Sekilas Info
Home | Inspirasi | DRONE & GANTI REZIM

DRONE & GANTI REZIM

Apakah benar akan ada pergantian rezim ?  sudah dekat ?  rezim apaan tuh ? …………..Rezim bukan hanya berlaku di dunia politik pemerintahan, namun juga di berbagai industri di seluruh dunia.

Ini cerita di negri Anemia, negri yang mirip dengan Indonesia. Bayangkan kita berada di negri Anemia.

Mempertanyakan Status “Penonton”

Dalam percaturan “politik tekno global” di berbagai industri, kita dapat menyaksikan tontonan yang menarik untuk disimak. Disebut tontonan, karena kita berada di negri yang bukan produsen teknologi ( automotive, telecommunication, dsb ).  Ya ! Hanya sebagai penonton !   Ini kenyataan !! entah disadari atau tidak oleh para pemimpin kita, atau minimal apakah menjadi perhatian serius atau malah sibuk mikirin dirinya.

penontonDulu, konon di negri Anemia pernah ada gagasan dan implementasi swadaya, swatantra, swadesi, swasembada dan berbagai swa yang mencerminkan kemandirian dalam persahabatan dan pegaulan dunia yang berkeadilan dalam kemakmuran. Kini ? Entahlah, apa harus Emangbegitu ?

Ambil contoh yang sederhana saja, membikin kenyang rakyat sekaligus memakmurkan rakyat dan memanjukan industri pangan melalui swasembada pangan nasional.  Saking sederhananya, maka banyak orang pinter di negri Anemia memandang rendah kaum petani, bahkan status petani secara “budaya” terpinggirkan dan “ternistakan”, seolah para pemimpin enggan memikirkannya.

Semua yang ada terkait industri pangan Anemia seperti infrastrtuktur fisik ( bendungan, irigasi ), infrastruktur sosial ( kompencapir, penyuluh pertanian, dsb ), infrastruktur kelembagaan (pusat pembibitan, bulog/dolog, dsb ) sudah musnah nyaris nggak berbekas.  So ? Kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, daging, dsb diputuskan impor saja ! toh sebagai administratur, akan bisa meminta fee per kilogramnya. So ?  hampir mustahil para administratur macam begini mikirin petani, mikirin rakyat, apalagi mikirin produk tekno yang canggih.  Semua industri strategis negri ini saja sudah luluh lantak hancur lebih oleh perilaku diri sendiri.

Masihkah ada pertanyaan dengan predikat sebagai penonton ? atau kecewa ? Boleh2 saja ! ya Emangbegitu.

Rezim Automotive

Otomotive industry dunia pernah dikuasai oleh rezim teknologi dari Amerika dg icon-nya antara lain sedan merk impala. Kemudian rezim Eropa menyusulinya dengan icon antara lain BMW, Mercy, Ferari, dsb yang seolah menggantikan hampir semua mobil dari rezim teknologi Amerika. Dengan semakin makmurnya negara-negara di seluruh belahan bumi, maka kemampuan membeli mobil, bukan lagi kalangan top of the top, namun sudah dapat dijangkau oleh kalangan middle sampai the tip. Rezim tekno automotive Jepang melihat peluang itu, dan kini hampir semua negara, bahkan sampai ke negri Amerika dan Eropa, mobil Jepang bersliweran dijalanan.

Rezim Telco

Sampai pada awal tahun 90-an,  produk tekno Amerika mendominasi sebagian besar negara-negara di dunia.  Di aspek infrastruktur telekomunikasi maupun di aspek end user terminalnya serta komponen elektronik, banyak yang buatan Amerika. Produk dari rezim teknologi Amerika,  di atas rezim tekno Eropa seperti dari Jerman, Belanda, Inggris dan Perancis. Dunia belum mengenali Norwegia sebagai produsen tekno telco.

Motorola-DynaTAC-phone-1806167Mobilephone. Telco dunia menggunakan AMPS sebagai semacam rezim yang diakui dunia di aspek mobiletelephone. Sementara NMT, CT3, PHS hanya samar-samar terdengar.  GSM belum nongol dipermukaan. Handphone, didonimasi oleh merk Motorola, handphone adalah nama end user terminal jaman sebelum disebut ponsel ( cellphone ) yang kini telah berganti menjadi gadget. Konsep mobilephone saat itu adalah telepon yang bisa dipakai sambil jalan sampai sambil naik mobil, karena itu banyak kaum the have yang tidak paham benar, mengartikan mobilephone dengan telepon mobil, telepon yang biasa dipakai orang bermobil. Ya itu boleh2 saja.

