Sekilas Info
Home | Inspirasi | JAKARTA MEGAPOLITAN II : JOKOWI, BAPAK TIDAK SENDIRIAN

JAKARTA MEGAPOLITAN II : JOKOWI, BAPAK TIDAK SENDIRIAN

HEBOH !!!!  Sekali lagi Pak, jangan kawatir, Bapak tidak sendirian   ………………….. ( part- II)

Fenomena

Entah benar atau tidak, dan entah pula apa sebabnya, di Indonesia seolah ada semacam “tradisi suksesi” dengan ciri khusus, yaitu ada semacam keengganan pemimpin atau rezim pengganti untuk meneruskan apa yang baik dari pendahulunya. Mungkin karena penggantinya merasa lebih pinter dan pendahulunya dianggap tak punya otak sehingga semua karyanya tidak dilihat.  Memang terkadang kita mendengar atau mengamati adanya kesadaran bahwa ada yang salah dengan budaya semacam ini, namun apesnya kesadaran ini muncul menjelang akhir masa jabatannya.

Silakan amati sendiri sejarah di negri kita, atau  perilaku dan program dari pimpinan satu ke pimpinan penggantinya di kementrian, di kantor atau di perusahaan tempat anda bekerja, kegiatan di fungsi dimana anda menjadi anggota tim atau di lingkungan RT anda berdomisili, atau dimana saja di aspek kehidupan yang ada jabatan pemimpin disana. Jika ada ketersambungan dan pernyataan tulus dari pengganti terkait legacy yang di-hands-over-nya, sejak hari pertama hands-over – bukan setelah “kepalanya terbentur tembok”, maka anda beruntung.

Apakah ada yang tidak beres dengan system pemilihan pemimpin di negri kita ? Itu tugas kita semua sebagai warga negara untuk memajukan negri dengan upaya sekecil apapun. Dan …. apapun kondisinya (lagi beruntung atau tidak),  tetaplah berbuat yang terbaik, karena itu jauh lebih baik, mencerminkan kedewasaan dan jiwa besar anda. Lebih mulia lagi, jika anda juga mendoakan dengan suatu kebaikan.

Di negri Anemia, kondisinya lebih parah lagi. Pengganti cenderung menjelek2an pendahulunya yang diganti, semua karya pendahulu diabaikan dan bahkan kalau perlu dimusnahkan sampai rata dengan tanah. Dengan demikian apapun yang dibuat rezim baru, akan “terlihat” sebagai suatu kemajuan, sesuatu yang lebih baik (dari kondisi tanah yang rata tentunya). Kalau dibandingkan dengan yang dilakukan pendahulunya, akan sangat nampak jauuhhhh…. lebih jelek.

kasino DKIPerilaku atau mungkin culture “aneh” di negri Anemia hampir merata di semua sektor dan di seluruh level. Melalui gerakan dengan label “saatnya yang muda”, maka orang baik-baik dan berpengetahuan luas serta memiliki kecakapan dan ketrampilan, harus disingkirkan. Orang2 seperti itu dari segi usia tidak lagi tergolong muda, namun jika disimak bukan faktor itu yang ada dibalik aksinya itu.  Orang2 seperti itu, akan membuat diri dan geng-nya terlihat bodoh bin ngawur.

Bagi kebanyakan birokrasi di Anemia, rakyat hanyalah nomor, mainan atau serupa itu yang hanya akan digunakan pada saat mau election, itu pun dengan cara dibeli seperti jaman perbudakan saja.  Kemenangan diraih dengan melakukan segala cara : mengorder program  ”operasi election” kepada pihak yang melabel dirinya sebagai lembaga pen-survei,  mengotori lingkungan dengan poster, spanduk, selebaran dsb tanpa ada rasa bersalah apalagi membersihkan kembali atau mencopot kembali poster/spanduk/setiker yang telah dipasangnya. Mirip tukang sedot WC di Jakarta ( negri Indonesia) yang banyak mengotori lingkungan semaunya, tempel di tembok, pintu rumah, tiang listrik, tiang telepon, pintu pagar, dsb. Konon politisi Anemia juga hobi mengkudeta acara publik ( pesta pernikahan, acara halal bil hala, acara arisan, pokoknya acara yang banyak orang ) untuk melakukan aksi “narsisisasi” yang dibalut  kesakralan cinta negri atau bahkan dilabeli dengan nuansa religi, dsb.

