Sekilas Info
Home | Inspirasi | MUSIBAH

MUSIBAH

Kata musibah, (belakangan ini) mewarnai materi komunikasi apa saja, ada yang terkait dengan banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, dsb.  Dan …… di Anemia, terkena musibah”  juga menjadi bagian dari penjelasan keluarga koruptor yang tertangkap Komisi Pemberantasan Penjarah Uang Negara/Rakyat  ….. lucu nggak ya ?  ……………

Respons to : emangbegitu@emangbegitu.com

http://incikhasrul.blogspot.com/2012/10/adakah-aku-seorang-munafik.html

http://incikhasrul.blogspot.com/2012/10/adakah-aku-seorang-munafik.html

Rumangsa Pinter  tapi ora pinter ng-Rumangsa-ni itu mengerikan. Merasa pinter namun tak pandai memahami. Di Anemia, akhir2 ini para pemimpin dan wakil rakyatnya, melakukan tindakan yang mengerikan, yakni : rujak sentul ( siji ngalor siji ngidul – satu ke utara satunya ke selatan, katanya mau ke utara kok jalannya ke selatan, dan tindakan serupa itu ).  Contoh yang paling hot dan harus diingat2 adalah minta dipilih oleh rakyat dan berjanji muluk2 mau bikin Anemia paling jempol,  weh … ladalah ….setelah jadi terpilih, lha kok ketahuan hobinya  ngapusi,  nyolong, ngancam2, mblenjani. Apa nggak mengerikan ?

Contoh lain, yang dipegang adalah UUDA – Undang Undang Dasar Anemia, namun yang dilakukan adalah merampok, menjarah, membangun dynasty, bancil tampil dan berbagai hal yang sama sekali tidak ada di UUDA –  bukan pula  menjadi tugas fungsional terkait keterpilihan di posisinya,  apalagi merupakan tugas negara,  tentulah bukan. Padahal dalam UUDA disebutkan bahwa para pemimpin dan wakil rakyat itu pejabat negara, artinya ia terpilih untuk dan dalam rangka menjalankan tugas negara, untuk mikirin dan mensejahterakan rakyat, bukan untuk mbangun dynasty, bukan malah menuntut atasnama negara untuk dirinya seperti makan minum dan tidur serta kluyurannya yang dibiayai negara, bersekongkol ngrampok uang negara pula, bersekongkol nipu dan ngutil duit rakyat pula.  Apa nggak mengerikan ?

Contoh lain : nenek2 miskin tua menemukan coklat tua yang tergeletak jatuh di perkebunan tua di Anemia deket hutan tua Anemia. Lalu si nenek mengambilnya dari tanah bersama empon2 liar (tumbuhan hutan tua) yang menjadi mata pencahariannya. Ndilalah ada satpam yang lagi cari muka ke boss-nya ( macam hansip Tarmidi dan Mali dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji – RCTI, salah satu stasiun tv Indonesia ). Singkat cerita, coklat diminta hangsit itu dan tentu saja nenek miskin tua itu menyerahkannya ke hangsit itu.  Eh …… si nenek miskin tua malah dibawa ke kantor polisi. Eh … pak polisi memberkasnya sebagai perkara “pencurian coklat” oleh nenek miskin tua pencari empon2. Eh ……………  pengadilan Anemia memutuskan sangat kejam – sang nenek miskin tua dihukum penjara !!!!!.

Ada yang aneh bin ajaib. Ada politisi di Anemia  membuat pernyataan dukungan yang amat sangat mantap terhadap gagasan pejabat Mahkamah Agung Anemia yang akan membebaskan koruptor kalau semua hartanya di kembalikan ( tidak dijelaskan di kembalikan kemana ? ). Padahal di sistem peradilannya yang sama dengan kasus nenek miskin tua di atas. Jika demikian, maka yang perlu dibebaskan pertama adalah si nenek tua yang mencari nafkah, disini negara Anemia harus meminta maaf kepada nenek tua itu secara terbuka ke publik. Lalu jutaan terpidana serupa harus dibebaskan.  Ada jutaan manusia seperti si nenek tua yang miskin itu, sebenarnya tanggungan para pejabat negara dan politisi untuk mensejahterakannya. Tapi bukan berarti koruptor itu dibebaskan, sebab niat dan motif serta kondisinya amat sangat berbeda. Tidak kelaparan, tidak kesulitan, cadangan makanan (harta) sudah mencukupi dan bahkan amat sangat banyak, tapi malah nyolong duit rakyat itu :  mengerikan ? (entahlah dia itu termasuk kategori koruptor, busuk atau pejabat negara dan politisi Anemia yang baek2, rakyat Anemia sebaiknya mencermati benar gagasan mengerikan itu ).

