Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | Generasi X dan Y : Pemerintah vs Parlemen = Budaya Marah ?

Generasi X dan Y : Pemerintah vs Parlemen = Budaya Marah ?

“Tenggelamkan saja semua kapal asing pencuri ikan di seluruh perairan Anemia…… ” begitu statement keras dari KarmilaKementrian Maritim dan Ikan Laut Anemia.

Sementara teve dan media di INDONESIA sedang ramai membahas hubungan  antara pemerintah dan parlemen, terkait ini Anda lebih paham.  Semua mengatasnamakan rakyat, kesejahteraan untuk rakyat, dan serupa itu.  Apakah media atau teve yang menyiarkan bersifat partisan, bisa Anda cermati sendiri. Apakah teve dan media itu tengah menjadi kacung suatu pihak dan melalaikan perannya sebagai pilar demokrasi ? Anda juga bisa cermati sendiri. Apa dan kemana ujungnya ? silakan cermati.

Kita akan membahas mentri Karmila dan ekspresi “budaya marah”.  Nama Karmila, juga pernah menjadi judul lagu yang nge-hit di jamannya. Lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi INDONESIA – Farid Hardja (alm). Menurut desas-desus, banyak video klipnya yang mengambil lokasi di pantai Pangandaran, termasuk lagu Karmila itu..

http://kurniamarina.com/kapal-kayu.html

http://kurniamarina.com/kapal-kayu.html

A nemia Negri Maritim. Anemia yang memiliki wilayah lautan yang luas dan amat kaya dengan ikan dan sumberdaya alam lainnya. Kini, Anemia tengah menghadapi kenyataan pahit bahwa kekayaan alam berupa ikan yang melimpah ruah, ternyata dicuri oleh banyak kapal2 asing, ada yang berasal dari negara tetangga dekat, ada juga yang dari tetangga jauh.  Yah …. mirip kejadian di negri INDONESIA.

Wajar saja jika Mentri Karmila yang dikenal memiliki kepribadian “sikat bleh”  itu membuat pernyataan amat keras. Entah karena kepribadian seperti itu atau merupakan refleksi dari kondisi umum bangsa Anemia yang masih dalam proses pendewasaan diri, dan masih di level “budaya amarah”. Belum ada penelitian mendalam terkait ini.

http://www.berdikarionline.com/editorial/20121025/bahasa-dan-bangsa.html

http://www.berdikarionline.com/editorial/20121025/bahasa-dan-bangsa.html

P roses Awal Perkembangan Budaya  Bangsa. Bangsa Anemia belum berusia seabad, namun bangsa ini beruntung, Allah menurunkan manusia2 yang hebat untuk menjadi pendahulu yang membangun preparat budaya luar biasa, yakni We are the ONE and Unity in Diversity (kalau di INDONESIA ya mirip Soempah Pemoeda dan Bhineka Tunggal Ika). Bangsa ini terproses dari latar belakang berbagai suku asli yang jumlahnya ratusan suku dan juga ada “suku” yang berasal dari luar (migran) yang secara historis telah ikut mengembangkan cikal bakal Anemia.

Terkait keberuntungan atau runtuhnya suatu kaum, menurut kyai Mursyid, bahwa pemimpin setiap kaum itu mencerminkan bagaimana kaum itu sendiri. Jika kaum itu punya hati tulus, sepi ing pamrih rame ing gawe, bertekad untuk menyatukan diri membangun kesejahteraan bersama, maka perjalanan kaum itu akan mengarah melalui hadirnya pemimpin2 yang sesuai dari jaman ke jaman.   Jika kaumnya mengalami kerusakan moral, maka alam semesta menjalankan perintah Allah untuk memungkinkan punahnya kaum itu (cepat atau lambat). Silakan simak di kitab suci.

Masih terkait keberuntungan atau runtuhnya suatu kaum, kyai Mursyid menyampaikan bahwa doa dari kaum yang tertindas alias didzolimi, akan dikabulkan Allah. Doa yang baik adalah untuk hidup yang lebih baik secara dunia akhirat. Boleh jadi karena banyak orang2 tulus dan terdzolimi (di Anemia saat doeloe ), maka Allah mengirimkan manusia2 hebat secara bertahap untuk membentuk bangsa Anemia sebagaimana sekarang.

