Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | INDONESIA AUTO PILOT COMPANY, Apa dan Siapa Contohnya ?

INDONESIA AUTO PILOT COMPANY, Apa dan Siapa Contohnya ?

Apa ada perusahaan Indonesia yang di desain bisa auto pilot ? jawabnya ADA. ……..nggak percaya kan ?

Auto Pilot : Good or Bad ?. Ciri auto pilot adalah kinerja operasi pesawat (dimungkinkan untuk) tidak lagi terlalu bergantung (sepenuhnya) pada kontribusi crew di dalamnya. Namun bukan berarti tidak perlu awak, karena pesawat yang tak berawak itu biasa disebutnya sebagai  drone.

cockpit-11Bagaimana dengan perusahaan ? Jika urusan mencari pelanggan/menjual produk, dikerjakan oleh “mesin” pencari pelanggan, urusan  pengembangan system juga demikian, urusan melayani pelanggan dikerjakan secara redundance atau paralel atau partial  antara internal system dan “mesin” tersendiri, sehingga tinggal urusan pengelolaan operasional system dan …………. duit yang (masih) totally dikerjakannya sendiri, maka perusahaan seperti ini sudah bisa masuk kategori perusahaan dengan desain auto pilot.

Faktor atau indikator kritisnya adalah : jika kinerja “mesin” partner bisnis bagus, maka kinerja perusahaan itu bagus, dan sebaliknya.

Apakah itu buruk atau baik ? Andalah yang paling tahu.

Kya Mursyid bilang : semua itu  innamal a’malu bin niyaat - semua aksi itu bergantung niatnya, semua derma bergantung sukmanya. Soal beginian juga bergantung latar belakang pembentukannya ( based on the histrory), bergantung juga pada cara pandang yang mengoperasikannya dan bergantung pada cara mikirnya pemilik modal.

So ? Bisa buruk, bisa juga baik. Dan iu juga terserah bagaimana atau darimana anda memandangnya.

awal Share Holders TselNawaitu Yang Benar, Silent & Polite Operation. SEJARAH. Satu perusahaan yang paling dikenali oleh puluhan dan bahkan ratusan juta orang di seluruh dunia adalah Telkomsel. Perusahaan ini dirancang, dibangun dan diayomi oleh manusia2 yang (sepertinya, ndilalah) pas untuk kebutuhan itu.

Kebutuhan meningkatkan penetrasi secara cepat dan masif di wilayah yang amat luas, memerlukan “mesin” yang berperan untuk urusan mencari pelanggan- mitra dealer,  urusan mengembangkan jaringan – mitra vendor, dsb.

Dari semula sebuah nama proyek  STKB (Sistem Telepon Kendaraan Bergerak)  kini Telkomsel sudah berjaya dan menjadi lembaga bisnis bagaikan auto pilot company.

Perusahaan ini, dulunya hanyalah sebuah nama proyek yang tidak terlalu dilirik oleh kebanyakan orang, karena seperti “menentang arus”, kini menjadi motor di industry telco Indonesia dan mungkin saja di ASEAN.

Siapa yang mengembangkan perusahaan layaknya auto pilot company itu ?

Mereka adalah oknum2 yang berasal dari Telkom dan Indosat (saat itu keduanya ASLI BUMN), lalu ada pihak luar yang ikutan, yakni BUMN-nya Belanda yang ingin investasi di negri bekas jajahannya itu.

Soal mengapa Belanda ? entahlah !!! Apakah Belanda melakukannya sebagai politik balas budhi atau apa, saya nggak paham. Anda mungkin lebih paham.

http://www.thedde.com/mtic-fraud/due-diligence.php

http://www.thedde.com/mtic-fraud/due-diligence.php

Yang jelas, saat due diligence, para bijakbestari Telkom amat sangat mencermati sekali dengan seksama agar komitmen berinvestasi mereka (Belanda, KPN, PTT Netherlands) dilakukan dengan sebenar-benarnya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya serta menghadirkan teknologi dan manfaat yang sebenar-benarnya bagi sebesar-besarnya kemanfaatan untuk sebanyak-banyaknya rakyat di seluruh INDONESIA . Sampai-sampai (saat itu) ibu Koesmarihati (siapa dia, baca berikutnya) mewanti-wanti kepada semua anggota tim untuk jangan lupa ikut memantau dan mengawasinya.

