Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | PESAWAT TEMPUR : PEMBENCI & KULTUS INDIVIDU

PESAWAT TEMPUR : PEMBENCI & KULTUS INDIVIDU

Anak muda tahun 90-an tidak ada yang tidak mengenal Iwan Fals, bahkan sampai tahun 2000-an pun Iwan Fals masih bertengger di top of mind sebagian besar anak muda Indonesia. Kalangan tertentu bahkan begitu fanatik, sementara ada sebagian lainnya yang “menghambat” laju sosok ini…… Anda lebih paham dari saya tentunya.

pesawat tempurPesawat Tempurku. Salah satu lagu yang nyaris semua fans-nya hafal adalah lagu pesawat tempurku.

Tak dapat dipungkiri, irama dan hentakan musik dari lagu ini begitu rupa mempesona.  Ruarrrrrrr biasa !! great untuk komposer dan juga bang Iwan.

Saya nggak begitu paham soal musik detailnya. Paling2 cuma soal mengamati syair yang ada didalam lagu itu (itupun sering sifatnya iseng).

Jadi kalau pembahansan lagu ini cethek, ya wajar saja. Anda pastinya lebih jago !

Saya “mengamati” bagaimana efeknya syair itu bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Mungkin karena kekuatan jamaah yang “berdoa” secara tulus, maka Allah mengabulkannya.

(bagaimana pun syair , kata2, pikiran itu adalah doa – doa yang seringkali berangkat dan mencerminkan qolbu dari yang melafalkan. Dan munajat yang dilakukan berkali-kali secara tulus, potensi terkabulnya menjadi semakin besar)

Nyaris semua syair itu sudah dikabulkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Gak percaya ?

Silakan simak dulu syairnya, lalu cermati sekeliling Anda.

Berilah hamba uangLiriknya sbb :

(I) Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar //

Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu //

Seperti kemarin kamu hanya lemparkan senyum //

Lalu pergi begitu saja bagai pesawat tempur  (I)

(II) Hei… kau yang manis singgahlah dan ikut bernyanyi //

Sebentar saja nona, sebentar saja hanya sebentar  (II)

(III) Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak //

Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak  ( III )

Setan yang Mengangkang(IV) Kalau saja aku bukanlah penganggur sudah kupacari kau //

Jangan bilang tidak, bilang saja iya…Iya lebih baik daripada kau menangis ( IV)

( Reff I ) Penguasa…penguasa…berilah hambamu uang  /

Beri hamba uang 2x ( Reff I )

(Ref II ) Oh.. ya andaikata dunia tak punya tentara  /

Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya  /

Oh…ya andaikata tak punya tentara  /

Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya (Reff II )

(ref III) Oh… ya andaikata dana perang buat diriku  /

Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum  /

Kalau hanya senyum yang engkau berikan  /

Westerling pun tersenyum ( Reff III )

(Ref IV) Oh… singgahlah sayang …pesawat tempurku  /

Mendarat mulus didalam sanubariku ( Reff IV )

dikatktorTafsir Atas Syair Lagu itu.  Tafsir atas syair lagu itu, tentulah si penggubah lagu yang paling paham.

Karenanya, “tafsir” ini hanyalah sebuah “tafsir” yang boleh jadi terlalu subyektip dan cuma persepsi.

Namun …………. kalau dicermati, “Tafsir” itu kok sudah mendekati fakta dan sebagian sudah terwujud nyata, maka aku penasaran.

Dan aku coba tulis tafsir itu dan dikaitkan dengan “doa yang terkabul”.

Kita mulai dari (I). Disini menyampaikan pesan jelas bahwa penguasa itu amat ditakuti, dan kalau lewat, suara dan sosoknya amat menakutkan seperti pesawat tempur (siap membunuh).

(II) lalu meminta kesediaan penguasa untuk bergabung mendengarkan suara hati (dirinya/rakyatnya).

(III) pesannya adalah tidak akan membuat kritik pedas, cuma sentilan saja.

(IV) seandainya ia konglomerat, maka penguasa itu akan dibikin kesengsem dan mustahil menolaknya.

Pemuja Setan(Reff I) Agak sorry banget …. saya harus katakan ini, sebab menurut yang saya pahami,  Allah itu tidak mengampuni dosa  siapa saja yang mensekutukannya.

Simak pelan2 kata per kata di Reff I itu.  Disini, ada gerakan kebathinan yang melenceng secara keimanan, karena sudah mendudukan penguasa sebagai tempat menghamba dan meminta uang (semacam kultus dalam bentuk negatip, seperti penyembah setan).

(Reff II).  Menyampaikan pesan ketidak-sukaan adanya militer, harapan untuk “bubarkan” militer.

Meski disitu kata2nya adalah dunia, namun saya melihat itu lebih kepada negri sendiri. Saat itu memang dominasi militer (ABRI) amat kuat dan sikap yang menentang penguasa akan mudah dilibas.

Secara pribadi saya memahami bahwa Indonesia saat itu membutuhkan fase seperti itu, sebagai proses lanjutan dari menjaga disintergrasi negara dan bangsa.

