Sekilas Info
Home | Inspirasi | KESELEK KULIT BUAH DURIAN

KESELEK KULIT BUAH DURIAN

Orang tersedak kulit buah durian, kenapa ?  bisa jadi ia gak paham buah durian, ia bodoh tidak bisa membedakan mana kulit mana daging, atau ia agak setengah teler akibat kebanyakan nenggak cukrik…….. tentu saja ada kemungkinkanan lainnya.  Anda punya dugaan lainnya ?

Sekilas di Anemia. Alur berpikir dan nalar dari segelintir tokoh politik di Anemia tentang kurikulum agama, kok terkesan mirip orang keselek kulit buah buah durian.

Tentang sebab keselek, bisa disebabkan oleh cara ngupasnya yang ngasal, bodoh plus nggragas  sehingga yang dimakan malah hanya seputar kulit2 saja, pengin dianggap sebagai “orang pinter” dan “sakti” karena majikannya amat suka dengan hal-hal yang berbau “pinter” dan “sakti”,  atau sebab serupa itu.

Boleh jadi, manusia seperti ini lebih takut pada manusia ketimbang pada pemilik alam semesta. “Wajar” saja jika ia tak sanggup mengatakan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Itu menurutku lho…. apakah begitu adanya ? wallohu a’lam.

Bagaimana dengan hal serupa di INDONESIA ? ………..

Anda tentu lebih tahu dan punya pendapat juga to ?

Monggo !!!!!!!

buah durianKeselek Kulit Buah. Meski tidak 100% tamsil ini tepat, namun fenomena ini mirip segelintir manusia keselek kulit buah lalu ngomel2 kemana2.

nDilalah, di waktu2 yang hampir bersamaan dengan kejadian tersedak kulit buah durian itu, mereka sedang berseteru dengan segelintir manusia yang mengaku “petani buah”, sebgian dari yang mengaku “petani buah” itu terkena penyakit rabies.

Rabies adalah penyakit menular yang semula hanya hinggap di ajing, namun krn air liur itu bereaksi dengan kelenjar manusia (melalui gigitan, melalui hal2 yang tidak disengaja, dsb), maka rabies menghinggapi manusia2 yg seperti itu.

Negri Anemia sudah membentuk Komite Pemberantasan Rabies (KPR), yang sering di-”kriminal”-isasi oleh oknum “dokter hewan” yang boleh jadi sudah terkena rabies atau yang merasa kewenangannya tersaingin oleh KPR, atau ada masalah non-substansiil yang dianggap potensi menggangu kinerja sebagian oknum2 “dokter hewan”.

Omelan (manusia yg tersedak kulit buah durian) pun berubah menjadi bahwa buah durian bikin penyakit rabies !!!!!!!!!!! (uaneh tenan to ?}

Sementara manusia2 waras yg lain, melihat dengan jelas bahwa dirinya sedang celaka, salah urus soal makan dan ada kesalahan dalam memandang manfaat buah.

Ketika manusia2 waras memberitahu bagaimana yang benar dan atau bahwa dirinya dalam keadaan celaka, malah disemprot, diledek, dibuli, disebut orang2 bodoh, dsb.

Pokoknya tipikal orang sedeng yang gak tahu tawashul.

Nah ………….. kaco nggak manusia jahilyah seperti itu ?.

Matanya Buta.  Sementara, diseputaran dirinya, banyak manusia2 lainnya yang “benci buah”,  yang  justru menjadi penyebar dan pembawa penyakit rabies dan penyakit2 aneh berbahaya lainnya. Namun entah mengapa, semua itu seolah tidak terlihat olehnya, atau sengaja ia menutup-nutupinya. (ku tak tau)

Lagi2, kalau diberitahu tentang kebenaran itu, malah menyalahkan yang memberitahu.

Kondisi ini dimanfaatkan benar oleh segelintir mahluk  yang “benci buah” yang vokal dan suka mengumbar perdebatan.

Anehnya ia malah berpihak secara kelirumologi dengan manusia2 “pembenci buah”.

