Sekilas Info
Home | Inspirasi | GEDUNG DENGAN 160 EMBER (MusTel bukan hanya milik Telkom)

GEDUNG DENGAN 160 EMBER (MusTel bukan hanya milik Telkom)

Sebagian orang berpendapat bahwa MusTel itu bukan Telkom, sebab Telekomunikasi itu menjadi lahan usaha juga perusahaan2 selain Telkom. Bagaimana menurut Anda ?  ….. Monggo !!!

Mustel 7Hikmah dan Berkah. Konon, ada kabar burung bahwa administrasi dan legal standing tentang MusTel sedang “ketlisut” atau bagaimana, sehingga statusnya “menyulitkan” dalam perawatan dan kelanjutan orasionalnya. Anda lebih tahu !!

Tentulah itu bisa fakta atau isu/fitnah/hoax, meski hal semacam itu akan lebih mudah ditracking melalui dokumen legal, dokumen2 MoM sejak MusTel dibangun sampai sekarang.

Keberlangsungan MusTel menjadi sarana pembelajaran generasi penerus INDONESIA agar tetap berjaya di masa-masa ke depan di tingkat ASEAN dan dunia, secara lebih baik dan lebih jaya dari apa yang telah dicapai pendahulunya.

Sepertinya kondisi sekarang ini merupakan posisi yang tepat untuk mewujudkan bahwa MusTel bukan milik Telkom (semata), tapi milik INDONESIA melalui kementrian yang mewadahi bidang telekomunikasi.

Status Hukum MusTel. Kalimat ini pernah disampaikan oleh Agung Wahono di sosial media  bahwa  MUSTEL bukan hanya milik Telkom, perlu melibatkan operator dan vendor utk mengembangkannya menjadi lebih hebat”.

Jika memang demikian, maka penegasan status baru dari MusTel secara legal menjadi tepat. Dengan status baru itu, maka kementrian akan memiliki keleluasaan dalam mengorganisir segala energy bangsa terkait dengan telekomunikasi ke-kini-an dan ke depan.

Mustel 8Sejarah Telco Indonesia (Seputar Kemerdekaan).  Di jaman sebelum kemerdekaan, Belanda memiliki peran besar dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi di nusantara. Tentu saja ini berkait dengan kepentingan Belanda di nusantara saat itu.

Di jaman perjuangan kemerdekaan, maka pemoeda yang tergabung dalam pejoeang kemerdekaan yang mengkhususkan diri menguasai sarana telekomunikasi, menjadi tokoh2 penting dalam sejarah telekomunikasi Indonesia.

Di jaman awal kemerdekaan, para pemoeda dan karyawan eks PTT yang bertugas di bidang radio transmisi, telephon en telegraaph merupakan pelaku sejarah penting untuk pengoperasian dan pemeliharaan sarana telekomunikasi.

Saat awal kemerdekaan, radio masih banyak menggunakan sistem HF dan VHF dimana ditandai dengan banyaknya antena2 yang tinggi dan berkelompok terhubung satu sama lain dengan kawat tembaga mirip sarang laba2 raksaksa.

Mustel 9Di bidang telegraaph, saat itu lebih banyak di dominasi oleh sistem pengiriman secara pengkodean a la morse dengan sarana yang sesuai untuk jamannya.

Di bidang telephon, saat itu masih didimonasi oleh telepon local batere (LB) yang ditandati dengan cara koneksinya melalui operator, antara pusat penyambung dengan pesawat telepon dihubungan dengan dua kawat tembaga dan tiang2 telepon yang saat itu amat menjadi ciri khasnya. Di masing2 posisi, di pusat penyambungan maupun di pesawat telepon terdapat batere berukuran besar (sebesar kaleng susu bubuk), di kedua tempat itu belum ada piring angka putar (roda pilih, dial ).

Secara berangsur, di kota2 utama seperti Jakarta, Bandoeng, Soerabaia, Medan, Makasar, sistem telepon dan radion serta telegrap diganti dengan yang lebih update. Sebagian telepon LB diganti dengan sistem centra batere (CB) yang lebih prantik dalam perawatan dan cara penyambungannya. Sistem radio juga mulai ditambahkan dengan jenis UHF (Ultra High Frekuensi, saat itu bandwidth ratusa Kilohertz dianggap sudah hebat). Telegrap dengan cara morse juga sebagian di lokasi2 penting diganti dengan telex (versi kuno).

