Sekilas Info
Home | Inspirasi | LEVENSGEVAAR

LEVENSGEVAAR

Levensgevaar itu boso Londo, secara letterlijk artinya Resiko Untuk Hidup, dalam bahasa Jowo diterjemahkan Sing Nyedek2 Iso Matekartinya bahwa lokasi itu Berbahaya Bagi Keselamatan Anda. “Stiker” seperti itu sempat banyak digunakan sebagai pendidikan publik …………… itu jaman dulu.   

Response to : emangbegitu@emangbegitu.com

LEVENS GEVAARJaman sebelum dan sesudah ripiblik berdiri, tulisan levensgevaar itu paling banyak dan mudah ditemukan adalah di gardu2 listrik. Peringatan ini dimaksudkan untuk menjaga jangan sampai ada manusia/penduduk yang karena ketidak tahuan atau karena nekadnya atau karena alasan lain, mencoba mendekat. Karena berbahaya bagi keselamatan hidupnya. Ada kesadaran mendalam ilmuwan di government (saat itu) bahwa tidak semua penduduk paham akan listrik, apalagi paham bahayanya bagi keselamatan jiwanya. Penggunaan berbagai bahasa yang dikenali penduduk, akan memudahkan siapa saja untuk memahaminya.

Semua lokasi yang mengundang dan mengandung bahaya, diberikan “stiker” serupa itu. Setiap beberapa waktu dikontrol untuk memastikan bahwa lokasi tersebut steril. Jika ada penduduk yang coba2 mendekat karena ketidak tahuannya, diberitahu akan bahayanya lokasi itu. Jika ada penduduk yang “memarkir” angkringan soto deket2 situ, maka diusir, karena selain membahayakan dirinya, juga calon pembelinya bisa menjadi bermasalah keselamatannya. Jika ada yang entah kenapa kok nekad memasukinya, maka dihardik.

Secara sosial, dapat dikatakan bahwa disana ada regulasi (berupa peringatan), ada monitoring (kontrol rutin),  ada edukasi (bagi yang awam), ada warning (bagi yang agak paham), dan ada penalti (bagi yang nekad). Hasilnya, sampai tahun 90-an, hampir semua gardu PLN, relatip steril.  Termasuk sterilnya banyak kawasan di bawah saluran bertegangan tinggi -Sutet.. Kasus meledaknya travo di cawang Jakarta, tidak menimbulkan korban penduduk, karena memang relatip steril.

http://myrahil.wordpress.com/2013/05/31/meninggalkan-debat-kusir/

Rantai Putus. Di beberapa tempat di Anemia, ada gardu listrik yang “menyatu” dengan kios rokok, warung makan, atau bahkan mangkalnya gelandangan. Bukan lantaran gardu lisrik itu sudah tidak berfungsi, namun lebih kepada adanya mata-rantai sistem sosial levensgevaar yang boleh jadi sudah hilang. Namanya  juga rantai putus, fungsi aslinya nggak ada jalan dong.  Meningkatnya pengetahuan masyarakat Anemia termasuk para pemilik (penjaga dan para pembelinya) dari kios rokok, warung makan, dll tentang ilmu kelistrikan dasar, membuat mereka tidak menyentuh bahaya meski dekat secara lokasi.  Jadi so far so good alias okay-okay saja.  Entahlah kalau travo itu mbleduk.

Kalau mbleduk dan menimbulkan korban, siapa yang disalahkan ?  pastinya pemerintah akan dipersalahkan, perusahaan listrik akan disuruh gantirugi, dst.   Disini semakin terlihat bahwa putusnya rantai sosial telah membangun potensi bahaya baru yang siap menggulung pemilik rantai. Apa nggak mengerikan ?  Yang nempel2 bahaya siapa ? yang harus tanggung jawab siapa.

Efek Kolateral dari Rantai yang Putus. Pihak Elesem abal-abal Anemia bisa2 akan memprovok penduduk untuk menuntut pemerintah cq perusahaan listrik yang bersangkutan dengan berbagai dalih dan alasan. Sementara pemerintah melalui perusahaan listrik itu mengatakan bahwa penduduk yang menjadi korban itu yang salah, sebab dari segi social education sudah ditempeli stiker Levensgevaar, memang bandel saja. Elesem Abal-abal tentu mendapat angin baru bahwa pemilik kios rokok dan warung makan itu setiap bulan sudah memperpanjang ijin kepada petugas listrik termasuk tidak menunggak bayara tagihan listrik kios dan warung itu.

