Sekilas Info
Home | Inspirasi | PRESIDEN ANEMIA 2014 ENAKNYA SIAPA YA ?

PRESIDEN ANEMIA 2014 ENAKNYA SIAPA YA ?

Siapa pun yang bakal terpilih sebagai Presiden Anemia 2014, itu takdir !.

business-commerce-careers_service-ambition-goals-life_ambition-careers_advice-mfl0318lJika anda warga Anemia, maka pilihlah calon presiden yang ada, tentu dengan akal sehat. Jauhi rasa benci atau pun memuja. Namun jika Anda bukan warga Anemia, maka itu terserah Anda.

Ini hanya soal pilihan dari “niteni” dan sekaligus pilihan dari sebenarnya apa yang diinginkan serta uji diri apakah ada moralitas yang baik untuk negara atau tidak. Jadi sama sekali nggak ilmiah kan ?.

Di Anemia, seperti halnya di Indonesia, ada PilPres – Pemilihan Presiden.

Kalau di Anemia sarat dengan money politic, bagaimana dengan di Indonesia ? Anda yang paling tahu.

Benci dan Puja. Membenci atau memuja manusia, menurut orang yang suka “niteni” itu akan mengundang penyakit, membuat setan akan merasuk ke jiwa raga manusia dan mengaktifkan berbagai racun tubuh dalam balutan “adrenalin”. Orang yang membenci orang lain atau memujanya, akan sulit obyektip, perspektip penglihatannya selalu kabur, dsb.

Yang dibenci atau yang dipuja bisa celaka, alam semesta bisa murka atau bisa membuat gila tersipu-sipu. Adrenalin dari benci atau puja itu amat bisa meng-empowering dendam-nya atau amat bisa meng-empowering tebar pesonanya, dst. Jika kedua efek itu ( efek benci dan efek puja ) sama-sama mencapai titik maksimum dan bertemu dalam suatu moment, bisa membuat  keduanya nyungsep.  Yang membenci dan yang memuja (manusia), cepat atau lambat akan terkena akibatnya yang didatangkan langsung oleh Sang Pemilik.

huruf JawaPalawa. Terkait rebutan amanah (caraka), dalam “ilmu Jawa” diwujudkan didalam rangkaian huruf palawa ( ha na ca ra ka – da ta sa wa la – pa dha ja ya nya – ma ga ba tha nga ). Huruf Jawa memberikan penjelasan kehidupan bermasyarakat/berorganisasi/bernegara bahwa jika pihak2 yang mendapat amanah (ha na ca ra ka) tidak melakukan musyawarah untuk mufakat, malah semua saling mblenjani/lepas tanggung jawab dan saling cekcok (da ta sa wa la),  dan beradu kekuatan (pa dha ja ya nya), maka   ujungnya semua jadi abu (ma ga ba tha nga).

Dulu (saat huruf  Jawa disusun oleh moyangnya manusia Jawa ) mungkin belum dikenal nilai musyawarah untuk mufakat. Maka wajar2 saja jika banyak kisah menjaga amanah itu sebagaimana terangkai dalam huruf  Jawa.

Bersyukur,  dalam perjalanan sejarah nusantara – Indonesia  (dimana Jawa adalah bagian dari Indonesia), secara perlahan tapi pasti, masyarakatnya mengenal dan paham makna musyawarah untuk mufakat.  Bahkan pendiri negri sejak sebelum tahun 1900-an sudah memahami perlunya nilai dan perilaku “musyawarah untuk mufakat” itu menjadi nilai bangsa, sebagai bagian dari nilai negri yang berbhineka (mirip bagian dari nilai yang tersirat dalam piagam Madinah di jaman Rasulullah s.a.w.).

Luar biasa, jauh sebelum ada manusia yang (sok) mengkampanyekan anti diskriminasi, maka para syuhada, para cendekia, para kyai di seluruh nusantara sudah mempraktekannya – bhineka tunggal ika.  Memang heran juga, kalau ada yang berlagu diskriminatip, seperti heran juga ada yang suka berlagu anti diskriminatsi. Makanya jangan benci dan jangan memuja.