Lebih aneh lagi adalah segilitir manusia jahiliyah yang sok “paham buah” adalah memiliki kesimpulannya yang nyaris sama dan sebangun dengan kesimpulan dari sekelompok manusia yang “benci buah durian”. Yakni  bahwa nggak usah ada acara ngupas buah, nanti malah kena rabies.

Koplak bin jahiliyah tenan to ?

Stupid Society Jahiliyah.  Keduanya sama2 gak paham benar tentang buah.  Herannya ia merasa paham dan mendapat sertifikat “ahli perbuahan”.

Beda antara yang satu dengan satunya lagi adalah bahwa yang satu berhak mendapat kesan “paham buah” karena lulusan dari sekolah  ”perbuahan Anemia”, sementara yang satunya memang “tidak paham buah”.

Yang “tidak paham buah” bisa karena software dirinya error sehingga memandang buah itu tidak perlu, bisa juga karena terlalu banyak memakan buah sintesis sehingga menjadi “tidak paham buah”, bisa juga karena sejak kecil mendengar (diperdengarkan) bahwa : buah itu racun, buah itu candu, buah itu bikin mual2, dsb.

Namanya ngupasnya hanya sebatas kulit, apalagi yang dimakan malah kulit2nya saja, ya kesimpulannya menjadi aneh dan meragukan.  Itu juga menurutku ya.

 Monggo !!!!

Musidah Mulia. LibKoplak.  Sangking koplaknya, sang manusia sok “paham buah” malah bersinergi dengan segelintir manusia yang justru “benci buah” untuk bersama2 meminta kepada penguasa agar pelajaran “perbuahan” dihilangkan saja.

Aneh ? Koplak ? Keblinger ? atau … ?

Bahkan tokoh politik Anemia,  mengatakan bahwa “wong yang suka menyediakan buah saja terkena racies, berarti nggak ada faedahnya to diberikan pelajaran buah?”.

Koplak atau terlihat stupid dotcom ya  ?

Kejadian penyimpulan terkait rabies dan buah itu, mirip dengan kesimpulan sementara orang bahwa banyak orang belajar agama sejak kecil, eh …. korupsi juga.

Penyimpul ini,  hanya menggunakan instrumen primitip dalam menalar kehidupan.

Dimensinya lebih tinggi sih …………. ya sedikit dibanding dengan hewan dalam menggunakan otaknya.

Hewan itu tidak punya rasa takut, tapi punya pengalaman buruk tentang hal2 yang menyakitkan. Responsnya mirip dengan rasa takut.

Manusia “dibekali” dengan taqwa yang dimensinya bukan sekedar di otak dan instrumen inderawi semata.

Hewan tidak punya rasa hormat, yang ada adalah ketundukan (ngathok termasuk didalamnya, paling mudah lihat anjing dan kucing, kadang ayam juga menunjukan serupa itu),karena pengalaman mendapatkan hal yang disukainya (diberi mie instant, diberi pesugihan, dsb). Responsnya mirip dengan rasa hormat.

Manusia dibekali dengan akhlaq yang dimensinya lebih luas dan lebih kompleks dari sekedar hormat.

Dan……….. sebagainya.

Ada Saran ?    Terkait pembentukan akhlaq (termasuk revolusi menthal) oleh negara – salah satu wujudnya adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah2.

Kalau nggak keliru ada pemikiran usulan yang intinya adalah :

  1. kurikulum agama yang ada selama ini ya hanya seperti mengupas kulit buah saja. Kalau nggak ketulungan, anak didik malah menganggap kulit itulah yang dimakan. Sebagian lagi menganggap untuk apa mengupas buah. Dan HANYA sebagian kecil yang bisa mengembangkan kepahaman dirinya tentang buah.
  2. tugas generasi penerus itu bukan untuk membenci atau membumi hanguskan, namun melakukan aksi nyata untuk menyempurnakan, memperbaikan dg meminimalisir kekeliruan, membangun rasa hormat kepada para pendahulu.

Ini cuplikan Saran, Usul atau Apa saja lah terserah buat pak Mentri  (terkait, bisa mendik, bisa menag, bisa apa saja ) dan juga politikus2 yang merasa paham agama.

Monggo !!!!

Begitu apa Begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

Saran Lebih Detail.

