Sekilas Info
Home | Menjalani Kehidupan | MAY DAY : Provide Creativity or Shit ?

MAY DAY : Provide Creativity or Shit ?

Ini bukan hal yang ilmiah, hanya “ilmu niteni” (obervation). Anda pun punya pengalaman “niteni” yang boleh jadi sama, atau tentang sesuatu yang serba kebetulan saja sama atau memang benar2 sama ………. coba deh !

Anda boleh saja seorang buruh atau pekerja, boleh juga masih sekolah, atau tengah kuliah atau bahkan anda bukan siapa-siapa atau manusia sisa-sisa ( “manusia sisa-sisa itu salah satu istilah dalam lagunya Iwan Fals – Air Mata Api ) .

Siapapun Anda, “ilmu niteni” itu sudah dicangkokan dalam otak anda secara alamiah. “niteni” dalam bahasa lain mungkin setara dengan observation atau tadhabur ‘alam. Sebagian dari anda mungkin saja ada yang rajin menggunakannya, namun ada juga yang nggak.

Tidak ada salah jika tidak menggunakannya. Bebas !  Itu terserah pilihan anda.  Pada memperingati May Day ini, bicaranya soal meja dan kursi, seperti di bawah ini :

  1. sebagai buruh/pekerja sampai pemilik usaha, sebagai pelajar, guru sampai kepala sekolah; sebagai  mahasiswa, dosen sampai rektor; atau bahkan buka usaha bengkel (apapun) dan serupa itu, pada umumnya menggunakan meja dan kursi. Tentu meja kursinya disesuaikan dengan jeni dan nature pekerjaan;
  2. kalau hanya bicara soal “kursi” sepertinya kok dapat membikin panas hati para calon wakil rakyat yang gagal;
  3. meja kursi yang dibicarakan terkait dengan untuk mekanik/elekronik working atau bahkan bukan juga meja kursi sekolahan/kampus, lebih kepada meja kursi yang lainnya.
http://tiperumahminimalis.blogspot.com/2013/09/desain-meja-makan-lingkaran.html

http://tiperumahminimalis.blogspot.com/2013/09/desain-meja-makan-lingkaran.html

Meja Bundar.  Menurut orang2 “pinter”,  meja yang berbentuk lingkaran atau meja bundar (bukan meja lonjong ya ? ) itu memiliki makna :

  • memberikan posisi yang sama pada semua yang duduk di kursi yang mengitari meja bundar itu ;
  • memberikan kesempatan yang setara kepada semua yang duduk di kursi yang mengitari meja bundar itu;
  • membangun suasana yang egaliter;
  • memberikan manfaat moral bahwa yang dibicarakan adalah hal2 yang baik dan bermanfaat;
  • memberikan ikatan moral bahwa  keputusan yang diambilnya sebagai suatu permufakatan bersama.

Orang2 yang asli egaliter, asli open mind, biasanya memilih meja bundar untuk berbagai keperluan : meja ngobrol bersama tamu/kolega/staf di kantor sampai meja makan di rumah. Orang muda, atau orang yang berjiwa muda, biasanya juga menyukai meja bundar. Meja bundar akan mampu memberikan efek entering the edge, mampu menembus batas-batas atau sekat-sekat sosial.

http://tiperumahminimalis.blogspot.com/2013/09/desain-meja-makan-lingkaran.html

http://tiperumahminimalis.blogspot.com/2013/09/desain-meja-makan-lingkaran.html

Kesan dan suasana dalam ngobrol, diskusi, dialog, membahas hal yang penting pun, akan mudah menjadi akrab, kebekuan yang terkadang timbul akan mudah cair, ma’ nyes langsung terasa. Kreativitas mudah terbangun, bahkan dalam memandang secara berbeda (dari sudut yang berbeda) pun mudah terjadi dialog dan membangkitkan kreativitas.

Conducive Work Place. Kreativitas biasanya lebih banyak muncul saat keluar dari zona yang disukainya.  Kecemasan lebih sering muncul disaat zona nyaman lewat alias kehilangan zona nyaman. Nah …… meja bundar itu membangun suasana “kebathinan” seperti itu. Bisa membuat kreative, bisa membuat cemas.

http://www.dailymail.co.uk/news/article-2441236/Were-hiring-Company-responds-I-quit-video-dancing-office-4am.html

http://www.dailymail.co.uk/news/article-2441236/Were-hiring-Company-responds-I-quit-video-dancing-office-4am.html

Bagi kaum yang asli egaliter, kondisi itu biasanya justru menjadi lebih kreative dalam suatu team wok . Kalau dalam stand alone, kreativitas tidak harus meja bundar, namun lebih kepada membebaskan diri dari cara berpikir sebelumnya karena ingin mencari cara baru misalnya ( tentu bukan sekedar cara baru, sebab kalau sekedar cara baru, anak TK juga bisa).

