Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | FLINSTONE LIFESTYLE : DKI

FLINSTONE LIFESTYLE : DKI

Ada fenomena menarik dari “komponen”  yang ada di kemacetan …………. mirip jaman batu, tapi itu di Anemia.  Sementara Banjir, Macet & Jokowi seolah menjadi topik yg pas untuk Jakarta sekarang.   Aneh kan ? 

Kemacetan DKI menjadi topik lagi, karena memang faktanya begitu.  Sebagaimana pula pada rezim2 sebelumnya, isu kemacetan seolah menjadi isu politik dengan sasaran empuk : Gubernur DKI, Sekarang  ini siapa lagi kalau bukan  pak Jokowi ! Sabar mas ! Soetijoso pernah merasakan, Foke juga. Rezim Ali Sadikin konon punya gagasan yang simpel yang dapat menyadarkan warga. Gagasan itu konon (seolah) ada berkata2  ”kita hidup bukan dijaman batu lagi”.

sone age 1Mentalitas Jaman Batu.  Di negri Anemia, banyak manusia dengan mentalitas jaman batu, sementara Anemia sudah memasuki era kehidupan dijaman makanan kaleng. Fenomenanya adalah di saat manusia2 ini ingin menikmati isinya, cara membuka kalengnya dengan cara dibentur2kan batu. Faktanya adalah  terjadi muncrat2 dan mengotori sekitarnya serta menggangu pihak lain. Ironinya adalah : baginya itu biasa. Jika ditegur dan di ajari cara yang sesuai, justru akan marah2, bawa parang, kalau perlu bawa nama babenya, bawa nama engkong-nya, bawa nama arwah leluhurnya.

Jika ada tetangga atau misal petugas pamong praja memberitahu sebaiknya beli alat pembuka kaleng dan mangkok untuk memudahkannya, ia semakin marah2. Maka, tetangga dan petugas yang baik dan mengajari kebaiknya, justru dipandang bertindak atau melakukan perbuatan yang menyulitkan dan membebani kehidupannya dengan “ongkos2 baru”.  Ketika diberitahu bahwa itu justru akan mempermudah anda serta bukan merupakan ongkos2 baru. Tapi semua itu adalah sebuah konsekuensi dari pilihan cara hidup. Si manusia Jaman Batu ini,  malah memandang dengan muka yang sinis.   Aneh bukan ? itulah manusia jaman batu yang hidup di jaman industri.

Ingin menikmati makanan dalam kaleng itu boleh2 saja, membeli makanan dalam kaleng itu juga boleh2 saja. Terkait dengan hasrat memenuhi keinginannya itu (makan makanan kaleng)  pak ustadz – kyai mursyid menyampaikan “yang penting selain isinya halal, perolehan uang juga halal, serta  pemanfaatannya secara thoyib”.  Isinya halal semua orang tahu dan yang muslim biasanya taat. Perolehan uangnya halal, juga sudah banyak yang tahu namun kok banyak fenomena korupsi yang jelas2 mengambil sesuatu tanpa alas hak sesuai dengan ketentuan Allah. Ini soal akhlaq, bukan sekedar status religiusnya seseorang.  Lalu pemanfaatannya secara thoyib, memang berkorelasi dengan pemahaman/pengetahuan dan kesadaran.  Ini soal latar belakang pendidikan dan budaya, serta ada juga unsur akhlaq disana.

parkir semrawutDi Jakarta. Ini bukan negri Anemia, namun simaklah di Jakarta. Masih banyak orang yang secara mental, sosial dan finansial belum mempersiapkan konsekuensi wajar saat mewujudkan keinginannya. Contoh berhasrat pengin Beli Mobil. Keinginan punya mobil itu sah2 saja, boleh2 saja. Apalagi jaman kredit sudah diadopsi sebagai lifestylenya.