They Act Like Devil itu kebangetan. Ini di Anemia. Kampanye berlangsung meriah dan bikin kotor pemandangan serta membikin sampah bertebaran, namun tebar pesona dan manis kata2nya keluar dari mulutnya dan mulut para jongos,  kacung serta para pesindennya. Setelah terpilih sebagai pemimpin atau sebagai wakil rakyat Anemia. Apa yang dikatakannya…? apa dilakukannya ….? apa yang menjadi gesture atau silent operationnya ….? : Say NO pada tugas negara, say YES untuk menjarah/merampok uang negara, say OK untuk menipu rakyat, say FUCK untuk para pemilihnya, say OH NO untuk masalah moral/ahlaq/budhi pekerti. Kebangetan !!!!!  Semoga orang2 Indonesia tidak menirunya agar jika tidak di datangkan “bala dewa” oleh alam ( atas perintah Sang Khalik).

Rakyat Anemia sudah geram terhadap para koruptor, bersyukur telah terbentuk Komisi Pemberantas Pejarah Uang Negara/Rakyat Amenia, ada kebebasan mengemukakan pendapat, media sudah menjadi pilar demokrasi, pemimpin dan partai sebagian telah menunjukan sikap mempersilakan siapa saja yang ketahuan korup untuk dijebloskan ke penjara.  Pemimpin tidak lagi diktaktor, terbuka untuk dikritik bahkan dimaki2. Ini adalah kemajuan yang dicapai Anemia, tentusaja ada kemundurannya – untuk negeri anda, maka andalah yang paling tahu.

Rakyat bertanya : Apakah mereka yang korup itu orang2 beragama ?  Apakah koruptor2 itu tak beriman ? Lalu hampir semua media massa menjawab :  mereka yang korup itu kebanyakan mengaku beragama,  mengaku beriman. Tapi …. entahlah apa yang sesungguhnya dalam jiwan mereka, sebab iman itu adanya di qolbu.  Beramal sholeh juga adanya di niyat, Perilaku atau amal yang tampak bisa jadi mirip amal sholeh. Jika “daleman”nya tidak takut Allah, tidak sidiq, tidak amanah, apa ya masih disebut amal sholeh ?.  Mereka telah “membunuh” kesalehan manusia2 lain yang menjalankan agamanya dengan sebenar2nya.  Kebangetan !!!!!  Semoga orang2 Indonesia tidak menirunya agar jika tidak di dtangkan “bala dewa” oleh alam ( atas perintah Sang Khalik).

Apakah para korupto2 itu tak berpendidikan ? kebanyakan mereka bergelar lebih dari satu. Ada yang memang asli dari kuliahan, konon banyak juga yang bergelar aspal, dan sebaiknya juga diperiksa riwayat pendidikannya secara teliti. Jangan sampai rakyat Anemia dipimpin oleh orang yang menipu secara akademis.  Karena mereka serupa dengan “membunuh” manusia2 yang benar2 studi, rajin mempelajari, rajin meneliti dan mengembangkan iptek. Kebangetan !!!!!  Semoga orang2 Indonesia tidak menirunya agar jika tidak di dtangkan “bala dewa” oleh alam ( atas perintah Sang Khalik).

Mengaku beragama, mengakui bergelar (bahkan ada yang doktor, master, dll ), mengaku cinta Anemia, mengaku membela rakyat Anemia. Lha kok ? …….. ngrampok uang rakyat, menjarah kas negara, mengutil duit rakyat, The sign driving test games Children Crossing Ahead that includes two amber flashing lampsmay appear beside periodic speed limit signs to alert you to the presence ofschool children. ngapusi, mblenjani.  Kebangetan !!!!!!!!!!!