Benci itu untuk menjadi software dalam menjalani kehidupan yang berorientasi pada  keselamatan dunia akhirat. Puja itu untuk Allah dan akan membuat orang yang memuja Allah menjadi humble serta mudah-mudahan kasih sayang Allah juga akan diberikan berlimpah ruah.

tokoh dunia Hindari. Ada ke-benci-an karena hal yang irrasionil, ada juga yang memiliki alasan logis dan faktual.  Begitupun dengan memuja manusia.  Keduanya akan memiliki efek, hanya polaritasnya yang berbeda. Jika anda tidak percaya, itu memang hak anda, dan ini juga nggak ilmiah kok, cuma “niteni” saja.  Anda lebih paham bagaimana akibatnya di dunia dan di akhirat.

John F Kennedy, John Lenon, Anwar Sadat, Indira Gandhi adalah beberapa tokoh dunia – yang kalau mau “niteni” – adalah sosok yang sepertinya terjerumus dalam efek puja dan berakibat fatal – na’udzubillah.  Jika kita “niteni” lebih lanjut, tentu banyak tokoh dunia lain yang mengalami nasib yang “kasihan” karena efek puja itu.

Efek Benci

http://socialvirion.wordpress.com/tag/simpsons/

http://socialvirion.wordpress.com /tag/simpsons/

 

Serupa dengan puja, maka benci pun mendatangkan setan. Banyak contoh kekeliruan manusia membuat keputusan hanya karena benci. Berbagai pengrusakan dan kerusakan terjadi, kedholiman berlangsung, penurunan quality of life, rusaknya tatanan, dsb, kalau ditelusuri dan di “titeni” adalah ya akibat efek benci.

Di Anemia ada sebagian orang dan elit yang benci tokoh Anemia. Apapun yang dibuat oleh sang tokoh atau dibuat dijaman sang tokoh, wajib dibumi hangus, diratakan dengan tanah.

Akibatnya ?

Anemia yang sempat menapaki proses swasembada pangan, justru menjadi pengimpor pangan (dari negri maju sampai negri yang beberapa tahun sebelumnya JUSTRU belajar cara membangun industri pertanian/peternakan kepada pakar-pakar di negri Anemia ). Aneh kan ?

Lebih aneh lagi kalau ada sebagianm elit Anemia malah berkata “kalau impor bisa lebih murah, kenapa nggak impor saja ?”. Memang dalam pikiran dagang dan otak yang tidak memperhatikan saudara sendiri, pola pikir itu masuk akal ( masuk akal itu belum tentu benar, belum tentu juga baik).

Kalau negri Anemia itu negri yang negri yang bergurun pasir atau sering diliputi salju, atau negri yang penduduknya malas dan bodoh, maka ya silakan saja !!!.

kasino DKITapi ……………, jika negri Anemia itu :

  • dominan terdapat tanah yang amat subur,
  • hujan (insya Allah) selalu turun disetiap tahun,
  • penduduknya rajin dan pandai bercocok tanam, lalu
  • perguruan tinggi dan berbagai “lembaga penelitian”  banyak yang melakukan riset dan pengembangan secara personal/swadaya  (karena negara Anemia tidak menghargai penelitian, apalagi mendukungnya) – begitu banyaknya dan hasilnya malah digunakan negri lain, ….. maka

pola pikir itu rada tidak berperi kemanusiaan dan tidak memiliki Persatuan Anemia serta jauh dari rasa keadilan (apalagi ternyata tidak berTuhan).

Pola pikir yang menghina bangsa dan negara Anemia, jika ia mengaku warga negara Anemia, maka ia termasuk golongan yang tidak mensyukuri nikmat Allah yang dihadirkan di negri Anemia. Jika ternyata ia adalah pejabat publik Anemia, maka harus digimanakan dong ?