Dulu,  orang bermobil itu jarang jumlahnya. Sekarang, orang yang nggak punya garasi lokasi rumahnya di gang sempit, atau anak2 SMP yang belum punya SIM saja sudah punya mobil.  Dulu, orang ber-mobilephone pun masih jarang.  Kini, ber-smartphone  pun sudah menjadi standar dari pejabat sampai rakyat, dari orang berduit sampai yang hidup kejepit, dsb. Ini tanda kesejahteraan, budaya kredit, ilogic decision making, nggege mongso, OKB, atau Petruk Dadi Ratu, atau serupa itu.

pagerPaging. Pager ( paging ) adalah end user terminal untuk komunikasi text, yang konon di era 90-an sempat pula mampu untuk kirim icon. Pemilik pager biasanya adalah eksekutip senior atau tauke.  Handphone dan Pager adalah pasangan yang serasi dan dulunya lambang status (lifestyle) dari kaum the have.   Saat di hotel berbintang di kota-kota besar dunia seperti di Jakarta,  Hongkong, dsb hanya orang2 tertentu yang menjinjing  handphone dan ada pager di pinggangnya. Handphone dijinjing karena ukuran masih besar, pager di pinggang karena enak dilihat dan enak dipakainya.

Pager terlaris dan terpopuler serta bergengsi adalah merk Motorola.  Tahun 2000-an, pager bergeser menjadi icon untuk sopirnya boss yang handphonenya sudah berganti dengan yang lebih canggih. Kini pager sudah nggak terdengar, bahkan anak muda pun jarang yang tahu.

Handy Talky (HT).  Perangkat HT yang paling bergengsi adalah juga merk Motorola. HT adalah seperangkat radio komunikasi penduduk untuk keperluan komunitas.  Sekarang banyak di pakai untuk keperluan security dan koordinasi, mulai dari petugas event organizer sampai oleh bapak2 Hansip RT/RW.  Komponen elektronik seperti ( IC, Transistor, dsb ) didonimasi oleh Motorola.  Motorola saat itu identik dengan kehebatan Amerika. Mau beli komponen elektronik, hampir semua toko memuji buatan Amerika.

Saat itu, teknologi dan sistem Amerika yang kuat itu bagai atol ( pulau karang ), karena sistem yang satu tidak terintegrasi dengan sistem yang lain, ada sekat, ada celah, dsb.  Begitu pun dengan sistem teknologi negri2 Eropa dan Jepang,  masing2 punya standar sendiri2 dan tak terintegrasi.

Tsunami TeknoTelco

Terlepas itu apakah mereka berperang atau tidak, yang jelas pada tahun 90-an seolah sedang berlangsung pergantian rezim tekno global.  Namun nyatanya ada pihak yang entah apa alasannya, mengembangkan sistem tandingan rezim Amerika di sektor telco. Mereka tergabung dalam suatu study group di belahan bumi yang bernama Eropa,  kalau nggak keliru kelompok belajar ini namanya adalah Group Study for Mobilecommunication.

Berbagai penemuan diaplikasikan dalam system telepon mobile antara lain : bergerak di frekuensi minimal 900 MHz, bisa digunakan lintas negara (international roaming), bisa kirim/terima text (SMS), tidak bisa disadap, tidak bisa diclonning, bisa dijual dalam paket maupun dalam terpisah (pake SIM Card), dsb.  Semua penemuan ini tidak dimiliki oleh rezim telepon mobile yang ada saat itu ( AMPS, NMT, CT, dsb ).

Peta GSM 2Singkat cerita, antara tahun 95-2000 hampir semua negara di dunia sudah mengganti sistem telepon mobile-nya dengan GSM yang sudah berganti arti menjadi Global Standar for Mobilecommunication. Bahkan negri yang dulunya  baru menikmati telepon otomat pun segera pengin punya dan memasang sistem GSM sebagai sistem telepon mobile-nya. Roll out GSM di semua negri bergerak sangat cepat bagai tsunami, karena secara faktual, apa yang saat itu diharapkan oleh peduduk sampai pejabat/politisi/pengusaha di banyak negri terpenuhi oleh kehadiran rezim Eropa – GSM. Bahkan sistem GSM telah menimbulkan efek bola salju pada berbagai hal selain terbukanya lapangan kerja, terbukanya keterisolasian penduduk, dsb.

Rezim tekno Eropa berlabel GSM ini hadir membawa kemanfaatan nyata bagi semua penduduk di negri manapun’ Apa yang menjadi masalah di negri manapun, seolah bisa diselesaikan dengan hadirnya rezim ini. Bukan sekedar otomatisasi telepon, namun keterhubungan antar penduduk dan pembukaan sekat keterisolasian pun mudah dilakukan. Selain mempererat dan meningkatnya intensitas komunikasi antar penduduk negri, informasi terkait ekonomi pun mudah terdisibusikan.  Secara otomatis, produk dan merk dari negri yang mengusung AMPS pun nyaris hilang di berbagai negri di seluruh dunia. Tahun 2000-05 bisa dikatakan secara nyata merk motorola tidak terlihat lagi mendominasi di etalase toko dan bahkan pembeli juga mungkin ada yang nggak tahu kalau ada merk motorola.