http://www.hellhappens.com/pictures-of-satan.htm

http://www.hellhappens.com/pictures-of-satan.htm

Gemah Ripah Loh Jinawi. Mereka (rakyat Anemia) punya mimpi mengelola negri yang dari sononya sudah  gemah ripah loh jinawi, tukul tanpa tinandur, dst, negri yang kaya raya subur makmur, menjadi negri yang penuh ke-sentausa-an, yang diberkahi Allah, dst dst.  Eh …… lha kok malah “kebanjiran” musibah.  Apa sebabnya ? tentu yang bisa menjawab adalah yang bertanggung jawab atas pengelolaan negri Anemia. Namun, menurut penyair dari Indonesia, sebaiknya tanyakan pada rumput yang bergoyang.  Aneh !!!! Rumput kok ditanya. Untuk apa para ulama/kyai, untuk para pemuka agama dihadirkan Tuhan ke bumi Anemia ? untuk apa para professor doktor diijinkan Tuhan untuk ada di negri Anemia ? Kebangetan !!!!!

Soal musibah ini, seorang tokoh negri Anemia yang vokal, licik dan tengil dan suka berkata dg nada kasar dan keras  angkat bicara  ”Interupsi !!!! Negri lain juga terkena musibah kok !”.  Yang dikatakannya itu faktual. Seolah ia ingin menutupi kesalahan geng-nya dan tidak sedia  untuk mengambil pelajaran dari kejadian2 itu.  Atau itu mungkin ia memenuhi ciri2 manusia yang kalau sukses jingkrak2, kalau gagal termehek2, manusia yang gagal mengelola syahwat.  Seolah membanggakan diri dalam kesetaraan dengan negri lain, itu pun yang dimaksud negri maju, padahal ada juga negri terbelakang yang serupa namun tidak disebutkannya.

Boleh jadi musibah itu bukan reaksi alam atas maraknya koruspi atau menterlantarkan rakyat.  Namun, respons atas kebiadaban pada bangsa dan rakyat negri lain, sehingga alam lingkunannya  mengundang “bala dewa” untuk hadir menguras energy dan membekukan alam lingkungannya. Mungkin juga respons alam atas  pengrusakan manusia (genoside) dan alam (perusakan hutan, dsb),  respons atas tindakan penyiksaan yang dilakukan ke bangsa rakyat negri lain, sehingga  membuat “bala dewa” datang menghampirinya, meski belum menghabisinya.

Kalau pengambil kebijakan, poltisi dan para pemangku melalaikan rakyat (asal titipan tugas,sumber suara, vote) , menterlantarkan negara ( yang menjadi obyek tugas ), mengabaikan keadilan kemakmuran keamanan kejayanan bangsa dan negara (yang menjadi tujuan tugasnya), maka respon alam telah menantinya. Alam akan mengganti atau memusnahkan negara atau bangsa dengan caranya.  Na”udzubillahi mindzalk.

http://alrasikh.uii.ac.id/2012/03/02/amal-yang-bisa-menjamin-masuk-surga/

http://alrasikh.uii.ac.id/2012/03/02/amal-yang-bisa-menjamin-masuk-surga/

Kyai Mursyid mengingatkan : barang siapa bersyukur atas nikmat Allah, akan ditambahkan dengan yang lebih baik dan lebih banyak, dan barang siapa kufur/ingkar atas nikmatNYA maka siksaNYA amat menyakitkan. DihadirkanNYA para ulama, para kyai, para pemuka agama adalah suatu nikmat, mereka dapat bersama2 membangun akhlaq mulia, bukan untuk sekedar meraih suara dalam pemilu. Di ijinkanNYA ada profesor doktor adalah suatu nikmat, mereka dapat bersama2 memperbaiki mutu kehidupan duniawi, bukan untuk sekedar pencitraan atau untuk dikorbankan atau stempel zaken kabinet.  DiijinkanNYA adanya aneka ragam tanaman (pangan, kayu dan rerumputan ) ,   binatang (ternak dan liar), energy bumi (air terjun, panas bumi, mink, dsb) dan berbagai kekayaan alam itu adalah nikmatNYA.

Gagasan pendiri negri Anemia (yang jauh lebih religius dan nyata jihad bil khal ),  terkait semua itu gunakan sebaik2nya untuk kemakmuran rakyat yang berkeadilan. Pemimpin itu sebagaimana yang dipimpin, sebagaimana followers-nya. Jadi kalau pengin punya pemimpin yang berdedikasi memajukan bangsa negara memakmurkan rakyatnya, ya jangan menjadikan diri sendiri untuk condong memilih kehidupan (lifestyle) yang tak bermoral, atau yang sifatnya sebaliknya. Misal, jangan mau disogok untuk memilih seseorang karena diberi sembako, uang, kerudung, ulos, tempat ibadahnya direnovasi, atau serupa itu.

