Sekilas Info
Home | Inspirasi | KEDAULATAN INDONESIA {PANGAN : KULINER}

KEDAULATAN INDONESIA {PANGAN : KULINER}

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ada yang lebih menekankan sebagai Pasar bebas ASEAN (PBA) tinggal sebentar lagi. Ciri2nya antara lain, komunikasi antar elemen (diperkirakan) akan menggunakan bahasa Inggris. Diantara negara yang penduduk dan pemimpinnya sudah lebih mengenal bahasa Inggris adalah mereka yang pernah dijajah Inggris……. So ? be prepared !!!  

Harus Bilang WOUW Gitu ?.  Jika kita simak tayangan di film ini ( mohon simak  Box Film terkait), maka ini (MEA or PBA) adalah kebebasan menjelajah secara fisik lintas negara.

Bagi penduduk di negara kecil yg jarak tempuh ujung ke ujung dengan mobil hanya sekitar 2 jam perjalanan (misal sekecil kabupaten Sukabumi), maka situasi “kebebasan” ini akan dirasakannya sebagai WOUW !!!.

Namun bagi kebanyakan bangsa Indonesia, “kebebasan” menjelajah sebentangan 3 time band alias 1/8 keliling dunia, bukan sesuatu yang hebat-hebat amat. Itu suatu kewajaran sebagai bangsa dan negri yang besar.

(di film itu ada juga visual tentang kebutuhan komunikasi yang equal dan merata di seluruh MEA. Dan ….. itu akan sangat memungkinkan jika menggunakan satelit )

KEBERANIAN JELAJAH UMUMKeberanian Jelajah Bangsa Indonesia. Saat bertugas di Jayapura – Papua (dulu disebut propinsi Irian Jaya ), selama nyaris 3 tahun ( ’89 s/d ’92) dan Allah memberikan kesempatan untuk mengunjungi hampir semua kota kabupaten (saat itu), termasuk ke kota Merauke; Begitupun saat bertugas ke Banda Aceh ( 2000-an),  ternyata bangsa ini memang luar biasa hebatnya.

Saudara kita dari Batak, dari Madura, dari Bugis dan berbagai suku lainnya, telah lama berbaur dan tinggal bersama puluhan suku setempat.  Bahkan orang Sunda yang dikenal lebih suka tinggal di tanah leluhurnya – tanah parahyangan, juga dijumpai ada yang sudah berkelana sampai di berbagai lokasi di seluruh Indonesia dan menjadi mukimin (penduduk setempat).

Andai kita bandingkan, keberanian jelajah bangsa Indonesia adalah nyaris sama dengan jelajahnya orang Mumbai (India) ke Jakarta (INDONESIA).  Jadi bentangan MEA/PBA adalah nyaris sama dengan bentangan INDONESIA. So ????

Dalam konteks keberanian jelajah, maka bangsa Indonesia (mudah-mudahan) jauh lebih siap.

tki tkwJelajah Tenaga Ahli Indonesia dan TKI/TKW. Salah satu gagasan dalam MEA adalah tenaga kerja antar negara bisa dengan leluasa mengisi kebutuhan skill di wilayah MEA, begitu pun produk dari suatu negara dapat leluasa dipasarkan ke negara PBA.

Untuk urusan tenaga kerja, maka masyarakat Indonesia dari level sosial yang memiliki skill &knowledge  ekstrim rendah dan ekstrim tinggi, justru sudah terbiasa.

Jelajahnya malah sudah jauh lebih luas dari sekedar MEA, tapi sampai lintas jazirah. Untuk level rendah,  contohnya adalah TKW dan TKI (Ini bukan hal yang buruk, terutama jika dikelola dengan baik).

Sementara level ekstrim tinggi, menjadi ilmuwan, dosen, peneliti dan berbagai profesi kepakaran/kreatip lainnya seperti artis, pembuat animasi, dsb.

