Sekilas Info
Home | Inspirasi | Menjadi Seorang Putri

Menjadi Seorang Putri

Setiap orang pasti punya impian. Untuk karakter sanguinis, impiannya pastilah lebih banyak daripada karakter lainnya. Meskipun aku dominan karakter plegmatis, akupun punya banyak impian, yang timbul akibat keadaan dimasa kecilku.

artc-1Sejak kecil aku menyukai bacaan, dimana banyak bacaan, disitulah aku betah duduk berjam-jam. Setiap ada persewaan komik baru buka, aku pasti jadi pelanggannya. Cerita karangan Hans Christian Andersen menjadi menu sehari-hari saat aku kanak-kanak. Cerita komik karangan RA Kosasih, karangan Kho Ping Ho, dan novel yang lebih remaja menjadi menu sehari-hari saat aku sekolah lanjutan.

Darimana uang sewanya ? Dari uang sarapan, ibuku selalu ninggalin uang sarapan dimeja saat berangkat kerja. Tugasku adalah membelikan sarapan bagi semua saudaraku, namun aku  sendiri tidak membeli sarapn, aku rela kelaparan seharian karena uang sarapannya nggak untuk beli sarapan, karena  uangnya mau buat nyewa komik. Mungkin karena itulah maka aku tumbuh tak terlalu optimal,  tubuhku sangat kurus karena kurang asupan.

Dari bacaan yang aku baca, bisa berupa komik, majalah, surat kabar dan novel, banyak sekali pengetahuan yang aku dapatkan. Bacaan adalah guru yang paling sabar, kapan kita butuh dia ada, saat kita ingin jeda/istirahat dia tidak keberatan. Dari buku aku banyak mengetahui banyak hal, tata cara hidup bangsa lain dan tempat-tempat yang indah di antah berantah memakmurkan imajinasiku. Apalagi saat di SD Bujel II, aku diserahi tugas membawa kunci lemari perpustakaan, sungguh itu hal yang sangat membahagiakan bagiku. Seluruh buku cerita yang ada di lemari itu sudah habis aku baca, sampai nggak ada yang tersisa. Dari setiap cerita yang aku baca itulah imajinasiku tumbuh dan berkembang sendiri, memperindah yang tampak olehku. Bisa dikatakan aku ini seorang pemimpi.

Saat aku kecil dulu, jika musim panen tiba, maka sampai azan maghrib terdengarpun kadang  masih sibuk napeni gabah sisa tapenane wong derep [memilih bulir padi yang masih utuh dari sisa-sisa sortirannya orang]. Coba bayangin saja, seorang anak SD yang kurus, rambutnya panjang dhawul-dhawul, bajunya jelek, sampai maghrib masih berkutat dengan tampah [nyiru, anyaman bambu berbetuk bulat] dan gabah. Kadang aku berangan-angan, betapa enaknya ya jadi putri raja, seperti tokoh-tokoh komik karangan HC Andersen yang sudah kubaca tentang putri-putri raja di Eropa. Nggak pernah kerja sampai sore penuh bulu padi yang bikin seluruh tubuhku gatelen begini.

artc-1AKetika aku baru menikah, suamiku pernah iseng bertanya, apa impianku waktu kecil. Spontan saja aku menjawabnya bahwa impianku menjadi seorang putri yang suatu hari dijemput oleh seorang pangeran menunggang kuda putih dari negeri yang jauh. Apa yang terjadi ? Dia tertawa kepingkel-pingkel, mungkin mengira aku  bercanda. Sesudah itu dia tidak pernah bertanya lagi, dan nggak pernah mengira bahwa aku telah menjawab dengan sungguh-sungguh. Padahal aku nggak bercanda lo, itu beneran, itu impianku ketika masih kecil. Memang aneh sih, namun di imajinasiku kehidupan dalam dongeng HC Andersen itu sungguh indah. Nggak apa-apa kan menyimpan keindahan didalam diri sendiri, toh aku tetap menjalani kehidupanku yang senyatanya. Dan ketika aku mulai remaja, aku mulai sadar bahwa itu hal yang tidak mungkin. Aneh bagi orang umum. Dan aku mulai melupakannya.

