Sekilas Info
Home | Inspirasi | MUKIDI

MUKIDI

Ada kegemparan, cak Mukidi dipukuli debt collector terkait hutang pernikahan putrinya…. kok bisa ya ?

moeslim weddingHonor Juru Nikah. Honor dalam kebiasaan di Anemia adalah imbalan finansiil (dari pemilik hajat) kepada kontributor. terkait dengan kontribusinya. Pekerjaan/kegiatannya biasanya bersifat temporer/adhoc, atau pekerjaan non-rutin. Bentuk kontribusi itu bisa apa saja : tenaga, gagasan, pengontrolan, pengamanan, dsb.  Honor itu juga semacam hadiah karena ada rasa syukur dari pihak yang meminta bantuan secara adhoc/tenporer (dari pemilik hajat).   Adapun, kegiatan yang ada honornya adalah, hal-hal yang diperbolehkan secara agama, undang-undang maupun kaidah ahlak mulia/budhi luhur. 

Juru Nikah adalah petugas(2) yang membantu orangtua mempelai dalam penyelenggaraan akad nikah sekaligus sebagai petugas negara untuk pencatat sipil terkait pernikahan yang berlangsung itu. Petugas negara memang sudah digaji. Layaknya petugas negara yang lain, jam kerjanya adalah hari2 kerja Anemia (Sabtu Minggu libur), kecuali hari2 libur nasional dan hari2 raya.   Standar pernikahan sebenarnya dilakukan di KLPN – kantor lembaga pernikahan negara ( di Indonesia adalah KUA ).   Sepertinya halnya mengurus paspor, maka sebenarnya proses pernikahan dan pencatatannya ada prosedurnya. Mulai dari pemberkasan dan pemeriksaan berkas, diproses secara antri.  Dst dst.

Kebanyakan penduduk Aneia,  tidak mengerti proses pernikahan dan pencatatan pernikahan. Mereka lebih mengenal secara “tradisi” melihat dari yang nampak dan dari sisi yang terlihat. Bukan dari proses yang semestinya, bahkan undang2 soal pernikahan Anemia ( di Indonesia UU Perkawinan ), sama sekali tak pernah dibaca. Yang diketahui dan seolah HARUS BISA adalah saya pengin menikahkan anak pada hari dan tanggal sekian.  Akad nikah di rumah pengantin putri dan pesta di suatu tempat. Kalau bisa harinya di jatuhkan di hari Sabtu atau Mingu atau hari2 raya/libur nasional. Alasannya agar para undangan tidak merasa dipersulit dan lebih memiliki waktu untuk hadir.  Nah …… disinilah mula bukanya timbul “permasalahan” pada para juru nikah yang boleh jadi tidak dipahami oleh pihak orangtua pengantin.

Biasanya rumah juru nikah itu sederhana dan lokasinya di pingggir kota. Jangan bayangkan ia punya Ferari atau Lamborgini sehingga permintaan bisa dipenuhi secara “tepat waktu”. Maksudnya waktu sebagaimana selera atau permintaan pihak yang akan menikahkan. Bagi juru nikah, menyelenggarakan pernikahan di kantor KLPN itu lebih memudahkan dan itu adalah standar negara. Namun kalau tidak dipenuhi, bisa2 ada nikah yang batal atau urung terselenggara.  Sebagai orang paham agama, juru nikah tentu tidak ingin dirinya menjadi penyebabnya. Namun mau terus terang “mohon ada uang pengganti transport dll” kok ya sungkan.  Bayangkan di Anemia hampir bisa dipastikan, setiap hari Sabtu Minggu atau hari libur/hari raya, di bulan2 yang menurut hitungan OK, para juru nikah itu harus mengorbankan waktu liburnya, meninggalkan rumah memenuhi permintaan diluar standar hari kerja.

character assasinationAgak aneh, ada sebagian orang entah apa motivnya, lha kok juru nikah diancam menerima sogokan dari pengorbanannya untuk melayani selera penduduk. Lebih heran lagi, karena yang memperkarakan juru nikah dengan tuduhan sogokan itu dari oarang yang menurut penduduk setempat dipandang sebagai tokoh masyarakat. Lewbih mengherankannya lagi, “sang tokoh” ini sedang mencari jalan untuk menjadi calon wakil penduduk di Dewan Perwakilan Penduduk (DPP) suatu Distrik, di Anemia. Memang, di Anemia akhir2 ini, sogokan memang sedang marak diberantas oleh Komisi Pemberantas Penjarahan Uang Negara Anemia.  Ada yang menduga isu sogokan adalah untuk mendongkrak namanya agar terkenal sekaligus terlihat “suci bin alm”, meski dalemannya jahiliyah.