Fasiltas kredit kendaraan begitu mudah. Siapapun yang kerja di Jakarta, tahu bahwa kredit motor atau bahkan mobil itu mudah dan “ringan”.  Bagi pengusaha otomotip, Jakarta memang pasar yang empuk. Peraturannya longgar, masyarakatnya “ngebet” dan sarana transportasi publiknya buruk (sekali). Dari laporan penjualan motor, mengindikasi bahwa rata2 angka penjualannya naik di atas 10% per tahun (http://www.investor.co.id/home/toyota-kuasai-362-penjualan-mobil-nasional/48867).  Tahun 2010, tercatat sekitar 12 juta kendaraan bersliweran di Jakarta (  http://spektrumdunia.blogspot.com/2011/02/jumlah-kendaraan-di-dki-jakarta-pada.html  ).  Efeknya sudah jelas, kebutuhan ruas jalan semakin besar.

Logika semestinya berjalan sempurna. Mobil itu benda masif, jadi perlu ruang yang tidak bisa disubstitusi. Semua anak yang bersekolah, pastinya tahu, bahkan anak SD pun tao. Saat ke show room ( mobil baru atau pun bekas ), mobil dipajang pada ruangan atau lapangan parkir milik show room.  Selain alasan keamanan, keawetan dan keindahan, penempatan seperti ini menunjukan kualitas dan karakter perusahaan showroom itu,  mutu barang, mutu pelayanan dan mutu keamanan dokumen kendaraan.

Showroom seperti itu tentu saja ingin menjelaskan pesan publik bahwa “kami bukan kontributor kemacetan”. Logikanya, kalau di skala rumah : beli mobil itu butuh garasi. Biasanya showroom seperti ini juga menyampaikan pesan edukatip pada calon pembeli dengan pertanyaan seperti  ”ukuran car port atau garasi anda berapa kali berapa ?”.  Pesan edukatip ini jelas2 bermanfaat bagi semua pihak. Mungkin berbeda dengan penjual mobil yang tidak punya show room, yang di geletakan di pinggir jalan begitu saja.

Tidak jelas, apakah ada kaitan antara pemilihan show room saat beli mobil dengan perilaku parkir liar dan hidup bermobil tanpa garasi atau tanpa car port.  Terkadang logika dan perilakunya pemilik mobil itu ada yang mirip mentalitas manusia jaman batu di Anemia.   Sejuta alasan pembenaran pun dibangun untuk mengalahkan konsekuensi modernitas dan pilihan hidup atau bahkan logika kebenaran dan nurani yang dimilikinya. Segala himbauan sampai peraturan pemda sepanjang tidak sesuai dengan KEINGINAN-nya akan didenay, akan di reject. Bukannya memajukan akal/logikanya,  namun membesarkan otot dan mengedepankan okol (suara kencang), kalau perlu arwah leluhur pun ikut dihandalkan.

Ali-Sadikin21Jaman Ali Sadikin. Konon, di jaman Ali Sadikin sebagai gubernur DCI (Daerah Chusus Ibukota) Jakarta, telah ada gagasan WAJIB GARASI. Luarrrrr biasa visinya….. HEBAT!. Sederhana. bermoral, edukatip, bisa dilakukan oleh siapa saja.  Tidak memoroskan APBD, jauh dari banci tampil ataupun sok modern. Sangat manusiawi!!!  Padahal saat itu kemacetan belum nampak benar, boleh jadi masih dalam pemikiran alias bayang2 nun jauh waktunya.

Yang menarik adalah bahwa gagasan aturan itu sangat edukatip, mengajak warga DCI ( kini DKI) untuk tumbuh rasa bertanggung jawab pada pembangunan dan upaya memajukan Jakarta. Serupa itu adalah wajib memiliki tempat sampah.

Dengan wajib garasi, warga teredukasi nyata untuk ikut bertanggung jawab pada situasi DKI.   “Hasrat” membeli kendaraan atau menambah kendaraan, akan terbalance dengan kesadaran untuk wajib menyediakan wadah kendaraan yang tidak mengganggu pihak lain – yakni garasi yang memadai.  Demikian juga dengan manfaat wajib tempat sampah.

Sistem sosial akan secara nyata dan otomatis terbangun, bahwa pemilik kendaraan yang memiliki garasi yang memadai, akan menunjukan mutu manusianya : berpendidikan yang baik, logikanya jalan, perolehannya halal bukan hasil korupsi atau dipinjam nama), dsb .