Serbuan Produk. Nah……. untuk urusan Pasar Bebas, nah … ini yang mungkin perlu dicermati sekaligus dipersiapkan baik-baik. Sebab, selain akan dilirik sebagai “big market”, juga dilirik sebagai “lahan bersama”, terutama jika berbagai hal terkait aspek legal tidak disiapkan benar.

save-kpkJika KPK hanya menyorot KKN secara tradisional, maka kerumitan Pasar Bebas menjadi “makanan” empuk untuk upeti dan sejenisnya, apalagi (misal) sebagian oknumnya mampu digoda untuk ikutan politik, sehingga rasa keadilan terkontaminasi dengan kepentingan asing bersalutkan HAM.

Pada era ini, “korupsi tradisionil ”  juga berkembang ke “new sector” yang terkait MEA dan boleh jadi berkedok HAM, padahal dibalik semua itu adalah menjual aset atau minimal legacy dari generasi pendahulu bangsa dan negara ini.

Tanpa persiapan yang cermat,  maka serupa dengan sedang mempersiapkan untuk diserbu atau tahu-tahu banyak legacy yang sudah “digondhol kucing garong” dan berganti pemilik.

Disini, kebutuhan untuk garda depan menjaga kedaulatan Indonesia adalah juga memanggil kaum oposisi yang cinta negri.

Ini agak ruwet tapi harus dicermati, agar salah satu tujuan MEA  (prosperity) bukan hanya menghasilkan peningkatan kemakmuran dan memakmurkan bangsa dari negri lain.

Jangan sampai terjadi kebijakan yang secara tak disadari justru berakibat  kekayaan budaya dan berbagai warisan generasi terdahulu atasnama MEA terjual atau justru untuk kemakmuran dan memakmurkan negri lain.

Mohonnnnn pak Presiden dan pak Wakil Presiden mencermati dan mengawasi benar2 ( bukankah janji2 pemilu dan pilpres sudah terrekam di server dan hardisk banyak orang ?).

Legacy Generasi Pendahulu untuk Kesejahteraan Bangsa Indonesia ( Bukan bangsa lain, dengan dalih atau alasan apapun, terlebih alasan yang asal-asalan heheheh… ).

http://weheartit.com/tag/indonesian%20heritage

http://weheartit.com/tag/indonesian%20heritage

Betapa hebatnya legacy dari generasi pendahulu, silakan simak sekelumit manfaat dan efeknya. Beberapa diantaranya  adalah produk dan model kuliner, produk dan model busana/fashion, produk dan model musik, dsb.

Mohon juga diawasi media2 yang terkadang digunakan pihak tertentu untuk tujuan tertentu yang tanpa disadari akhirnya “makanan kita digondhol kucing garong”, rakyat bangsa dan negara tinggal gigit jari, dan …… pensiunan pejabat tinggal menyesali dan siap2 menerima akibatnya (di alam baka).

Sebagai awalan dan terkait dengan janji pilpres adalah kedaulatan INDONESIA serta dalam rangka memperingati hari bersejarah INDONESIA (bukan negri lain) = Hari Kemerdekaan Republik INDONESIA, adalah Kedaulatan Indonesia.

Intinya, KEDAULATAN Indonesia menjadi ruh kebijakan yang akan diambil termasuk dalam kaitan dengan MEA.  Tujuan kemakmuran bersama (dalam MEA) itu TIDAK SAMA dengan membuat kebijakan “memeras tebu” (oleh kebijakan yang dibuat orang2 yang sok pinter dan sok nasionalis), sehingga jangan sampai ada kebijakan yang  bangsa lain justru mendapat bagian gulanya, sementara bangsa sendiri malah diberi bagian sepahnya. 

Opisisi perannya amat penting dalam era transisi menuju MEA/PBA, agar tujuan menjaga KEDAULATAN bangsa dan negara INDONESIA terjaga. Terjaga  dengan sebenar-benarnya, menghadirkan kemanfaatan sebesar-besarnya, bagi sebanyak-banyaknya rakyat INDONESIA (bukan rakyat negri lain).