Nah …. apa nggak semakin seru.  Lalu terjadilah debat ala kusir becak antara perusahaan listrik dengan wakil penduduk, serta diprovo oleh politisi oportunis plus kontrover-sial.

Rantai Sosial Industrial Relation. Rupanya, Anemia perlu belajar ke Indonesia yang berhasil meneruskan yang baik2 dari penjajahnya.  Tentu saja Indonesia tidak ingin dijajah kembali,  apalagi dijajah oleh bangsa sendiri. Penjajah asing saja sudah biadab, penjajahan oleh bangsa sendiri itu mengerikan juga.  Di jaman merdeka ini saja, di tahun 2013, di Tangerang, masih ada memperlakukan penjajahan buruh pabrik wajan yang disekap dan sangat tidak manusiawi (entah bagaimana kelanjutan penanganan kasus ini) .  Mudah2an memang hanya itu kasusnya, hanya secuil kasus serupa yang dilakukan kepada rakyat asli Indonesia oleh manusia asli Indonesia.

Di Anemia kasus serupa perbudakan oleh bangsa sendiri itu dikarenakan sistem sosial yang telah dibangun telah dimodifikasi dengan tidak memahami akar budayanya. Di Anemia, dulu banyak saudagar-2 kecil yang mengelola usaha secara kekeluargaan. Pekerjanya sudah merasa manjadi bagian dari keluarga si saudagar, keluarga saudagar juga sudah percaya dan paham para pekerjanya serta sedia memfasilitasi dengan ikhlas untuk numpang makan tidur. Mereka semua ingin secara bersama membangun usahanya untuk terus maju. Kalau maju, saudagar dan keluarganya happy, pekerjanya juga happy, bonus lebaran sudah pasti.

Serupa itu, yakni daerah berbahaya, potensi bikin celaka sampai tewas adalah : bantaran sungai, pucuk gunung, ngarai, tebing yang menurut hasil penelitian dan data historis berbahaya,  dsb.

http://jakarta.okezone.com/read/2014/01/19/500/928294/diguyur-hujan-kampung-pulo-terendam-banjir-6-meter-lagi

http://jakarta.okezone.com/read/2014/01/19/500/928294/diguyur-hujan-kampung-pulo-terendam-banjir-6-meter-lagi

Levensgevaar Irigasi.  Bantaran sungai oleh kumpeni diposisikan sebagai milik “negara” dibangun sistem sosial yang disebut jalan inspeksi irigasi. Fungsi utamanya adalah serupa dengan “stiker” levensgevaar. Karena pengontrolan atas sterilnya dilakukan secara rutin dengan metoda inspeksi dan menggunakan kendaraan, maka bisa dikatakan jalan inspeksi itu lebih kepada nama dari fungsi “stiker” pengaturan sosial bernegara itu.

Siapa saja yang mencoba mendekati jalan inspeksi untuk keperluan permanen, keperluan buka warung, dsb akan digaruk “pol pepe” kumpeni.   Inspeksi juga dilakukan untuk mengecek bendung pengendalian ( cek dam ), kondisi sedimen sepanjang alur sampai cek dam, dsb.  Boleh jadi perilaku penduduk sekitar juga dimonitor.  Konon, jalur jalan inspeksi itu ada pintu masuk yang dijaga (pos jaga).  Aturannya dibuat ” sing sopo … dst, dst yang maskudnya adalah barangsiapa tanpa ijin pemerintah memasuki jalan inspeksi, disamakan dengan pembrontak.  Apalagi buka warung disono, gimana tuh ?  (sadis sepertinya ya, tapi efektip).

Kini sistem sosial terkait irigasi, sepertinya mata rantainya sudah putus, sebagian karaten, sebagian lagi nggak tau masih ada atau nggak. Kalau pun ada mata rantai yang kini sudah dilapisi “emas 3 ton” atau direkayasa secara hukum maupun technologi oleh master hukum/technologi  yang nggak jelas kapan kuliahnya;  Namanya juga rantai putus, ya fungsi utamanya hilang. Mau di lapisi emas kek, mau dikasih electronic control system kek, mau di connect dengan google kek, tetep saja akan memakan banyak korban.