Setelah memperoleh kemenangan, maka semua jalur anggaran negara dikuasai dan terkesan malah ingin menjarah sehebat-hebatnya. Mau di-gimana-kan ya terserah sang birokrat itu.  Kalau ada kelompok yang protes, tinggal sebar dollar, persis para robber dalam cerita Dalton Brother.  Mungkin  karena niat awalnya adalah : robohkan sampai rata legacy-nya, lupakan jasanya, sikat anggarannya, lalu di saat kritis atau disaat menjelang akhi masa jabatan, membuat pencitraan sebagai pemimpin yang menghargai pendahulu dan memperhatikan aspirasi yang dipimpinnya.

Untungnya kejadian2 itu hanya terjadi di negri Anemia.

KEMACETAN & BANJIR KENDARAAN.

Solusi V.1 – jaman Soetiyoso. Gagasan : Busway, monorail, waterway, subway, 3in1,  Implementasi : Inisiasi Busway, intensifikasi 3in1. Indikasi Keberhasilan : Berani “nekad” memulai rencana aksi nyata untuk mensolusi kemacetan, masyarakat mulai memanfaatkan moda transportasi baru transjakarta.  Sumber Banjir Kendaraan : Peningkatan Mobil jenis Kijang, mulai maraknya ojek dan semakin banyaknya speda motor jenis bebek.  Entah siapa yang melakukan, sengaja atau tidak, atau apa maksudnya, pada masa ini terkadang dijumpai kendaraan mogok di fly-over dan seolah dibiarkan pemiliknya atau pihak berwenang, sehingga menjadi penyebab lain kemacetan.

Solusi V.2 – jaman Foke. Gagasan : mempertahankan konsep solusi v.1 dan tindakan nyata penegakan aturan di titik/spot kemacetan, Implementasi : Melanjutkan implmenetasi Busway, intensifikasi 3in1,  gembok dan cabut pentil.  Indikasi Keberhasilan : Masyarakat sudah membanjiri naik transjakarta, munculnya budaya modern : sebagian pengelola sekolah dan civitas academicanya membudayakan basement dan dropp-in.  Sumber Banjir Kendaraan : Hadirnya mobil sejuta ummat, semakin maraknya Ojek dan munculnya variant speda motor jenis matic.  Kendaraan yang mogok di fly-over semakin sering terlihat/dijumpai.

Bapak Tidak Sendirian

Jika sekarang ada rencana dari pabrikan mobil meluncurkan varian baru yang dilabel sebagai mobil murah, maka wajar jika pak Jokowi merasa jenggah. Karena “banjir” ini tentu berpotensi bikin kemacetan lebih masif dan tentu juga bisa bikin posing, dikritik, dimaki, dikata-katain yang nggak-nggak. Ada pengamat yang mencatat “resep amunisi” Bapak yang telah berhasil menghantarkan kepindahan kantor Bapak dari semula di jalan jendral Sudriman 2 Surakarta, ke alamat di jalan Medan Merdeka Selatan 8-9 kelurahan Petojo kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Indonesia 10160. Resep amunisi itu ditulisnya dalam 19 janji Jokowi.

Terlepas apakah ada “udang dibalik batu” dari program “banjir” itu, alangkah baiknya jika Bapak tidak termakan opini bahwa banjir kendaraan sebagai suatu langkah penjegalan politik atau tindakan serupa itu dari pihak lain, karena hanya akan mengkerdilkan Bapak dan dapat membuat pikiran Bapak buntu dalam menjalankan tugas dan menepati janji Bapak sebagai Gubernur di DKI (reputasi dan sejarah Bapak akan terukir disana).

Pendahulu Bapak – Soetiyoso dan Foke, juga mengalami “perlakukan” serupa itu. Banyak yang paham bahwa tugas Gubernur DKI bukan sekedar mengurai kemacetan, tugas Gubernur DKI sangatlah kompleks karena Jakarta itu megapolitan (mengambil istilah jaman Sutiyoso).  DKI lebih besar dari Surabaya atau  GerbangKertasusila ( Gersik, Bangkalan, Majakerta, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan), mungkin juga lebih kompleks dari Singapur.