Tokoh2 hebat dan tahapan perkembangan menuju bangsa Anemia adalah mirip dengan INDONESIA. Ada fase kesepakatan para sultan dan raja2 se nusantara untuk bersatu (tahun 1700-an), dan pergerakan untuk menegakan keadilan dalam wilayah yang berdaulat ini berkembang menjadi perlawanan sporadis secara fisik di berbagai bagian nusantara yang disebut gerilyawan (pihak penjajah sering menyebutnya sebagai ekstrimis atau teroris atau kaum pembrontak, ada juga opsir Anemia yang terkena “racun” penjajah ikutan membasmi bangsa sendiri). Beberapa tokoh yang oleh penjajah diburu karena dianggap “teroris”, ekstrimis, pembrontak, diantaranya adalah Diponegoro, Hasanudin, Pattimura, Cut Nyak Dien, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, dsb.

Disamping proses perlawan fisik, ada juga tahapan2 hebat bangsa Anemia yang juga mirip INDONESIA . Ada komitmen untuk menyatakan bersama (membangun semangat untuk internal dan mengirim pesan ke dunia internasional ) bahwa Anemia adalah berbangsa, berbahasa dan bertanah air yang SATOE, ada juga penyusunan konsep negara, dasar negara dan berbagai instrumen penyelenggaraan negara. Kalau di INDONESIA dikenal perkumpulan Boedi Oetomo, panglima Soedirman,  sampai dwi tunggal Soekarno Hatta. Tahapan jaman perjuangan, jaman revolusi , tahapan jaman pembangunan dan tahapan jaman reformasi pun ada di Anemia.

http://sharing-q.blogspot.com/2012/10/asal-mula-nama-indonesia.html

http://sharing-q.blogspot.com/2012/10/asal-mula-nama-indonesia.html

Semua tokoh dan tahapan yang berlangsung di Anemia ya mirip dengan di INDONESIA, yakni ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa, melindungi segenap tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang dilakukan secara bebas dan aktip. Hebat kan ?

Meski mirip, namun Anemia agak berbeda dengan Amerika dan Australia. Bangsa Anemia dilahirkan oleh adanya kesadaran berbagai kesultanan, kerajaan dan tokoh2 dari suku asli Anemia serta sebagian tokoh suku migran.  Karenanya konstitusi Anemia sangat melindungi suku asli, yang telah menderita akibat penjajahan bangsa migran selama kurun waktu yang lama.

Sejak kemerdekaan sampai sekarang, bisa dikatakan semua pikiran2 dari tokoh2 dan implementasi tahapan2 perjalanan bangsa Anemia sudah on the right track, khususnya di bidang ukuran kesejahteraan (dari tangible aspect). Nyaris semua kota besar terkena efek pengelolaan kota dan lingkungan secara modern  yang “apa adanya”, dimana kemacetan dan banjir secara “tidak disengaja” diundang datang ke berbagai tempat yang (kini) dihuni manusia.

Yang terlupakan atau belum tersentuh dengan seksama adalah soal pembangunan budaya bangsa.

Belum Move-On. Dari jaman kemerdekaan sampai jaman2 kemarin, level budaya Anemia belum beranjak naik (bahasa anak muda INDONESIA masa kini mungkin sama dengan belum move-on),  yang berkembang masih budaya dengan nuansa amarah dan memberontak (tinggalan nuansa masa penjajahan).

Wajar saja jika politisi,  seniman musik, seniman hiburan lainnya, yang populer adalah yang mampu menghadirkan suara dan atau membangkitkan nuansa “pembrontakan”. Mulai dari pembrontakan secara fisik, pembrontakan berupa pembangkangan kepada pemerintah, pembrontakan atas kemapanan, dsb.  Pokoknya asal berbau “pembrontakan” atau “anti kemapanan” akan dihadiri secara sukarela dan berbondong2.

Bahkan seminar2 ilmiah yang laku untuk dijual adalah juga yang “menjual semangat membrontak”, termasuk seminar2 dengan label “gerakan anti kemapanan”.

Semua merupakan ekspresi dari jiwa tertindas yang belum move-on, padahal Anemia sudah merdeka lebih dari setengah abad.

Ini Pe-eR para elit Anemia untuk melakukan pendidikan kebangsaan Anemia dalam bidang sosial budaya sekaligus kesempatan generasi muda Anemia yang sudah move-on untuk menularkannya. Agar generasi Y generasi produktip, berkualitas, berkepribadian Anemia dan tidak terhindar dari menjadi generasi alay atau menjadi geng motor (istilah di INDONESIA)  atau serupa itu.

