Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | OTONOMI KREATIP : TUGAS GENERASI PENERUS/MUDA

OTONOMI KREATIP : TUGAS GENERASI PENERUS/MUDA

Indonesia semakin makmur,. Indonesia optimis menatap ke depan…….. kalau generasi mudanya paham mengambil pelajaran dan berhikmah dari sejarah para pendahulunya –  jasmerah, insya Allah semakin mantap dan semakin hebatlah Indonesia. 

Kyai Mursyid  kedatangan pemuda  yang potensial dan memiliki optimisme untuk Indonesia lebih baik, Indonesia lebih hebat, Indonesia semakin makmur, Indonesia semakin solid, Indonesia semakin makmur, Indonesia semakin adil. KKN semakin menurun, birokrasi bekerja menuju dan berorientasi pada amanah UUD 1945, Pancasila dan NKRI.

Namun pemuda itu terkesan galau melihat fenomena dan hiruk pikuk serta terkadang seolah ada upaya pembentukan front2 yang nggak perlu dan justru merusak diri serta melenakan dan melupakan musuh sejati Indonesia.

Dialognya kira2 begini.

Pemuda  : Siapa musuh kita ? ada yang bilang kalau nggak separtai itu musuh. Kalau nggak seselera, itu musuh. Kalau bukan temen Acoy dan Pitung, itu musuh.   Kok banyak slogan yang membingunkan generasi muda . Yang bener mana ?

Kyai : Musuh kita – kalau memang ente mengaku2  sebagai orang Indonesia, adalah neo-kolonialisme (simak kata2 bung Karno) kalau ente merasa generasi muda yang terpelajar atau demam internet ya simak juga realitanya.

So ???

jangan terlena slogan2 ngawur dan tendensius memecah belah, apalagi dg membuka front yang tidak perlu.. Waspadai skenario adu domba dan melenakan dari musuh yang sebenarnya !!!.

Pemuda : Tapi kami kan tidak lahir dan besar di jaman bung Karno, bahkan jaman pak Harto juga kami belum lahir.

Kyai : Pakai akal sehatmu, logikamu dijaga tetep waras……… lalu pahami, sejarah negrimu – INDONESIA !!!

Indonesia itu didirikan oleh para pemimpin2 moeda dari berbagai suku bangsa seperti kalian itu (baca riwayat Soempah Pemoeda, siapa saja yang berperan membentuk gagasan Indonesia).

OptimismePemuda : Tapi Indonesia sekarang banyak hal yang buruk2, bagaimana ini ?

Kan sama saja artinya bahwa  pendahulu kami mewariskan keburtukan2 kepada kami generasi muda dong

Kyai : Jelas  Indonesia belum sempunra, !!!

Bahkan ketika kalian nanti yang giliran mengelola pun tidak sempurna juga.

Tiap generasi berkewajiban melanjutkan gagasan mulia untuk Indonesia sesuai dengan UUD 1945, Pancasila dan NKRI.

Tahap awal, jaman bung Karno, semua elit bersepakat untuk mengkokohkan negri ini untuk benar2 bersatu.

Ada banyak tantangan saat itu, bentuk amat merusak dari kacamata negri Soempah Pemoeda dan Bhineka Tunggal Ika.

Ada bersifat ideologis ada yang bersifat kesukuan. Seperti pembrontakan PKI Madiun; G30S PKI, pembrontakan DI/TII, pembrotakan PRRI Permesta, dsb.

Bagi bung Karno dkk serta elit yang sadar, bahwa musuh yang sesungguhnya adalah neo kolonialisme yang bisa saja menunggangi semua tokoh tertentu untuk berbuat seperti itu.

Kalau kejadiannya seperti itu, maka yang kasihan ya pemuda2 yang bodoh dan terprovokasi untuk merusak negri sendiri.

Apa kalian juga punya menthal seperti yang kasihan itu ?

Kalian sendiri yang bisa menjawab.

Masih mau lanju7 ?

Pemuda :  masih Kyai .