Karena saat itu Indonesia relatip negara baru dan pembrontakan dan pengkhianatan datang dari “faksi2″ mulai dari motiv kesukuan/kedaerahan, motiv agama dan motiv anti agama.  Hanya saja, oleh sebagian rakyat dirasakan sebagai sesuatu yang kejam .

Meski secara perlahan dilakukan pembangunan dan pencerdasan semua anak bangsa (tentu dengan kondisi saat itu, belum bisa mencapai 100%, BAHKAN sekarang pun juga belum to ?),  dan ……… ketika jaman sudah semakin maju dan rakyat sudah banyak yang terdidik,  upaya itu justru menjadi kekuatan yang “membunuhnya”.

(reff II) lebih pada penguatan kebencian pada sosok penguasa dan militer (ABRI) serta tuntutan minta diberikan uang.

(Reff IV ) saya kurang bisa menangkap jelas.

Doa yang Terkabul.  Allah itu Dzat yang amat mengabulkan doa. Jika doa dilakukan dengan sungguh2 dan penuh penghayatan, maka boleh jadi pengkabulannya juga lebih cepat.

Nah ……… tinggal doa yang bagaimana ? itu bergantung pada moral/akhlaq yang berdoa. Sayangnya Indonesia pernah disuruh untuk “urusan moral/urusan akhlaq biar diurus sendiri”.

Kata oprang pinggir jalan “Lha wong negrti saja nggak kok mau ngurus sendiri.  Ya mirip anak TK yang minta dibiarkan nyetir mobil sendiri. Bukannya bagus, malah bikin rusak semuanya. Gimana to ?

Looser TroopsBeberapa fakta yang bisa kita sama lihat di negri kita adalah : (1) Kebencian pada ABRI SUDAH DIKABULKAN !!!. Militer sempat dibuat “back to barrack” dan dilucuti senjatanya sampai senjatanya amat kuno dan banyak yang rusak.

(2) Kebencian pada penguasa yang (dipersepsikan) amat dzolim itu, SUDAH DIKABULKAN !!! terlengserkan. Penguasa yang dibenci oleh sekelompok orang (sebagian rakyat Indonesia) itu telah dinobatkan dalam kultus negatip menjadi “setan mengangkang” – na’udzubillah.  Semoga Allah mengampuni dosa2 semuanya dan memberikan hidayah kepada semuanya elit Indonesia.

(3) Penguasa…penguasa…berilah hambamu uang  /  Beri hamba uang 2x  — SUDAH DIKABULKAN !!!! . Sebagian rakyat sudah menjadi budak penguasa (menghamba pada penguasa) mulai saat pemilu sampai selesai pemilu pun sebagian mereka2 itu menghamba kepada penguasa – mudah2an mereka dibukakan hidaya oleh Allah dan kembali ke jalan yang benar. Mau sakit minta fasilutas/uang berobat ke penguasa ( KIS), mau sekolah, minta fasilitas/uang kepada penguasa (KIP), dan seterusnya dan seterusnya.  Mereka menjadi hamba yang tentu saja akan memuji2 penguasa. Yang paling mengerikan adalah (jangan sampai terjadi – na’udzubilla) secara perlahan akan dirubah tuhannya menjadi sosok orang (kultus/musyrik), lalu akan melakukan upaya merubah Pancasila.

(4) Sebagian elit terkesan sudah “kesengsem dan dibuat bertekuk lutut”  - SUDAH DIKABULKAN !!…………. sayangnya bukan oleh rakyat Indonesia, tapi oleh kumpeni   Sebagian elitnya rusak karena sebagian mereka juga berasal dari bathin yang mentuhankan uang dan penghambaan pada penguasa (kekuasaan).

Bukan Janji KumpeniBersyukur .  Bersyukur ada artis lain yang mengajak dengan moral yang (menurutku) lebih paham Tuhan. Seperti Chrisye, Ebiet G Ade, Bimbo, Opick, Rhoma Irama, dsb.  Juga musisi yang (menurutku) memiliki kecintaan pada Indonesia seperti : Koes Plus, Panbers, Dewa, Shela on 7, dsb.

Terusa terang, secara melodi/irama, saya suka banget dengan karya2 Iwan Fals. Meski tidak semua lagu2nya, namun terkadang menjadi terganjal dengan isi lirik/syairnya.

Mudah2an Iwan Fals lahir kembali dengan akhlaq yang lebih mencerminkan kepahaman pada Tuhan Yang Mahaesa dan Indonesia. Lebih hebat dari lagu2 : Wakil Rakyat, Garuda Bukan Burung Perkutut, dsb.

Mengingatkan para elit untuk mikirin rakyat, negara dan bangsa, jauhi mendidik rakyat sebagai peminta-minta apalagi penghamba penguasa. Bukan juga berbantah atau berebut “Papa Minta Saham” atau suka berjanji tapi nihil menepati malah mengkhianati bagai Janji Kumpeni, misalnya .

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

 

 

Scroll To Top