Pembahasan ini TIDAK ILMIAH,  mudah2an saja bisa menginspirasi keBAIKan dan keMULIAan bagi INDONESIA.

Nusantara pernah mengalami bagaimana negri ini sempat dibuat porak poranda, dan bagaimana manusia2 yang ASLI cinta INDONESIA mengembalikan KEDAULATAN itu.

Bung Karno berpesan Jasmerah.  Bung Karno mewanti-wanti untuk waspada dengan penjajahan jenis baru.

http://istikomah85.wordpress.com/masa-kolonial/kolonisasi-voc/

http://istikomah85.wordpress.com/masa-kolonial/kolonisasi-voc/

Kemerdekaan Sejati.  Saat Belanda dengan VoC-nya (saat itu yang paling dicari VoC adalah rempah2, garam, gula, tembakau, kulit binatang) datang mencabik2 nusantara. Bersyukur, para pemimpin daerah2 se-nusantara yang hanya berbekal “komando budaya”, mampu  mensiasatinya dengan cara membangun cell-cell otoritas untuk melindungi rakyat dan kekayaan alam (bahasa penjajah dalam ketoprak sering diungkap “en kowe inlander ekstrimis ya ?”.  Ekstrimis inlader adalah sebutan penjajah terhadap siapa saja yang berjuang untuk kedaulatan negrinya – tentu saja dalam view penjajah sebagai menentang pihak penjajah)).

Ada otoritas yang berbentuk Kesultanan ada yang berbentuk Kerajaan.  ”Ruh ke-nusantara-an”  antar kesultanan/kerajaan adalah nyiur melambai dan bhineka tunggal ika, dimana ada pohon kelapa  disitulah saudara kita, dan dengan kesadaran bahwa kita memang berbeda2 namun kita adalah nusantara yang satu.

Bagaimana pun dan harus diakui bahwa peralatan komunikasi, sistem ekonomi, sistem manajemen sampai sistem persenjataan Belanda (VoC), jauh lebih berteknologi ketimbang : keris, badik, kujang, clurit, parang, rencong, panah, dan berbagai senjata tajam lainnya, apalagi dibanding dengan bambu runcing yang semacam menjadi andalan rakyat se-nusantara.

Sumpah PemudaBelanda dengan berbagai siasat : devide et impera, adu domba, provokasi & mitos ( suku ini suka makan orang, suku itu kejam, dsb), membangun cerita2 mistis (agar rakyat takut melaut, karena laut adalah menjadi “penyekat” alami bangunan nusantara ), sampai upaya atau siasat membangun kesan bahwa seorang tokoh yang melawan pasukan VoC lantaran  inlander itu ekstrimis, dan berbagai cara membangun persepsi agar rakyat atau penduduk pribumi tidak sudi ikutan pergerakan.

Beruntung ada semacam konsensus para Sultan dan Raja se-nusantara di tahun 1700-an, beruntung juga ada perlawanan sporadis a la gerilya, ada perkumpulan Boedi Oetomo, ada Soempah Pemoeda, sampai ada perlawanan bersenjata dengan strategy perang yang dipimpin Soedirman, dan akhirnya menghantarkan INDONESIA ke pintu gerbang kemerdekaan sejati. (nah ….. ini tugas generasi penerus untuk mewujudkan kemerdekaan sejati    )

Tugas generasi penerus (pemimpin bangsa) adalah mewujudkan KEMERDEKAAN SEJATI, bukan berlama-lama berada di pintu gerbang kemerdekaan ….. ya apa ya ?

Bung Karno berpesan Jasmerah.  Bung Karno mewanti-wanti untuk waspada dengan penjajahan jenis baru.

Don’Worry Be Happy di KULINER.   Disamping perjuangan mengembalikan kedaulatan Nusantara dan mewujudkan Kemerdekaan Indonesia, secara tidak disadari, terdapat “perjuangan” dalam bentuk lain oleh rakyat, yakni kuliner, musik khas dan pakaian adat.