Sejarah Telco Indonesia (Pengisian Kemerdekaan). Di jaman ini, khususnya di tahun sekitar 80-90, terjadi revolusi teknologi telekomunikasi di Indonesia.

Otomatisasi sistem telepon, penggunaan gelombang micro (analog) di sistem pemancaran radio, penyebaran sistem telex nyaris dilakukan serentak di seluruh kota kabupaten (jaman itu jumlahnya belum sebanyak kota kabupaten jaman sekarang). Sementara dikota2 dengan status lebih kecil seperto kota kawedanaan, kota kecamatan baru setelah mendapat giliran otomatisasi.

Peluncuran satelit Palapa pertama, menjadi tonggak telekomunikasi Indonesia, karena mampu memberikan dinamisasi pada sistem penyiaran televisi (waktu itu baru ada TVRI) dan juga radio publik (waktu itu baru RRI), serta yang membuat lebih revolusioner lagi adalah SLJJ-nisasi semua kota yang sudah menikmati sistem otomat.  Bersamaan itu juga, dilakukan perubahan serentak ke sistem digitalisasi sistem telepon dan telegrap serta sistem radio.

Digitalisasi dan SLJJ-nisasi dimanfaatkan untuk mempercepat modernisasi telepon sampai ke ibukota kecamatan (IKC) sehingga dulu ada istilah “otomatisasi di IKC-IKC”. Sebagian IKC langsung jump frog dari sistem LB ke sistem digital, sebagian lagi perangkat sistem otomat (analog) dimigrasi dari kota2 yang mendapat program digitalisasi ke kota/IKC yang masih sistemnya LB/CB.

Praktis semua kota terkoneksi dengan telepon otomat/digital.

Memang belum menjagkau ke people (baru tahapannya connecting all cities). Para pendekar kebangsaan saat itu di bidang telepon, menggagas konsep pemerataan kesejahteraan dalam menikmati modernisasi telepon dengan penyediaan Telepon Umum dan Wartel (Warung Telekomunikasi) sebanyak2-nya.

Dengan tersedianya Telepon Umum dimana-mana, maka penduduk yang rumahnya tidak terdapat sambungan telepon dapat menghubungi kantor, tokok, rumah melalui telepon umum atau wartel.

Bagaimana dengan warga yang dirumahnya tidak ada rumah namun kepingin mendapatkan panggilan komunikasi lewat telepon, maka lagi2 pendekar telepon saat itu menggagas  Telepon Umum Teima Saja (TUTS) yang saat itu terinspirasi dari dilihat di film2 hollywood dan juga KBU Wartel khusus terima saja.

Dunia Paralel Mulai Tumbuh. Di jaman Mengisi Kemerdekaan dibidang telekomunikasi,  modernisasi dan kemajuan teknologi telepon dan telex, mulai bertumbuh ke arah personal communication.

Di bidang telepon, ada Sistem Telepon Bergerak atau Sistem Telepon Mobile. Saat itu diperkenalkan dengan teknologi AMPS dan NMT.  AMPS (Advance Mobile Personal Syetem – kalau nggak keliru), berkiblat pada teknologi Amerika, sementara NMT (Nrodijk Mobile Telephone ) berkiblat pada teknologi yang dikembang di Eropah. Kedua masih analog dan amat terbatas dalam arti jumlah pemakai maupun keteresdiaan sinyal (mobility).

Keterbatasan pemakai boleh jadi akibat mahalnya perangkat, sulitnya proses berlangganan dan terbatasnya tempat2 penjualan/pelayanan.  Terlebih dengan (entah disengaja atau tidak), telepon bergerak/telepon mobil ini berada dalam level sebagai hi-life style. Jangankan tukang sopir taxi, direktur perusahaan besar atau perusahaan BUMN saat itu pun belum tentu memilikinya.

Di bidang telex (Telex = Tele Text), mulai muncul prosuk lebih simple dan personal yang disebut pager. Komunikasinya berbentuk pengiriman pesan tulis /text, dan masih bersifat one-way. Artinya pelanggan pager dapat menerima pesan/text secara personal dan mobile, untuk membalas/meresponnya ia perlu menghubung kantor operator pager dan mendiktekan kalimat balasan itu kepada pengirim (yg bisasnya memang juga pelanggan pager).  Pager, di awal2 waktu dulu,  juga menjadi hi-life style namun masih di bawah telepon bergerak/telepon mobil. Pelanggannya biasanya adalah eksekutip atau direktur perusahaan atau pemilik pabrik/toko besar.