Macet. Macet itu rumusnya sederhana : volume yang lewat melebihi kapasitas saluran. Kalau itu jalan raya, maka efeknya ya traffic jam. Kalau itu soal irigasi, ya efeknya banjir atau genangan. Anak SD juga tahu. Tapi mengapa sudah beberapa rezim kok seolah  semakin menjadi2  ?. Jadi selain sudah banyak yang dilakukan oleh para pemangku rezim (kita harus berterima kasih), juga masih ada yang perlu dikembangkan – mentalitas yang benar dan perilaku yang sesuai sebagai suatu konsekuensi pilihan hidup : pengin punya mobil ya siapkan garasi atau car port di rumahnya.  Parkir sembarangan ya di kempesin/cabut pentilnya atau di derek paksa.

Dengan demikian, jalan (street) yang dibangun dengan uang pajak itu, akan dengan semestinya dipakai untuk lalulintas menjadi sesuai peruntukannya, bukan untuk “garasi atau car port” mobil2 pribadi kaum dari jaman batu. Bukan untuk mengembangkan perilaku dholim warga atas warga lainnya.  Jika ada pamong yang seolah berang ( seperti yang terkadang dinampakan oleh pak Soetijoso di jaman Soetijoso memangku rezimnya di DKI atau oleh pak Basuki “Ahok”  di rezim Jokowi Ahok) ya itu memang tugasnya.  Justru ia sedang bekerja, ia sedang beramal baik, bukan leyeh2. Ya .. Emangbegitu !

Banjir. Sampah menumpuk dan gorong2 irigasi tersumbat, ruang penyerapan air semakin sedikit, situ atau lahan kubangan semakin langka, sungai semakin terjepit dan merana, kuburan dan lapangan hijau semakin “ketakutan” disergap para developer.  Akibatnya, hujan di Bogor yang tentu saja airnya mengalir ke arah Jakarta, membuat level air di semua irigasi Jakarta meningkat tajam. Lalu jika ditambah hujan kecil di Jakarta, maka sudah menjadi banjir sebentar. Jika hujannya lebat, yah banjir besar.

Catatan : jika dilakukan rekayasa pembuangan hujan agar Jakarta tidak hujan di musim hujan ( entah alasan banci tampil atau apapun itu,  misal untuk stempel diri ” jamanku Jakarta nggak banjir besar ” misalnya ),  akan berakibat mempercepat intrusi air laut. Kalau pun ada sekelompok ilmuwan yang mengerjakan, maka sebaiknya selain melakukan rekomendasi  rekayasa membuang hujan, juga menyampaikan konsekeunsinya – betapa air laut saat kemarau sudah mulai masuk ke daratan, jka ditambah di musim hujan pun jarang hujan,  maka intrusi air laut semakin merasuk ke daratan, itu konsekuensinya. Tunggu saja, sejarah akan mencatatnya kok.

Konon ada pepatah Cina yang artinya kira2 “rejeki bumi silakan diurus, rejeki langit sudah ada yang ngatur”.  Rejeki bumi itu selain dagang, kerja, dsb, juga termasuk membangun, memelihara irigasi, tatakota, penghijauan, dsb. Rejeki langit selain hoki, bakat, jodoh, dsb ya termasuk  hujan, kemarau, angin puyuh, dsb.  Irigasi, tatakota wajib diurus dengan baik. Hujan, kemarau, angin puyuh, itu kondisi alam, jangan direkayasa. Alam akan marah besar.

Memang, pihak penguasa , dalam hal ini pemda DKI, terkadang lebih menyoroti perilaku masyarakat yang tidak kondusif dan tidak peduli.  Contoh yang terkait banjir, pihak pemda tentu geram dengan perilaku masyarakat yang perilakukan membuang sampah sembarangan, atau perilaku masyarakat pengusaha dan kaum berduit lainnya yang telah membuat kuburan dan lahan hijau “ketakutan”, kurang peduli terhadap dampak lingkungan dari perilaku “memakan” lahan penyerapan air untuk membangun perumahan maupun usaha, mall, apartemen, gedung perkantoran, dsb.