P roses Kekinian Budaya  Bangsa Anemia. Beberapa waktu lalu,  budaya protes dan memberontak menjadi warna yang amat kenthal dari sebagian dari bangsa Anemia (generasi muda maupun generasi tuanya).

Alam bawah sadar generasi awal setelah kemerdekaan Anemia terisi dengan memory perampasan, penindasan, pelecehan, perbudakan, dan berbagai eksploitasi lainnya oleh bangsa migran yang datang ke Anemia silih berganti. Mereka ini tersihir oleh mimpi2nya atas utopia kemerdekaan yang menjanjikan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi  (istilah orang Jawa – salah satu suku di INDONESIA ).

Namun setelah kemerdekaan berhasil direbut dan waktu pun berjalan,  sebagian mengalami kekecewaan dan (merasa) tidak diperlakukan secara adil, atau bahkan (merasa) diperlakukan secara dzolim. Dari awal kemerdekaan Anemia, situasi kejiwaan seperti ini (antara utopia dan realita yang dirasakan oleh sebagian rakyat/elit Anemia amat berbeda citarasanya), sehingga muncul gerakan2 perlawanan.

Begitu pun ketika memasuki jaman2 berikutnya, situasi kejiwaan sebagian kaum masih banyak yang mengalami hal serupa – (merasa/kan) terdzolimi.

Budaya Marah : Tawuran dan Sarkastik. Kumpulan kaum yang (merasa/kan ) terdzolimi ini selain bertambah, juga memiliki keturunan. Sebagian ada yang menurunkan “kromosom” (rasa) terdzolimi ini ke generasi berikutnya, sehingga terbangun budaya yang dilandasi oleh rasa marah dan pengin melibas siapapun yang mengecewakan harapan atau pandangannya – hands-over “budaya marah” (akan terekspresi sesuai dengan situasi dn kondisi yang dihadapi, terutama saat KEINGINANNy tidak terwujud).

Sebagian bisa move-on, namun jumlahnya sedikit dan kebanyakan mereka memiliki kepahaman regili yang baik serta kemapuan ekonomi yang memadai.

“Budaya marah” ini melanda hampir semua lapisan dan strata pendidikan, ekonomi maupun kondisi kedalaman religi.  Contoh : di strata ekonomi menengah kebawah dengan level pendidikan yang relatip rendah serta kondisi religi yang dangkal (meski bersalut religi sekalipun), tindakan kekerasan berupa tawuran antar kampung menjadi solusi ketika ada sensitivitas sosial yang tersentuh (kalau di INDONESZIA dikenal dengan istilah SARA)

Untuk kalangan alay atau geng motor dkk, jika keinginannya terhalang (bisa keinginan nyimeng, keinginan nenggak oplosan atau nenggak cukrik, dsb), bukan tidak mungkin merampok mini mart, membongkar mesin ATM menjadi “solusinya”.  Dan sebagainya.

Untuk kalangan ini, ekspresi budaya marah amat sangat mudah dilihat. Karena selain tindakannya bersifat sarkastik, juga level destruct-nya relatip tangible dan instant.  Antara lain tawuran antar kampung, tawuran antar fakuktas di perguruan yang “mengembangkan” budaya marah. Beberapa kasus pembakaran dan pembunuhan oleh pasangannya atau kekasihnya, boleh jadi juga merupakan ekspresi “budaya marah”.  Budaya marah ini boleh jadi merupakan faktor penyubur perilaku bullying dikalangan tertentu. Bahkan kasus seperti ini sudah menggunakan media berteknologi.

Untuk kalangan berpendidikan atau yang memiliki akses keuangan negara dkk,  jika keinginanannya terhalangi, maka bisa melakukan perampokan uang negara alias korupsi. Keinginan kaum ini, bisa berupa “trayek jurusan neraka”  klas atas ( narkoba, penguat syahwat birahi, syahwat kuasa, syahwat popularitas, dsb) atau keinginan untuk segera menjadi “kelas atas” melalui jalur cepat OKB,  dkk.

Perilaku “budaya marah” kaum ini tidak mengenal agama yang tertera di kartu indentitas diri, karena ini memang tidak ada hubungannya dengan tulisan identitas itu, lebih kepada tumbuhnya “budaya marah”.   Ekspresi “budaya marah” dari kaum ini tidak terlalu nampak, atau terkadang terkamuflase oleh kemahirannya.