Solusi V.3. Peningkatan performansi pelayanan dan penambahan jumlah koridor serta jumlah bus transjakarta. Bapak telah melakukan banyak hal terkait ini, seperti melakukan otomasi cara membeli tiket transjakarta dengan system elektronik, itu gagasan bagus dan modern. Membuka koridor2 baru, memperbanyak armada busa transjakarta secara signifikan, membuat inovasi bus APTB – bus jurusan hinterland yang bentuknya sama dengan bus transjakarta dan diperbolehkan menggunakan sarana busway termasuk halte dan integrasi systemnya. Apa yang Bapak lakukan ini sudah benar, hanya butuh kesabaran dan ketekunan. Butuh waktu sebagaimana pendahulu Bapak. Intensitas pengendalian atau pengontrolan langsung ke lapangan di aspek lalin Jakarta, rasa juga perlu diperbanyak blusukannya.

Mudah2an warga Jakarta semakin antusias dalam memanfaatkan bus transjakarta dan masyarakat hinterland semakin suka memanfaatkannya sehinggga tidak perlu ikutan menjejali jalanan Jakarta dengan kendaraannya. Dengan penambahan koridor, peremajaan dan penambahan secara signifikan jumlah bus transjakarta, maka animo masyarakat yang semakin bagus terhadap moda anggkutan umum ini, akan semakin menunjukan kemanfaatan bagi mengurai kemacetan.

Sekolah yang Bikin Macet. Peningkatan peran dishub DKI dan intensifikasi operasi “gembok dan cabut pentil” pada mobil yang parkir sembarangan di jalanan umum seputar sekolah, mohon dilakukan kontinu. Pengelola Sekolah yang sudah sadar diberikan apresiasi (tidak harus memakai biaya) sebagai sekolah yang nyata membangun Jakarta Modern. Pengelola Sekolah yang belum sadar atau lingkungan sekolahnya belum terkena operasi “gembok & cabut pentil”, dipersering operasi shock teraphy.  Agar budaya modern ( basement dan dropp-in ) menjadi bagian dari standar sekolah dan lifestyle civitas academica-nya.

Pusat Perbelanjaan. Beberapa pusat belanja non-mall, pada umumnya tidak mempunyai lahan parkir, padahal target marketnya jelas orang bermobil. Buktinya barang yang dijual dan sistem membawa belanjaannya mengarah pada target itu.  Payahnya, tukang parkir yang berseragam sekalipun sukacita mempersilakan mobil parkir sembarangan di pinggir jalan, terkadang bisa dua lajur. Jalan yang aslinya dirancang, dibangun dengan duit pajak, Vi liker ikke a skryte men grunnen til at vi har lagd denne siden er fordi vi ville gi norske spillere den mest detaljrike beskrivelsen og analysen av de industriledende casinooperatorene som tilbyr spilleautomater pa nett. berjumlah 3 lajur, karena perilaku “jaman naik sapi” menjadi tinggal satu lajur. Begitupun dengan “pusat perbelanjaan” Kaki-5.  Mohon tempat2 seperti ini dilakukan operasi “gembok dan cabut pentil”.

Pendidikan ini lama2 akan membangun kesadaran bahwa sungguh akan nyaman belanja di lokasi tertentu karena pengelola menyediakan parkir yang cukup.  Kesadaran menyediakan tempat parkir yang nyaman, selain menjadi tren, juga sebagai “senjata” dalam kompetisi pusat perbelanjaan.

3741160_20130812100746Penertiban PK5. Bapak benar, meluruskan kembali fungsi pedestrian, trotoar itu untuk pejalan kaki, berdagang itu boleh2 saja asal tidak menggangu jalanan, termasuk pejalan kaki.  Pembenahan Pedagang Kaki Lima ( PK5) seperti yang dilakukan di Pasar  Tanah Abang dan Pasar Gembrong, memberikan manfaat penguraian kemacetan yang signifikan.   Mohon juga dilakukan di tempat lain.  Masih banyak jalan 4 lajur yang tersisa hanya dua lajur, pedestrian dan dua lajur dijejali PK5 dan kendaraan pembelinya. Bahkan kalau diamati, pemilk warung, sengaja memarkir kendaraannya di lajur sebelah warungnya.  PD Pasar Jaya mungkin bisa digunakan untuk menjadi solusinya, tentu dengan cara membangun “food center rakyat” atau “supermarket rakyat” di lokasi terdekat dengan lokasi PK5. Perihal ini, mungkin perlu pembenahan internal PD Pasar Jaya agar lebih siap dengan peran yang semestinya diambil ini.

