Sekilas Info
Home | Jalan-jalan | INNSBRUCK

INNSBRUCK

Suasana kota kecil Innsbruck enak sekali buat jalan-jalan, udara dingin ditimpa oleh kehangatan sinar matahari. Jadi terasa betul hangatnya sinar matahari, bukan panasnya matahari. Austria itu negri kecil yg terkenal keindahannya

insbruckIni satu bagian dari perjalanan 12 hari di Eropa, sebagai turis.. Hari ini dalam jadwal tertulis seharian akan diisi dengan perjalanan dari Italia ke Luzern – Swiss.  Rute alternatif yg dipilih adalah melalui negara Austria dulu, ke sebuah kota di kaki pegunungan Alpen yang indah, namanya Innsbruck. Rute  ini dikenal lebih indah daripada kalau langsung ke Luzern.

Karena rute yg diplih ini diluar paket yg dijadwalkan, maka  ada extra biaya  kesana akan ditangggung peserta, Roberto – sopir bule bus Wisata mematok harga  € 60 per orang. Rute ini akan melintasi 4 negara Eropa. 

Start dari Italia

Jam 8 pagi waktu setempat. Sarapan ( di Italia ), makan siang di Austria dan ashar di Listenstain, serta makan malam di Swiss. Woi . . keren juga jadwal ini.

Hotel Apogia Sirio – Via Circonvallazione, 109 – 30174 Venezia Mestre. Sarapan paginya lumayan enak. Ada kelompok jajaran berbagai jenis sereal dan ada sekelompok jajaran berbagai jenis roti dengan ada bubur telor, dan ….  yang paling membuat tergiur adalah ada smoke salmon

Usai sarapan, perjalanan pun dimulai. Arah perjalanan ini dari selatan ke utara. Pemandangan yang kami lihat masih sama dengan perjalanan kemarin-kemarin, ladang gandum yang luas berwarna coklat pramuka. Setelah melewati kota terakhir di Itali, namanya kota Brenero maka sebentar kemudian kami telah memasuki wilayah negara Austria. Namun aku cari-cari di peta nggak ada yang namanya Brenero, disitu tertulis kota Bressanone. Apakah Brenero dan Bressanone itu kota yang sama ? Entahlah.

On the Way : Italia ke Austria

Semakin ke utara mendekati wilayah Austria, suasana menjadi lebih dingin dan …. sepiiiii, namun pemandangannya memang indah yang luar biasa ini sepanjang berkilo-kilometer.  Di kiri depan tampak sebuah kastil kuno diatas gunung. Ketika aku zoom cameraku, tampaklah komplek bangunan kastil. Namanya juga kastil, ciri khas nya adalah banyak menara tinggi dan lancip. Kata pemandu wisata, kastil itu disewakan untuk umum. Pelanggannya banyak kalangan hi-class kaum berpunya dari negri Arab. Pastinya mahal !

Begitu memasuki wilayah Austria, pemandangan semakin indah, namun juga semakin dingin. Saat berhenti di autogrill, semua peserta yang dari negri tropis, tampak  nyethether  kedinginan dalam jaketnya.  Saking dinginnya,  air di toilet pun seperti es. Hiiii . . . dingin banget. Sebagai orang tropis,  aku tidak mengerti, mengapa di bulan Juli yang katanya puncak musim panas bisa sedingin ini ? Bagaimana jika musim dingin beneran ?

Bus berjalan lagi, pemandangan yang tampak semakin indah lagi. Aku lihat rumah-rumah yang khas, sepertinya dari kayu dengan desain yang sederhana.  Di setiap rumah selalu ada jendela, dilantai satu maupun dilantai dua. Yang membuatku ternganga adalah bunganya.  Disetiap jendela rumah-rumah tersebut semuanya penuh bunga bermekaran indah sekali.  ? Kemudian tour leader kami menjelaskan bahwa rumah-rumah disini bergaya Bavarian.

Sebagian penduduknya ada yang berbahasa Austria dan ada yang berbahasa Jerman, karena dibalik gunung itu sudah termasuk wilayah Jerman, yang biasa disebut Deutshland. Tentang bunga-bunga yang indah itu, disini pemerintah mewajibkan penduduknya untuk menghiasai semua jendela dengan bunga.

Menjelang memasuki kota Innsbruck, pemandangan mulai berubah. Jika tadi sepanjang kiri kanan jalan terdapat kebun-kebun  yang dibatasi oleh pegunungan tinggi dilatar belakangnya, maka sekarang tak lagi aku lihat kebun-kebun  itu. Yang ada adalah hamparan rumput berwarna hujau pupus seluas mata memandang, hamparan savana macam di cerita teletubis.  Rumput berwarna hijau pupus yang tingginya sama semua seperti habis dipangkas. Kan numbuhnya bareng-bareng, matinya bareng-bareng juga.