Berbagai ide dimunculkan, antara lain : kembalikan lahan hijau, perbaiki dan kontiniu dilakukan pengerukan setu dan kubangan penampung resapan air, hentikan pembangunan mall2 dan pemukiman di Jakarta, dsb .  Apapun idenya asal tulus untuk membangun Indonesia, rasanya rakyat mendukung. Yang penting jangan KKN, jangan untuk maksud banci tampil atau maksud serupa itu. Sejarah yang akan mencatatnya.

Terkait kemacetan atau pun banjir dan penyebabnya, nggak usah ngomongin soal pengadilan akhirat nantinya, sebab tentu  lebih canggih dan akurat.  Jaman telah sampai bahwa peran media kini begitu hebatnya meliput. CCTV juga begitu meratanya terpasang. Sistem filling sudah tersedia dimana2, dibantu oleh banyak pihak dan “tersimpan” secara merata di seluruh dunia (file itu benar2 tersimpan di berbagai server di bebagai belahan dunia ). Mulai dari server besar sampai “server mini” seperti external hard disk, USB, micro SD Card, dsb.

Traffic Jam.  Konon, biang kerok traffic jam DKI adalah sarana transportasi publik yang “terlambat” dibenahi. Entahlah salah siapa.  Nggak usah juga dicari siapa yang salah, wong secara logika dan nurani diri juga tahu. Bagaimana semestinya menjadi pamong dan bagaimana pula menjadi warga.  Namun sebagai rakyat,  merasa aneh saja. Sempat ada masa2 dimana seolah para stakehoder DKI kok dengan mudah “diadu domba” untuk bertengkar soal perlu tidaknya membangun sarana transportasi publik. Buktinya ? banyak gagasan bagus yang terkatung2, bahkan ada onggokan beton yang konon diperiapkan untuk jalan toll yang sudah lumutan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara, juga onggokan beton yang konon untuk monorail juga seolah mubazir di jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Jika memang tercium aroma “potensi KKN”, ya di usut saja, lalu ditindak sebagaimana semestinya.  Kalau sekedar berdebat atau membahas isu2 seperti itu tanpa ada aksi nyata, maka hasilnya sudah jelas : terbengkalai ! semakin ruwet, semakin macet.  Sudah ada KPK, yang kinerjanya menunjukan sebagai lembaga yang “Berani Jujur Hebat”.  Polri juga sudah berbenah dan introspeksi, mudah2an lebih baik, mampu meneruskan yang baik positip konstruktip serta menghormati dan memperbanyak polisi bertype  ”Hugeng”,  Dishub DKI juga sudah lebih baik dan nyata bekerja untuk penertiban perhubungan. Mudah2an saja semakin jelas dan sinergis dalam menjalankan peran pengaturan dan pengelolaan lalu-lintas ( parkir, rambu2 dan marka2 jalan, traffic light, dsb ).

Malu pada Sejarah.  Ada sebagian orang sekarang yang seolah ingin mengubur sejarah.  Kata2nya bau tengik “I don’t know about yesterday,  I don’t care yesterday. We life for tomorrow”.  Manusia seperti ini mungkin lahir  dari batu, bukan dilahirkan secara normal dari rahim dan cinta kasih Ibu.  Atau manusia seperti ini memang jatuh dari langit, tau2 sudah besar dan bergelar lagi.  Mustahil kan ? Semustahil pula manusia type ini memikirkan  siapa yang menanam padi dari nasi yang dimakannya, baginya “kalau saya hidup jaman dulu, saya pastinya akan panggul senjata melawan penjajah”. Rasanya mustahil ! wong menerima kenyataan yang dihadapkannya saja nggak bersyukur dan egois.   Sulitlah berterima kasih pada petani, pada pendahulu, kecuali mendapatkan award sebagai “the Best Friend of Petani” dari lembaga internasional, maka mungkin ia akan ingat petani, itu pun mudah2an.

Jangan2 jika benar manusia2 “mustahil” ini dibesarkan  di jaman perang kemerdekaan, boleh jadi mendengar suara petasan saja ngibrit terkencing2, apalagi suara senapan dan bom.  Mendengar kata2 “kowe orang pribumi,  ekstrimis inlaander ya ?”  saja  mungkin sudah terkentut2 atau semaput.  Jadi kalau mau mencatat sejarah, ya berbuatlah terbaik untuk Indonesia,  buktikan gelarmu itu asli dan bermanfaat, buktikan kata2 dan janji2mu pada sejarah Indonesia.  Sudah pasti sejarah mencatatnya. Lebih pasti lagi malaikat mencatatnya.

