Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | KARTU REMI KAMPANYE POLITIK

KARTU REMI KAMPANYE POLITIK

Semua program “keadilan” dilakukan dengan cara pemakaian kartu dan indikator utamanya adalah surat keterangan miskin. Itulah cara berpikir sebagian Elit di negri Anemia yang bisa menjadi benchmark. Kalau di Indonesia, Anda lebih paham ……………. Monggo !.

Pekokdropcap]T[/dropcap]IDAK ADA KEINGINAN UNTUK MISKIN.  Jika diadakan survey dari lembaga ano-ano atau BPS sekalipun tentang pertanyaan “apakah Anda ingin menjadi miskin ?”, maka boleh jadi nyaris di atas 90% mengatakan TIDAK !.

Angka penduduk di bawah garis kemiskinan rata2 di negri Anemia pada tahun 2010, menurut lembaga resmi negara Anemia sekitar 30%

Bagi orang tertentu di negri Anemia  ( yang berpikiran koplak ) akan dilihatnya sebagai “jembatas emas” menuju kekuasaan.

Bagaimana merakit jembatan itu ?

Googling keluhan2 orang2 miskin di negri Anemia selama 5 tahun teakhir. Lakukan segemntasi kebutuhan dasar dan yang menggunakan anggaran negara.

Ketemulah : sejumlah list tentang keluhan kesehatan, keluhan pendidikan, keluhan administratur negri Anemia, dan berbagai keluhan terkait dengan pelayanan kepada rakyat miskin.

Dari situ, dipikirkan ramuan jitu untuk mencari simpati dari kaum miskin.

Maka potensi vote terdata 30% suara bakal kepegang.

Pinter kan ?

stupid 2Kaum Miskin itu Pengin Apa.  Mirip dengan cara di atas, kali ini ditambah dengan survey langsung ke lapangan. Tujuan survey adalah untuk mengenali “apa sih yang diinginkan kaum miskin ?”

Data menunjukan sinyal menarik untuk dibikin jembatan emas yakni : (1) kebanyakan kaum miskin di negri Anemia itu memang malas; (2) kebanyakan kaum miskin di negri Anemia itu  bodoh; (3) kebanyakan kaum miskin di negri Anemia itu suka ngiri.

Hasil ini dilakukan benchmarkin dengan hal serupa di berbagai negri, Bahkan dilakukan juga crosscheck ke para pemuka agama2 besar di negri Anemia serta negri2 lain.

Dari sini diperoleh data dan juga list to do yang akan dibranding sebagai solusi kemiskinan (tepatnya solusi untuk orang miskin).

Canggih kan ?

sim-salabimRamuan Jitu untuk Kaum Miskin.  Inti dasarnya ”pertahankan angka kemiskinan itu”. Program dibuat sedemikian rupa agar kaum miskin senang dengan pembuat program koplak sekaligus melupakan hal-hal yang membuatnya masuk dalam alam kemiskinan.

Dari data google terkait protes pendidikan, maka perlu dibuat program jitu yang : Memberi akses cepat bagi kaum miskin di negri Anemia untuk menjabarkan keinginannya agar setara dengan kaum the have.

Contoh : sekolah negri favorit yang sudah berpuluh tahun mengembangkan sistem dan kultur terbaiknya, bisa dimasuki oleh anak yang bodoh dan tidak berprestasi serta urakan, ASAL MISKIN.

Bukan tidak mustahil ( jika ada sisa satu bangku )  ada anak pinter dan berprestasi (dari kalangan satu baris diatas garis kemiskinan) terpental tidak bisa masuk gara2 ada anak alay bin bengal ingin masuk dan membawa kartu miskin.

Program ini akan dibundling dengan program lainnya, yang kelak menjadi sihir bagi 30% potensi vote sekaligus mesin perusak sistem yang baik (lama) dengan sistem entah berantah (baru) .

Pembundlingan dikomunikasikan secara sedemikian rupa sehingga langsung membuat 30% warga Anemia (kaum miskin) jingkrak2 kegirangan sekaligus menjadikan mereka sebagai benteng sukarela bagi pemikiran yang berbeda.

Pinter to ?

(pinter ngapusi)

BrainwashSukses. Dengan program ini, kaum miskin sudah bisa menikmati layanan2 secara sama rata sama rasa negri Anemia yang sebelumnya hanya menjadi MIMPI-nya.

Dengan program ini, kaum miskin akan lupa untuk menaikan kemampuan diri beranjak naik kelas dan hidup lebih produktip.

Dengan program ini, kaum miskin akan kecanduan sehingga bisa dimainkan secara suka-suka.

Dengan program ini, kaum miskin existing (petahana) akan comfort dan stay di posisinya dengan tenang (artinya porsinya ya sekitar 30%).

Semua ini agar ke depan, potensi vote ini tetap dipegang.

Ketika ada pertanyaan cerdas pun sudah disiapkan jawaban cerdas.