Rantai sosial dan rantai alamnya yang harus dijaga. Kalau dipercanggih itu yang bagus.  Tapi diputus apalagi dirusak ya …. begitu dech.  Contoh dipercanggih adalah munculnya gagasan pengembangan konsep irigasi oleh para engineer hebat, antara lain sebagaimana bendungan Jatiluhur, Asahan, dsb yang dibangun untuk multi fungsi sebagai pembangkitan tenaga listrik, irigasi pertanian, lahan perikanan, wisata air, dsb.  Sistem sosialnya dipercanggih dg  Klompencapir plus BKKBN, dst dst.  Ini asli karya zaken kabinet.  Para profesor doktor asli membuat gagasan asli untuk kesejahteraan rakyatnya. Sistem monitornya dibangun dengan mantri sampai jogo tirto.

Sebagai pewaris yang tahu diri, menghormati para pendahulu terhadap legacy yang nyatanya baik dan bermanfaat, sebaiknya jangan memutus mata rantai  ”levensgevaar”. Yang biasanya “dilupakan” adalah pemeliharaan. Kalau bendungan, waduk dan serupa itu, ya dilakukan pengecekan dan penggerukan rutin.  Sekarang online casino banyak anak2 muda pinter, tentlah jika para pemimpinnya mengkondisikan Indonesia untuk kreatip (bukan hanya slogan, istilah atau sekedar retorika), maka kreasi anak2 muda Indonesia akan muncul. Termasuk kreativias menjadikan hasil pengerukan sebagai “sesuatu” yang bisa bermanfaat untuk : pupuk pertanian, pakan ternak, sampai untuk bahan bangunan.  Jadi operasional pengerukan pun akan mencapai level self financing, nggak pakai teori muluk2, nggak usah pake konsultan asing – sayang duitnya, mending kasih rakyat. Jangan pula dikorupsi.

Resiko terputusnya satu mata rantai “levensgevaar” adalah rakyat yang awam dan produktip .  Sedang masalah ini (ketidak tahuan, awam) adalah  tanggung jawab pamong/pangreh praja, para abdi negara – konsekuensi gajinya dari rakyat.  Rasanya pada bencana banjir di Wasior Papua, di Manado, di beberpa wilayah sepanjang Pantura pulau Jawa, sampai di bantara sungai Ciliwung, tidak ada korban yang berasal dari politisi atau pun Camat, apalagi Gubernur atau Mentri, dkk.

http://www.ibtimes.co.uk/pictures-indonesias-mount-sinabung-eurpts-dozens-times-1431376

http://www.ibtimes.co.uk/pictures-indonesias-mount-sinabung-eurpts-dozens-times-1431376

Levensgevaar Gunung Berapi. Dalam radius sekian kilometer dari puncak gunung berapi aktip dilarang untuk menjadi aktivitas penduduk dan lahan itu menjadi milik negara (bukan milik oknum apalagi milik dynasty). Difungsikan sebagai hutan lindung sekaligus untuk habitat asli yang ada di hutan (semua yang bisa hidup disana).  Binatang, secara alami punya instink yg dapat menangkap sinyal akan adanya gunung meletus.  Biasanya kelawar punya ciri, burung2 punya ciri, banteng punya ciri, kera/monyet punya ciri, celeng punya ciri,  harimau punya ciri, dst.

Jika binatang perilakunya berubah, misal : tiba2 kampung “digerudug” sekawanan monyet yang teriak2 bersamaan itu juga burung2 terbang dengan suara yang tdak biasanya, maka penduduk kampung sudah tahu bahwa gunung akan meletus.  Sehingga segera turun ke “kota” untuk mengungsi. Ekosistem alam, memang punya integrasi yang harmonis dengan energy pemeliharaan yang langsung dikendalikan oleh instrumen Sang Pemilik Alam.  Keberadaannya sudah dirancang secara teiliti, detail dan perfecto.

Agar satwa dan penghuni hutan lindung itu terjaga, maka secara rutin di monitor oleh petugas kehutanan sekaligus mendata jenis2 pohon (mungkin juga untuk penelitian kumpeni lho). Di jaman kemarin ada profesor Emil Salim yang dikenal bijak dan paham ekosistem, tidak banyak bicara, konsepnya jelas dan sebagai penyeimbang  gerakan dinamis dari fungsi pembangunan.

