Sekilas Info
Home | Menjalani Kehidupan | KISRUH POLITIK : LEMBAGA TANDINGAN = Apa yang Membedakannya ?

KISRUH POLITIK : LEMBAGA TANDINGAN = Apa yang Membedakannya ?

Budaya amarah, seolah menjadi “kebutuhan”, tuntunan sekaligus tontonan bagi sekelompok kaum di negri Anemia. Di bagian lain dipahami sebagai proses menuju tahap berikutnya yang lebih baik ….. kalau dikelola oleh para pemimpin dan elit negara.  Kalau tidak paham ? ya Anda bisa analisis sendiri kelanjutannya. 

Di INDONESIA, dalam beberapa waktu belum lama ini, muncul berbagai lembaga tandingan. Ada isu tentang DPR tandingan, ada isu tentang Kementrian Tandingan, ada isu tentang Pengurus Partai Tandingan, dan berbagai lembaga tandingan lainnya.

Jika disimak, latar belakang munculnya lembaga tandingan adalah : kecewa atas realita yang tidak memenuhi apa yang diharapkan (oleh pembuat tandingan) dan atau atas janji2 yang diucapkan sebelumnya (dari yang ditandinginya).

Konon, ada juga yang dilakukan melalui rekayasa, entah apa motivnya. Wallohu a’lam.

Kalau pemecah belahan itu dilakukan melalui perencanaan dan rekayasa, maka Belanda telah berhasil melestarikan budaya “devide et impera” bagi kaum inlaander, bedanya ini berlangsung dari oleh dan kepada sesama anak bangsa.

http://penjagahati-zone.blogspot.com/2011/01/terbentuknya-fatamorgana.html

http://penjagahati-zone.blogspot.com/
2011/01/terbentuknya-fatamorgana.html

Apa suatu rekayasa atau bukan ? adakah ini suatu perwujudan “budaya amarah” ?

Detik2 akhir tahapan munculnya lembaga tandingan adalah : realita, ada pihak yang kecewa kecewa, yang kecewa kemudian berkomplot, secara teroganisir melakukan aksi untuk ngotot, lalu bersama-sama mendeklarasi atau siaran pers atau publikasi lainnya “ini lembaga tandingan”.

Mau yang model rekayasa atau yang model natural, ya itu kira2 proses umumnya.

Kata kuncinya adalah : KECEWA karena REALITA tidak seperti HARAPAN/KEINGINAN. Sikap dasarnya : MARAH ! Toolsnya : ELIT, dan mainannya : AWAM.

Bedanya dengan jaman2 kemarin adalah : panggungnya dari bahan yang (seperti) tembus pandang ( transparansi ) dan proses diupayakan (terkesan) demokrasi.

Manfaatnya : relatip tipis, hanya rakyat tidak lagi “bertanya pada rumput yang bergoyang”, rakyat bisa secara leluasa dan mandiri mencari akar permasalahan.

Meski demikian, tidak selamanya rakyat mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya, seringkali atau kebanyakan justru melihat suatu “fatamorgana kebenaran”. Sebab di saat yang sama, budaya pencitraan atau mengirimkan sinyal “shadow image” menjadi semacam cara untuk membangun atau menjaga comfort zone atau bahasa anak muda Suroboyo kemarin Pe-We alias Posisi Wenak.

Cara pencitraan atau pengiriman sinyal “shadow image” dilakukan melalui media secara  sedemikian rupa akan terkonstruksi di mind-set seolah-olah suatu kebenaran (fatamorgana kebenaran).

Namun bagaimana pun itu, fatamorgana seringkali membuat orang “bergembira” karena ada harapan akan bertemu dengan suatu “oase” untuk melepas dahaga.

Hanya waktu yang akan membuktikan apakah harapan itu menjadi kenyataan (realita), atau hanyalah utopia atau fatamorgana belaka.

Jika ini suatu permainan, maka menjadi ideal, jika level budaya marah sudah tidak menjadi “panglima” dalam menalar realita.

Mudah2an ingat bahwa permainan ini dilakukan bukan di panggun ketoprak, panggung sirmulat, di layar teve atau di bioskop, namun dalam “panggung” kehidupan dunia nyata yang melibatkan emosi, nalar dan kompleksitas manusia. Ada yang level kedewasaannya sudah OKAY, ada (banyak) yang masih se-level Kindergarten alias TeKa (istilah Gus Dur).

Mudah2an awam sudah move-on, jika belum move-on alias hijrah dari budaya marah ke budaya konstruktip produktip, maka menyimpan potensi resiko yang boleh jadi besar !!!

