Sekilas Info
Home | Inspirasi | PRESIDEN, GUBERNUR DIKABARKAN DISADAP : Edward Snowden Hero or Traitor

PRESIDEN, GUBERNUR DIKABARKAN DISADAP : Edward Snowden Hero or Traitor

Soal isu sadap menyadap bisa bikin jantung deg-degan, sebab operator sangat mudah mendapat sangkaan sebagai “tertuduh terlibat”.  Sebaliknya soal integrasi di aplication layers yang menjadi fakta di depan mata, bisa bikin pening kepala, sebab operator lagi-lagi sangat mudah menjadi “korban”.…… kok bisa ? 

response to : Emangbegitu@emangbegitu.com

http://www.teapartytribune.com/2013/06/28/edward-snowden-traitor-or-hero/

http://www.teapartytribune.com/2013/06/28/edward-snowden-traitor-or-hero/

Heboh Sadap Menyadap Jaman Broadband. Soal heboh isu sadap di jaman yang konon disebut sebagai jaman menuju broadband ini, telah menjadi derita operator – siapa pun dan dimana pun. Terlebih jika isu sadap menyadap ini menyangkut tokoh2 amat penting. Isu ini dikenali bermula dari lontaran ke publik dari Edward Snowden yang menuduh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) terlibat dalam spionase industri. (perhatikan kata spionase industri menjadi penekanan yang hebat dari Edward Snowden)

Entah kebetulan atau tidak, kejadian itu dimunculkan di negri yang potential market industry Telco-IT nya besar. Tentang kebenaran isu itu tentulah sudah ada pihak yang berwenang menanganinya. Namun, bagaimana pun itu, isu sadap ini telah menjadi semacam bola salju, menggunakan key person yang memiliki daya influencer yang tinggi. Disamping aspek keprihatinan terutama jika kita respons dengan dimensi emosi, namun jika kita aktifkan dimensi akal industri sebagaimana kata kunci yang diberikan oleh Snowden di atas, maka ini mengundang pertanyaan lain…… Adakah semua ini adalah strategy pertempuran para pedagang besar dengan menggunakan icon yang hebat?  Who knows.

strategy 1Perubahan Besar Membutuhkan Strategy Hebat. Merubah paradidgma pasar dan industry, membangunkan berbagai pihak secara massal akan adanya sesuatu yang baru dengan konsep yang juga baru, membutuhkan strategy yang tidak harus biasa-biasa saja, termasuk strategy “ala pertempuran”.  Pertempuran membutuhkan medan yang sesuai, pemenangan dapat diraih secara efektip dengan cara yang efisien.  Negri yang memiliki potensi pasar yang besar untuk produk2 Telco-IT adalah sasaran yang akan dicapai, dan boleh jadi juga merupakan battle field dari mereka yang melakukan pertempuran teknologi itu.

Tolok ukur pertempuran seperti ini, adalah kepercayaan pasar. Bentuknya bisa : menjadi tidak dipercaya atau tidak akan percaya. Yang memperoleh kepercayaan terbesar adalah pemenang pertempuran ini, dan sebaliknya. Percaya, dalam ranah pasar dan industry modern, tidak cukup hanya bersifat teori, namun juga membutuhkan bukti, empirik, proven. Kepercayaan dari masyarakat/pasar, dalam skala besar membutuhkan semacam big-bang dan perlu berefek luas secara berantai sehingga masyarakat/pasar akan dengan sendirinya terpengaruh “tingkat kepercayaannya”.

Pemilihan sosok tokoh menjadi amat menentukan,  semakin  penting dan semakin memiliki pengaruh besar, termasuk segala hal yang dikeluarkan oleh lingkarannya dalam merespons isu, semakin dibutuhkan. Dalam kehidupan modern, atau bahkan dalam kehidupan yang biasa-biasa saja, privacy itu amat penting dan sensitip, sehingga (perasaan) hilangnya privacy akan secara otomatis memberikan respons yang luar biasa. Penyadapan adalah tindakan yang biasa terjadi/dilakukan dalam dunia tertentu yang mengusik privacy.

Penentuan battle field juga menentukan, karena terkait dengan industry dan khususnya market, maka daerah yang memiliki market potential menjadi daerah yang layak dipilih, Semakin besar potensi pasarnya, semakin layak. Karena efek domino juga dibutuhkan, maka daerah yang memiliki tingkat kemampuan mempengaruhi lingkungan, menjadi layak dipilih. Semakin daerah itu memiliki potensi efek domino yang besar, semakin layak.