Teliti sebelum Memilih. Sebentar lagi Anemia akan menyelenggarakan pemilihan pemimpin nasional dan wakil rakyat. Bagi warga Anemia, ada baiknya anda http://idyeah.com/blog/2011/11/what-all-makes-a-website-bad/memeriksa/mencermati sebelum menentukan pilihan. Melalui bertanya ke tetangga kiri kanan buka belakang, melalui bertanya pada orang yang anda kenal kejujurannya, boleh juga lewat google, atau melalui apasaja.  Kalau memang orang yang nyalon itu bener2 baek, lihatlah kesehariannya.  Kalau relatip muda, kerjaannya nggak jelas, namun sok aktip secara sosial, rumahnya mentereng serta mobilnya berjajar,  konon punya perusahaan berenteng dan ngepop, maka selidiki : apakah ia bandar narkoba kah ? calo penjarah uang negara kah ? kepala perampok uang rakyat kah ?  Kalau 5 tahun lalu ia tidak dikenal sebagai pengusaha, masih kategori “gembel”, mustahil dalam 5 tahun sudah punya perusahaan banyak, punya istana mentereng dengan jajaran mobil mewah.

Okay, katakanlah si calon memang punya hoki bagus. Maka biasanya orang yang hoki entepreneur sejati lebih mencintai dan memilih untuk menekuni pengembangan bisnisnya. Okay, yang nyalon ini kaya karena (misal) mendapat warisan emas satu truk atau 3 ton emas.  Pertanyaannya : babe atau engkongnya itu dapat emas darimana ya ?. Perusahaan2 besar yang asli Top (seperti Telkomsel , Unilever, Astra, dsb) saja untuk benar2 profit membutuhkan proses berdarah2 berholobis kunthul baris (bukan bermewah-mewah) sampai tahun ke-3, tahun ke lima biasanya baru konsolidasi dan belum mencorong. Nah ……, setelah itu (kalau selamat) ya menjadi usaha yang sustainable growth. Perusahaan seperti itu dikelola dengan sungguh2, profesional, customer orientation, dsb.

Kata taipan dan kata tajir, kalau perusahaan itu berkembang secara asli, secara natural, secara alami, sebagai usaha sebenar2nya usaha bisnis, maka suasana kerjanya adem tapi dinamis kreatip,  hubungan para atasan bagus2, hubungan atasan bawahan bagus2, hubungan antar karyawan bagus2.  Kalau pun itu perusahaan keluarga maka ahli warisnya dominan baek2. Namun kalau sumber keuangannya berasal dari nggak jelas (uang panas, hasil nyolong, korupsi, dsb), biasanya model organisasi mirip cara kerja bandit,  tidak welcome, penuh dengan intrik. Kalau “sumbu” perusahaan yang seperti itu goyang, mati, atau bermasalah, maka yang terjadi percekcokan dan saling menuntut di pengadilan.  Kata ulama ” Dalam jamaah kebaikan jika terjadi masalah/musibah, akan saling tolong menolong.  Dalam jamaah kebusukan dan kehidupan kotor, maka akan saling menusuk jika ada masalah yang terkuak ke publik”.

Nah ……. kalau ada calon yang rasanya kemarin masih gembel, kok sekarang nangkring di istana dengan sederet mobil mewahnya, maka minimal diragukan !!!! perlu diteliti meski telah memberimu uang, kerudung, ulos, atau ikut saweran kondangan serta merenovasi rumah ibadah.

Seperti dermawan atau memberi dengan pamrih ?  seperti sholat berjamaah atau hanya kalau mau carimuka ummat baru rajin berjamaah ? seperti saudagar tapi kerjanya nggak jelas  ?  rajin menempel gelar tapi kapan kuliahnya nggak ada yang tahu? seperti eksekutip tapi cara berpikirnya calo terminal  yang hobinya ngutip sekepeng per penumpang  ? pilihalah yang ASLI bukan Ori Imitation @KW4 Inside.

Namanya memilih pemimpin bangsa, memilih wakil rakyat, memilih pejabat negara, bukan memilih komandan hangsit atau ketua paguyuban main gaple.

Ya Emangbegitu

Scroll To Top