 Korupsi, nepotisme, kolusi, kekerasan, perampokan, tipu2, pencitraan, janji palsu,  dan serupa itu adalah memberikan indikasi dari level budaya yang ada dari para pelakunya.

Jika diperhatikan, masih banyak perilaku budaya jaman batu (stone age) yang digunakan untuk menyelesaikan permasalah atau realita kehidupan jaman internet. Atau permasalah di jaman internet, ditangani dengan budaya jaman batu.

http://pixgood.com/lazy-cartoon.html

http://pixgood.com/lazy-cartoon.html

Mentri dan Gubernur Anemia Meniru INDONESIA.   Sejak beberapa waktu terakhir ini, negri Anemia mencermati dan ada keinginan kuat untuk senantiasa menirukan atau meng-copy paste apa yang terjadi di negri INDONESIA, termasuk bagaimana ekspresi “budaya marah” berlangsung.

Konon, ekpresi “budaya marah”, dilakukan bukan semata dilakukan oleh kaum yang sering disebut sebagai alay, namun juga dilakukan oleh kalangan pejabat dan akademisi. Dan Anemia mengalami fenomena yang mirip INDONESIA.

Beberapa waktu belakangan, beberapa Governoor di Anemia ( di INDONESIA setara Gubernur ), Mister Resident ( di INDONESIA setara Bupati/Walikota),  dan sebelumnya juga ada Minister Anemia ( di INDONESIA setara Mentri) dan Cheep Company ( di INDONESIA setara dengan Direksi BUMN ), yang mempertontonkan kemarahan saat menjumpai adanya sesuatu yang TIDAK disukai, TIDAK seperti keinginannya, TIDAK memenuhi strandar atau harapannya, malas, ngaco, birokrasi tersumbat, dsb pokoknya segala sesuatu yang dirasakan “mengancam”nya.

http://pixgood.com/lazy-cartoon.html

http://pixgood.com/lazy-cartoon.html

Budaya Marah Disukai Media dan Mayoritas Publik Anemia. Berbagai media (teve, harian, majalah, dan bahkan media sosial termasuk akun pribadi yang bersangkutan) seolah menyambut dengan riang gembira dan mengulasnya bagai pahlawan ketika sang Governoor, sang Minister, atau sang Resident beraksi marah2.

Tidak jelas apakah yang marah2 itu sudah memperhitungkan bagaimana “keinginan” pihak lain, entah pula apakah sudah memahami kondisi yang melatar-belakangi. Namun amat jelas bahwa ekspresi budaya marah itu memberikan shock terapi sekaligus memberikan rasa puas jika terjadi perubahan kondisi seperti yang diinginkannya (walau sifatnya mungkin temporer, sementara).

Secara gegap gempita, media menginfokan berbagai peristiwa dimana (jika dititeni) seperti sinyal memberikan pesan bahwa sang tokoh yang sedang mengekspresikan “budaya marah”merupakan idola yang ditunggu2, sang tokoh  sedang memberikan “keteladanan” how to express  “budaya marah”, reportase tentang sang tokoh yang sedang mengirim pesan publik bahwa “budaya marah” adalah solusi tercepat.

Lagi2 sebagian (besar) media menjadi berlaku secara ketimpringan. Sang sosok yang marah2 pun serta merta menjadi selebrity dadakan atau merasa/dianggap seperti “nabi jadi2an” yang dikultuskan. Entah justru hal seperti itu (jadi selebrity dadakan atau nabi jadi2an, ) atau bukan, wallhu a’lam.

Motivnya ? Anda mungkin punya analisis lebih hebat.

Apa yang melatar-belakanginya ?

Apakah akibat sang tokoh keinginannya terhambat alias gagal menjadi selebritti di waktu2 sebelumnya ?

Apakah pernah terhalang menirukan atau menjadi bintang film, pemain sinetron, musikus atau pencetak rekor kebaikan ?

Belum ada penelitian mendalam.

http://prozacmonologues.blogspot.com/2013/09/the-suicide-monologue.html

http://prozacmonologues.blogspot.com/
2013/09/
the-suicide-monologue.html

Budaya Marah Cocok untuk Mania Kepuasan. Marah2 memang memberikan efek kepuasan tersendiri bagi yang melampiaskannya, dan efek ketakutan bagi yang dimarahi.  Mirip tindak kekerasan yang  terang2an maupun yang dilakukan secara sembunyi2, mirip juga dengan perilaku lempar batu sembunyi tangan. Yang melakukan puas dan si korban teraniaya. Ini adalah wujud adanya  rasa sosial yang sakit .

Jadi ingat kyai Mursyid, bahwa pemimpin itu mencerminkan mayoritas yang dipimpinnya. Jika mayoritas publik Anemia, mayoritas rakyat Anemia, mayoritas media Anemia menganut dan mengagungkan “budaya marah”, maka wajar saja jika alam semesta menghadirkan kesempatan untuk muncul sosok seperti itu.