Rasanya jika penduduk paham, maka tentulah akan menjad terasa aneh mengikuti dan mendorong untuk memperkarakan hal ini. Tak heran jika ada gejolak dari para petugas juru nikah untuk meminta agar pernikahan dan pencatatannya dilakukan di kantor KLPN pada hari2 kerja di jam2 kerja saja.

Meski suasana agak memanas, untungnya cak Mukidi tidak terprovokasi. Ia dulu dikenal amat sangat keranjingan nonton life music di kafe ( cafe apa saja, sampai cafe dangdutan pun dijabani). Ia  paham benar kalau siapa saja (termasuk dirinya ) akan sukarela keluar duit extra untuk bayar/memberi tips kepada penyanyi jika perform OK.  Bahkan saat masih kerasukan jaman “jahiliyah”, ia dkk suka memanggil group yang sudah punya jadwal tetap di cafe, untuk tampil secara private di tempat dan waktu yang ia tentukan.

Meski bayaran sebagai pemusik ada dari cafe dimana group ini menjadi “home band”-nya, namun ia tahu bahwa karena waktu dan lokasi yang sakarepe wudele dewe mereka tentukan, maka ia dan rekan2nya paham bahwa ada keperluan uang pengganti transport dll.  Ini bukan sogokan, kebetulan bukan pegawai negara.  Entahlah kalau cafe itu sebuah perusahaan bonafide yang punya aturan jelas,  apakah cara seperti ini boleh atau tidak. Dari sini, cak Wakidi akhirnya sadar.

Isterinya menasehatinya “mosok soal biasa, kok dibesar2kan.  Sampeyan nggak ingat jaman jahiliyah to mas ? saat suka kasih tips di kafe2. Kalau yang milyaran atau trilyunan itu baru memang besar. Lagi pula ini soal menjalankan perintah agama, bukan soal maksiat, bukan dilandasi keserakahan atau gila harta. Ini kalau di Jawa namanya tepo sliro. Kalau pihak yang mengundang untuk menikahkan dari kalangan yang nggak mampu, ya nggak usah ngasih sebesar yang mampu.  Saya setuju kalau ada juru nikah yang memasang tarif disebut tidak etis, boleh dilaporkan ke atasannya. Kalau ada yang nggak ikhlas ngasih honor ya nggak usah ngasih, meski itu kebengetan, sepertinya nggak adil pada diri sendiri. Gitu aja kok repot Mas. Saya juga setuju kalau memang dikehendaki, maka masyarakat Anemia lebih baik nikahnya di hari kerja pada jam kerja di kantor lembaga pernikanan negara Anemia. Ya tentu harus ndaftar dul pakai antrian segala.”

partyPengalaman Dipukuli “Debt Collector”. Pesta atau party atau walimah atau serupa itu, tidak dilarang, itu boleh2 saja. Yang diajarkan adalah dahulukan/prioritaskan yang wajib untuk dikerjakan dengan sungguh2 agar semuanya berjalan lancar dan penuh berkah. Setelah itu, maka jika masih ada “energy” dan dipandang secara kemasyarakat itu perlu, ya silakan saja. Case menarik di Anemia : cak Mukidi di negri Anemia, akan menikahkan putrinya. Karena lingkungan dan “jaman”nya telah “memaksa” demikian ( lifestyle), maka cak Mukidi dan keluarga besarnya wajib membuat pesta pernikahan semeriah mungkin. Alasannya, menikah (diharapkan) hanya sekali seumur hidup sehingga nggak masalah kalau keluar biaya banyak. Bahkan masyarakat di seputar cak Mukidi menganggap wajar pendapat seperti ni : kalau perlu ngutang atau kredit ke rentenir pun dijalankan untuk menjalankan “kewajiban” berpesta itu.

Pihak WO (Wedding Organizer) pun digunakan. Namanya juga WO, maka proposal diajukan sehebat mungkin memenuhi semua keinginan sang pemilik hajat. Kalau perlu konsepnya adalah beyond expectationRun down pun disusun : akad nikah hari Sabtu pagi di rumah cak Mukidi atau di masjid terkenal di kota cak Mukidi tinggal. Siangnya pesta di gedung khusus atau di aula masjid itu.  Dan …. hampir serempak keluarga besar setuju, termasuk cak Mukidi pun setuju2 saja.  Rincian biaya WO diberikan, dan disetujui, meski nggak dibaca dg cermat.  DP ( uang muka) untuk WO pun diberikan tanpa banyak protes, mungkin konsepnya membuat semua anggota keluarga cak Mukidi terkesima. Tibalah hari yang ditetapkan, penghulu dan staf selaku juru nikah sudah datang dan acara WAJIB pun dilangsungkan dengan lancar. Begitu pun acara pesta berlangsung dengan sukses. Dan … akhirnya, semuanya happy !!!

debt collectorSeusai pesta selesai, salah satu staf WO menyampaikan tagihan atas kekurangan biaya penyelenggaraan pesta itu. Tiba2 cak Mukidi naik pitam – entah apa sebabnya.  Namun nampak henponnya berdering dari seseorang yang sepertinya dikenali betul oleh cak Mukidi. Karena sebelumnya sudah SMS yang isinya sekedar mengingatkan bahwa satu bulan usai pesta, ingat jadwal pelunasan beserta bunga pinjaman, plus plus sedikit pressure.