Pola ini, bukan sesuatu yang baru. Di “pertempuran”  menjelang  jaman peralihan rezim Anlog-Digital-Seluler pun pernah terjadi ( kisah detail ada di bawah ini ).

Pertempuran Pergantian Rezim Analog-Digital-Seluler.  Di jaman seluler, jaman pasca digitalisasi sistem telekomunikasi, atau jaman integrasi pada  transport layer, yakni jaman yang berujung disatukannya semua sistem transport yang saat itu berjalan sendiri-sendiri dalam sistem yang terpisah ( ada sistem telepon yang terpisah dari sistem telex dan juga semuanya terpisah dari sistem pager, dsb), juga pernah berlangsung sengit pertempuran dengan isu sadap dan penggandaan.

http://97shared.blogspot.com/2013/05/download-kumpulan-aplikasi-penyadap.html

http://97shared.blogspot.com/2013/05/download-kumpulan-aplikasi-penyadap.html

(1) Heboh Sadap Menyadap. Produk “transisi” berupa analog mobilephone ( AMPS dari Amerika, NMT dari Eropa, dsb) yang (saat itu) akan digantikan oleh rezim digital, di boombardir dengan isu sadap.  Fakta, possibility dan berbagai aspek memang menujukan adanya peluang dan kemungkinan itu.  Dalam waktu relatip singkat (sekitar 5 tahun), rezim GSM bukan saja mendunia, namun berhasil mengintegrasikan semua sistem telekomunikasi yang saat itu masih terpisah-pisah. Pertempuran ini bukan hanya antara GSM melawan rezim lama (Analog), namun juga antara GSM melawan sesama penganut digital dari aliran lain. Misal aliran Jepang yang dimotori oleh NTT DoCoMo, aliran Amerika yang dilabel dengan D-AMPS.  Efek dari pertempuran ini, selain “tewasnya” rezim lawan, juga berbagai “padepokan” lain seperti sistem Telex, sistem Pager, pun menjadi tumbal hilang tak berbekas.

Sekedar mengingat2 saja. Dulu alat penyadap handphone bisa dibeli bebas (atau secara sembunyi-sembunyi) di pusat-pusat penjualan alat elektronik di kota2 besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dsb.  Alat ini bekerja tanpa ijin, tanpa melalui atau tanpa sepengatahuan operator.

(2) Heboh Clonning.  Begitupun dengan isu penggadaan. Di padepokan PSTN, berkembang isu “salurannya digantol” alias “diparalel secara liar”. Telepon digantol itu serupa dengan penggandaan, bisa menggunakan tanpa sepengetahuan pemilik nomor aslinya, kalau pun tahu, si pemilik dan bahkan operator PSTN akan sulit menangkapnya. Di telepon mobile Analog, isu ini menjadi amat kuat, sebab pemilik telepon ini (saat itu) adalah kalangan jetset, top birokrat, top usahawan,  dan serupa itu.

Dulu, di pojok2 tertentu di pusat2 penjualan elektronik di kota-kota besar, juga konon dengan mudah ditemukan “tukang pengganda” nomor handphone, mungkin mirip dengan tukang pengganda kunci (kunci mobil, kunci motor, kunci rumah, dll) . Mereka bekerja tidak bekerjasama dan bahkan tidak sepengetahuan operator atau pun pabrikan.

http://bewinchester.wordpress.com/2013/11/20/mengenal-anonymous-grup-hacker-paling-berpengaruh-di-dunia/

http://bewinchester.wordpress.com/2013/11/20/mengenal-anonymous-grup-hacker-paling-berpengaruh-di-dunia/

Heboh Sadap Menyadap Jaman Boradband. Jaman sekarang ini sering dikatakan sedang menuju/sudah memasuki jaman broadband atau mungkin jaman peralihan dari rezim layer transport ke rezin layer aplikasi. Di jaman ini,  jaman sesudah semua layer transport terintegrasi dalam suatu produk dari pengembangan teknologi jaringan (transport layer ) yang bernama GSM.  Layer ini ber-evolusi. Evolusi 2G/3G telah membuat layer aplikasi bertumbuh pesat.

Berbagai aplikasi bermuculan bagai jamur di musim hujan, tidak ada sudut yang potensiil yang tidak tumbuh jamur, tidak ada aspek manapun yang berpotensi yang tidak menimbulkan aplikasi-aplikasi baru.