Di hamparan yang tampak rumput saja, terlihat juga ada beberapa sapi, tampak pula bergerombol-gerombol perumahan. Itukah pedesaan mereka ?

"pedesaan" di Austria, dekat Innsbruck

“pedesaan” di Austria, dekat Innsbruck

Pedesaan dengan udara yang begitu dingin, dengan padang rumput yang  amba wera-wera berwarna hijau muda, ijo pupus dengan latar belakang pegunungan yang menjulang tinggi memanjang yang ditumbuhi pohon-pohon sejenis cemara dipinggang gunung berwarna hijau gelap dan diatas tampak bebatuan gundul, pedesaan ini tampak olehku seperti lukisan di kalender saja. Begitu indah, begitu sejuk, begitu romantis, begitu sepi.

Menjelang memasuki kota, aku lihat sungai besar berwarna hijau. Ya, baru kali ini aku melihat ada sungai berwarna hijau. Benar-benar berwarna hijau gelap, airnya seperti juice kangkung atau juice bayam  yang buanyak sekali. Sungainya lebar, berkelok-kelok, dan airnya yang berwarna hijau mengalir sangat deras.  Kata Alex ini sungai Inns, sungai yang membelah kota ini sehingga  nama kotanya diberi nama yang sama dengan nama sungainya, yaitu INNSBRUCK.

Setelah melalui jembatan, tibalah kami di tengah kota. Bus berhenti di dekat perempatan jalan, semua penumpang cepat-cepat turun dan bus akan pergi mencari tempat parkir, karena disini nggak boleh berhenti  sembarangan.

INNSBRUCK

Suasana kotanya sama-sama romantis seperti kota Venezia, namun jika Venezia romantis  galak, di  Innsbruck ini romantis lembut.  

 

Cuaca Umum

Jika Venezia itu kota pantai,  maka Innsbruck ini kota gunung. Keduanya sama-sama romantis, mirip perbandingan Jakarta dengan Bandung, ya pasti beda.Atau seperti Surabaya dengan Malang,  ya pasti beda lah.

Suasana kota kecil Innsbruck enak sekali buat jalan-jalan, udara dingin ditimpa oleh kehangatan sinar matahari. Jadi terasa betul hangatnya sinar matahari, bukan panasnya matahari.  Suasana seperti ini pernah aku rasakan suasana seperti ini saat pergi haji di musim dingin, di Madinah di bulan Januari.  Udara sangat dingin, langit biru jernih dan matahari bersinar terang benderang.

Sudut kota Innsbruck

Kami berjalan beriringan menyusuri sudut-sudut kota, kurasakan suasana kota tempo dulu yang sangat asik, asri, resik dan rapi. Gedung-gedung menjulang tinggi setinggi antara tiga, empat dan lima lantai dengan bentuk yang  kuno. Kemegahan masa lampau. Suasana wisata sangat terasa di kota ini, ini memang kota wisata sih. Penduduknya hidup dari sektor wisata, seperti Bali.

Kami berjalan melewati gang-gang yang cukup lebar, namun tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Yang banyak berlalu-lalang ya para turis yang jalan kaki seperti kami,  dari berbagai  ras yang ada di dunia. Turis bule, turis Melayu dan juga Jepang maupun China. Aku terkagum-kagum dengan arsitekturtur  gedung-gedung ini. Hiasan atau ornamen gedungnya cantik-cantik,  artistik dan romantis, namun terasa kuno.

Souvenir

Kami menuju pabrik sekaligus toko kristal Swarozki. Itu loh, produsen kerajinan kristal yang terkenal keseluruh dunia itu. Kulihat sesuatu yg menarik dan tertera harganya € 120 atau setara dengan satu juta delapan ratus ribu rupiah lah.  Sebuah gelang banggle dan sepasang anting berbentuk empat persegi panjang, kulihat harga yang tertera dibawah harga liontin, nggak apa-apa kali ya jika aku beli sekalian. Total harga sekitar  dua ratus delapan puluh   Euro.

Nggak apa-apa lah, toh aku juga jarang beli perhiasan, anggap saja ini belanjaan piknik.  Disini untuk turis bebas pajak, jadi kami diberi tax refund yang harus kami mintakan stempel di tempat terakhir nanti kami keluar dari Eropa. Toko kristal ini sampai tiga lantai yang di jadikan ruang pajang. Makin keatas, yang dipajang makin mahal saja

Setelah itu, kami masuk toko souvenir yang banyak berada disitu. Yang kami lihat masih sama, banyak emblem, gantungan kunci dan kaos. Souvenir disini lebih mahal daripada di Roma, di Pisa maupun di Venezia.  Satu gantungan kunci yang berbentuk lambang bangsa Tyrol, suku bangsa asli di Innsbruck ini, seharga empat euro atau setara dengan 67 ribu rupiah. Lambang suku Tyrol berbentuk seekor burung jangkung, mirip lambang bangsa Jerman. Aku membeli bermacam-macam emblem suku-suku bangsa Austria yang terbuat dari kain, sebuah bros sederhana dengan tulisan innsbruck dibawah hiasan sebuah bunga yang sedang mekar berwarna putih dan seekor rusa yang sedang melompat diatasnya.