Jaman dulu, mungkin hal ini (kuliner, musik, fashion) belum dirasakan sebagai alat “perjuangan”, namun sekarang sudah nampak bahwa selain identitas bangsa, karya bangsa, juga merupakan “alat perjuangan”.

Contoh :

  • bidang kuliner ada kekuatan RM Padang dkk, ada “serbuan” Waralaba Asing,
  • bidang musik ada Gamelan Jawa, Bali, Degung, Kolintang, dkk, ada “serbuan” western music, K-Pop, dsb
  • bidang fashion ada batik, songket, baju koko, hijab, dkk, ada “serbuan” fashion dari western

disebut “serbuan” karena gerakannya merasuk sampai ke berbagai pelosok negri, menggunakan media dan opinion maker, berdampak “mematikan” pihak yang secara opini “kalah” (terlepas akhirnya disadari bahwa yang “kalah” ternyata lebih sehat, lebih baik, dsb). Jangan sampai, sudah “kalah” justru “heritage” tadi (kuliner, music, fashion) justru diperlakukan bagai “pampasan perang” menjadi milik negri lain.

Kuliner Nusantara terbukti memiliki keunggulan.

Konon, para opsir kumpeni dan keluarganya (jaman sebelum kemerdekaan) sampai para turis dan ekspatriat yang sempat bermukim lama di Indonesia di jaman sekarang, “ditaklukan” citarasanya dan menyadari bahwa tidak ada makanan yang lebih enak, lebih sehat, lebih fresh,  ketimbang makanan di nusantara/Indonesia  .

Salah satu keluarga opsir kumpeni  (yang sempat membuat lagu) saat mengunjungi negrinya sendiri “terkesima”, bukan saja makanannya yang hambar dan dingin, namun cuaca dan sistem sosialnya juga serupa itu. Sampai-sampai membandingkannya bahwa di sana ternyata tidak ada makanan yang enak seperti lemper, sate, sambal terasi, gula jawa, kue lapis, onde-onde, serundeng, kerupuk dan nasi goreng.

Banyak ekspatriat asli Eropah yang bertugas di Indonesia lebih dari 5 tahun, pun menyatakan dengan jujur kalau semua yang ada di Indonesia itu enak, lezat, dan sehat serta fresh !!!.

Jono (selebriti asal Inggris yang menetap di Indonesia ) juga mengaku perutnya kurang enak (seperti masuk angin) kalau sehari nggak ketemu nasi.  Dan masih banyak lagi.

Bahkan sebagaimana diketahui banyak orang, Obama – Presiden AS juga terkenang dengan nasi goreng dan sate, makanan yang dikenalinya saat sekolah di Jakarta.

So ???   kalau ada yang masih suka menghina INDONESIA, jamulah dengan kuliner asli saat berkunjung – jangan kebalik ya ya !!! malah kita nyediain vodka, sampagne, dll ( bisa 2 terkesan “to LOL” - bikin Ketawa Ngakak saja) . Banyak legacy dari generasi terdahulu berupa tanaman dan kuliner, telah menjadi “senjata” yang ampuh untuk “menaklukan” siapa saja yang datang ke INDONESIA.

Tugas negerasi penerus adalah mem-patent-kan semua legacy sebagai milik negara INDONESIA ( bukan milik pribadi2 tertentu,) royaltynya akan menjadi bagian dari APBN.

warteg1 (1)Warung (War) . Warteg, WarSun, Warung Angkringan, Sambal Tumpang, nasi Pecel dan serupa itu adalah kuliner khas yang potensi untuk “menaklukan” keangkuhan pendatang yang ingin sehat namun efisien.  Jadi sebaiknya dibina dan jangan dibombardir dengan isu2 murahan di beberapa teve dan media tertentu – apakah ada agenda setting tertentu atau bukan, terkesan “jangan makan disono”, “di pajakin saja”, dsb ? andalah yang paham.