Jika “budaya marah” ini bertumbuh dan berkembang di keluarga/kroni atau organisasinya, maka ekpresi “budaya marah” terkadang dilakukan secara terorganisir (sindikasi, mafia, kolusi, nepotism, dan serupa itu).

Akibat ekspresi “budaya marah” kaum ini (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) adalah kerugian negara yang amat sangat besar (jauh lebih besar ketimbang perilaku dari kaum alay). Hanya karena kelihaiannya, seringkali dampaknya bersifat latent (tidak instant). Terkadang dengan kelihaiannya itu, rakyat awam sama sekali tidak tahu, atau sengaja dilenakan dengan cara2 yang pas untuk rakyat awam.  Tak jarang rakyat awam justru membela mati2an jika idolanya dipersalahkan.

Budaya Marah Eufemistik. Ekspresi dari kaum ini relatip positip. Positip disini dimaksudkan sebagai tidak mencuri, tidak merusak hak orang lain atau pun hak negara. Positip disini juga meliputi adanya keinginan untuk menghadirkan sesuatu yang menurutnya akan bermanfaat bagi banyak orang. Eufemistik disini bukan dalam arti penghalusan kata-kata, namun ekspresinya yang tidak dilakukan secara fisik, hanya dimulut meski kata-katanya tetap kasar.

Beberapa waktu lalu, di Anemia, beberapa tokoh berpendidikan tinggi mengadopsi kata-kata kasar dari INDONESIA sebagai ungkapan dari budaya marah atas sesuatu. Ada pengajar yang membangsatkan pihak yang membuatnya muncul ekspresi “budaya marah”. Ada mahasiswa yang mentololkan suku tertentu sebagai ekspresi “budaya marah” karena tidak terlayani sebagaimana keinginan dan rasa statusnya. Ada pejabat pemerintah yang membajingantkan pihak lain yang menyuluh emosi dan “budaya marah”-nya.

Mentri Karmila yang menggagas untuk meminta militer Anemia agar menenggelamkan saja kapal pencuri ikan di lautan Anemia, boleh jadi adalah ekspresi “budaya marah” dalam mengemban tugas dan memandang bahwa gagasan itu akan memberikan dampak positip serta memberikan manfaat besar. Mentri ini hanya melihat efek jera, sementara efek balas dendam dan pembalasan dalam bentuk lain (dari negri lain)  kurang menjadi perhatian. Efek citra militer Anemia dengan segala dampaknya juga mungkin tidak (sempat) terpikir.  Ini karena ada nuasanya “budaya marah” dalam dirinya.

Untuk INDONESIA, Anda mungkin lebih paham.

Hijrah Budaya. Hijrah itu revolusi. Revolusi (id.wikipedia) adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan.

Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap ‘cepat’ karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun.

Revolusi disini tidak harus dengan kekerasan, namun berangkat dari kesadaran bersama atas kondisi yang sudah berubah, atas kesadaran bahwa sikap yang ada dan digunakan selama ini sudah tidak lagi relevan, atas kesadaran untuk secara bertanggung jawab mengemban peran jaman, dan berbagai panggilan alam smesta (sunnatullah, God’s call, atau apa itu istilahnya).

Revolusi Budaya disini adalah move-on dari “budaya marah” kepada “budaya produktip”.  Produtip jika dikaitkan dengan aspek ilahiyah, juga merupakan bagian atau wujud dari bersyukur dan amal sholeh.

Bersyukur itu menerima apapun nikmat yang dihadirkan Allah dihadapannya. Bangsa Anemia yang diberi nikmat begitu rupa banyaknya, menjadi aneh (bahasa religinya mungkin kufur) jika tidak bersyukur. Menurut kyai Mursyid, bersyukur itu akan mendatangkan nikmat2 lain yang lebih banyak dan tidak terduga-2. Sementara, orang yang kufur (nikmat) itu diingatkan Allah dengan segala kemampuannya yang bisa menyiksa secara amat pedih.

Jadi kalau ada warga Anemia yang tidak bersyukur, ya aneh.  Keanehan seperti ini menjadi modal untuk hijrah budaya.

