Sekilas Info
Home | Inspirasi | MUDIK ITU BID’AH ???

MUDIK ITU BID’AH ???

Tulisan ini bukan membahas apakah MUDIK itu tergolong bid’ah atau bukan. Karena yang saya tahu sejak kecil dan saya rasakan saat sudah diberi kesempatan untuk merasakan MUDIK,  semua hanyalah perbuatan yang baik dan bermanfaat dari (sebgian besar) kaum beriman.  Jadi bukan ibadah mahdloh, jadi tidak wajib.  Dimana letak baik dan bermanfaatnya ?  Aneh kan ?

Dalam bahasa agama, kegiatan seperti itu (setahuku) disebut sebagai perilaku yang baik dan bermanfaat, sehingga jika dilakukan oleh kaum beriman, maka tergolong amal sholeh.

Sumber TRIBUNNEWS

Sumber TRIBUNNEWS

Namun jika MUDIK dilakukan dengan cara minjam duit, itu sudah tergolong perbuatan yang makruh.  Sedang jika uangnya dari perbuatan kriminal (nyopet, nyolong, korupsi, dsb), maka jelas sekali itu bukan amal sholeh dan tidak ada landasan iman.

Wallohua’lam.

MUDIK disini diartikan sebagai amal sholeh saja, bukan bagian dari ibadah mahdloh.

Statusnya ya boleh2 saja dilakukan, tergantung situasi dan kondisi (uang, ruang, waktu, kesempatan, dsb) dari masing2 kita.

MUDIK.  Mudik itu ada yang mengartikan mulih disik- mau pulang dulu ke home base ( sifat kepulangannya sementara ) atau  rindu kampung halaman – lokasi yang memiliki magnet kerinduan. Ada juga yang mengartikan lain seperti mulih ke udik (agak maksa sepertinya) yakni pulang ke udik.

Namun intinya sama, menuju ke lokasi dimana terdapat magnet rasa kerinduan, kebersamaan, berbagi, dalam nuansa religi.

Perilaku mudik yang paling popular dan dilakukan secara huge movement adalah mudik Idul Fitri.

Padahal kalau dicermati (silakan resapi sejak masa kecil sampai sekarang), para waliyulloh itu memberikan beberapa momen mudik selain Idul Fitri, antara lain : mudik Idul Adha, mudik nyadran, mudik mauludan, dsb.  Hanya selain Idul Fitri dan Idul Adha kurang populer, yang lain skala magnetnya kalah besar.

TUGAS NEGARA (PEMERINTAH).  Tugas negara (pemerintah) adalah meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan juga melakukan distribusi kesejahteraan ke berbagai tempat sampai ke pelosok yang boleh jadi ada birokratnya yang nggak pernah menyaksikan, atau bahkan nggak tahu kalau di negrinya ada lokasi itu.

BirokratBirokrat disini dimaksudkan sebagai aparatur negara/pemerintahan sebagai perpanjangan tangan tugas kepemerintahannya – tugas negara, termasuk tugas mensejahterakan rakyat dan memeratakan kesejahteraan hasil pengelolaan administrasi kenegaraan.

Tidak dipungkiri ada birokrat2 yang hobi menikmati fasilitas dan kemewahan dari uang negara/rakyat serta kerjanya lebih suka hanya duduk di meja dan hanya mau mendengarkan hal2 yang baik dan menyenangkan dirinya saja.

Birokrat seperti itu, mengambil contoh salah satu sahabat rasululloh – “tidak seperti sayiddina Umar bin Khatab Radhiallohu ‘anhu  maupun Umar bin Abdul Aziz”, dan mengambil istilah pak Jokowi – “termasuk pejabat yang ogah blusukan”.

Birokrat 2PERILAKU MENYIMPANG KAUM BIROKRAT.  Perilaku aparat kerajaan yang ABS dan merasa sebagai “ningrat” terkadang sampai pada perasaan “menjadi tidak seharusnya untuk berkotor2 ke pelosok desa2 dan apalagi harus bersentuhan dengan kaum miskin”.

Perilaku birokrat seperti itu boleh jadi sudah ada sejak jaman kerajaan/kesultanan dan jaman kolonial. Perilaku ini juga bertumbuh pada jaman kolonialisme menjadi gaya ambtenaar yang hanya melakukan sesuai perintahan kolonial.

Sehingga boleh jadi perilaku “menyimpang” itu menjadi budaya di kaum birokrasi sampai jaman kemerdekaan pun

Dan itu dimaklumi oleh para waliyulloh.  Simak sejarah para waliyulloh di negri nusantara yang amat paham perilaku penguasa, perilaku kaum aparat pemerintah, dan paham masyarakatnya.

Mudik kartun MUDIK ITU (JUGA) MENJALANKAN TUGAS NEGARA.  Tugas mensejahterakan yang diterlantarkan yang oleh sebagian besar para ningrat dan birokrat/ambtenaar kolonial, tentu saja membuat kemiskinan merajalela dan kemewahan serta borjouisme dipihak yang lain.

Oleh para waliyulloh, system dan situasi ketimpangan itu,  dilakukan gerakan “perlawanan secara damai dengan momen peristiwa agama dan bersifat religious” – yaitu mengajak ummat untuk rame2 bersilaturakhim, untuk sungkem (tanda berbhakti kepad) orangtua, untuk menyambung/menjaga tali persaudaraan ( kakak-adik, karib kerabat) yg terpisah jarak karena berbagai sebab (saat itu mungkin karena berjuang merebut kemerdekaan), dan berbagi sebagian rizki Allah kepada fakir miskin di seputar lingkungan tujuan MUDIK.