Kyai :  Agak loncat sedikit ya, karena ini ada kaitannya dengan apa yang kita rasakan saat ini.

Kita bersyukur dan bangga sudah bebas berbicara dari ketakutan pola kekuasaan yang otoriter

Ini soal rzim, bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kalau mau mempelajari, maka bisa jadi ente2 semua paham bahwa untuk saat itu memang dibutuhkan model kepemimpinan seperti itu. Cuma keterusan.

Itu manusiawi. Berkuasa itu menyenangkan dan mencandu. Keterusan berlama-lama berkuasa itu terjadi pada sosok pemimpin kita bung Karno dan juga pak Harto.

Tapi …. Ya itu, kalau mau mempelajari suasana kejiwaan dan tuntutan waktu beliau2 memimpin, konsep itu memang pas untuk Indonesia saat itu.

Kelemahannya jadi keterusan.

Kita berterima kasih pada para penggagas yang bisa menyetop hal ini.

Termasuk kepada para pemuda dan mahasiswa.

Dan ….. kini kini kita bebas berbicara mengemukakan pendapat.

Kalau ente2 mungkin mengira itu hal yang sudah default, sudah seharusnya begitu.

Pak Harto itu secara substansi tujuan mulia membangun negara, gagasan dan pelaksanaannya melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh bung Karno.

Soal yang lain, seperti Nasakom, memang tidak dan ada ceritanya tentu.

Pak Harto melanjutkan gagasan bung Karno sepanjang terkait dengan upaya untuk hal2 yang ente bisa baca di Pancasila,, UUD 1945 dan NKRI.

Kedua beliau amat jelas komitmennya dan nyata hasilnya.

Paham ?

Masih lanjut ?

nkriPemuda :  lanjut pak Kyai.

Kyai : Bung Karno menamakan konsep penjabarannya amanah itu penamaan dari bung Karno, termasuk seperti istilah Nawaksara, sementara pak Harto mengambil istilah dari UUD 1945 yang asli, yaitu GBHN, dan turunannya disebut Repelita.

Kedua pemikiran dan konsep kedua beliau itu secara substansinya adalah sustainable.

Tujuannya mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan peri kehidupan berbangsa, dan seterusnya.

Kalau  di anak2 pesantren jaman dulu dikenalkan singkatnya adalah negri yang diberkahi, pemimpinnya dicintai rakyatnya, baldatun robbun ghofururrohim, gemah ripah loh jinawi, adil makmur, ayem tentrem, dst.

Kalau mengupayakan kemakmuran, jalurnya itu Ekonomi.

Kalau membangun kebangsaan, jalurnya itu Ideologi.

Kalau soal menjaga keutuhan NKRI, jalurnya itu ya Tentara

Kalau menjaga ketertiban umum, termasuk memberikan rasa aman rakyat, itu jalurnya ya polisi.

Kalau soal mengupayakan agar pembagian kekuasaan itu berjalan baik dan seimbang, maka jalurnya itu politik.

Kalau membangun kesadaran beragama, termasu tolenasi kehidupan beragama, jalurnya ya social budaya. Ini bukan berarti kita memandang bahwa agama itu budaya, agama ya perintah Allah, firman Tuhan. .

Masih lanjut ?

Pemuda :  lanjut pak Kyai

Kyai : Bung Karno bersama para pejuang dan pemikir jaman doeloe merumuskan suatu pegangan dasar bernegara dan berbangsa yang bernama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pak Harto seingat saya mencoba untuk mengembalikan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Kalau ujungnya keduanya malah terkesan sebaliknya, ya itu boleh jadi fakta sejarah yang menjadi pelajaran bagi generasi penerus.

Bung Karno di ujung sempat membuat  Nasakom yang mencampurkan konsep bertehuahanan yang mahaesa disatu sisi, disisi lain tidak percaya tuhan. Padahal amanat perjoeangan pendiri Negara, termasuk bung Karno sendiri, sepakat ada Berkehunanan Yang Mahaesa sebagaimana yang tertuang di Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Proses perumusan ini panjang dan ada beberapa alternatip termasuk Piagam Jakarta, namun yang disepakati akhirnya ya seperti yang ente2 semua baca di Pembukaan UUD 1945 itu.