Singkat cerita, setelah Telkomsel behasil membuktikan dirinya sebagai pencetak laba (menjelang/awal tahun 2000-an), di luaran (khususnya di industri telco Indonesia), santer di dengung2kan bahwa cross ownership (istilahnya sih keren ya ! tapi intinya : kepemilikan  dua BUMN atau lebih pada satu JVC ) itu “haram” dan “najis” alias DILARANG – entah ini agenda setting dari pihak tertentu atau apa, andalah yang paham benar.

Saat itu, berbagai media pun begitu bombastis menyuarakan “haram”nya cross ownership, dan (juga mereka yang mengaku) para “pakar” serta opinion maker pun menjadi nara sumber seminar atau simposium yang semakin bergelora menyuarakan bahwa cross-ownership itu barang yang “najis”.

Ada baiknya berhati2, saat ada gagasan memiliki satelit lagi entah dari lembaga mana (sebab entah bagaimana ceritanya kok satelit INDONESIA bisa “hilang” dari kepemilikan dan otoritas mengendalikannya – dulu ada kantor namanya Stasiun Pengendali Satelit PALAPA, sekarang entah siapa yang mengendalikannya.

Heran juga kenapa banyak orang yang ngakunya orang INDONESIA, ngakunya pinter ekonomi, ngakunya cinta negri, ngakunya membela rakyat, ngakunya …. pokoknya bikin rakyat kecil terpesona, lha kok diam saja, lha kok malah sepertinya membiarkannya, lha kok sepertinya senyam-senyum enteng saja, padahal itu ASLI-nya uang rakyat, milik negara lho.

Ujungnya bagaimana ? Andalah yang lebih paham.

Oknum dari Telkom dan Indosat “Jadul” dan Pemikirannya. Kondisi lingkungan industri, tantangan global, dsb menjadi perhatian oknum pengayom dari kedua BUMN itu,  namun utamanya adalah menjalankan missi untuk mendukung gagasan besar dari para bijakbestari INDONESIA (saat itu), yang ingin secara simultan dan cepat meningkatkan penetrasi  telekomunikasi di seluruh wilayah INDONESIA (bagian dari road map negara yang diberi nama GBHN).

Meski demikian mulia dan nasionalismenya, namun secara fakta yang ada di depan mata terkait industry yang akan dimasukinya, adalah sarat dengan liku2 dan halangan (efek dari KKN yang saat itu terkesan amat mewarnai juga bisnis telco : wirelessphone, pager, radio komunikasi, dsb).

Kemungkinan besar, karena itu pula (saat itu) kebanyakan pihak menjadi tidak/kurang “berani” untuk sekedar melirik atau bergabung terang-terangan dalam proyek “ASLI kebangsaan, namun menentang arus” bernama Telkom(sel),   karena berbagai alasan (takut pada penguasa misalnya).

Sebagai oknum yang bijakbestari yang harus “menentang arus”, merasakan pergolakan bathin karena menentang penguasa  adalah hal yang tidak diinginkan, sebab bertentangan dengan rasa di dalam jiwanya. Sementara di sisi lain, sebagai oknum beijakbestari, menterlantarkan tujuan mulia yang tertuang dalam GBHN dan untuk kepentingan bangsa dan negaranya, tentu juga hal yang dihindari serta mengusik rasa kebangsaannya.

kartuHALOPersimpangan Yang Kompleks. Saat itu, jumlah capital yang ada dalam “kantong” BUMN ini tidak jibar-jibur.  Mungkin jauh di bawah kondisi BUMN pertambangan yang kini jarang dikenali lagi oleh generasi muda  (anak bangsa)  - seperti PN Timah misalnya (jangan dibandingkan dengan jibar-jiburnya Pertamina jaman itu, karena jauuuuuhhh 1x …. bedanya).