Pertanyaan apapun sinisnya, jawabannya adalah  : “emang gue pikirin pegimane mereka keluar dari kemiskinan ? gue udah bikinin program khusus yang banyak untuk mereka,   miskin itu salah mereka? emang salah apa gue ?”

Hebat nggak ?

Bingung 2Strategi Implementasi.  Intinya adalah “perbanyak kaum miskin” melalui teori bola salju. Jika program di atas berhasil, maka sebagian rakyat Anemia yang berada di atas garis kemiskinan akan terjepit dan frustrasi.

Mereka yang semula berhasil melompati garis dengan berjualan atau menabung, ada yang sebagian kepincut ikut2an mengikuti program khusus kaum miskin di negri Anemia yakni melalui kartu Remi ( Rakyat Ekoniminya Miskin ).

Dengan berbagai cara, dan terkesan pihak elit dan sebagian administratur negri Anemia tutupmata, kaum “perbatasan miskin” yang nyoba2 pakai kartu remi itu menjadi ketagihan dan benar2 menjadi miskin karena menjadi malas dan bodoh.

Program “ekspansi kemiskinan” ini tidak menggunakan anggaran negara Anemia secuilpun.

Cukup menggencarkan manfaat kartu remi dan cara memperoleh kartu remi itu. Dan kegiatan ini bisa ditopang oleh program yang bertajuk “sosialisasi kartu remi”.

Bentuknya spanduk, sampai tayangan televisi.

Mumet ora ?

186630_anak-indonesia_663_382Kesadaran Asli. Sebagian kaum terdidik yang asli cinta negri Anemia, sudah mulai meneliti keterkaitan antar program2 khusus untuk kaum miskin yang dibuat “tangan jahil” di negri Anemia.

Indikasinya adalah : tidak ada niayatan untuk meningkatkan harkat dan derajat dari mereka yang masuk kategori berada di bawah garis kemiskinan

Hal ini ditunjang dengan fakta bahwa :

-  Banyak migran masuk Anemia dan menyerobot lapangan kerja penduduk Anemia (dengan berbagai alasa logis).

-  Dalam kurun waktu pengamatan, tidak ada upaya serius membuka lapangan kerja

- Impor bahan kebituhan dasar penduduk Anemia semakin besar (dengan berbagai alasan logis).

- Tidak ada program serius untuk memberdayakan produk dalam negri Anemia (dengan berbagai alasan logis)

- Tidak ada program serius untuk meningkatkan kesejahteraan petani/peternak/pengrajin kecil Anemia (karena ini akan menggerus potensi vote 30% dan bertentangan dengan visi dasar “pertahankan angka kemiskinan”)

Hal yang positip sekaligus menjadi sihir bagi sebagian besar rakyat Anemia adalah pembangunan secara tangible amat gencar.

Dalam waktu singkat, penampilan Anemia sudah mirip negri2 maju dan bahkan sebagian secara penampilan sudah melebihinya. Rakyat miskin sudah memiliki kartu e-money yang tinggal minta ke pemerintah (termasuk isinya).

Pejabat koplak negri Anemia malah mengkampanyekan program kartu ini dengan penjelasan hebatnya “Asal mau menjadi miskin, maka gude kasih lu kartu remi. Gamoang to ? Adil to ? emang salah apa gue?”

Keren to?

pancasila 2Harapan.  Kita beruntung hidup di INDONESIA yang tidak dikelola model konsep negri Anemia, negri yang amat jelas bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa itu kewajiban negara (kewajiban pemerintah).

Indonesia memliki pondasi yang juga jelas, seperti kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Mudah2an saja para elit politik Indonesia sudah menjadi negarawan yang mampu mengambil hikmah dari semua peristiwa dan kejadian didalam perjalanan berbangsa ini.

Untuk secara bijaksana membuat program yang BENAR2 untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sedia bermusyawarah dalam berbagai hal untuk kembaikan dan kemakmuran rakyat Indonesia ( bukan mempertahankan angka kesmikinan dan membiarkan malas dan bodoh)

Para elit (legeslatip, eksekutip dan yudikatip) sudah BENAR2 menjadi wakil rakyat untuk memusyawarahkan program2 yang berketuhanan yang mahaesa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, dalam kerangka persatuan Indonesia.

Bukan menjadi provokator dan pemicu SARA, bukan menjadi petugas tebang pilih dalam menegakan keadilan dan hukum, bukan membiarkan rakyat biasa (yang bukan maling uang negara) difitnah dan disudutkan atau ditindas oleh aparat negara akibat fitnah itu.

Kalau ada rakyat yang bodoh, itu ya tugas negara untuk meminterkannya.

Kalau ada rakyat yang miskin, itu tugas negara untuk mendidik produktip.

Kalau ada pelayanan publik yang banyak pungli, itu tugas negara untuk membereskannya.

Kalau ada pejabat yang mencuri uang negara dengan berbagai dalih, itu ya tugas negara untuk menghukumnya.

Dan sebagainya

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu. 

 

 

Scroll To Top