sangat didambakan oleh golongan “wani piro”

http://cmay4.wordpress.com/2010/03/

http://cmay4.wordpress.com/2010/03/

Tidak semua internal stakeholder bermental “wani piro”, masih banyak yang baik2, yang punya komitmen besar memajukan negri, menjaga martabat dan wibawa bangsa dan negara, serta menjadikan Anemia sebagai negri yang disegani.  Mereka ini biasanya disingkirkan oleh calo2 “wani piro” dan dipepet diposisi yang tidak “mengganggu” kerja penjarahan.  Alasannya banyak dan mudah dibuat serta logis secara ilmu manajemen sumberdaya manusia.

Karena ukuran kerja tidak lagi memperhatikan moral dan loyalitas serta kecintaan negri, terutama sejak jaman tranpormasi di Anemia. Para calo “wani piro” ini selalu menemukan “kelemahan” dan “peluang” untuk menyingkirkan  orang2 yang benar2 original baik2 meski pinter loyal dan nasionalis.  Internal stakeholder di jalur “khusus” seolah telah diatur sedemikian rupa oleh calo2 ini untuk didominasi oleh manusia2 “ABS wani piro” .

Loyalitas telah digeser bukan pada loyal untuk membangun kemajuan lembaga/perusahaan atau loyal untuk membangun dan memajukan negri Anemia, namun loyalitas pada partai mbelgedes.  Kecintaan juga bukan pada kecintaan untuk negrinya, kecintaan untuk kemanusiaan yang mulia, namun sudah digeser ke cinta mengumbar syahwat ( syahwat harta, syahwat kekuasaan, syahwat sex, dan syahwat serupa itu lainnya).

Jadilah organisasi dengan label organisasi cerdik (smart organization) tapi berbau tengik dan berlaku licik. Pencitraan menjadi metoda wajib.  Konsepnya sekali berbohong selamanya berbohong (agar tidak ketahuan aslinya).  Mereka seolah sudah dihilangkan rasa bersalahnya (ketangkap tangan korupsi kok bisa tersenyum tebar pesona sebagaimana di tayangan tv2 Anemia),  sudah dihilangkan rasa kemanusiaannya (tega mengorbankan rekan atau bahkan keluarga sendiri, sebagaimana berita2 di media2 Anemia), dsb.  Mirip gerombolan hyena (untuk menghayatinya, silakan simak lagi film animasi The Lion King ).

Tanpa akhlak mulia, budi pekerti luhur, mau dibawa kemana negri Anemia ?

wani piroStrategi Calo2 Wani Piro. Dari eksternal,  ada  stakeholder yang berkeinginan untuk menggagalkan perubahan yang sedang dijalankan, atau bahkan seolah mendukung namun tujuan adalah membelokan arah sedemikian rupa. Mereka sudah exist ada sejak sebelum sang profesor duduk di posisi itu, boleh jadi golongan ini sudah kecanduan uang sogokan di bisnis cukrik, biasanya dari kalangan politisi golongan “wani piro” dan calo2nya yang berkeliaran di lingkungan internal.  Ada lagi dari pihak di luar itu semua,  yang sejak awal juga ingin negri Anemia itu hancur lebur. Kemistri demi kemistri telah terjadi antara berbagai unsur stakeholder untuk menyuap sang Profesor yang memang sejak di perguruan dikenali sebagai pengajar yang baik2.

Sebenarnya ketiga elemen stakeholder ini,  banyak yang baik2, namun di negri Anemia, selalu saja ada dari golongan “wani piro”. Entah salah rekrut atau memang desain rekrut karyawan atau sistem jenjang karirnya diskenario seperti itu. Stakeholder2 dari golongn “wani piro” ini memiliki kemistri serta bekerja selayaknya gengster.  Tidak segan2 mereka berkedok cinta negri dan juga membela rakyat Anemia, padahal sejatinya “wani piro”.