Namun di bulan Juli 2008, tiga puluh tahun dari aku mulai bermimpi, ternyata mimpi itu tidak hanya sekedar mimpi. Ini kenyataan. Aku benar-benar menginjakkan kedua kakiku ini di negeri tempat cerita HC Andersen dibuat. Ini seperti sebuah mimpi, tapi ini nyata. Aku benar-benar menjadi putri, meskipun bukan putri raja Eropa. Aku seorang turis. Yang segala keperluanku telah diurus oleh biro travel. Apa bedanya dengan seorang putri ? Dalam waktu 12 hari aku telah mejalani kehidupan layaknya seorang putri. Makan tinggal makan ditempat yang bersih dan indah, dilayani oleh perempuan bule yang cantik dan ramah. Tidur tinggal tidur di tempat tidur yang selalu bersih dan wangi dengan kasurnya yang empuk dan selimut tebal berwarna putih bersih. Nggak perlu booking dulu, chek-in dulu, nggak perlu semua itu, sudah ada yang ngurus.

Masuk ketempat wisata nggak perlu antri, ticket sudah ada yang ngurusi. Kendaraan selalu tersedia tinggal naik, dengan sopirnya si orang bule itu yang selalu tersenyum. Bukankah itu sudah sama dengan kehidupan seorang putri ? Meskipun hanya 12 hari, aku melupakan semua kehidupanku sebagai putri Cinderela yang sibuk ngurus rumah dari pagi hingga malam.

Dari kejadian ini, aku percaya bahwa didunia ini banyak hal yang mungkin terjadi, meskipun pada awalnya seperti ngayawara [angan-angan kosong]. Memang jika dilihat saat aku kecil dulu, yang anaknya seorang petani penggarap yang miskin dan buta huruf pula, menginjakkan kaki di negeri dingin Eropa, itu ngayawara. Imposible. Nggak mungkin terjadi. Jangankan jalan-jalan ke Eropa, sekolah SD saja nyeker karena nggak punya sepatu, mana mungkin ke Eropa ?!

Bagiku, impian tidak sama dengan cita-cita. Impian bagiku adalah keindahan yang ada di imajinasi dan membuat kehidupanku terasa lebih indah dari keadaan yang sebenarnya. Misalnya saat aku membukakan pintu pagar saat suamiku pulang kerja, dan dia mengendarai Stream warna metalik, dimataku seperti sedang menyambut seorang pangeran yang menunggang kuda putih. Sedangkan cita-cita adalah kehidupan riil yang mungkin bisa aku capai dengan mengusahakannya setapak demi setapak sehingga terwujud.

Sayangnya aku ini orang yang tidak terlalu mempunyai cita-cita. Aku tidak tahu harus menjawab apa jika ditanya apa cita-citaku. Meskipun aku sekolah SPG, aku nggak pernah punya bayangan bakal ngajar anak-anak SD, aku masuk SPG karena aku tahu ibuku menginginkan aku masuk SPG, itu saja. Dulu aku nggak begitu suka dengan anak kecil, lagipula harus ngomong terus setiap hari didepan anak sebanyak itu adalah hal yang amat berat bagiku. Yang mendekati cita-cita mungkin adalah menjadi seorang penulis atau disainer. Aku suka membaca dan senang dengan baju-baju bagus dengan detail yang tidak biasa. Aku banyak mendapat pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama dari membaca. Sangat wajar jika aku juga ingin orang lain mendapat hal baik dari membaca. Itulah awalnya aku suka menulis dan aku kirim kepada saudara-saudaraku. Begitu juga dengan membuat baju sendiri, aku bisa menambahkan detil-detil khusus apa saja tanpa malu, jika pesan ke tukang jahit ada kalanya merasa malu.

Scroll To Top