Para ulama dulu mendakwahkan itu dengan menggunakan momentum hari2 keagamaan.

KREATIVITAS ULAMA & BUNGKARNO.  Barangkali pemimpin2 dan ulama2 dulu memang lebih ikhlas dan semua berikhtiyar sesuai dengan peran dan kepahaman agamanya untuk menggapai ridho Allah (simak pembukaan UUD 1945 yang asli).

Para beliau dulu itu tidak punya ilmu rancang bangun serta ilmu rekayasa lainnya sebagaimana para elit jaman sekarang. Juga ilmu dakwahnya tidak didukung dengan fitur canggih (panggung teve, sosmed, dsb) seperti para da’i sekarang .

Namun, bimbingan dan petunjuk Allah telah dilimpahkan kepada para pemimpin (umaro) dan para ulama jaman dulu (dan …….. sekarang kita tinggal menikmatinya).

Bung Karno KH Hasyim AshariBeberapa kisah kreativitas para umaro dan ulama jaman dulu antara lain ( konon ) para ulama (jaman dulu) bersama alm. KH Hasyim Ashari dan alm. Bung Karno melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pengisian nikmat kemerdekaan yang baru diraihnya ditengah2 ummat/rakyat yang dominan terbelakang akibat penjajahan ratusan tahun.

Boleh jadi termasuk menggagas istilah Halal bil Halal dan ucapan Minal Aidin wal Faizin untuk mendorong secara tak langsung gerakan pendistribusian kesejahteraan (ilmu, pengetahuan, harta, dsb).

Tentu saja jika ini diartikan sebagai ibadah mahdloh, akan menjadi bid’ah.

Karena di negri2 Arab pun tidak dijumpai hal-hal seperti ini. Namun jika dipandang sebagai perilaku kesalehan sosial dari kaum beriman, insya Allah, akan berbeda.

Jadi MUDIK itu boleh, tidak MUDIK juga boleh’ Karena itu bukan ibadah mahdloh yang bersifat wajib. Namun itu tidak dilarang dan – insya Allah – baik dan bermanfaat. Wallohu a’lam.

MUDIK ITU KEMAJUAN BAGI NEGARA. Dengan MUDIK, maka (ternyata sekarang baru dirasakan besar manfaatnya) tercipta “mesin akselerator” yang luar biasa, antara lain :

(1)    adanya gerakan pemerataan kesejahteraan yang dilakukan secara massal oleh rakyat yang tinggal di pusat2 ekonomi, ke rakyat lain di daerah yang ekonominya boleh jadi kalah jauh.

(2)    adanya trigger kepada industri2 dan mesin ekonomi untuk bertumbuh.

Contoh :

  • industry pangan (food/kuliner) ,
  • industry sandang (garment/fashion),
  • industry terkait pemeliharaan rumah (cat, lampu, taman, dsb),
  • industry otomotif (mobil, spedamotor, bus, truks, dsb)
  • industry transportasi public (Angkutan Darat/Laut/Udara dan port2 beserta rantai bisnis terkaitnya)
  • industry perhotelan/pariwisata (losmen/air room, sampai hotel bintang, lokasi wisata beserta rantai bisnis terkaitnya)
  • industry telco (operator, pabrikan gadget, content provider, dsb),
  • industry BBM ( Pertamina, Exxon, pompa2 BBM, dsb)
  • dsb.

(3)    Dan masih banyak lagi.

Konon negri2 lain sedang “kepingin” mengembangkan tradisi MUDIK ini. Bayangkan  !!!! ………….. rakyat dengan sukarela, dengan uangnya sendiri, bersedia untuk secara langsung ikut memeratakan PEMBANGUNAN dan MENGAKSELERASI KEMAJUAN PEMBANGUNAN EKONOMI negrinya.

KOMPENSASI “PETUGAS NEGARA”.  Dengan demikian, pera peMUDIK itu secara nyata dan langsung (asli sukarela, bukan relawan tapi minta bayaran lho seperti kelompok elesem “kawankoplak”) menjalankan “Tugas Negara” dalam pemerataan hasil2 pembangunan, khususnya mendinamisasi hampir semua industri dan mesin ekonomi secara nasional, terukur dan senantiasa meningkat. Para peMUDIK juga menjadi “Agen SUKARELA Program Pemerataan Kesejahteraan Rakyat sampai ke pelosok negri”.

Meski terlambat, namun lumayan, negara sudah menyediakan kompensasi kepada “para Petugas Negara” itu dengan penyediaan infrastruktur jalan raya (jalan utama, jalan alternative sampai jalan toll), perbaikan pelayanan public dijalan raya (pelayanan kepolisian, pelayanan jasamarga, pelayanan asuransi milik negara, dsb),  perbaikan pelayanan transportasi public (KA, Feri, Pesawat Terbang, Bus AKAP, dsb), sedia menggerakkan BUMN untuk membuat CSR pelayanan MUDIK gratis,

Salute kepada perusahaan swasta yang juga menyelnggarakan semacam CSR, meski hal itu juga dalam rangka promosi serta program loyalitas pelanggannya.

Beberapa media melakukan reportasi mudik. Ada yang paham dan konstruktip, ada yang latah, namun ada juga yang mempunyai motivnya lain (Anda terka sendiri ya).

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top