Orang-orang Anemia yang sinical memandang manusia seperti itu sambil berkata – meniru kalimat khasnya Kasino DKI ( komedian dari Indonesia ) “itu muka apa gorengan ?”

Akibat benci pada seorang tokoh Anemia, maka industri maritim, industri dirgantara, industri automotive, dsb yang bagai memasuki tahap incip2 untuk nongol ke permukaan global, lalu dibumi hanguskan (disadari or tidak).

Akibat benci pada seorang tokoh Anemia, maka pusat pembibitan dan penelitian bibit unggul padi, buah2an, ternak sapi, kambing, ayam, itik, dsb dibum ihanguskan (disadari atau tidak). Akibat benci pada seorang tokoh Anemia, maka beanyak bendungan dan irigasi (primer s/d tersier) mengalami penurunan fungsi sehingga kekeringan dan banjir menghampiri Anemia pada musimnya.

Akibat benci pada seorang tokoh Anemia, maka negri yang semula tinggal sedikit lagi masuk ke tahap mantap dalam arti untuk menjadi negri pengekspor mobil, pesawat, kereta api, kapal, gula, garam, beras, sapi, kambing, insinyur, tenaga medis, dsb; malah menjadi pengimpor besar semua itu. Kalau pun ekspor, malah ekspor babu (bangga lagi ! anehkan negri Anemia ?)

Kyai Mursyid mengingatkan pepatah  bahwa keledai pun tidak terjatuh kedukali di lubang yang sama. Anda semua, warga Anemia, warga Indonesia adalah bukan keledai. Kalau mau membenci, maka bencilah perbuatannya yang buruk. Artinya sungguh-sungguh tidak sudi menirukan perilaku seperti itu.

Lalu apa gunanya diciptakan benci dan puja ?

Kyai Mursyid memberikan semacam clue yang intinya bahwa benci itu dibutuhkan dalam hidup manusia untuk keselamatan dunia akhirat. Karenanya harus digunakan untuk itu (untuk keselamatan dunia akhirat). Contoh : benci berbuat buruk, maka manusia yang orientasinya selamat dunia akhirat, tidak akan berbuat buruk  (seperti melakukan : teror, korup, ngapusi, pedofil, geng motor, dsb). Puja (dan puji) itu hanya milikNYA, karena sehebat apapun manusia, itu adalah “uji” atau “uja” dariNYA semata.

“uji” itu mungkin sepadan dengan perwujudan sesuatu yang TIDAK sejalan dengan keinginannya, seperti sakit, sulit, dsb. Sedang “uja” adalah sebaliknya – sesuatu yang sejalan dengan keinginannya, seperti enak, mudah, hebat, dsb.  Manusia yang hebat itu juga akan mati dan mencari Tuhannya. Contoh : Fir’aun,  dsb.  Jadi gunakan keduanya pada yang semestinya.

Gunakan benci dan puja pada yang semestinya.  Begitupun dalam memilih calon presiden Anemia 2014. Mungkin bermanfaat juga bagi anda yang Orang Indonesia.

Perkembangan peradaban Anemia semakin baik. Ada transparansi pengelolaan administrasi negara sebagai akibat kesadaran rakyat Anemia bahwa negara itu bukan milik penguasa, tapi mlik rakyat. Penguasa itu dipilih dan dapat dicabut mandatnya jika tidak menjalankan tugas pokoknya atau berlaku curang.

Menurut orang pinggir jalan, ini yang dimaksud dengan supremasi sipil.

Di Anemia sempat ada polemik supremasi sipil yang dikotra dengan militer. Aneh kan ? Seperti keanehan pemahaman “supremasi sipil”, di Anemia juga sempat ada keanehan pemahaman “urusan moral biar diurus sendiri”. (Mudah-mudahan di Indonesia tidak mengalamai pemahaman yang aneh seperti itu ).

Meski belum 100% bagus moralnya, namun perkembangan Anemia sudah menuju ke arah yang bagus.  Sebagian elit Anemia, semakin banyak yang sadar akan tanggung jawabnya, melakukan “pendidikan publik” tentang moral dan peran dalam mengontrol jalannya administrasi negara. Sebagian kaum religius, juga mengingatkan bahwa bad morale dan bencana itu memiliki relevansi, dan itu bukan data empirik, namun informasi yang ada dalam kitab suci.