Mereka ( yang bukan anak2 TK)  biasanya juga meyakini bahwa berbagi itu akan memperkaya secara bersama. Berbagi view akan membuat semua mendapatkan gambaran lebih lengkap dari apa yang “diyakininya”‘.  Nah ……….”keyakinan” atas sesuatu itu, bisa didasarkan pada  jabatannya, ilmunya, senioritasnya,  pengin dianggap tahu, dsb.

Ilmu penginderaan, telah membuktikan melalui perbanyakan camera yang dipasang dengan sudut shoot yang berbeda2, dengan teknik pencahayaan tertentu, setelah diedit dengan aplikasi khusus, bisa memberikan gambaran 3 dimensi yang utuh. Jika obyek yang diindera itu sesorang, maka orang itu akan bisa melihat punggunya sendiri, melihat bagimana wajhnya kalau lagi cemberut, dsb (sesuatu yang amat jarang dan sulit dilihatnya ).

Dengan meja bundar, masing2 akan terbangun kebiasaan memahami penyebab perbedaan itu. Sehingga mudah pula memahami penyebab perbedaan, misal : koordinatnya mungkin beda, khasanah pengalamannya beda, alat yang digunakan berbeda, dsb.  Bagi kaum egaliter, perbedaan adalah hikmah untuk mencapai keutuhan, bukan untuk diperdebatkan atau membuat tersinggung karena beda status misalnya.

Memang ada orang yang memilih meja bundar karena ingin punya meja bundar, dasarnya keinginan semata atau meniru tetangga/teman yang sudah duluan punya. Sehingga tidak ada hubungannya dengan egaliterian atau open mind. Boleh jadi orang ini mungkin malah berkepribadian yang sebaliknya. Namun demikian, kalau pakai meja bundar, lama2 juga akan menjadi egaliter dan open mind.

Respect & Committed. Meja bundar seolah menyihir mereka2 yang biasa duduk disana untuk menjadi paham bahwa berbeda sudut pandang itu adalah sunnatullah atau hukum alam, meski berbeda namun tetap memiliki fokus yang sama – karena masing2 paham bahwa view itu hanya karena sudut pandang saja. Meja bundar, seringkali membuat mereka mampu saling untuk berbagi view sehingga terbiasa berupaya mencari/menemukan gambaran yang utuh ( kaffah, holistik ) tentang sesuatu.  Wajar jika dalam meja yang demikian itu, akan mudah terbangun budaya saling menghargai atau respect, juga menepati janji atau memegang teguh kesepakatan bersama atau  committed.

http://www.searchenginejournal.com/link-building-1998/62149/

http://www.searchenginejournal.com/link-building-1998/62149/

Respect itu bukan kepINGIN dihargai ya ? kalau kepINGIN dihargai itu biasanya karena ada rasa ketakutan kehilangan “wibawa”,  entah karena apa sebabnya. Respect itu lebih kepada suasana bathin yang akrab dan tetap menghargai meski berbeda (sekali lagi , respect itu tdiak sama dengan INGIN dihargai ). Respect itu bisa karena reputasinya, karena kualitasnya, karena komitmennya, dan berbagai hal positive dan bernafaat lainnya. Respect menghargai  karena memang soul-nya mencari untuk menemukan sesuatu secara utuh/kaffah. Orang yang demikian itu, menyadari dan paham ada poin of view,  ada sudut pandang yang memang berbeda.

http://www.inspiringpartnerships.co.uk/2014/04/24/what-does-commitment-mean-to-you/

http://www.inspiringpartnerships.co.uk/2014/04/24/what-does-commitment-mean-to-you/

Committed itu bukan mau melakukan tapi “kalau ada kesalahan atau disalahkan bukan aku lho“. Sedia tapi tidak sedia menerima konsekuensi, terutama jika ada worst case itu bukan committed namanya, tapi …… itu culas bin licik alias berkepribadian ala TuTi ( = Tukang Tipu) .