Banyak warga Anemia yang sudah punya kesadaran untuk bersyukur, namun dalam beramal sholeh masih banyak yang menggunakan “budaya marah”. Kata kyai Mursyid, marah itu dekat dengan syaithon. Syaithon itu tugasnya menggelincirkan manusia kejalan yang (ter)sesat dan (ter/men)dzolim(i).

Jadi wajar saja jika nuansa  tawuran, bullying, korupsi, membangsatkan, mentololkan, membajingankan, dsb   masih kenthal di masyarakat Anemia. Jadi aneh jika ada kaum yang beramal sholeh kok pakai “budaya marah”. Keanehan seperti ini menjadi modal untuk hijrah budaya.

Kyai Mursyid.  Semua perlu move-on. Move-on adalah juga bentuk lain dari hijrah. Terkait kemaritiman dan kekayaan ikan di lautan Anemia yang dicuri kapal dari negri lain, kyai Mursyid berpesan agar coba pikirkan dengan revolusi budaya, hijrah dari “budaya marah” ke “budaya produktip”.

Bagaimana pun jika pihak militer dibebani tugas tambahan itu, memerlukan biaya tambahan yang tidak sedikit.  Okeylah soal budget bisa dicari dengan otak-atik mathuk, Kalau pun itu dilakukan – frim bisa diimplementasikan secara budget maupun operasional, maka citra militer Anemia akan menjadi taruhannya. Sulit untuk menduga citra militer Anemia akan menjadi lebih baik. Bahkan dapat mengundang reaksi internasional terkait pelanggaran ini-itu dengan mendiskreditkan militer Anemia.

Namun ……  jika itu sudah dipikirkan masak2 dan merasa bisa mengatasi ekses negatip terhadap raykat sendiri yang ada di negri lain atau potensi dipermasalahkan secara internasional, ya silakan saja.

Apakah tidak lebih baik, jika memang mentri Karmila punya dana alias budget, lebih baik digunakan untuk membangun pemberdayaan secara kesisteman agar nelayan Anemia memiliki kapasitas dan kapabilitas minimal sama, syukur lebih hebat dari nelayan negri pencuri ikan itu.

Jangan sampai menaruh militer dibawah komando mentri Karmila yang terkesan masih mengusung “budaya marah”. Itu berbahaya bagi keutuhan negri kesatuan Anemia

Selain manfaatnya jelas akan meningkatkan kesejahteraan, kemandirian, kemampuan dan kemahiran nelayan Anemia. Para nelayan Anemia yang pada umumnya adalah rakyat awam, akan secara langsung mendapat “oxigen” rasa percaya diri,  terutama jika bertemu kapal nelayan dari negri pencuri.

Misal dengan pelatihan dan fasilitasi yang memadai ( kalau di INDONESIA, misal menggunakan sebagian dari anggaran penghematan akibat pengurangan subsidi BBM), di tengah laut bertemu atau melihat kapal pencuri ikan, maka ikannya dipanggil atau dipengaruhi (by technology) sehingga ikan mendekat ke kapal Anemia atau menjauh dari kapal pencuri.    Senyampan itu,  (by technology) dari kapal nelayan Anemia, dapat langsung mengkontak kapal patroli militer .

Tentu saja akan lebih baik, jika dalam operasi penangkapan ikan itu, nelayan2 Anemia itu  di-cover oleh militer Anemia, sehingga jika mereka menjumpai kapal dari negri pencuri, maka bisa melakukan kontak dengan kapal patroli militer Anemia untuk menghalau keluar dari teritori yang menjadi kedaulatan Anemia.

Jadi nelayan berperan sebagai semacam telik sandinya militer Anemia.  Jangan lupa sarana patroli milik militer Anemia dipermodern, tidak perlu drone untuk memantau kapal ikan.

Jika di jaman kemarin di negri INDONESIA ada istilah babinsa, dimana ada fungsi eks militer yang ditempatkan sebagai semacam telik sandi di matra darat untuk manghadang/menghalau infiltrasi asing pada daerah2 yang dianggap rawan infiltrasi (menjaga kedaulatan Anemia), maka suatu kemajuan juga jika Anemia membangun telik sandi matra laut untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan sekaligus menjaga kedaualtan laut Anemia.

Manfaat lainnya adalah relatip efisien dan ampuh (efektip) untuk menjalankan misi menjaga kedaulatan negara dari “serbuan asing” atas pengurasan sumber pensejahteraan rakyat serta potensi infiltrasi di matra laut.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu. 

Scroll To Top