Dunia paralel itu juga mengalami proses perubahan teknologi.

Reformasi Telekomunikasi.  Telepon mobile dan pager yang sudah mengalami digitalisasi dan metamorfosis sistem dan teknologinya, masih bertengger di hi-level society. Pendekar2 telekomunikasi, melihatnya sebagai konsep pembangunan yang perlu diselesaikan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi sebanyak2nya rakyat Indonesia.

Di sisi lain, isu monopoli usaha telekomunikasi begitu kuat menekan Indonesia, berbagai gagasan untuk mengurangi tekanan ini dilakukan, seperti membuat model KSO (Kerjasama Operasi) sampai membangun JVC (Join Venture Company).

KSO diterapkan di bisnis telepon fixed, JVC diterapkan di bidang diluar telepon fixed – ada sebagian kalangan saat itu yang mengatakan di bidang value added service (entah apa maksudnya dengan istilah itu).

Pendekar telekomunikasi di Telkom menggagas proyek yang kini juga menjadi operator besar (bernama Telkomsel). Gagasan ini bukan saja secara teknologi akan meng-convergens “dunia paralel” pager dan telepon mobil, juga ingin mewujudkan “tukang asongan pun bisa memiliki henpon’, di mana ada warga negara Indonesia, disitu henpon bisa dipakai.

Gagasan ini terwujud bersama dengan Indosat (waktu itu sama2 BUMN), KPN (PTT Netherlands) dan Setdco.  Dalam waktu sekitar dua tahun lebih dikit, semua ibukota propinsi di Indonesia (waktu itu, sekitar 98-an) sudah tercover oleh sinyal Telkomsel. Gegap gempita pejabat, pengusaha dan bahkan rakay biasa menyambut era telepon seluler GSM dimana-mana.

Namun tekanan pemerintahan Indonesia yang juga sudah ada sejak sebelum, yakni “larangan JVC secara cross-ownership” menghantam Telkomsel yang secara kebetulan juga di tingkat global, banyak operator GSM dunia yang rontok menghadapi perubahan teknologi yang begitu cepatnya.

Di Indonesia, semua perusahaan operator eks AMPS dan MT serta operator pager, secara perlahan hilang dari kancah bisnis telekomunikasi Indonesia.

Indosat “terpaksa” keluar dari Telkomsel, dan begitu pun KPN (PTT Netherlands) dan Setdco juga tdiak menjadi pemegang saham di Telkomsel berganti dengan SingTel.

Indosat mengembangkan sendiri seluler GSM, sementara cikal baru yang ada juga bermunculan, mulai dari Excelcomindo, TelkomMobile, Fren Mobile, dsb sampai operator yang dirikan oleh eks pemilik perusahaan rokok ternama serta Flexy, Starone, dsb, pun hadir meramaikan bisnis telekomunikasi.  Sebagian aksis sampai sekarang, sebagian entah bagaimana nasibnya.

Telekomunikasi Indonesia Kini. Dengan perubahan iklim, pemain dan atmosfir di industri telekomunikasi Indonesia sekarang ini, maka kini bukan lagi Telkom yang mewarnasi sejarah perjalanan ke depan, namun juga perusahaan telekomunikasi lainnya.

Kita berharap bahwa di perusahaan2 telekomunikasi diluar Telkom/Telkomsel, memliki semangat untuk menjadikan Indonesia semakin maju semakin solid semakin rakyatnya terkoneksi dalam aspek yang lebih mendetail lagi. Semua koneksi antar kota2 tertentu (jaman awal kemerdekaan), lalu koneksi sampai tingkat IKC, dilanjutkan koneksi secara pesonal, kini koneksi secara smart personal dalam multi media.

Semua berhak sekaligus berkewajiban berperan serta memajukan INDONESIA.

Kita berharap MusTel menjadi miliki kementrian sehingga mempermudah kemetrian me-manage resources yang ada di indutri telekomunikasi Indonesia dan …………kelak MusTel akan kembali menjadi tidak layak untuk mendapatkan julukan gedung dengan 160 ember.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

Scroll To Top