Di waktu itu, gaji karyawan BUMN Telkom (termasuk yg ditugaskan di proyek “menentang arus”), secara umum mirip dengan gaji pekerja medis, khususnya perawat (silakan cek besaran uang pensiunan mereka yang pensiun dari Telkom dengan standar gaji saat itu dan sampai sekarang YA TETAP sebegitu, yang amat jauh dengan pensiunan Telkom jaman belakangan ini).

Meski dalam kondisi seperti itu, semangat dan pengabdian mereka untuk bangsa dan negara TETAP hebat !

Sementara, cabangan teknologi dunia juga sedang rumit dan serba nggak jelas, semua serba mungkin sukses sekaligus serba mungkin gagal. Ada AMPS, ada NMT, ada PHS, ada CT3, ada WLL, ada Ultraphone,  dan ada yang saat itu tidak terlalu dilirik oleh kebanyakan pelaku industri ini (karena memang saat itu belum teruji plus untuk Indonesia seolah “menentang arus”), yakni GSM.

Oknum2 bijak bestari di Telkom (jadul) pastilah gamang melihat lingkungan yang ada, apalagi oknum2 yang memiliki idealisme ingin menjabarkan “sumpah amukti palapa” dari patih Gajahmada, namun juga tidak ingin berbenturan dengan penguasa saat itu.

srikandiDilancarkan Dalam Kemuliaan. Mungkin karena niyat baik dan kesungguhan upaya dari para bijakbestari (di Telkom dan Indosat) itu, Sang Pemilik Alam Smesta menggerakan hati mereka yang berujung pada ditemukannya sosok Srikandi – sosok yang titis dalam membidik;  menemukan sosok Gajahmada – sosok yang penuh dedikasi, kreatip, usil tanpa kenal lelah, serta kumpulan manusia2 bertype Bandungbondowoso yang sepi ing pamrih rame ing gawe.

Kumpulan manusia2 yang mampu dan SEDIA berholobis kuntul baris,  punya kesetaiaan pada negri namun mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan gagasan negri lain tanpa harus berkonfrontasi dengan penguasa maupun kondisi yang dirasa menghalanginya.

Dalam komando “ratu srikandi”  ibu Koesmarihati  dan provokator sekaligus motivator yang penuh gagasan dan inovasi bernama “patih gajahmada” Garuda Soegardo, serta dalam asuhan bijak bestari di “kahyangan” Telkom dan Indosat,  tim bandungbondowoso secara sigap dan penuh SEMANGAT dalam menjalankan missinya secara silent and polite, dengan tirakat kurang tidur dan sering meninggalkan keluarga berhari-hari, akhirnya berhasil menyemaikan benih2 “pohon durian” berupa BTS, BSC dan MSC di seantero nusantara.

Proyek Telkom(sel) pun akhirnya menjadi JVC (Join Venture Company) – perusahaan patungan (Telkom, Indosat, KPN dan Setdco) yang dengan cepat, dan selamat berhasil menggelar jaringan GSM bernama Telkomsel dalam situasi dan kondisi serta konstelasi perpolitikan saat itu, tanpa harus terbawa atau berbenturan dengan pihak2 manapun. Produk perdananya berupa kartuHALO yang amat nyata menyapa dan hadir untuk INDONESIA.  Dimulai dari Batam kemudian menyebar ke semua propinsi,  baru mencapai gongnya memasuki DKI Jakarta.

http://uniqpost.com/73321/siapa-patih-gaja-mada-sebenarnya-mengapa-kematiannya-begitu-misterius/

http://uniqpost.com/73321/siapa-patih-gaja-mada-sebenarnya-mengapa-kematiannya-begitu-misterius/

Auto Running Pemasaran dan Penjualan. Fasilitas Auto Pilot V.1 adalah ODC. Open Distribution Channel (ODC) adalah bagai desain untuk membangun mesin auto pemasaran dan penjualan. (jaman waktu itu, pemikiran ini tergolong “nekad bin berani bin menentang arus serta resikonya besar”, bahkan perusahaan non-BUMN yang bergerak di telco, juga nggak ada yang mikir seperti itu, semua di-handle  sendiri agar terkontrol).

