Sekilas Info
Home | Inspirasi | DOLLAR NAIK TURUN, SAHAM JUGA = SEJAHTERA ? BAHAGIA ?

DOLLAR NAIK TURUN, SAHAM JUGA = SEJAHTERA ? BAHAGIA ?

Siapapun, mengingInkan hidup  sejahtera bahagia. Sayangnya “pengertian” dari sejahtera bahagia itu banyak “definisi” dan variable-nya. Wajar saja jika sulit dipahami dan sulit disepakati, bahkan mungkin ada sebagian golongan juga merasa sulit untuk mewujudkannya.

http://www.motivationmagazine.com/articles/accidentally-poor-or-

http://www.motivationmagazine.com/articles/accidentally-poor-or-

FINANCIAL & TIME FREEDOM. Rasa sejahtera bahagia akan lebih mudah dinikmati oleh orang yang memiliki kebebasan finansiil ( Financial Freedom ) dan kebebasan waktu ( Time Freedom ). Financial Freedom pada dasarnya adalah kondisi dimana jumlah kemampuan pembelajaan melebihi jumlah kebutuhannya, atau jumlah uang lebih banyak dari jumlah rencana belanja.

Kondisi Financial Freedom itu bukan soal berapa jumlah uangnya, namun lebih kepada kondisi yang terjadi karena adanya kemampuan mengelola uang dan mengelola kebutuhan.

PRINSIP PENCAPAIANNYA. Kemampuan mengelola duniawi akan mendekatkan kita pada kondisi Financial Freedom. Manusia harus menjaga kesehatan jiwa terkait dengan financial itu. Uang banyak tapi jiwanya sakit, ya masalah. Apalagi gak punya uang, jiwanya sakit, ya samimawon. Na’udzubillah.

https://www.cartoonstock.com/ directory/s/shopping_bags.asp

https://www.cartoonstock.com/
directory/s/shopping_bags.asp

Proses mengelola uang yang sehat itu minimal terdiri dari : BELANJA, MENABUNG & SEDEKAH

BELANJA itu sifatnya naluriah, jadi tak perlu membiasakan atau melatihnya. Ia ibarat rumput liar, tanpa ditanam tumbuh, tanpa dipelihara juga menjalar, jika dipelihara semakin hebat pertumbuhannya.

MENABUNG itu sifatnya ilmiah, suatu ketrampilan dg logika, jadi perlu ada pembiasaan berhitung dan pelatihan menyimpan. Ia ibarat pohon padi, harus ditanam dan dipelihara secara tekun/konsisten. Jika tidak ditanam, mustahil akan tumbuh padi, jika ditanam tapi tak dipelihara maka potensi mati atau terdesak oleh rerumputan sangat besar.

SEDEKAH itu ibadah, jadi harus dilandasi dengan iman, bukan logika atau naluriah. Ia ibarat pupuk, ada takarannya dan ada waktunya serta memberikannya pada lokasi yang tepat/disarankan. Dengan pemupukan yang tepat, maka padi akan berkembang biak dan berbuah lebat.

http://pixgood.com/2-boy-friends-cartoon.html

http://pixgood.com/2-boy-friends-cartoon.html

MENGELOLA DIRI.  Mengelola uang secara naluriah dengan membiarkannya secara begitu saja, akan meningkatkan aktivitas belanja.

Manusia yang lupa/tidak mengelola naluriahnya, serupa dengan lahan subur yang mengundang rumput liar bertumbuh.  Keinginannya/hasrat belanjanya akan melonjak tajam .

Ada uang, belanja sampai uang habis. Nggak ada uang, cari utangan untuk beli apa saja yang diinginkannya (bukan yang dibutuhkannya).

Mengelola uang secara ilmiah dengan “amat sangat taat”, akan meningkatkan sifat kikir dan takut miskin. Menabung itu bukan untuk menumpuk harta/uang.

Menabung dan mengendalikan hasrat belanja itu bukan untuk kikir, bukan pula takut miskin, namun lebih untuk mencapai level financial freedom.

Lalu apakah bahagia ?   Koruptor, bank robber, dan serupa itu, pada umumnya uangnya amat sangat banyak. Bahagia ?

Kalau sejahtera, itu boleh jadi mungkin dirasakan, namun kebahagiaan adalah dimensi lain.

Disini perlunya mengelola harta dengan ibadah. Sedekah (nafkah, infaq, zakat, dsb) akan memberikan manfaat kehadiran harta bagi manusia yang menerimanya, yakni kebahagiaan.

setan pun tertawaAWAS SETAN BISA MENTERTAWAKAN. Jika hartanya hanya sedikit maka sedekahknya juga sedikit. Jika ikhlas, dan lillahi ta’ala, maka insya Allah menjadi barokah. Hidup menjadi bahagia. Jika hartanya banyak, maka sedekahnya banyak. Jika lillahi ta’ala, ya bahagia juga. Karena hidupnya terhubung dengan baik (connection wtihout intterupted, without error) dengan Yang Maha Pemberi Bahagia.

Ibadah itu untuk Allah, dan Allah hanya mau menerima kebhaktian/persembahan dari hambaNYA dengan hal-hal yang mulia.

Hasil kejahatan (korupsi, merampok bank, dsb) bukanlah hal yang mulia di mata Allah.

Dari Ibnu Umar ra, beliau terima dari Rasulullah SAW, bersabda: “Allah tidak akan menerima salat seseorang tanpa bersuci (berwudlu), dan tidak menerima shadaqah/zakat dari harta curian/korupsi (Ghulul). (Sahih Muslim, bab Wujub ath-thaharah li ash-shalat (557); Sunan Nasa’I, Thaharah (139); Sunan Abu Dawud, Thaharah (59); Sunan ibnu Majah, Thaharah (271); Musnad Ahmad (5/74); Sunan Ad-Darimi, Thaharah (686).

Aneh dan boleh jadi para syaithon pun tertawa terbahak-bahak jika menyaksikan koruptor bersedekah, membangun tempat ibadah, menyantuni fakir miskin, memberi hadiah dan perhatian pada anak yatim, dsb.

Dengan ibadah, maka selain aktivias sedekah semakin proporsional sesuai yang ditugaskan dalam kitab suci, hidup menjadi lebih bermakna duniawi dan ukrawi.

DIMENSI LAIN DARI IBADAH. Belanja pun akan menjadi bagian dari kesuka-citaan yg terkendali, buka foya-2 atau sebuah keterpaksaan.

Menabung menjadi habit, bukan kegiatan yg bersumber dari sikap pelit atau ketakutan2 akan kemiskinan.

S edekah menjadi suatu kebutuhan hidup untuk semakin sejahtera bahagia duniawi dan insya Allah ukhrawi.

Wallohu a’lam.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

Scroll To Top