Situs Sejarah

Selain di sudut jalan yg lain, nampak bangunan yg relatip mencolok. Namanya  Golden Roof  Palace - istana raja Austria terakhir, yaitu raja Maximilian. Raja Maximilian  adalah ayah dari Maria Antoinete, itu loh istrinya raja Perancis Louis 16 yang sangat terkenal itu. Sejak umur 9 tahun, Maria Antoinete ini sudah dikirim oleh kedua orangtuanya ke Paris, untuk menjadi istri raja Perancis itu. Louis 16 dan istrinya terkenal sebagai raja dan ratu yang suka foya-foya, nggak peduli dengan rakyatnya yang kelaparan. Akhir hidupnya juga tragis.

Golden Roof atau Istana beratap emas ini cukup sederhana, memang besar sih, namun bentuknya lebih mirip gudang kuno di pelabuhan dengan ukuran yang besar.  Hanya lebih tinggi, bertingkat, lebih mewah dan banyak jendela dan pintu-pintu.  Yang sangat menarik adalah didepan setiap jendela nya ditanami bunga yang sedang bermekaran indah sekali.

Menurutku untuk disebut golden roof ya nggak terlalu tepat, karena atapnya atap biasa, sedangkan yang terbuat dari emas hanya sebagian kecil dari atap tersebut, yang letaknya persis diatas pintu utama.  Seperti kanopi, yang ada bagian dilapisi emas, dari jauhpun tampak gemerlapan. Jika aku memandangnya dari jauh, tampaklah sebuah gedung tinggi berbentuk gudang indah penuh bunga di setiap jendelanya, dan ada cahaya berkilauan dari sepetak atap emasnya dan . . . . di latar belakangnya tampak pegunungan Alpen yang berwarna biru gelap karena berbatu dan tampaklah lelehan saju yang berwarna putih. Seperti pemandangan di kalender saja. Sangat indah.

Kuliner

Melanjutkan menyusuri sudut-sudut kota, sampai di Moden Gatt,  ada semacam café kecil menjual piza, di pelataran depan cafe itu ada dua set meja makan kecil. Khas warung di daerah wisata.  Mungil, bersih dan indah. Kami duduk disitu dan memesan piza. Cerah sinar matahari, meski udaranya dingin, tetapi terkena paparan sinar matahari lama-lama ya panas juga. Gosong juga.

Penjualnya orang Turki, muslim, sehingga nggak khawatir dengan jenis dagingnya, pasti bukan daging babi. Piza Eropa tidak sama dengan piza Hut, lebih mirip Izzi seperti selama ini kita kenal di Indonesia.  Piza disini rotinya tipis dan agak keras. Taburan piza nya juga tidak seheboh Piza Hut, sangat sederhana. Keju mozarela nya juga nggak banyak, hanya sedikit atau ukur-ukur kata orang Jawa.  Rasanya lebih simple, cenderung tawar.  Dua plate piza dan dua botol minuman dingin dihargai € 25.

Dari lokasi kami duduk di café Turki itu, tampak diseberang jalan ada  Irish cafe, tampaknya milik orang Irlndia jika dilihat dari namanya.  Di seberang arah pandang, ada deretan pertokoan dan resto-cafe, tampaklah pegunungan Alpen yang menakjubkan.  Pegunungan tinggi memanjang memenuhi tampak belakang kota ini. Gundul, berbatu hitam abu-abu, dari puncaknya semburat  garis-garis putih memanjang kebawah, salju. Dibelakang gunung itu tampaklah langit luas berwarna biru cerah. Persis seperti foto-foto yang pernah kulihat di kalender.EB Innsbruck3

Banyak yang duduk ngobrol disitu. Kami juga coba beli  es krim, harga masih sama dengan di Itali, satu sekop € 2.  Jika satu cup itu diisi tiga macam rasa, artinya tiga sekop, ya   harganya € 6. Penampilan memang menggoda, namun belum ada yang ngalahin lezatnya gellato atau es krim  di Trevi Fountain - Italia. Memang disana itu terkenal dengan eskrimnya yang uenaaak.

Atraksi

Terlihat ada semacam boneka sebesar manusia berwarna keperakan. Ternyata itu adalah seniman sedang ngamen.   Akhirnya kami juga ngisi kenclengan itu dan ambil foto dengannya. Asik juga buat kenang-kenangan. Aku jadi teringat manusia yang berdandan seperti malaikat di depan gereja dekat Trefi Fountain, berarti orang itu juga sedang ngamen ya?

Perjalanan berikutnya adalah Innsbruck ke Swiss

Scroll To Top