To Day. Kurikulum sekuler peninggalan rezim2 sebelumnya itu TIDAK mengajarkan bahwa :

(1) Ibadah dalam agama itu sami’na wa atho’na, dasarnya iman dan lillahi ta’ala.
(2) Urusan dunia, dalam agama itu silakan pakai akal dan syahwat, akhlaqnya mengikuti rasulullah .

Sehingga banyak manusia yg mengaku beragama dan belajar agama tahunan, malah keliru dalam memandang dan menjalankan agama. Termasuk maraknya korupsi (oleh yg sok sekuler maupun yang mengaku beragama)

Korupsi terjadi, salah satunya adalah saat melihat uang yg dianggapnya “ngglethak” tak bertuan, karena sujudnya ketinggalan di sajadah kali ya ?
Akhlaq rasulullah mengajarkan jelas sekali tentang hal ini, bahkan barang yang nemu di jalan pun jelas, apalagi uang negara, lebih jelas lagi.

Jadi bukan pelajarannya agama yg dibuang, tapi methodanya yang dibenerin.

Akibat sekularisasi itu, membuat orang melakukan ibadah dg menggunakan akal, terkadang malah ada yang meng-akal2-i (coba deh dg hati bersih lihat sekeliling atau bahkan diri sendiri).

Ada juga lho yg sudah bukan dilandasi sami’na wa atho’na, dasarnya malah syahwat “kepingin”.
Yakni kepingin dilihat sbg muslim yg sholeh/sholehah dengan berbagai icon (astaghfirullah wa na’udzubillah),

Akibat lanjut dari sekularisasi itu, urusan duniawinya sering dilakukan secara ngawur dotcom………sementara ukhrowinya ya nggih ngoten niku

Wallohu a’lam.

Next. Tugas generasi penerus adalah melakukan koreksi perbaikan atas kekeliruan, kebelum sempurnaan, ketidak tahuan para pendahulu (bukan menyalah2kan, membenci dan membumi hanguskan) .

Saran buat pak Mentri dan politikus2 :
(1) Pengajaran agama (misal agama Islam) di sekolah dirubah penekanannya, bukan pada aspek tangible alias kulit2 semata, namun lebih pada aspek akhlaq Qur’an-i, dan
(2) Kurikulumnya dibuat berjenjang.

Misal level elemntary (SD)
- hafidz juz ‘ama & tarjamah dan pengetahuan tatacara peribadatan dasar (syahadat, sholat),
- praktek bersyahadat dalam perilaku sehari2 – habbul minnanaas ( spt jujur, komitmen tinggi, tanggung jawab, dsb), dan
- praktek bersholat dalam perilaku sehari2 (fokus, orientasi mutu, kemanfaatan hasil, dsb)
- Semua materi disusun dalam kadar level elemetari;

Level lanjutan Pertama SLP :
- hafidz 10 juz berikutnya & tarjamah, dan pengetahuan lebih dalam ttg makna syahadat dan sholat.
- praktek syahadat dan sholat dalam perilaku sehari2 dg kadar level-2.

Level lanjutan Atas SLA :
- hafidz juz selebihnya & tarjamah.
- pengetahuan pokok2/esensi syahadat & sholat, dan engetahuan shaum.
- Praktek perilaku shaum (self control, share little thing, managing the emotion, dsb).
- Praktek perilaku syahadat & sholat level-3

Perguruan Tinggi level -4 untuk syahadat, sholat dan shaum. Sehingga saat lulus S1 sudah bisa pratek semua plus mengembangkan semuanya sampai mampu untuk menjalankan perilaku menuju muzaki (bersyukur, berbagi, pangerten, teposliro, dsb)

In sya Allah terbentuk insan kamil

Monggo !!!!!

NB :

Hafidz Qur’an & tarjamah ternyata sudah terbukti MUDAH dilakukan jika diberikan sejak awal serta terstruktur dan konsisten.
(beberapa stasiun TV – Trans Group & MNC Group, menyadarkan tentang MUDAHnya hafidz Qur’an sejak dini).

Sempatkan melihat ya, biar nggak pusing kepala dg sekularisasi atau radikalisasi.

 

 

Scroll To Top