Untuk pengamat, sebaiknya cermati media/teve yang suka memberitakan buruk kuliner asli INDONESIA yang semakin digemari semua kalangan – apakah media sebagai pilar demokrasi dan ujung tombak perjuangan mensejahterakan bangsa, tidak terpanggil untuk ikutan mempromosikan atau mengdekuasi pengelola dan pasar tentang makanan yang Halal, sehat, bersih dan fresh !! soal citarasa,  kuliner Indonesia memiliki bandwidth paling lebar selebar 1/8 keliling dunia ? Anda juga yang boleh jadi lebih jeli memperhatikan teve/media seperti itu.

Untuk petugas pembina ekonomi kreatip atau apalah namanya, apakah ini bukan tugas anda untuk membinanya ? jangan sampai beralasan bahwa itu karena nggak ada hepeng-nya, nggak tercantum dalam anggaran negara, dsb. Lalu apa gunanya negara bagi mereka yang tidak meminta2, tidak berbuat kriminal/korupsi, tidak makar ? . Bukankah ini tugas negara kepada mereka yang TIDAK menuntut lapangan kerja, tidak KKN, tidak menjadi perampok, tidak berbuat kriminal,  dsb.

Apakah masih kurang jelas bahwa ini tugas negara ?

Rumah Makan (RM.  RM Padang, Jawa, Sunda, Manado, Aceh, dsb adalah warisan kuliner generasi pendahulu yang bisa menjadi “senjata penakluk” kesombongan mereka yang ingin makanan sehat dengan pelayanan yang khas. Pengelola ini adalah pahlawan,  dan….. negara seharusnya membinanya dengan baik, negara seharusnya melindunginya dengan kebijakan yang amat jelas. Cermati dan awasi jangan sampai menjadi lahan pungli atau membuat aturan yang mematikannya  dengan dand atau tidak yang ujungnya waralaba asing yang berjaya.

Mereka juga menjadi pembayar pajak yang baik. Kebanyakan mereka adalah sudah memiliki kemampuan finansiil yang lebih baik, sehingga proteksi dan kemudahan perijinan (tanpa melanggan RUTR), negara WAJIB mendukungnya. Kalau perlu negara malah men-fasilitas go ASEAN mereka (jangan ada KKN di proses ini ya ).

Apakah ini juga bukan tugas ekonomi kreatip ? apakah negara masih menutup matanya terhadap mereka yang tidak KKN, taat bayar pajak,  tidak berbuat kriminal,  malah membuka lapangan kerja, mampu menjadi garda depan bangsa, terbukti mampu menjadi bemper krisis ekonomi,dll.

Kudapan K-5.  Matrabak manis, martabak telor, donat cakue, gorengan, dsb adalah kudapan a la kaki lima, sebagian asli INDONESIA, sebagian sudah mudah dijumpai di berbagai negara ASEAN.

Negara WAJIB memproteksi legacy ini untuk kemakmuran rakyat INDONESIA (bukan rakyat negara lain ya), misal melalui membuat patent SEMUA legacy yang bersifat publik atau yang ANONIM dan hak patent itu atasnama negara INDONESIA (bukan partai atau individu tertentu), lalu hasilnya masuk APBN.

Dan ….. banyak lagi item-item karya bangsa dan karya anak bangsa yang potensi untuk “digondhol maling”.

Lagi-lagi peran oposisi sangat perlu untuk menjaga KEDAULATAN INDONESIA dan memajukan kemakmuran rakyat INDONESIA.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

sedikit tambahan (eh .. agak banyak)

Bahasa Indonesia.  Dalam konteks ” berbahasa yang satu”   :  Sudahkah para PEMIMPIN INDONESIA benar-benar berjuang  menjabarkan cita-cita perjuangan generasi pendahulu ? atau menjalankan perintah asing ? ………………. Andalah paling paham.

http://donaemons.wordpress.com/2010/06/07/bahasa-indonesia/

http://donaemons.wordpress.com/2010/06/07/bahasa-indonesia/

Selain merupakan strategic legacy dari generasi pendahulu, bahasa Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang amat kompetitip, antara lain :