Sistem komunikasi dari rezim semula yang seolah bebentuk pulau atol,  telah menyatu menjadi super benua GSM. Tata aturan pun telah berganti, dari rezim atol menjadi rezim super benua GSM.

Badai Tornado

Entah juga karena mereka berperang atau tidak, yang jelas, pada kurun menyusutnya dominasi Amerika di sektor telekomunikasi dunia, perusahaan2 Amerika terkait sektor ini terkesan mengalami kesulitan di bisnis global. Sejalan pembentukan super benua GSM, sinergi mata uang di Eropa dengan Euro-nya pun seolah juga berhasil mengungguli dominasi dan keunggulan Dollar Amerika.

Namun di negri Amerika ada Steve Jobs yang pada tahun 2007, Apple memasuki bisnis telepon seluler melalui pengenalan iPhone, sebuah telepon seluler dengan tampilan multi-sentuh yang juga memiliki fitur iPod dan, dengan peramban web bergeraknya sendiri, berhasil mengubah dunia peramban web bergerak.  Ada juga “industri” search engine yang begitu pesatnya berkembang di Amerika, sementara negri lain pada umumnya belum memikirkannya, Yahoo dan Google adalah beberapa diantara yang memulai serius mengembangkannya.

Secara bertahap, terjadi evolusi di tingkat End user terminal. Kemarin,  tekno Eropa mendominasi, end user terminal dibuat untuk menggabungkan telepon mobile, pager dua arah,  voice maill dan camera sederhana. Kini secara tak terasa telah terinduksi oleh kecanggihan ala Amerika, ponsel telah berganti nama menjadi smartphone, dengan tambahan fungsi yang berkembang sangat fenomenal.  Bahkan mampu menjadikan fungsi handycam, fungsi laptop, dan berbagai fungsi canggih lainnya.

Evolusi di tingkat jaringan/pipe juga terjadi. Dari 2G – 3G – 3.5G. Dari Macro BTS sampai nano BTS dan bahkan ada yang lebih simple dari semua jenis itu. Di tingkat switching  terjadi evolusi. Dari identifikasi address juga berkembang bukan saja berbasis MS-ISDN. Dst dst.  Evolusi ini menguras begitu banyak energy operator ( pikiran, waktu, financial, training, dsb ). Secara Capex dan Opex, operator menghadapi tekanan untuk bertahan hidup dan mempercepat ekspansi.

Smartphone is drone ? . Smartphone selain memiliki fitur yang semakin lengkap, juga memberikan kemerdekaan pada penggunanya untuk memilih sendiri media jaringan apa yang ingin digunakan : jaringan GSM ( 2G s/d 3.5G ) atau pakai jaringan WiFi. Perang tarip antar operator telah menghasilkan banyak hal : kepeningan dan kepenatan para pengelola, kebingungan regulator, lenyapnya operator yang ambisius dan salah jalan, dan banyak hasil lainnya,

Trend penggunaan komunikasi data  dipacu oleh gaya hidup yang dikembangkan oleh rezim tekno Amerika ( Facebook, dkk ) telah mendorong penduduk negri manapun menyukainya. Dengan fitur kemerdekaan memilih jaringan pada smartphone, maka gairah menggunakan layanan berbasis komunikasi data semakin menggila. Jika komponen dalam dari smartphone bekermampuan intellijen, bukan mustahil pola dan selera konsumen di seluruh dunia sudah terdeteksi olehnya – is it drone ?

Nah …..  di saat ada kemampuan “drone” dan  otaknya pe-gadget sedunia berputar karena kemerdekaan memilih jaringan cellular or wifi inilah seolah akan menjadi bayi badai tornado –  seolah akan menjadi cikal bakal pergantian rezim.

Pertanyaannya rezim mana dan bentuknya bagaimana ?

Masih kah cellular menjadi pilihan ?

Mampukah wifi menjadi jembatan dunia ?

atau boleh jadi ada sesuatu yang bukan ini bukan itu sebagaimana di peroda 95-2000 yang ternyata bukan Wireless Local Loop, bukan AMPS, bukan NMT-900, bukan PHS, bukan Pager berkemampuan kirim suara dan gambar, bukan push to talk ala HT, bukan digital telex machine,   dsb. Yang datang dan mendunia bukan itu semua, tapi GSM !.

Entahlah, ya Emangbegitu !

 

Scroll To Top