Kalau semua pihak memang berniat tidak KKN dan tulus membangun Indonesia (DKI misalnya), kok sepertinya nggak perlu dan nggak mau  ”bertengkar” serta malu di adu domba. Gubernur Batavia yang penjajah saja serius membangun Jakarta, kenapa pemerintahan jaman ripiblik kok malah justru “sibuk betengkar”, sibuk KKN.  Bukankah  sejarah mencatatnya ?. Kemerdekaan itu jelas harus disyukuri, tidak boleh ada penjajahan (apalagi oleh bangsa sendiri), tidak boleh ada diktaktor  apalagi membangun dynasty ala kerajaan “aneh bin ajaib”. Apa nggak malu sama almarhum Ngersa Dalem HB IX yang jelas2 Raja Jawa,  menyerahkan tahta dan wilayahnya untuk negri Indonesia.  Manusia2 “mustahil” ini memang aneh : sudah bukan pejuang dan nggak ada legacy yang bagus, eh …. merampok uang negara pula.

Wajib Garasi & Mass Transportation. Selain mencoba gagasan visioner ala Ali Sadikin, yang mendidik warga DKI untuk ikut bertanggung jawab di saat yang sangat tepat : di saat warga membuat keputusan pribadi memenuhi keinginannya yang berdampak pada lingkungan – saat memutuskan beli mobil/nambah mobil, siapkan garasinya.  Boleh2 saja ada gagasan banyak, seperti : segerakan mass-transportation, kenakan pajak yang besar dan progressive, dsb.

Apapun itu, jika niatnya baik, tidak ada niat KKN, tidak juga ada niat banci tampil, maka sejarahlah yang akan mencatat semua yang terjadi. Siapa pelakunya dan bagaimana perilakunya serta motivenya apa ( KKN, banci tampil, dsb atau tulus membangun Indonesia ), sejarah, server dan ingatan publik mencatat, merekam dan menyimpannya.  Rekaman akhirat tentu lebih hebat dan akurat.

Politik Rezim. Rezim itu hanya bagaikan “sopir” untuk mengelola laju “kendaraan” pemerintahan,  agar berjalan menuju tujuan dengan selamat, cepat, aman, nyaman, menyenangkan.  Malu lah kalau membanggakan rezim atau mencemooh rezim.   Saatnya menatap tujuan dengan jernih, membaca peta jalan, memastikan arah navigasinya benar. Siapa yang pantas jadi “sopir” ? Tanyakan pada diri sendiri : kalau anda pemilik mobil, apakah memilih sopir yang tukang nyuri atau pernah nyuri ?  sopir pemalas ? sopir yang ugal2an ? sopir yang nggak peduli penumpang ?

Yang baik2 dari tiap rezim selalu ada dan bermanfaat.  Jika tiap rezim pengganti sudi mengunakan program/gagasan bagus untuk kemajuan dan memajukan negrinya, mudah2an Indonesia kembali berjaya, bermartabat dan disegani. Yang buruk2 seperti Penjarahan Uang Negara, Politik Dynasty, Pamong berlagak ala Gangster, Diktaktor, Pamong yang Borjuis, dsb ya nggak usah diteruskan.

Kata kyai Mursyid : “Hukum harus ditegakkan bedasarkan keadilan, bukan atas dasar kebencian atau rasa dendam. Hindari membenci manusia2 (termasuk dari rezim manapun), karena anda juga manusia, ciptaan Allah. Kalau manusia membenci manusia, yang marah ya Sang Pemilik Sejati.  PerintahNYA : membangun Ahlaqul Kariim ( budhi pekerti yang mulia), melakukan amalan/tindakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar ( mengajak produksip/konstruktip/dan berbagai perbuatan baik lainnya, mencegah pengrusakan/KKN/dan berbagai perbuatan buruk lainnya)”.

 Ya Emangbegitu !

Scroll To Top