Dengan ODC, maka seolah menaruh leher di guillotine pihak lain. Disisi lain, memberikan waktu pada sumber daya tim bandungbondowoso yang saat itu jumlahnya terbatas ketimbang “ambisi” untuk melayani seluruh lapisan masyarakat di nusantara secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dapat fokus untuk melakukan business setting untuk aspek2 lainnya ( akuisisi lahan untuk site, percepatan roll out, menggenjot kinjera ODC  sampai membangun cabang perkantoran baru/graPARI).

Harus diakui, bahwa rekan2 dari pedagang toko elektronik (yang kebanyakan berentis China) punya naluri dagang dan kompeten untuk jualan ini, siap menjadi semacam ground crew di bidang marketing&sales, sementara awak “pesawat auto pilot” atau air crew  itu lebih mumpuni dalam pemahaman bisnis dan industry telco  ke depan,  tentang konsep bisnis, teknologi roadmap, dan implementasi roll outnya.

Terkait resiko “mampus” terpotong guillotine,  maka dicarilah rekan2 yang kebanyakan dari china itu diseleksi yang : benar2 sedia memajukan industri telco dan melayani sampai ke pelosok negri, sejauh yang terpantau, memiliki pemikiran positip dalam berdagang dan bermitra.  Dibangunlah “system” dealership (yang tentu saja saat itu masih sederhana, namun sudah amat canggih di jamannya).

Dengan ODC, maka company memiliki kemampuan auto pilot dan memiliki potensi mempercepat penetrasi densitas telco di seluruh INDONESIA.

Kemistri ini menghasilkan kinerja system yang luar biasa. Dalam waktu singkat Telkomsel dinanti-nantikan kehadirannya oleh semua daerah (rakyat dan kepala daerahnya), karena kehadirannya membawa manfaat untuk menjadi akselerator kemajuan ekonomi dan sosial setempat.

Over Demand & Bleeding.  Kecepatan pertumbuhan sukacita  masyarakat se nusantara dalam nuansa “menanti” kehadiran Telkomsel, telah menyuburkan demand yang semakin memacu adrenalin semua awak pesawat (pilot & air crew), serta para groud crew sales & marketing (mitra dealer).

Bagi mereka mitra ODC, semakin laris semakin cuan. Situasi ini menggerakkan internal system pesawat, khususnya meningkatkan “instruksi” percepatan roll out jaringan.

Tim Bandungbondowoso yang tersebar di seluruh propinsi utama (prioritas lokasi saat itu), mengikuti gegap gempita dan derap langkah instruksi Srikandi serta komando dari Gajahmada. Begitu pun tim Bandungbondowoso di PusArMed (Pusat Artileri Medan) alias kantor pusat yang berfungsi mensupply logistik roll out dan berbagai kebutuhan lapangan.

Akibatnya  speed roll out dengan sendirinya terpacu oleh dinamika dan tekanan demand (auto speed di bidang roll out). Semua berholobis kuntul baris, semua glorius dalam setiap moment pencapaian.