Mulyo menjadi Mukiyo. Dengan desakan adanya keperluan stakeholder internal dan tekanan yang semakin deras …. akhirnya, benteng sang profesor berhasil dijebol.   Dan kini………. tinggallah sang profesor menyesali diri mengapa ia membuat keputusan ekstrim untuk meng-iya-kan menerima suap. Apakah ia sudah mabok CUKRIK ? Ia pun tertangkap api ( istilah di Anemia terkait tertangkap tangan saat menerima suap, di Indonesia dikenal dengan nama tertangkap basah) oleh petugas Komisi Pemberantas Penjarah Uang Negara/Rakyat Anemia.  Sang profesor sudah keluar dari kurva normal kehidupan dan tabiatnya  serta telah berada atau mengambil posisi ekstrim, ya ceritanya begitu deh ………

Banyak kemungkinannya. Jika saja sang profesor tetap menjadi dirinya, tidak mabok CUKRIK, bukan menghamba, berharap dan bergantung pada manusia, maka ceritanya tidak akan diperlakukan seperti ini.

Kalau pun ia tetap menolak menerima suap (misalnya) – meski desakan dan berbagai tekanan dari kondisi yang seolah “logis” dan “penting” tertampang secara mencolok dan nyata di depan matanya, maka ujung akhirnya bukan tertangkap api dan masuk penjara. Paling digeser ke posisi lain. Kalaulah pun digeser, maka publik Anemia yang demokratis (salah satu hasil terbaik jaman tranpormasi Anemia) akan membelanya, begitu pun Komisi Pemberantasan Penjarah Uang Negara/Rakyat pun akan mendukungnya.

Hal serupa, meski tidak sama persis, dialami oleh rekannya di Anemia, yakni doktor bidang sosialita yang juga terperangkap dalam trias corruptica untuk pembangunan stadium dan pusat pencetak jago olympiade dunia di segala cabang sport.  Sementara doktor bidang pelihara hewan dan tanaman produktip, yang tersandra kepakarannya karena masuk jebakan percaloan dan suap terkait dengan urusan hewan.

Kalau ada gelas yang bersih dan utuh karena tersimpan di lemari tak pernah bersentuhan dengan hiruk pikuk dapur dan meja pesta, maka itu wajar dan biasa. Tapi kalau ada gelas yang tetap bersih dan utuh meski dipakai dan bersentuhan di arena pesta mabok sekalipun, maka itu gelas yang asli baik mutunya.  Kalau ada gelas yang baru dikiiiiit………. aja deket2 dengan hiruk pikuk dapur yang kelasnya biasa2 saja kok pecah dan mudah menjadi kotor, maka memang mutunya Ori Imitation @KW4 Inside. Istilah orang manajemen itu terlihat bermutu baik namun belum teruji mutunya.

Kyai Mursyid. Terkait mutu akhlak, sering ada pernyataan “semula ia baik, sekarang kok begini”. Kyai Mursyid mengatakan bahwa jika yang digelorakan adalah membuat banyak orang2 pinter tapi membiarkan akhlaknya buruk (bad moral) berkembang, maka manusia bisa menjadi serigala bagi yang lainnya.  Kepinteran itu untuk meningkatkan mutu hasil, semakin pinter semakin bermutu produk seseorang. Akhlak mulia itu untuk menjaga eksistensi kemanusiaannya. Tanpa ada pembinaan akhlak mulia, maka negara akan dipenuhi dengan “manusia serigala”.  Kalau menanam padi, selalu ada ilalang atau gulma yang ikutan tumbuh. Jangan harap padinya subur produktip jika ilalang dan gulma tidak disiangi. Jangan harap akan tumbuh padi jika anda menanam ilalang.

Komisi Pemberantasan Penjarah Uang Negri/Rakyat itu ibarat menyiangi ilalang dan gulma. Pembangunan jiwa, akhlak mulia itu ibarat menanam padi.  Tanya kenapa  ada keinginan untuk menghapus KPPUN/R di Anemia ?

Masih belum yakin pentingnya  pembangunan akhlak mulia bagi bangsa yang jelas2 sudah dicanangkan oleh para pendiri negri  ?

Ya Emangbegitu.

 

Scroll To Top