Faktanya, semua “egois”.  Aplikasi yang satu tidak bisa disatukan dengan aplikasi dari produk perusahaan lain, meski dari sisi user diinginkan untuk disatukan, atau secara logika produknya bersifat komplemen – saling melengkapi. Egoisme semakin merajalela, semua perusahaan aplikasi mengeluarkan jurus “palugada” ( aPA LU mau GuA aDAin).  Mau messeging/text chatting, gua adain. Mau voice coversation, gua adain, bisa chatting bisa seperti biasanya. Mau video call/conference, gua adain. Mau tahu lokasi, gua adain. Pengin punya laman sendiri, gua adain. Dan seterusnya.

Semua melakukan ekspansi. Aksi korporasi pun tidak sedikit dijadikan sebagai “senjata pertempuran”. Kalau secara resources, value dan time to market lebih mudah nyaplok perusahaan lain yang masih/lebih kecil – ya caplok saja. Dan berbagai aksi koporasi pun dilakukan. Hanya saja caplok mencaplok jaman sekarang lebih beradab dan memberikan manfaat dan kesejahtera bagi semuanya ( yang nyaplok sudah pasti, yang dicaplok sekarang diperhatikan benar kesejahteraannya ).

Proses caplok mencaplok seperti ini terkadang diawali dengan adanya pertempuran-pertempuran. Ada yang diketahui publik, ada juga tidak dipublikasi alias diam2 atau seperti “nikah siri”. Ada yang disadari oleh publik kewajarannya,  ada juga yang publik tidak habis pikir – mirip gandengan antara cowok bule dengan cewek domestik di berbagai mall di Jakarta, Bangkok, Manila, dsb.

Contoh bentuk pertempuran di jaman akhir-akhir ini adalah : isu atau fakta situs suatu lembaga negara diserang oleh hackers, isu atau fakta account seseorang (account email atau account media sosial) digandakan, dsb. Semua ini adalah serupa dengan fakta/possibility dilakukannya clonning atau penggandaan terhadap nomor handphone.

Boleh jadi karena masih minimnya regulasi atau rekomendasi ITU ( bagian dari PBB yang membidangi telco)  di transport plus appication layer, lebih khusus application layer,  membuat seolah egoisme dan pertempuran itu bakal nggak ada batasnya.

http://www.nyunyu.com/main-article/detail/memorable-quotes-from-warkop-dki.html#.UvxXk2KSxBE

http://www.nyunyu.com/main-article/detail/memorable-quotes-from-warkop-dki.html#.UvxXk2KSxBE

Kesimpulan Cerita ini adalah  : (1) Ini jaman pergantian rezim dari transport layer yang berkuasa menjadi aplication layer yang (bakal) berkuasa. (2) Perebutan kekuasaan ini dilakukan melalui pertempuran. (3) Kepercayaan publik/pasar/industri merupakan hal yang diperebutkan.

Dalam pola analiss seperti di atas, terlepas benar atau tidak soal isu penyadapan itu, maka nampaknya kaum pedagang global, memiliki metoda begitu canggih dan menggunakannya secara jeli  dalam melakukan pertempuran mempengaruhi pasar dan industry terkait Telco-IT.

So ? Edward Snowden is Hero or Traitor ? it’s depend where you were standing on

Dan ……………, operator telco, khususnya operator transport layer dijaman sekarang  rentan untuk dikorbankan (siapa pun dimana pun, di AS beberapa kumpeni mobile konon mulai tidak terdengar, di Indonesia ….. ??? anda pastinya lebih tahu )’ Lenyapnya atau menjadi sayup2 nyaris tak terdengar ,  bisa akibat dari adanya pertempuran (saat sedang berlangsung maupun saat pertempuran usai), atau karena memang demikian evolusinya, atau karena manusia2nya terlena dengan kenikmatan tanpa pernah merasakan susahnya membangun,  atau karena sistem manajemen yang kontraktual dan transaksiaonal yang membuat berpikir cethek alias visinya dangkal,  atau karena sistem pendanaan yang kapitalis  ( bahkan BUMN dan model juragan lokal nggak lagi bisa berkutat bagai burung yang patah sayapnya), atau karena sistem demokrasi politisasi yang merasuki  sedemikian rupa sehingga hidup bernegara tanpa roadmap dan para pengambil kebijakan bagai sopir bajaj, atau karena apalah begitu.

Pemenang pertempuran ini siapa, ya …….. kita tunggu saja, sebab kita berada dalam posisi sebagai “penonton”.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

 

 

Scroll To Top