Seolah tiba2 ia marah2, alamat yang paling “empuk” adalah ke isterinya. Topiknya ” gara2 telah memberikan uang 300 dinnar ke juru nikah sebagai hadiah/honor”. Isteri cak Mukidi paham bahwa kebanyakan masyarakat, urusan transport juru nikah sering disepelekan, sebagian menganggap pesta itu yang utama dan juru nikah seolah hanya pelengkap penderita saja. Padahal justru akad nikah itu yang WAJIB, sementara pesta itu boleh dilakukan sepanjang yang WAJIB beres.

Tidak sedang membela juru nikah, terlebih jika bener2 ada yang memasang tarif hebat bin tidak peduli kondisi keuangan yang nikah, namun lebih mengajak untuk menempatkan segala sesuatu secara adil, adil secara akal sehat, adil secara kewajaran umum, adil secara bathin, bahkan secara egois pun seharusnya adil.

Sebagai perbandingan. Secara kalkulasi,  300 dinnar itu hanya sekitar seperseribu biaya pesta sebagaimana kalau mau secara teliti membaca proposal WO, juga hanya sekitar 1% dari Biaya Tak Terduga dalam rincian dari WO. dan … dalam rincian WO, terdapat honor penyanyi dan pemain organ/piano yang besarnya bisa sampai 5-10 kali lipat.   Ini terlepas berapa jauh jarak yang ditempuh oleh masing2 pihak, juga tidak memperhatikan (sementara) mana yang wajib mana yang silakan boleh berpesta kalau ada uang.  Karena ca Mukidi merancang pesta, dan suka rela membayar Biaya Takterduga, honor penyanyi, honor pemain piano atau honor dangdutan,  dsb.

Kalau memang tidak peduli dan tidak mau memberikan honor, maka sebaiknya mengikuti konsekuensi dari atauran yang ada di Anemia terkait pernikahan. Di Anemia, kantor imigrasi membuka pelayanan ngurus parsport pada hari kerja, hari sabtu minggu dan hari libur tutu. Ngurusnya wajib datang ke kantor imigrasi. Harus sedia antri sebagaimana lazimnya di urusan ini. Di Anemia, kantor kelurahan dan kecamatan membuka layanan ngurus sertifikat tanah juga pada hari kerja, Sabtu Minggu dan Hari Libur, tutup.  Ngurusnya wajib datang ke kantor kelurahan lalu kecamatan lalu kantor Agraria ( di Indonesia mungkin disebut kantor pertanahan). Wajib antri. Bahkan secara egois pun juga demikian. Misal : sebagaimana saat berencana mengadakan pesta melalui WO, menurut keluarga besar cak Mukidi, karena soal nikah itu (diharapkan) hanya sekali seumur hidup.

Kyai Mursyid menyampaikan bahwa hal seperti itu bisa teradi pada siapa saja, bukan hanya cak Mukidi.  Asal muasalnya itu bukan soal pemukulan atas hutang yang tidak ditepati janji pelunasannya. Dari segi pilihan hidup, itu lebih kepada bahwa jenis manusia ini lebih memilih penghambaan pada ambisi. Pemukulan hanya akibat atau tepatnya konsekuensi cara hidup yang dipilihnya.  ”coba sampeyan punya uang seharga mobil sedan baru klas menengah atas, lalu dipinjam. Pada saatnya pengembalian, pengutang hanya berjanji. Satu kali duakali masih ada rasa malu, lama2 si pengutang frustrasi sampai keluar makian pada petugas yang menagih utang, dan … akhirnya malah sulit ditemui alias minggat. Kalau sampeyan yang menjadi peminjam uang bagamana ? getem2 kan ?.  Saya lebih menyarankan hidup selamat selamat dunia akhirat, ketimbang hidup ketimpringan berujung penyok dan soal hutang itu dibawa mati. Jadi bukan sekedar urusan dunia, bukan penyok2 di dunia, tapi bisa kebawa ke akhirat.”

Saran saja : sebaiknya tanyalah pada bathin diri sebelum protes ke publik terkait adanya “tradisi” memberi honor kepada juru nikah.  Itu sama saja memalukan dan membuka tabir kebodohan dan kepicikan sendiri.

Ya Emanbegitu.

 

Scroll To Top