KKNPak Harto juga di ujungnya terkesan malah tidak konsekuen dalam menjalankan Pancasila dan UUD 1945. Cenderung otoriter dan one man show. Meski tujuannya untuk Negara dan bangsa, namun terkesan kurang mencerminkan adanya musyawarah untuk mufakat dalam mengambil kebijaksanaan.

Pak Harto juga terkesan membiarkan adanya budaya KKN yang begitu tumbuh subur. Disatu sisi menimbulkan birokrat yang ABS, disisi lain rakyat merasa tertekan. Rasa keadilan sebagai bangsa yang berPancasila seolah ada error.

Tapi semua itu sejarah yang menjadi pelajaran bagi kita semua.

Membaca sejarah, jika menemukan kekeliruan atau bahkan kita menganggap sebagai suatu kesalahan sekalipun, tidak selayaknya kita bersikap untuk membenci beliau2.

Karena boleh jadi itu lebih disebabkan oleh “candu kekuasaan” dan kelengahan beliau2  dalam memfilter bisikan2 lingkungan kekuasaan serta sifat alamiah penguasa yang lama berkuasa.

Ambil pelajaran dan berhikmahlah pada semua itu, agar ke depan lebih baik.

Banyak kebaikan dan prestasi beliau2 yang bisa ente2 telusuri sendiri.

Peran signifikan Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika, Ganefo, ASEAN, OKI, OPEC, dsb adalah bebarapa prestasi Internasional beliau2.

Kemajuan dan peningkatan kesejahteraan sekarang ini adalah buah dari tanaman2 beliau yang katupnya dibuka dan digandakan oleh para penerusnya seperti pak Habibie, Gus Dur, bu Megawati dan pak SBY serta mudah2an pak Jokowi juga melanjutkan semua yang baik2 dan merapikan yang berantakan.

Penerus beliau2 itu juga memiliki prestasi politik dalam negri yang luar biasa, khususnya Kebebasan mengemukakan pendapat,  rakyat boleh mengkritik pemerintah, dan mengingatkan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk tetap berpegang pada amanah UUD 1945, Pancasila dan NKRI.

Begitu !!!

Neo LibPemuda : terus apa yang menurt pak Kyai masih banyak perlu pembenahan dalam kaitan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan perilaku KKN ?

Kyai : Kalau kesejahteraan ya jalurnya ekonomi.

Tapi bukan berarti kita bebas berkreasi soal ekonomi. Kita harus ingat pesan bung Karno bahwa Neo-Kolonialisme itu musuh Indonesia setelah kemerdekaan.

Go Jek itu salah satu kreativitas otonom dari anak muda yang nyata mensejahterakan bangsa dan rakyat Indonesia. Juga Maxreen yang sempat heboh karena ketidak pahaman oknum aparat akan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 di era modern sekarang ini.

Salut dengan penghargaan pak Jokowi terhadap kerativitas otonom dari penggagas  Go Jek maupun pendiri “pabrik teve” Maxreen..

Konon juga banyak tukang2 reparasi yang sangat kreatip menciptakan pembangkit listrik mikro yang portable dan fungsional untuk mencari nafkah, mencatu lampurrumah tanggga, atau AC atau Kulkas dan mesin cuci, bahkan untuk las listrik.

Cuma ……… hal2 seperti itu,  belum terendus sama aparat yang sudah mendapat gaji dari uang rakyat. Kalah pamor dan terbombardir oleh media serta manusia2 yang gumunan produk asing.

Jadi ………. ya begitu untuk sementara.

Ente coba blusukan di You Tube.

Waspadai ada hoax di You Tube, seperti konon “manusia robot” yang ternyata (konon) hoax.