Ekses dari ini adalah situasi yang menyerupai bleeding (pendarahan) akibat :

  1. administrasi roll out yang kedodoran, kecepatannya driven by market demand yang sangat eksponensiil. Kondisi kedodoran, terkadang bisa dipersepsikan sebagai ada penyimpangan administrasi (wallohu a’lam),  dan
  2. secara perlahan tapi pasti “harga” SIM Card dipasaran mahal (over demand)  dan percaloan pun marak (lack of system capacity). Kondisi harga mahal dan percaloan ini bisa jadi diciptakan atau dimanfaatkan kedua pihak (oleh oknum dealer dan oknum dalam) yang melihat ini sebagai potensi menambah besaran cuan besar  dengan  memainkan pasar (wallohu’alam).

kresna 1Auto Expanding & Roll Out. Fasilitas Auto Pilot V.2 adalah TINEM – Tender for Infrastructure NEtwork Millenium. Gagasan dari group penerbang berikutnya dengan capten pilot pak Mulia P Tambunan, merapikan administrasi dan membenahi situasi bleeding (melalui apa yang dikenalkan dengan nama TINEM) serta pengendalian dealership untuk meminimalisir dampak overdemand khususnya over price dan percaloan.

Sebagaimana gagasan pak Garuda - C3QS, tidak  semua orang paham dan mendukungnya. Namun dengan kesungguhan itu, akhirnya TINEM secara perlahan tapi pasti : bleeding, overprice dan percaloan, semakin teratasi. Pertumbuhan cepat dari legacy grup pilot sebelumnya, menjadi bisa lebih well managed .

Manfaatnya antara lain :

  1. di bidang roll-out,  ada integrasi antara kecepatan roll-out dengan kecepatan pertumbuhan demand serta kehati-hatian dalam pencatatan. Vendor memiliki obligasi moral untuk ikut bertanggung jawab atas rapinya administrasi.
  2. di bidang sales, ada improvment pada sistem kontrol untuk menjaga agar masyarakat memperoleh harga yang semestinya. Mitra ODC memiliki komitmen untuk menjaga agar mutu dan harga bisa dikendalikan, sehingga rakyat mudah memperoleh pelayanan dan menikmati layanan Telkomsel dengan harga yang tidak (terlalu) dipermainkan meski over demand terjadi.

Telkomsel yang semula sudah memiliki auto pilot system di bidang marketing & sales, kini bertambah dengan “auto network deployment” dan terjadi improvemnt pada system control di ODC system. Mitra ODC dan mitra roll out sama-sama ikut berperan dalam mengendalikan dampak buruk sekaligus menjaga kinerja usaha di peran masing2 prima dan tetap memberikan keuntungan dan pertumbuhan usaha.

Kesemibangan antara demand dan supply bisa dikelola secara lebih prudent, secara lebih terkendali.  Sehingga – jika diibaratkan pohon durian, maka kuncup bunga pun (laba perusahaan) pun mulai menunjukan putiknya.

Laba usaha mulai menampakkan diri di buku laporan tahunan Telkomsel.

Tentang auto pilot V.1 dan V.2, kini sudah (lama) menjadi standar industri, sehingga bagi generasi muda yang baru “membacanya”, jarang yang paham bahwa semua itu diwujudkan melalui perjuangan, melalui proses dan sejarah yang memiliki nilai luhur yang dilakukan oleh generasi terdahulu.  Bukan sesuatu yang ujug-ujug ada seperti ini.

Biker-Art-2-955x749Seruling Emas. Sebagaimana kondisi umum masyarakat di INDONESIA (bahkan di negri manapun), setiap rezim kepemimpinan, seringkali meninggalkan efek followers pada manusia2 (lebih pada soal emotional bounding, dan terkadang kurang mengoptimalkan logical instrument).

Followers itu ada disatu sisi, di sisi lain, biasanya menjadi haters (tanpa disadari). Jika perjalanan itu baru dua rezim, maka ada dua kubu  followers dan haters……  yang terkadang berbenturan (tidak disadari).

Kyai Mursyid mengingatkan bahwa kita tidak boleh mengkultuskan sosok, tapi silakan meniru perilaku baiknya. Begitu pun, janganlah membenci sosok, dan janganlah mengikuti perilaku buruknya.

