Sekilas Info
Home | Inspirasi | IMPOR PANGAN

IMPOR PANGAN

Impor itu lebih mudah dan lebih murah. Fakta di negri Anemia: padi, kedelai, sampai daging dari produk lokal bermutu rendah, dan harganya lebih mahal ! minimal statemen pedagang pasar itu pernah terdengar di radio negri Anemia.   ……………….prosedur-impor-indonesia

Pehamanan dan kebijakan dari sebagian kaum intelektual atau birokrasi di negri Anemia, banyak yang sangat pragmatis. Kepandaian yang dikaruniakan (ini seumpama orang2 itu berTuhan ya) dan jabatan yang dipercayakan ( ini seumpama kalau orang2 itu punya nurani ya ), digunakan bukan untuk memperbaiki mutu dan produk bangsanya. Malah, kebijakan yang digalakan, memberikan potensi langsung bagi bangsanya yang terlupakan, petaninya akan sekarat !  Konsep membangun industri pangan nasional seolah ide kampungan yang sebaiknya jangan digulirkan.

51DNXGH4VJLJika menengok negri lain yang maju, seperti Inggris dan  Amerika misalnya, kebijakan melindungi produk pangan negri-nya John Lenon dan negri Paman Sam itu nyata.  Mereka menyadari bahwa hidup perlu makan, makan itu diproduksi,  kesulitan makan sama dengan mengundang bahaya dari dalam. Impor itu rentan terhadap embargo.  Disana, kelompok penduduk yang sudi bertani, beternak dilindungi dengan kebijakan dan insentip sedemikian rupa sehingga tertarik untuk berproduksi dan meningkatkan mutu.

Sementara di negri Anemia, kebijakan yang dikeluarkan seolah kurang disadari akan langsung  secara telak membunuh bagian bangsanya sendiri yang produktip. Kelompok penduduk yang tidak menuntut lowongan kerja atau keikan gaji atau kenaikan UMP. Konsepnya, dengan mengimpor, semua jenis bahan pangan penduduknya bisa dipenuhi.  Anehnya, konsep impor ini juga konon disebut sebagai konsep ketahanan pangan nasional di negri Anemia. Luar biasa.  Setelah ditelaah, ternyata  impor pangan memiliki segudang “kelebihan”, segudang “keunggulan” yang memenuhi kaidah  ilmiah-ekonomik-global. ( pokoknya banyak deh keunggulannya ), diantaranya adalaha :

1.       Menekan suara berisik dari kelompok-kelompok dalam negri Anemia, oknum atau kelompok yang rese soal pangan.

2.       Menjawab secara instan ( langsung dan cepat ) tekanan-tekanan “awas bahaya kelaparan” atau mimpi adanya kecukupan pangan nasional negri Anemia.

3.       Lebih murah ketimbang harga produk pangan dalam negri Anemia.

4.       Mutu barang jauh lebih baik ketimbang mutu produk pangan dalam negri Anemia.

5.       Dukungan pemasok dari berbagai negara produsen pangan sangat bagus dan mudah diperoleh.

6.       Meningkatkan hubungan baik antar negara ( Anemia dengan negara-negara produsen pangan itu )

7.       Membuktikan pada dunia bahwa negri Anemia itu sudah menerapkan open market.  dst

 

Untuk Apa Mikirin Industri Pangan ?

Sekelompok intelek dan briokrat negri Anemia ada yang memandang penting dan prioritas untuk “membangun industri pangan nasional yang tangguh”. Namun, dengan sejumlah keunggulan kebijakan mengimpor pangan yang sangat banyak itu, telah menutupi gagasan yang nasionalis itu.  Bahkan gagasan atau pemikiran terkait itu, akan dimentahkan oleh pertanyaan “hari gene kita jadi produsen pangan,  impor saja lebih mudah dan lebih murah”.  Semakin lenyap lagi gagasan itu dari perbincangan publik di negri Anemia, jika dibombardir dengan hal-hal terkait dengan “globalisasi, open market, pasar bebas, dsb”. Lalu penduduk  didalam negri telah terserang virus “ngapain susah-susah jadi petani ?”,  dan kaum muda pun terserang virus “negri kita negri kaya”.

siguragura_dam_largeTak heran jika di negri Anemia, yang konon dulunya memiliki banyak bendungan/waduk berserta saluran irigasi primer sampai tertier,  tidak dipedulikan, tidak terurus, terjadi penurunan fungsi.  Akibat Waduk/Bendungan tak diurusi, maka pertumbuhan sumber pembangkitan listrik tidak sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan listrik.  Akibat saluran irigasi tak diurusi, maka daerah yang dulunya dikenal subur dan menjadi lumbung padi, pusat ikan air tawar, secara tak terasa menghilang.  Banyak persawahan yang berganti menjadi lahan beton, karena sulitnya menjadi petani dan sulitnya pengairan sawah serta tak ada insentip bagi petani yang nyata tidak minta lowongan kerja dan rajin berproduksi untuk negrinya.

Di negri Anemia, pada tingkat pengambil keputusan secara pragmatis memilih jalan singkat “lebih baik impor pangan”, di tingkat rakyat terjadi frustasi yang ujungnya juga pragmatisme  ”ngapain jadi petani”, di pasar-pasar juga terjadi pragmatisme “produk impor lebih murah dan lebih bermutu”.

Apakah masih ada pejabat, politikus, kaum intelektual di negri Anemia yang mencintai negrinya ? mencintai bangsanya ? mencintai rakyatnya.  Nasionalis dan tetap Internasionalis.  Boleh saja mensitir apa yang ada di negri Indonesia, seperti ”Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, ………….”

Belum terlambat untuk sadar, kecuali setelah masuk liang kubur.  Ya Emangbegitu.

 

 

Scroll To Top