Committed itu sedia dalam suka maupun duka, sedia bersama dalam sukses maupun failed.  Kalau sudah berjanji, ya harus ditepati.  Janji itu hutang, dan hutang itu (selama belum ditunaikan) akan dibawa ke pengadilan akhirat.

Manusia yang bisa respect dan memiliki komitmen ini, biasanya sudah menghayati bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Detail. Manusia itu diciptakan/tercita berbeda2, tidak ada manusia yang 100% sama persis meski terlahir secara kembar  (ilmu medis sudah mampu membuktikan kebenaran ini).  Orang yang tidak committed, akan kehilangan respect (dari orang2 yang tahu respect), meski mungkin akan sekuat tenaga INGIN mendapatkan respect, dengan berbagai cara.

http://www.jantoo.com/cartoons/keywords/mafia

http://www.jantoo.com/cartoons/keywords/mafia

Meja Memanjang. Meja yang memanjang biasanya di salah satu ujungnya ada kursi yang memiliki aksen berbeda dengan kursi2 lainnya. Sementara kursi2 yang berada di sisi memanjang, biasanya sama persis. Kursi dengan aksen khusus itu  diperuntukan untuk “Lord of the House”,  sementara kursi lain ( kursi2 yang berada di sisi samping ) adalah kursi untuk status “the rest”.

Posisi di kursi dengan aksen khusus yang seperti itu, akan memberikan efek khusus (konsekuensi) pada yang mendudukinya maupun pada “the rest”.

Apapun topik pembicaraan yang terjadi, tentu bisa dibayangkan bagaimana suasana dan “kebathinan” yang terjadi.

Yang  jelas, Lord of the House akan memegang nuansa kebathinan dari semua audiens, bahkan sampai dapat “mendikte” siapa pun yang duduk di pertemuan itu. Mengapa ? karena secara “kebathinan”,  posisi lainnya adalah sebagai  berstatus “the rest”.

The rest disini mungkin tidak persis sama sebagaimana  ”orang sisa-sisa” Iwan Fals  dalam lagu Air Mata Api. Namun posisi di kursi “the rest” dalam suasana feodalistik atau bergaya kekuasaan, dapat memberikan efek yang serupa .

Meja seperti ini, konon disukai oleh orang yang bergaya aristokrat (bisa asli bangsawan, bisa berlagak seperti bangsawan, atau siapa saja yang suka seperti itu,  termasuk boss gengster juga suka).

Heran juga kalau ada orang muda atau penginnya berjiwa muda atau ngakunya berjiwa muda alias youth, malah bergaya ala aristokrat yang terkesan lamban, birokratik, mematikan kreativitas dan serupa itu.  Mau diskusi kreatip kok mejanya ada slot untuk posisi yang menunjukan “kasta”. Mau demokratis kok mejanya mengesankan nuansa kekuasaan.  Itu bukan youth ! Youth itu membangkitkan kreativitas, menghargai pandangan dari sudut yang berbeda ( tapi bukan asal beda ).

Mengaku youth ( anak muda atau berjiwa muda ) kok meremehkan pandangan orang lain atau memaksakan pendapatnya sendiri dan mematikan pendapat berbeda atau membangun benteng2 ala gengster ?  Itu bukan youth ! Mungkin seperti youth ! mungkin saja muda usia,  atau tenaganya seperti anak muda, jika kelakuannya lebih mirip dengan yang biasa (kita saksikan di berita2 ) dilakukan oleh geng motor, ya sebaiknya tidak begitu ya.

Semua di atas hanya merupakan hasil “niteni, bukan sesuatu yang ilmiah.

Apakah hasil “niteni” Anda sama ?  Andalah yang paling tahu.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

Apakah anda itu buruh, pekerja, direktur, birokrat, oldman atau youth, atau mengaku youth, atau kepingin dianggap youth atau apalah itu, simak juga nasihat dari Kansas ini  -  Dust in the wind. “Dust In The Wind” I close my eyes only for a moment, and the moment’s gone. All my dreams pass before my eyes, a curiosity. Dust in the wind, all they are is dust in the wind. Same old song, just a drop of water in an endless sea. All we do crumbles to the ground, though we refuse to see. Dust in the wind, all we are is dust in the wind Now, don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky It slips away, and all your money won’t another minute buy. Dust in the wind, all we are is dust in the wind (all we are is dust in the wind) Dust in the wind (everything is dust in the wind), everything is dust in the wind (the wind)

Scroll To Top