Entah ada hubungannya atau tidak, pak Bajoe Narbito (captain pilot pada “rezim” kepemimpinan berikutnya) yang sepertinya dekat dengan Gus Solah (adik Gus Dur), itu bagai begawan peniup seruling emas.

Lagu apapun yang dinyanyikan oleh pak Bajoe, akan mendapat respons menyejukan oleh siapapun yang menyukai kedamaian, kesejahteraan, kemajuan.  Tanpa disadari oleh banyak orang, di jaman pak Bajoe, putik yang kemarin (jaman pak Mulia) sudah muncul dan bertumbuh, semakin banyak muncul di sana-sini dan bertumbuh baik. Laba perusahaan semakin nyata membesar, kesejahteraan karyawan mulai bisa di-implementasi-kan.

Telkomsel menjadi semakin kokoh di industri, dan siap memasuki “atmosfir” baru di aspek teknologi, semakin mampu mensejahterakan karyawan dan menjadi “beatiful girl” bagi para pemilik modal.

Kesejahteraan karyawan, bagi generasi muda yang baru “membacanya”, mungkin tidak dipahami sebagai buah dari hasil perjuangan generasi terdahulu, sebagian malah justru merasa “itulah daya tariknya”.  Kesejahteraan seperti sekarang ini, bukan sesuatu yang ujug-ujug ada.  

http://www.deviantart.com/morelikethis/artists/ 415897911?offset=10&view_mode=2

http://www.deviantart.com/morelikethis/
artists/415897911?offset=10&view_mode=2

Entering the EDGE.  Pesawat yang sudah memiliki fasilitas “auto pilot”  itu, memiliki cadangan bahan bakar yang luar biasa, sedang menempuh perjalanan “langit industry”  memasuki batas atmosfir baru – entering the edge.

Atmosfir baru ini dicirikan dengan komunikasi berbasis data, sehingga (sesuai dengan “dogma” teknologi roadmap yang dipegang kebanyakan orang) system yang saat itu masih berbasis 2G segera tergantikan oleh 3G dan (kelak) transform ke 4G.

Kelompok pilot penerbang pesawat berfasilitas “auto pilot” untuk fase ini dipimpin oleh capten pilot Kiskenda S.

Di fase ini, juga dilakukan upaya meningkatkan penetrasi densitas mobile telco mendukung program pemerintah yang bernama USO (Universal Service Obligation).  Perubahan teknologi internal system untuk entering the EDGE sampai 3.5 G serta perluasan penetrasi layanan mobile telco pun dilakukan.

Di kurun waktu ini, mulai bermnculan content provider. Ada yang karena memang paham ada juga yang ikut-ikutan membangun bisnis content karena “latah” atau karena terpovokasi. Google dan Facebook, adalah dua diantara perusahaan2 IT dunia yang sadar dan paham arah perjalanan bisnis sosio-tekno. Blackberry dan Apple adalah dua diantara perusahaan Gadget dunia yang sadar dan paham serta men-drive dunia di bisnis sosio-tekno. (US win back atas kekalahan penguasaan teknologi dan pasar mobilecom oleh “konsorsium” Eropah dalam kurun 95-2005, Jepang nyaris tak berkutik untuk memasuki dunia global di inovasi mobilecom setelah sempat terdengar kencang dengan DoCoMo-nya)

Disini mulailah terjadi convergensi antar “platform” dalam melayani pengguna teknologi telco – layanan yang ditawarkan oleh lembaga bisnis di layer Over The Top (OTT). Geliat “calon drakula” bagi Network Provider ini (sejak awal kehadirannya) tidak sama sekali nampak atau disadari, atau bahkan mungkin kesadaran dan kepahaman pelaku industri Indonesia malah justru  terlenakan oleh nikmatnya cash-in yang berlimpah di bisnis pulsa ini dan ajakan bisnis bundling oleh parbrikan atau distributor gadget.