Sosok yang menyimpan kemarahan, yang bisa mewakili rasa marah, yang bisa mengekspresikan budaya marah, akan digadhang-gadhang kemunculannya karena akan menjawab sekaligus mewujudkan “mimpi2″nya, minimal mewakili perasaannya ( marah karena terdzolimi, marah karena dikecewakan, dsb).

Kalau di Jawa (bagian dari negri INDONESIA) mungkin setara dengan sosok imajiner yang diimpikannya, seperti : staria piningit, ratu adil, dsb.

Boleh jadi jika memang demikian yang terjadi, justru ini adalah katup pengaman yang dihadirkan Allah untuk bangsa Anemia, sehingga setelah ada kemunculan rasa “puas”,  apapun yang hasilnya, akan menyadarkan banyak pihak bahwa budaya marah sudah selayaknya ditinggalkan.

Mungkin saja akan  mencapai antiklimaks dan disitulah para pemimpin bangsa Anemia, mendapatkan energi untuk melakukan hijrah budaya, untuk move-on & shifting culture, untuk revolusi budaya ke budaya konstruktip/produktip.

Apalagi generasi Y di negri Anemia, dibesarkan dalam suasana yang memang sudah tidak lagi terlalu kenthal aroma “budaya marah”, maka revolusi budaya ke arah budaya konstruktip/produktip menjadi lebih mudah dilakukan.

Mudah2an INDONESIA jauh lebih baik dari Anemia.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Intermezo.

ekpresi marahMarah Membuat Buruk. Orang ganteng atau orang cantik rupa, jika marah akan berubah raut mukanya menjadi buruk,  mengapa ?.

Menurut id.wikipedia : Ekspresi luar dari kemarahan dapat ditemukan dalam bentuk raut muka, bahasa tubuh, respons psikologis, dan kadang-kadang tindakan agresi publik . Manusia dan hewan lain sebagai contoh dapat mengeluarkan suarakeras, upaya untuk tampak lebih besar secara fisik, memamerkan gigi mereka, atau melotot .

Marah itu Ekspresi Terancam. Masih menurut id.wikipedia : Marah adalah suatu pola perilaku yang dirancang untuk memperingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka. Kontak fisik jarang terjadi tanpa ekspresi kemarahan paling tidak oleh salah seorang partisipan .

Meskipun sebagian besar pelaku menjelaskan bahwa rasa marah timbul karena “apa yang telah terjadi pada mereka,” ahli psikologi menunjukkan bahwa orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian diri dan penilaian objektif .

Kyai Mursyid menginfokan bahwa jangankan pejabat, orang biasa saja sebaiknya menghindari marah. Kalau dia muslim bisa merujuk bagaimana rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan dan memberikan contoh. Silakan simak sendiri di berbagai kitab hadist yang sahih.  Jadi kalau ada pejabat  atau tokoh publik (muslim) yang marah2, ya sebaiknya diingatkan dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan rasulullah.

Beberapa rekaman ekspresi kemarahan di negri INDONESIA yang bisa anda simak lagi antara lain di bawah ini.  Bentuknya ada yang berupa tawuran, ada unjukrasa anarkis, ada yang maki2, ada yang breaking custom, dsb. Mudah2an bisa menjadi hikmah bagi kita semua.

http://m.jakartapress.com/ read/detail/13223/antar-mahasiswa-uki-terlibat-tawuran/

http://m.jakartapress.com/
read/detail/13223/antar-mahasiswa-uki-terlibat-tawuran/

Tawuran > Tawuran Antar Warga, Tawuran Antar Sekolah, Tawuran Antar Perguran Tinggi, Tawuran Antar Fakultas, Tawuran Antar Fans (Sport Club, Music, dsb). Anda mungkin bisa cermati bahwa berbagai aksi tawuran itu terjadi di komunitas yang secara sengaja maupun tak sengaja, atau secara disadari tau tidak disadari mengembangkan  ”budaya marah”.

Berbagai komunitas terbangun secara alami maupun melalui suatu rekayasa. Ada komunitas cluster of the state ( di Indonesia setara RT, RW, Kelurahan), ada komunitas pendidikan (sekolahan, fakultas, perguruan tinggi, dsb),  ada komunitas bikers, ada komunitas sport fans club, dsb

Tidak semua (warga) kampung suka dan senang dengan tawurn, namun ada yang seolah hobi dan gatel2 jika tidak tawuran. Apa yang membedakannya ?

