Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | HARI KOPI DUNIA DI NEGRI ANEH

HARI KOPI DUNIA DI NEGRI ANEH

Hari Kopi adalah perayaan tahunan untuk merasakan kenikmatan minuman kopi sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap petani kopi . Banyak versi meski dikatakan sebagai hari kopi dunia (dunia yang mana ?).  

Negara2 seperti Malaysia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Ethiopia, dan Swedia 29 September dirayakan sebagai Hari Kopi. Indonesia aneh … kenapa, semula tanggal 17 Agustus, kini menjadi 1 Oktober.  Kira2 ada apa ya kok hari2 bersejarah  mau dihapus dari ingatan rakyat negri ini ? kulo mboten ngertos.

kata kata lucu preman 11Kiblat dan Prosesnya Nggak Jelas. Ketika belum dirubah, (sesuatu di) Indonesia mengakatan kepada rakyat Indonesia “hei hari kopimu itu tanggal 17 Agustus ya!”.

Untungnya media dan pemerintah tidak begitu menghiraukan hal ini sehingga rakyat pun jarang yang tau atau nggak peduli. Sebgian mungkin sudah mencioum “aroma” aneh pada penetapan hari kopi Indonesia ini.

Simak saja hari kopi negri2 lainnya : China – awal April, Costa Rica – 12 September, Filipina – 21 Oktober,  Taiwan – 7 Nopember, Nepal – 17 Nopember, serta  Malaysia Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Ethiopia, dan Swedia – 29 September.

20150430caffe_latte3Ada Apa Dengan Kopi (AADK).  Entah karena sepi respons atau alasan apa, hari kopi Indonesia diganti tanggal 1 Oktober (lha ada apa ini to ??  AADK ?????????? ).

Bukannya mikirin meningkatkan ekspor kopi serta membina para petani kopi untuk lebih baik lagi hasil produksi dan pengolahan pasca panen, malah ada waktu dan energy serta konsentrasi untuk mikirin hari kopi.

Percaya deh ujungnya yang ramai ya mall dan yang untung ya pedagang saja. Petaninya ? jangan sampai terjadi para petani mendemokan “salam gigit jari”.

Simaklah betapa media tertentu heboh memberitakan hari kpi dan beberapa penggiat sosmed juga begitu.

AADK ??

Monggo !!!

263576208Ada-Gula-Ada-Kopi-displayAda Kopi Ada Gula.  Dalam guyonan,  anak muda dari Papua yang lagi kuliah di Jawa berkelakar  dengan sesama anak kost (dari Padang) soal peribahasa.

Menurutnya peribahasa “ada gula ada semut” tidak cocok untuk kita2. Yang cocok ya “Ada Gula Ada Kopi“.

Tidak jelas maksud dari saudara kita dari Papua ini. Apakah ia sudah menjadi wong Jowo ? yang guyonannya sering mengandung satire ?  memberikan sinyal bahwa disamping tata niaga gula bermasalah, tata niaga kopi juga penuh masalah.

Kenapa soal hari kopi musti diberitakan ? digencarkan dengan medsos lagi oleh kalangan tertentu (simak dan simpan baik2 ya berita dan postingan itu).

Kita ini negri hebat, negri punya produk tanaman nyaris apa saja. Kalau memang tujuannya sebagaimana maksud adanya peringatan dan perayaan itu, maka sebaiknya pak Mentri juga memutuskan hari Beras, Hari Ketela, Hari Sagu, Hari Ikan Air Tawar, Hari Ikan Laut, Hari Sapi, dsb.

Minimal biar kelihatan pemerintah memperhatikan semua petani.

Monggo !!!

186630_anak-indonesia_663_382Negri Gemah Ripah Yang Importir.  Aneh ya ketika ada pejabat negara menjelaskan kasus gula dimana ada oknum pejabat  dikabarkan menerima sogokan terkait impor gula dari cukong dari negri pengerport gula ke Indonesia.

Soal sogokan itu ya sebaiknya ditelusuri dan dibereskan secara hukun sebagai tindak korupsi.

Tapi negri pengeksportnya itu lho …. kok negri kecil yang tidak punya lahan pertanian.

Kalau pun punya – luas lahannya tidak lebih luas dari kecamatan Rancaekek di Kabupaten Bandung.  Koplak nggak ya ?

Monggo !!!

Dari Tas Kresek dan Kopi.  Dari kasus tas kresek berisi 100 juta IDR dan hari kopi yang aneh2, sepertinya menjadi jalan yang pass untuk pembenahan visi missi dan rencana besar industri pangan nasional.

Agak aneh, jika mendengar APBN negri agraris di daerah dg curah hujan yang memadai dan sinar matahari rutin menyapa secara bagus sepanjang tahun kok jadi importir gula, kopi, sapi, dsb.

Dulu ada semacam kepedulian untuk membangun pondasi kokoh ketahanan pangan dengan membuat pusat2 penelitian dan pengembangan bibit unggul (pertanian, perkebunan dan peternakan).

Bibit padi/jagung unggul beserta cara tanam dan konsep bertaninya dijelaskan ke rakyat dengan pandun=an dan bimbingan yang jelas oleh petugas penyuluh lapanang yang dikenal dengan PPL Pertanian.

Begitu pun dengan peternakan sapi, kambing, unggas, kelinci, bebek, dsb

Juga tanaman kebun seperti kelapa, mangga, sawo, duku, durian, dsb.

Infrastruktur petanian pun dibangun secara besar2an dan massive dengan segala resikonya : bikin bendungan, waduk, saluran primer sampai tertier serta petugas pengatur pengairan pun ada.

Wajar jika petani mendapat semacam perhatian nyata.

Membenahi kok dengan Kebencian. Kelemahan waktu itu adalah managemen paska panen yang masih dikuasai tengkulak dan juga kebobrokan moral pengelola badan mulia yang ditugaskan negara untuk mengelola itu (bulog/dolog).

Sayangnya – entah karena kebencian atau apa saya nggak paham, bukannya korupsinya yang “dibakar” eh …. malah “lumbung deso” yang dihabisi sampai lenyap.

Wessss embuh aku rapopo

Entah sekarang pejabat2 itu  mikirin petani bener2 atau nggak

Monggo !!

Begitu apa Begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top