Ketersediaan sinyal selular sampai pelosok pedalaman dan perbatasan negri, bagi generasi muda yang baru “membacanya”, mungkin tidak dipahami sebagai buah dari hasil perjuangan generasi terdahulu, sebagian malah justru merasa “itulah sudah sewajarnya”.  Kemampuan  melayani seperti sekarang ini, bukan sesuatu yang ujug-ujug ada.

http://www.toonpool.com/cartoons/Fixed%20Term%20Terror_202542

http://www.toonpool.com/cartoons/Fixed%20Term%20Terror_202542

Welcome OTT.  Tanpa disadari atau karena asyiknya menikmati manisnya bisnis pulsa, kehadiran layanan Over The Top (OTT) tidak menjadi perhatian serius bahwa itu adalah entity business yang mirip “dracula” atau mirip “tanaman parasit”. OTT dengan cepat bertumbuh besar, begitupun gadget berkemampuan “super” semakin convergence dengan layanan OTT.

Disebut “dracula” karena kehadirannya langsung di level paling strategis dan melumpuhkan namun tidak mematikan. Disebut “tanaman parasit” karena bertumbuhnya melalui cara menempel sejak biji untuk mendapatkan nutrisi sampai membesar dan akhirnya bakal memenuhi sebanyak-banyaknya cabang pohon namun juga tidak sepenuhnya mematikan (kecuali cabang yang dihisap nutrisinya.

Remind bahwa untuk hati-hati berhadapan dengan OTT, kalah suara dan tidak menarik untuk didengar ketimbang manisnya bisnis pulsa maupun bisnis bundling.

Bisnis bundling adalah strategy produsen gadget untuk langsung mengambil pasar sekaligus menghisap bagian dari nutrisi yang ada di operator. Bisnis bundling juga menggunakan jaringan bisnis dan  manusia2 yang (sepertinya) sulit menerima pendapat berbeda.

Kini OTT memliki positioning yang luar biasa. Mereka lebih paham perilaku pengguna ketimbang operator telco yang sudah lamaaaaaaa sekali berkenalan dengannya. Mereka mampu menawarkan apapun tanpa diketahui oleh operator mobiletelco. Mereka mampu membangun loyalitas tanpa diketahui atau bahkan operator sama sekali tidak bisa berbuat apapun terkait apa yang mereka lakukan.

Waktu berjalan terus, mereka terus berbuat yang terbaik (untuk diri OTT).

Sementara entah apa yang dilakukan oleh di luar OTT.  Yang jelas, kini WiFi sudah menjadi bagian (yang sepertinya atau boleh jadi, bakal merupakan kunci dari) dari “bargain” OTT dan gadget provider terhadap operator Telco, karena semua layanan yang semula “wajib” pakai melalui jaringannya mobile telco, sudah berubah dengan pesat dan kuat sehingga bisa dilalukan melalui WiFi.

Hebatnya lagi, semua layanan basic yang dikreasi oleh operator jaringan mobiletelco (voice, video, text, picture), secara bertahap dan meyakinkan sudah dikembangkan di “platform” OTT yang bisa digunakan tanpa menggunakan jaringan mobiletelco – saat ada sinyal WiFi, meski SIMCard dicabut atau fitur sinyal Network Operator di OFF-kan, tetap bisa digunakan.

Exit Light ? Kondisi ekstrimnya adalah bahwa positioning OTT bisa mendekati pada status  ”kami tak butuh lagi jaringan Anda, dan kami sanggup menawarkan secara lebih hebat dari yang anda tawarkan, sekalipun harus masuk ke lobang jarum”. Itulah kemungkinan positioning ektrim OTT.

Apa dan bagaimana menyikapi OTT yang kini menjadi “mitra sekaligus enemy” bagi operator mobile telco ? Andalah yang (sepertinya) paling paham. Carilah exit light !!! (PLEASE !!! listen the voice to get your spirit)

Ada sih yang berseloroh bahwa hal ini bisa saja dilakukan dengan cara/strategy “sleeping with enemy”.