Tidak semua (siswa) sekolah atau (mahasiswa) suatu fakultas/perguran tinggi demen tawuran, namun ada yang justru mempunyai  ”ekstra kurikulum” tawuran. Apa yang membedakannya ?

Tidak semua (anggota) sport fans club suka atau senang tawruan, namun ada juga yang justru  punya agenda tawuran pasca nonton bareng.  Apa yang mebedakannya ?

Pada umumnya, kaum yang satu masih berada di level “budaya marah”, sementara kaum lainnya sudah hijrah, sudah move-on, sudah berevolusi ke budaya konstruktip/produktip.

Pak Mentri Marah2. Beberapa tahun kemarin, pak Dahlan Iskan – saat itu menjabat Menteri BUMN, mealkukan shock terapi dengan marah2 di gerbang tol.  Tentu ada yang mendasarinya : kecewa pada sikap dan pelayanan di jajarannya (referensinya di video di bawah ini).

Beruntung, pimpinan yang membawahi personil yang “kena dech!” saat pak Dahlan Iskan lewat suatu gerbang, sudah move-on ke budaya konstruktip produktip. Ia langsung mengakui ada kesalahan dalam sistemnya sehingga kekecewaan pak Mentri bisa dipahami dan menjadi energy untuk membenahi ke dalam.

Kebayang jika pimpinan itu masih berada di level atau  mengekspresikan “budaya marah” juga. Akan ada yang dipecat, akan ada pemogokan, akan ada penututan perlakuan semena-mena sehingga potensi penerimaan tol berkurang, dsb dsb.

Apakah energy pembenahan ke dalam sudah berhasil ? ini sangat bergantung, apakah di lingkungan pemimpin itu secara mayoritas masih di level “budaya marah”   atau sudah banyak yang move-on ke budaya konstruktip produktip.

Pak Gubernur Marah2.   Ganjar Pranowo – Gubernur Jawa Tengah juga mengekspresikan kemarahannya ! karena apa ? karena kecewa pada perilaku dan pelayanan jajarannya di unit teknis  jembatan timbang. Ada tertangkap tangan sogokan dan terkuak kumpulan uang sogokan para pengemudi truk. (referensinya di video di bawah ini).

Entah apa sebabnya (mungkin saja sedang mencari akar permasalahannya), konon pak Ganar juga marah2 di kantor dimana atasan yang bertanggung jawab membina petugas teknis unit jembatan timbang itu berkantor.  Sepertinya agak berbeda dengan respons dari pimpinan jalan tol di Jakarta saat pak Dahlan Iskan sempat marah2.

Kita semua bisa memantau apakah itu sebuah shok terapi yang terespon menjadi energy untuk perbaikan secara kesisteman, atau hanya menjadi shock terapi semata, yang kondisi berikutnya masih begitu2 saja.

Bu Walikota Marah2. Bu Rimsa -Walikota Surabaya, amat ekspresif dalam mewujudkan kemarahannya, kenapa ? karena : kecewa, taman kota yang digadhang2 dan (dikatakannya sebagai) disukai warga kota Surabaya itu didapati rusak berat oleh warga juga yang (karena ekspresi budaya marah juga) berebut es krim gratis.

Tentu sulit untuk memarahi satu2 warganya yang menginjak2 tanaman sehingga taman kota itu rusak. Wajar bu Risma mencari siapa yang mengumpulkan warga seperti itu. Panitia yang mungkin tidak mengira bahwa warga kota Suarabaya yang datang itu masih di level seperti (mengedepankan ekspresi “budaya marah”).

Beruntung panitia pembagi es krim tidak merespons dengan “budaya marah” juga. Kebayang jika itu dilakukan, bisa2 ada pabrik tutup, ada buruh protes, ada tuntutan hukum atas penutupan sepihak gara2 hal yang sepele, dsb dsb.

Dan masih banyak lagi file yang bisa Anda simak, bagaimana ekspresi “budaya marah” itu : (1) dibutuhkan untuk shock terapi, (2) mudah memperoleh liputan media, (3) menjadi trending topik dan (4) mungkin saja memberikan rasa puas, serta (5) memberikan efek menakutkan.

Terlepas apakah semua itu by scenario (sudah ada basic story board-nya ) atau tidak,  jika disimak kok terkesan bahwa kamera begitu rupa siap meliputnya (padahal sidak alias incognito alias no press release ). Namun…… mungkin saja memang sudah ada kamera yang stand by di saat beliau2 sidak, bisa kamera EO yang ada dilokasi, bisa kamrera smartphone, bisa cctv, dsb dsb. Wallohu a’lam.

Anyway, sepertinya : inilah saatnya secara sadar dan bersama2 untuk move-on ke budaya konstruktip produktip.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

 

Scroll To Top