Konon, dijaman kumpeni aturan terkait kawasan gunung berapi juga dibuat, isinya mirip. Tentu saja diselaraskan dengan kondisi dan adat setempat, boleh jadi menggunakan pujangga (sosial tools yang ampuh saat itu) untuk membangun pesan dan aturan melalui legenda, cerita mistis, dongeng, dsb.  Memang untuk dipahami dengan kondisi jaman sekarang, itu semacam pembodohan. Namun jika melihat tingkat pendidikan (baca : tingkat buta huruf) dan sarana serta medan dan sistem sosial saat itu, maka boleh jadi sebenarnya itu keasi yang inovatip yang membawa manfaat bagi semua stakeholders dengan tujuan minimize error/victim.

Ada yang ditulis ada juga yang hanya disampaikan ke tetua adat setempat : sing sopo …. dst dsb. Yang maksudnya, barangsiapa memasuki hutan lindung tanpa seijin negara, sama dengan pembrontak.  Terkait yang ini, juga para engineer hebat serta sosiolog tulen telah melakukan creation dengan mengembangkan banyak hal. Ada jaga wana yang tugasnya menjaga kelestarian hutan dari perusakan karena ketidak tahuan penduduk dan apalagi kesengajaan pembalak hutan.

Mbangun Bareng2.  Dengan sistem yang dibangun, maka penduduk, mantri ( air, hutan, dsb), dan  pamong praja selaku abdi negara setempat, hidup harmonis membangun bersama-sama daerahnya dengan raodmap  negara (dulu namanya GBHN).  Wibawa negara pun terbangun.  Terbangun oleh tulusnya pamong praja, ikhlasnya penduduk, hasilnya yang dinikmati setempat.  Mbangun bareng2  itu berbeda dengan bareng2 mbangun.  Mbangun bareng2 (Membangun Bersama-sama) itu muncul dari nilai gotong royong, harmoni, mulia, menjadi lebih membawa manfaat untuk banyak pihak, dsb.  Bareng2 mbangun (Bersama-sama Membangun) itu muncul dari nilai kompetisi, hedonism, bancitampil, pamer dan saling iri, dsb.

Bersyukur, di Indonesia sekarang ini sudah ada BNPB, BMKG, dan berbagai bandan serupa yang bermanfaat dalam early warning system maupun penanganan bencananya. Peran nyata dari para personil TNI, POLRI, Basarnas dan PMI telah memberikan manfaat banyak dan nyata bagi para korban. Serta tidak ketinggalan partisipasi para aktivis penolong yang terkadang berlabel pencinta alam namun kurang memahami alam.  Semoga amalnya menjadi bagian dari “laporan pertanggung jawaban menjalani kehidupan”  kepada Sang Pemilik Semesta serta dapat masuk nominasi yang boleh memasuki surga.

Bersyukur pula Indonesia sudah dengan selamat memasuki era dimana media menjadi pilar demokrasi yang positip konstruktip menuju Indonesia yang lebih baik lagi. Para pemimpin juga sudah banyak yang memiliki kesadaran diri bahwa politik itu sarana, tujuannya ya sebagaimana diamanatkan di UUD 1945.  Memang masih nampak indikasi adanya pejabat atau politisi yang tujuannya cari mobil mewah dan bangun istana megah dengan sarana politisasi janji seolah sejalan dengan UUD 1945.  Namun untungnya rakyat juga semakin paham dan bisa membedakan mana yang pantas dipilihnya.

Bersyukur, nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan nilai2 luhur, satu diantaranya tertuang dalam pepatah “sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya” – artinya sekali ketahuan bohong/ingkar/korupsi, maka kepercayaan terhadap dirinya akan lenyap/sulit dipulihkan.  Apakah pepaah itu nilainya luhur ? coba uji diri  dengan teman sendiri : “saya akan menjadi sahabat sejatimu” (misalnya).  Tapi nggak dijamin slamet kalau anda ingkar ya.  Pastinya teman anda akan marah besar. Sekarang percobaannya dibalik.  Teman anda yang ingkar janji atau bohong, Dijamin anda akan nggondok atau putus….. tus…. tus.

Percanggihan – penggunaan teknologi canggih,  idealnya meningkatkan efisiensi disampinmg kecepatan dan keakuratan. Jika percanggihan itu dilakukan pada salah satu atau beberapa mata rantai dari rantai kesisteman yang putus, dapat membuat in efficient dan uneffective atau bahkan bisa back fire. Sebaiknya dijauhi untuk berpikir (apalagi melakukan tindakan ) untuk mengkorupsi dana terkait penanganan bencana. Kita tidak tahu, bagaimana alam  akan merespons.

Begitu apa begitua ya?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top