  1. Digunakan oleh penduduk dalam bentangan lebih dari 70% wlayah MEA (ini ngomongin people, sebab cara berpikir orang2 seperti penggagas  MEA biasanya mengedepankan people,  kecuali ada kepentingan tertentu baru ngomongin state).
  2.  Jika kita gabung dengan serumpun bahasa, maka wilayah tadi meluas menjadi sekitar 80% bentangan vertikal horizontal dari wilayah MEA (sekali lagi ini ngomongin people ya, sebaiknya gunakan cara berpikir dan cara berdiplomasi mereka, namun bukan menjadikan pikiran kita malah disetir kepentingan asing).
  3. Mudah dipelajari oleh penduduk negri mana pun. Hampir semua ekspat di berbagai profesi, termasuk juga selebriti yang dulunya orang asing dari negri mana pun, terbukti amat mudah dan lancar berbahasa Indonesia (sekali lagi in ngomongin aspek people ya ).
  4. Bahasa Indonesia sangat adaptip terhadap dinamika lingkungan, jaman, pengetahuan dan teknologi.

Dulu sempat ada pemimpin negri ini yang dengan gayanya dan sikap “masabodoh” memiliki kepercayaan diri berbicara bahasa Indonesia di forum manapun, termasuk di PBB.

Kalau bahasa itu urgensinya manusia yang menggunakan, maka wajar saja pemimpin ini memiliki kepercayaan diri seperti itu, sebab ia merepresentasikan penduduk yang mendiami wilayah dalam bentangan 1/8 keliling dunia.

Sayangnya sambutan (sebagain kecil) masyarakat di Indonesia malah mencibirnya. Entah apa motiv dan maksudnya, padahal kalau ditelusuri benar, yang saat itu mencibirnya ya nggak bisa dan nggak fasih dalam bahasa Inggirs.

Entah karena agenda asing, entah karena ada kebencian atau apa, ya …. Andalah yang paham. Cermati juga media2 yang suka merendahkan “perjuangan” para pemimpin atau tokoh2 yang ASLI cinta Indonesia.

Secara pribadi, saya salut kepada jenis kepemimpinan seperti itu, sebagimana saya salut kepada cara para pemimpin China dan negara2 Arab yang tetap percaya diri menggunakan bahasanya…… karena mewakili MANUSIA lain yang julahnya besar (bahasa itu kaitan intinya adalah komunikasi antar manusia).

Jadi untuk MEA, bolehlah ada dua bahasa : Bahasa Indonesia/Melayu dan bahasa Inggris (tepatnya Inggri berlidah ASEAN).

http://91lapc.blogspot.com/2013/05/ketahui-5-hewan-ghaib-yang-kerap.html

http://91lapc.blogspot.com/2013/05/ketahui-5-hewan-ghaib-yang-kerap.html

Siluman Serigala. Cobalah simak baik2 cara berpikir dan berargumentasi mereka : (1) mengedepankan proesperity untuk people, dan people itu bicara pakai bahasa; (2) mengedepankan demokrasi, dan demokrasi itu mewakili kesukaan mayoritas sehari-hari; (3) mengedepankan egalitarian, dan egalitarian itu artinya tidak memaksakan kehendak – termasuk kehendak MINORITAS kepada MAYORITAS; (4) mengedepankan Hak Azasi Manusia (HAM), dan HAM itu melindungi penduduk asli dari pemusnahan secara fisik maupun budaya (remember ya : bahasa itu merupakan presentation layer dari budaya).

Gunakan cara berpikir mereka, cerdik dikit dan waspadalah dengan berbagai “judgement” yang digunakan seperti : prosperity, demokrasi, egalitarian, dan HAM, sebab amat mungkin hal itu digunakan sebagai “topeng” belaka. Waspada juga dengan media-media yang digunakan untuk melenakan sekaligus membombardir hal yang tidak disukainya, termasuk potensi penyusupan melalui kurikulum pendidikan generasi muda (formal, non-formal, informal).

Begitu apa begtu ya ?

Ya Emangbegitu

 

Scroll To Top