Terkait bencana alam yang akhir-akhir ini dikabarkan sering melanda Anemia, ahli geologi Anemia tentu memiliki ilmu khusus terkait itu. Namun kalau sedia mempelajari kitab suci terkait mengapa bencana itu perlu diadakan/diciptakan Allah (dalam skenario alam smesta) ? bolehjadi ilmu para geolog itu akan semakin lengkap.  Bagaimana badai dingin super ekstrim dingin mampu membuat apapun (termasuk manusia hidup, besi baja, dsb) menjadi partikel beku namun rapuh ? bagaimana jaman nabi Luth bencana dihadirkan ? dsb.

Sengkuni or Kresna or Durna or Mr.X or Mr. Y or ?  Anemia itu bukan di negri pewayangan, negri dimana ada Sengkuni, Kresna, ada Durna, dsb.  Anemia juga bukan negri asing dimana ada Mr. X, Mr. Y,  Mrs.Z, dsb. Jika anda warga Anemia yang hendak memilih presiden, maka jangan gunakan  rasa benci dan puja (like and dislike). Ada baiknya pelajari  ilmu Jawa (bagian dari Indonesia) terkait bobot bibit bebed dan moralitasnya.

Periksa bagaimana quality&capacity sang calon, bagaimana characters and chemistry sang calon, bagaimana visi and program sang calon.  Tolok ukur moralitasnya adalah : si calon itu HARUS beriman dan menjalankan perintah Tuhan,  HARUS berperikemanusiaan dan tidak suka berbuat dholim (menyengsarakan diri dan orang lain seperti : menindas, ngapusi, korupsi, dsb), HARUS mengedepankan kerukunan dan tidak suka “adu domba”, HARUS mengedepankan musyawarah dan membuat keputusan penting/strategis uantuk mendapatkan permufakatan, berkomitmen untuk memajukan/mensejahterakan  bangsa dan negara Anemia secara adil dan merata.

Konon, Pemimpin itu adalah cerminan (dari karakter) rakyatnya.  Jika karakter umum masyarakatnya adalah mirip Sengkuni, maka bisa jadi yang diusung ya Sengkuni juga. Jika umumnya berkarakter Durna, maka kemungkinan besar yang terpilih adalah Durna. Jika umumnya berkarakter Kresna, maka yang terpilih yang berkarakter Kresna, dsb.

Itulah takdir – ketentuan Allah yang berjalan melalui upaya manusia sesuai dengan qadar pada garis-waktu. Sama2 mencari takdirnya, sebaiknya jangan sampai dalam menggunakan qadar di perjalanan waktu (hidup anda), dengan diliputi rasa benci atau memuja (kepada manusia). Bukankah membenci dan memuja (kepada manusia) adalah perbuatan yang akan menjurumuskan diri sendiri dan menjermuskan bersama-sama ?

Untuk anda yang di Indonesia, berdoalah – mohon kepada Allah untuk membukakan hati dan pikiran sebanyak-banyaknya warga Indonesia untuk hal yang baik-baik, hal yang menuju pada peningkatan kehidupan yang sejahtera sentosa selamat dunia akhirat. Sehingga mudah-mudahan pula Allah mentakdirkan pemimpin Indonesia ( dan pemimpin2 selanjutnya) yang baik-baik dan mampu membawa negara dan bangsa Indonesia untuk terus meningkat mutu kehidupannya dalam rakhmat Allah yang selamat dunia akhirat.

Marilah pada waktunya kita menuju TPS di masing-masing domisilinya,

untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

http://www.andaka.com/kontes-popularitas-calon-presiden-indonesia-pada-pemilu-2009.php

http://www.andaka.com/kontes-popularitas-calon-presiden-indonesia-pada-pemilu-2009.php

Scroll To Top