Gembok-01Perilaku Jaman Naik Sapi. DKI itu banyak digrudug oleh kaum pendatang dari seluruh Indonesia dan bahkan negara lain. Dapat dipastikan mereka berasal dari kampung, minimal kotanya lebih kecil dari Jakarta. Kaum pendatang ini masuk ke semua profesi, pedagang, house keeper, baby sitter, politisi, buruh, officeboy, supir taxi, selebriti, driver, dsb. Tidak semuanya siap dengan perubahan perilaku. Jika ia seorang sopir yang berasal dari kampung, yang diajari oleh majikan OKB, maka biasanya perilaku parkirnya masih “jaman naik sapi”. Ini tidak mengenal jenis mobil atau bahkan terkadang mobil dinas dari suatu unit di DKI juga ada.

Perilaku dalam mem-parkir mobil atau motornya terkadang masih membawa budaya dari jaman naik sapi, naik kerbau atau naik kuda. Apalagi jika mereka masuk golongan OKB, ngeyelnya minta ampyuuunn dech. Kalau yang dibelakang stir bergender wanita, biasanya berperilaku ala sosialita OKB yang berani memaki tukang pompa bensin padahal dianya yang salah. Kalau gender laki2 gayanya bagai cak Sakerah.  Terkadang mobilnya bagus tapi mem-parkirnya mirip tukang bajaj. Terkadang speda motornya bagus, mem-parkirnya kalah rapi ( sangat berantakan bin bego)  dibanding dengan tukang ojek dekil bin bau (ada tukang ojek yang bersih dan sopan).   Operasi Gembok & Cabut Pentil cocok untuk melakukan switching menthal dan changing culture kaum berperilaku seperti itu.

Wajar jika Bapak  perlu menambah personil yang menjalankan operasi ini, juga mobil derek dan lapangan penampungan dengan mengoptimalkan lokasi lahan milik Pemda DKI, baik itu di lokasi kantor Walikota maupun di lokasi lainnya.  Manfaat yang diperoleh : jalanan lebih lancar, pedestrian lebih rapi, kenyamanan meningkat, budaya modern semakin memasyarakat, efisiensi secara umum akibat tidak ada pemborosan BBM, dsb. Semua itu sejalan dengan tugas dan janji Bapak  di atas.

Operasi ini secara nyata membikin kesadaran bersama untuk membangun budaya modern. Meski dan tentunya perlu waktu, perlu kesabaran dan perlu komitmen yang sungguh2 dalam menjalankan tugas dan menepati janji, perlu serius dalam menegakan aturan lalu-lintas dan perparkiran.

kampung-deret-jokowi-basukiPemukiman Kumuh. Program terkait pembenahan pemukiman kumuh seperti konsep kampung deret, reklamasi setu/danau, dsb meski tidak secara langsung terkait dengan mengurai kemacetan, namun ada manfaatnya bagi kelancaran lalu-lintas disekitar itu. Mungkin ada pemukiman kumuh yang sebenarnya terkait dengan maraknya PK5, mohon dilakukan survei lapangan (blusukan) sehingga boleh jadi bisa dilakukan integrasi program yang menyelesaikan kebutuhan : “kampung deret”, “food center rakyat”, “supermarket rakyat”, dsb.

Sekedar info, Sabtu, 21 September 2013, saya sempat menikmati jalanan di beberapa sudut Bandung ( Barat, Tengah dan Selatan ).  Jika tidak segera ditertibkan, bukan mustahil kelak Bandung akan lebih macet dan ruwet ketimbang Jakarta sekarang, dan……. Pejabat Pemerintah Bandung harus belajar dari pengalaman Jakarta menata infrastruktur dan perilaku dalam menggunakan infrastruktur jalan itu.

Insya Allah, Bapak yang dikenal  humble,  dapat gemilang hasilnya dalam menunaikannya (tugas dan janji Bapak) dengan baik dan cukup waktu –  kecuali Bapak rela atau bermaksud mencatatkan sejarah diri Bapak sebagai Gubernur DKI yang tidak menepati janji. Sayang lho Pak !

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top