Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | FIQIH KEPINGIN (1)

FIQIH KEPINGIN (1)

Coba buka2 atau inget2 file SMS, WA, atau sos-med lainnya terutama di komunitas tertentu,  apa ya maksudnya ?.

Beberapa kalimat ini sering muncul : “Bismillah, mau ambil wudhu untuk sholat tahajud”. “Alhamdulillah, selesai juz 20 di hari ke12 ramadhan”…..

Ini ringkasan dari beberapa ceramah ustadz terkait dg fenomena jaman sekarang. Kalau ada kurang dan kelirunya, lebih dikarenakan oleh saya yang keliru menangkapnya.

“Fiqih” Pengin Orang Lain Tau.  Pesan SMS, WA atau melalui MedSos, adalah (hampir bisa dipastikan) dimaksudkan agar orang lain tau.

Kini (kolaborasi teknologi dengan kegiatan ibadah) di beberapa komunitas, seolah tengah berkembang cabang baru ilmu fiqih yang seolah  ”mewajibkan diri” atau dengan berbagai alasan mulia mendorong diri untuk menyebarkan pesan agar semua orang sebaiknya diberitahu tentang ibadah yang akan, sedang atau telah dilakukannya.

Itulah  ”cabang fiqih baru  - fiqih kepingin orang lain tau”, boleh jadi Anda jauh lebih paham.

Just to Remind. SMS atau MedSos itu sarana komunikasi, dan komunikasi itu dimaksudkan agar pesan bisa terkirim dan diketahui oleh si penerima.

Isi Pesannya bermacam2.

Ada pesan yg isinya terkait dg koordinasi, terkait dengan informasi adanya hal2 yang wonder, hal-2 yang melenceng, dsb biasanya dimaksudkan agar stakeholder terkait tau, memperhatikan, paham dan berbuat sebagaimana yang seharusnya (menjadi tanggung jawabnya).

Ada juga pesan yang berisi tentang status baru dirinya, misal sedang dalam perjalanan, sedang makan2, sedang mendaki gunung, dsb, maka biasanya disebut update status. Termasuk ada yang memasukan disini adalah benar2 terkait statusnya, misal baru menikah, kelahiran anak, pindah rumah, ganti mobil, diterima di perguruan tinggi, dsb.

Semua dimaksudnya sebagai semacam publikasi, semacam deklarasi, agar pihak lain tahu apa yang sedang/akan/telah dilakukan, apa yang menjadi kekaguman/kegelisahan/perhatian, dsb. Direspons atau tidak oleh pihak lain, itu ada yang memandang tidak begitu penting, yang penting adalah pesannya sampai, pihak lain tahu inti pesan itu.  Namun … pada umumnya berharap agar ada respons.

Sah2 saja.  Dalam konteks berkomunikasi, materi komunikasinya bisa dan sah2 saja jika berisikan tentang ibadah.

Lalu……… apa salahnya kalau soal mau tahajud di sosmedkan ? di sebarkan via SMS  atau WA?

Bukankah itu bagus, bisa memotivasi diri dan orang lain untuk rajin beribadah ?

Itulah sekelumit “fiqih pengin orang lai tau”, disadari atau tidak ?

Silakan buka2 file SMS, WA atau sosmed di smartphone.

Bagi yang bukan “ahli ibadah” dan apalagi bukan anggota komunitas itu, tentu saja tidak akan menemukan pesan serupa di atas dalam smartphonenya.

hehehe …. pis bro sis.

Pantes Nggak ya ?.  Kita paham benar, apa yang akan dilakukannya sebagaimana di sosmed-kan, di SMS atau WA itu ( berwudhu, sholat tahajud, baca al-qur’an, dsb) adalah benar2 ibadah.

Dan perilaku menyebarkan pesan telah/sedang/akan beribadah  (melalui SMS,WA, FB) seperti itu adalah wajar, jika dilakukan oleh  SD atau SMP, karena mereka tahapannya seperti itu.

Namun ustadz itu menyarankan agar ghirah beribadah pada anak2,  tetap dilatih dalam aturan sebagaimana yang seharusnya.  Wong  ibadah kok “di-woro-woro. Bagaimana ini ya ?

Bukankah beramal itu tidak boleh ada riya’ (pamer), ujub, dan serupa itu ?

Apalagi kalau perilaku  kirim2 pesan (messege) itu dilakukan oleh manusia2 sudah di atas 25 tahun.

Maksud Lo?.  Sang ustadz penceramah itu  bertanya pada hadirin ” Malah ada yg up load foto saat mulai di bandara cengkareng, singgah di bandara Abu Dhabi, sampai di bandara Jeddah dan bahkan di depan Ka’bah segala. Sudah gitu rame2 meringis pamer begel dan gigi….Apa maksudnya ini ?”

“Sepertinya ghirahnya adalah berwisata, bukan ibadah. Begitu pun up load foto2 itu lebih kepada mempamerkan bahwa dirinya dan beberapa temannya sedang ibadah umroh nih”

Di foto tertulis “doain kami agar ibadah kami lancar dan khusu’ ya ?”.

Kelihatannya bagus, namun menjadi nampak bahwa ada kebelum pahaman terkait doa dan tempat2 mustajabah untuk berdoa.

Kyai Mursyid mengingatkan ayat Allah dan pesan rasulullah terkait ini.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,” (QS. Al ma’un : 4 – 6).

Pesan Rasulullah yg diriwayatkan oleh Ibnu Majah sbb :

Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al Masih Ad Dajjal.

Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih aku takutkan bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al Masih Ad Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar.

Beliau pun bersabda, “Syirik khofi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa haditsnya hasan)

Riya’ merefleksikan hati yang tidak ikhlas,  bukan hati yang hanif, yang mencari kebenaran dan ridha Allah semata.

Beberapa motiv sering didasarkan pada hal yang bersifat syahwat,  misalnya :

  1. Ingin dikenal sebagai  orang yang “sholeh”, senang mendapat pujian dan sanjungan atau sering mencari pujian manusia sebagai ahli “ibadah”.
  2. Mencari pahala duniawi,  lebih takut terhadap celaan manusia
  3. Konon, riya’ juga menunjukan sifat yang hubbud dun-ya, sifat rakus dan tamak terhadap  : rezeki, nikmat dan kedudukan dimata orang lain.

Wallohu a’lam

Begitu apa begitu ya

Ya Emangbegitu

Scroll To Top