Sekilas Info
Home | Inspirasi | PANJAT PINANG

PANJAT PINANG

Entah darimana asalnya, Panjat Pinang beberapa waktu lalu menjadi semacam “menu” dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.  Aneh !!!

Pembahasan secara “kelirumologi”

Jika diplesetkan, panjat pinang oleh sebagian orang dimaknai sebagai dipanjat dulu baru dipinang.  Katakanlah demikian ! Maka jika Pemerintah Pusat sampai Pengurus RT menyelenggarakan, memfasilitasi atau membiarkannya, akan serupa dengan menyelenggarakan pendidikan bangsa dengan materi “membangun generasi melalui nilai-nilai panjat pinang secara keliru”.  Luar biasa ???  Apakah memang demikian yang dikehendaki ?

Pembahasan agak serius

Panjat pinang itu semacam lomba dimana untuk mendapatkan hadiah, harus melalui proses menginjak-injak rekan sendiri. Penonton juga bersorak sorai saat menyaksikan prosesi lomba panjat pinang ini.

web panjat pinang 2 web panjat pinang 1

Semakin seru soraknya manakala ada yang terjatuh, ada yang kesakitan atau kepalanya bergetar menahan beban berat, dsb. Anak-anak kecil pun bisa menyaksikannya.  Katakanlah demikian ! Maka jika Pemerintah Pusat sampai Pengurus RT menyelenggarakan, memfasilitasi atau membiarkannya,  akan serupa dengan menyelenggarakan pendidikan bangsa dengan nilai-nilai “jika mau mencapai puncak, maka injaklah rekan sendiri. Jika masih belum cukup sampai di posisi yang dicita-citakan, panggilan rekan yg lain dan injak juga. dst’.   Injak-menginjak sampai cita-cita berhasil diraih, adalah nilai yang dapat menjadi materi bawah sadar para pelaku dan penonton.

Apakah memang begitu yang dinginkan. Mau menjadi pejabat, injak kawan terdekat. Masih belum tercapai, pangil kawan lain untuk sedia diinjak. Injak menginjak menjadi model atau konsep atau tata nilai untuk menggapai cita-cita. Apakah memang demikian maunya ?

Kalau dulu, jaman Indonesia diperhitungkan dunia dan beberapa cabang berhasil menjadi juara dunia berkali-kali, peringatan hari kemerdekaan itu dimanfaatkan oleh pemerintah ( Pusat sampai RT ) untuk ajang unjuk kemampuan dari grup atau perorangan pada cabang olahraga, mulai dari bulutangkis, sepakbola, voley, dsb.

Boleh jadi karena itu pula,  jika ada tim Indonesia yang maju bertanding di tingkat dunia, maka simpati, dukungan dan emosi sebagian besar bangsa Indonesia, sangat kenthal dan nyata. angsa ini, rakyat ini secara rutin difasilitasi oleh Pemerintah ( Pusat sampai RT ) untuk cinta olahraga cinta prestasi, ada semacam pendidikan bangsa yang sejalan dengan itu.

So, meski seseorang tidak bisa bulutangkis, katakanlah begitu, namun jika Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Usgiharto, Ivana Lie, dkk berlaga, ia akan bangga, senang dan mendukung penuh, bahkan terkadang ikut mendoakan ksehatan dan keselamatan sampai mohon kemenangan kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Begitu pun dengan cabang lain sepertiTennis Lapangan, Sepakbola, Tinju, dsb.   Semua warung rela berbagai siaran radio, dan semua toko rela untuk berbagi siaran TV.  Kantor Lurah sampai Bupati juga bersorak semangat mendukung tim nasional. Nasionalisme nampak di medan laga sampai di bilik warung, toko sampai perkantoran.

Kini ????? ……….. hanya beberapa gelintir orang yang peduli atas kemenangan tim Indonesia. Yang baru saja terjadi adalah kemanang tim bulutangkis. Yang tragis adalah kemenangan tim tinju. Yang memprihatinkan adalah kekalahan berbagai cabang olahraga, bahkan ketika berhadapan dengan tim dari negara  yg dulunya “pupuk bawang”.

Anehnya kalau tim kesebelasan asing berlaga, bukan saja beberapa kaum yang bersuka cita, bahkan konon  pejabat pun ada yang ikutan bangga atas kemenangan tim negara lain. Bukankah ia adalah WN  Indonesia ? bukankah semestinya kita memajukan tim bangsa sendiri.  Bukankah Pejabat itu contoh wujud nasionalisme ? Ataukah …….. apa begitu ?

Itukah arti Kemerdekaan Republik Indonesia ?  

web proklamasi

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA – 17 agustus 1945-2013

 

Scroll To Top