Kembali upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan pemberantasan KKN.

Selain  melalui jalur ekonomi dan memperbanyak kreativitas otonom, juga ada baiknya dilakukan pemetaan ulang berbagai prosedur pelayanan administrasi negara.

Yang ada sekarang, sudah mulai bagus, meski baru tahap semacam penggunaan perangkat berteknologi IT untuk mendukung pelayanan administrasi pelayanan public.

Pemuda : caranya gimana pak Kyai, ada saran ?

Kyai : Ada baiknya dilakukan semacam pemetaan utang bisnis prosesnya.

Dimulai dari tingkat ujung awal – baca dan pahami UUD 1945 dan Pancasila (yang asli, bukan yga sudah dirubah2. Jangan juga ente2 merubahnya ).

Buang jauh2 doktrin sok jaim ente2 terhadap warisan pak Harto, bacalah GBHN jaman pak Harto, juga Repeltianya.

Pahami suasana dan fakta yang dihadapi bangsa dan negara kita saat mau menyusun GBHN dan Repelita, bukan dikorelasikan dengan kondisi ente2 sekarang.

Sebab kondisi ente sekarang adalah buah dari tanaman sebelumnya yang awalnya dibangun dengan sunggguh oleh pendahulu2 ente.

Kalau sudah paham UUD 1945 dan Pancasila, maka  dengan kondisi ente2 sekarang dan melihat gap antara idealisme yang digagas dalam UUD 1945 dan Pancasila, maka ente2 akan ketemu sendiri apa sih yang dicitatakan pendiri negara terkait pelayanan public.

Lalu lakukan benchmark yang pass, benchmarknya bukan ideologinya ya, tapi bisnis proses yang menyerupainya.. Baru buat pemetaan baru tentang pelayanan public.

Setelah itu mau pakai teknologi sekaligus ya bagus2 saja.

Jadi tidak ada program2 tambal sulam dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat seperti kartu ano-ano yang rawan penyimpangan dan merugikan negara serta tujuannya malah nggak kena.

Lanjut ?

Devide et imperaPemuda : nanya sedikit boleh kan pak Kyai ?

Apa mimpi pak Kyai tentang Presiden Indonesia ke depan. Selama ini terkesan didominasi oleh orang2 dari Jawa.

Maap pak Kyai, bukan menyinggung suku pak Kyai yang kebetulan Jawa juga.

Kyai :  Jawa itu, pemahaman ku bukan suku, tapi pemahaman kehidupan, unggah-ungguh, tatakrama, sopan santun, dsb.

Istilah sekarang mungkin nalar, akal sehat dan etika, atau budi pekerti luhur, kntrol emosi  atau akhlakul karimah.

Makanya di Jawa, kalau ada orang Jawa yang nggak paham budi pekerti luhur, seringa dikatakan “dasar ora Jowo”

Bagi saya manusia yang lahir dengan DNA Kartosupono atau Sumedi, DNA Chaniago atau Hutabarat, DNA Patirajawane atau Rumbewas, DNA suku2 di Busatenggara, Kalimantan, Sulawesi, dsb. Semua orang Indonesia, satu bangsa dengan saya.

Apakah mungkin ya Presiden Indonesia mendatang itu dari Timur ? missal dari Nusatenggara ?

Itu mimpi saya.

Tapi apakah kita siap denga pemimlin dari Nusantenggara ?

Kalau ente2 mengaku orang Indonesia, paham Soempah Pemoeda, mengamalkan anamah pendiri negri ini, menjadi penerus Soekarno sampai Jokowi, maka itu tugas ente2 semua.

Jangan terkecoh dengan permainan yang melenceng dari amanah itu, jangan melupakan sejarah !

Kata bung Karno “ Jasmerah !!! “

Sudah dulu ya ?

Wassalamu ‘alaikum warokhmatullahi wabarokatuh

Salam INDONESIA.

Mudah2an bermanfaat.

Begitu apa begitu ya

Ya Emangbegitu

Scroll To Top