Cuma namanya juga sleeping ya tetap saja tidak sadar atau tidak menyadarkan diri. Jadi, …. kalau problem besar datang atau semua “barang-dagangan”nya sudah digondhol kucing garong ya biasanya beralasan “wah … saya nggak tahu!! soalnya tadi saya (ter)tidur. Coba tanya yang melek sono no no no…… !!!”.  KOPLAK tenan to ?

Ada juga yang  berpendapat kalau ingin mencetak sejarah (paling tidak supaya terlihat ada hasil kerjaan), caranya adalah (1) robohkan semua legacy bangunan yang telah ada sampai rata dengan tanah, (2) cuci otak semua manusia disekitar – khususnya generasi mudanya, (3) usir semua orang baik2 – tertama generasi pendahulu dan (4) bangun sesuatu meski hanya gundukan pasir yang disekelilingnya ditanami pepohonan atau ilalang. Kemudian (5) suarakanlah secara lantang kemana-mana  ”Hai BroSis, lihat nih !!! …. gua udah bikin lapangan golf. Hebat kan ?”. (6) jangan lupakan tim cheer untuk bertepuk tangan dan sorak sorai agar dunia melihatnya.

Manusia seperti ini lupa bahwa di Google, Facebook dan OTT lainnya, semua file sudah tersimpan. Apalagi di catatan malaikat ya ? KOPLAK juga kan ?

Kyai Mursyid : Sebaiknya orang seperti itu rajin bangun pagi.  Sering2 kunjungi orangtua dan makam para pahlawan. Ingat !!! Durian yang dimakan sekarang, adalah karena Tuhan mengirimkan manusia baik2 yang telah menanamnya. Tuhan menghadirkan anda melalui kehadiran bapak-ibu anda sebelumnya. Tuhan menghadirkan kepandaian untuk anda melalui guru2 dan orang2 baik yang mengajarakan dan menasehati anda dengan kebaikan2 ilmu.

Bukankah pernah mendengar kalimat ash sholatu khoirum minnan naum – berbuat yang baik dan benar itu lebih baik daripada bermalas-malasan/tidur. Juga kalimat Ya ayyuhal mudadzir !!! dst yang mengingatkan untuk manusia untuk tidak terlena, tidak terlelap dalam kenikmatan dunia. Karena manusia lain sudah melakukan hal yang terbaik secara benar sejak awal, sejak masih gelap, sejak manusia lain masih belum melek, sejak manusia lain belum “ngeh”, sejak belum datangnya waktu terang-benderang.

Itulah sekelumit share kali ini, yang mudah2an dapat menjadikan inspirasi positip bagi siapa saja yang memang berniyat memajukan INDONESIA melalui industri ini.

Wake up !!!  Dress U for (the next) Success !!!

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

PENTING

Mungkin bermanfaat, jika anda sudi membaca terkait “restrukturisasi industri telco”, salah satunya di alamat ini : http://www.academia.edu/4845196/Bisnis_Telekomunikasi_di_Indonesia_Prospek_dan_Tantangannya. Mudah2an menambah kelengkapan dan kehebatan anda dalam menata industri telco untuk kepentingan bangsa dan negara INDONESIA – bukan negara dan bangsa yang lain to ?.

Dalam sub title Restrukturisasi Industri Telekomunikasi di Indonesia (halaman 6-7), disorot bahwa saat itu ada permintaan IMF agar tentukan  Telkom or Indosat . Jika lihat peraturan terkait ( pp 5/1999 ) sepertinya memiliki konsideran yang bagus. Entah bagaimana kok menjadi seperti ini, andalah yang paham.

Salah satu konsideran pp 5/1999 – dimana pak Lambock V. Nahattands sebagai Sek Kabinet, pak Habibie sebagai Presidennya.   ”bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang dan atau jasa, dalam iklim usaha yang sehat, efektif, dan efisien sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya ekonomi pasar yang wajar;”

Scroll To Top