Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | PUBER (SEx)

PUBER (SEx)

Sepertinya “puber bernegara” itu bukan saja terjadi pada manusia bertitle  ”negarawan puber”, namun juga secara marak nampak di nitizen sampai rakyat biasa “puber bernegara”. Sebagian mereka terkesan puber SEx (baca : puber sekali)  ……… orang skeptis mengatakan bahwa mereka itu gagal paham bernegara.

PencerahanNitizen dan Rakyat Butuh Pencerahan. Ada kesan, sebagian nitizen amat benci pada tokoh2 sejarah Indonesia.

Baru2 ini sosok Kartini disetarakan (atau sebaliknya) dengan artis abal2 yang sempat bikin heboh karena bisnis esek-esek dan kisruh dengan germonya serta dicocok polisi (entah sekarang bagaimana kasusnya…. Anda lebih paham).

Nitizen dan rakyat seperti itu, sebagian diantaranya adalah dari kaum yang bodoh dan mudah dicuci otaknya, namun ada juga dari kaum the HATERS  yang tega dan sepertinya punya maksud jahat untuk merusak sejarah Indonesia, serta merusak budaya Indonesia dengan berbagai cara (fitnah, adu domba, dsb)

Sebagian mereka terkesan ada yang silau dengan kapitalisme dan liberalisme dan ogah dengan Pancasila, Pembukaan UUD 19445 dan NKRI.

Simak saja … ada lho intelektual dan pejabat negara koplak yang terkesan sepertinya gak paham Pancasila, Pembukaan UUD 1945 dan NKRI. (mosok rakyat dibiarkan milih pemimpin secara keliru atau bahkan salah total)

Mereka boleh jadi amat jarang dan tidak paham apa idealisme bernegara REPUBLIK INDONESIA.

Atau mereka memang kaum the HATERS yang menyusup untuk merusak Indonesia ?….. Anda lebih paham.

Idealisme yang telah disusun dengan serius, dalam bimbingan Allah, melalui perjuangan gigih dalam waktu yang panjang, dari manusia2 biasa yang berbudi luhur, tekadnya kuat, dedikasinya kokoh dan nyata, perjuangan ikhlas lillahi ta’ala. (baca Pembukaan UUD 1945 yang asli ya !!!)

Monggo !!!

wrong wayTugas Negara. Negara itu isinya ya kumpulan manusia2 juga. Manusia itu ada sifat baik dan ada sifat buruknya juga. Hanya nabiyulloh dan rasululloh yang sifat buruknya di”protect” sama Yang Maha Kuasa (al-Aziz), Tuhan Sang Pencipta (al-Khaliq).

Jika negara dipenuhi oleh manusia2 yang “gagal paham”, maka negara itu amat berpotensi mengarah menjadi negara gagal (na’udzubillah), kecuali Allah berkehendak lain (semoga Allah melindungi dan memberkahi Indonesia).

Namun jika semakin banyak manusia2 di negara itu paham bernegara, maka amat besar potensi negara itu menjadi negri yang “gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja,……………. “.

Negara itu punya idealisme, termasuk Indonesia. Dimana itu  adanya ?

Kalau di Indonesia, idealisme bernegara itu sudah ditulis di Pembukaan UUD 1945 (yang asli ya !!!, bukan yang penuh kepentingan dan terkesan dirubah secara tergesa-gesa )

Kalau ada (elit maupun rakyat, media maupun redaksi dan reporternya) yang gagal paham bernegara, adalah tugas negara untuk membangunkan mereka agar tidak lagi gagal dalam berkehidupan bernegara menjabarkan idealisme dalam Pembukaan UUD 1945.

Monggo

wrong directionIdealisme Salah Asuhan .  Manusia2 di suatu negara (termasuk di Indonesia), berpotensi salah asuhan.

Dulu kaum elit itu diasuh oleh manusia2 yang ASLI paham agama, ASLI paham budaya, ASli paham alam, ASLI paham berdakwah, dsb.

Elit saat itu adalah para pejuang, penggagas pikiran cemerlang bernegara, pengatur strategi untuk menyatukan nusantara, sampai pejuang umum memerdekaan nusantara, pencetus identitas negara baru yang besar dan kokoh, dsb.

Kini, manusia2 seperti itu (  ASLI paham agama, ASLI paham budaya, ASli paham alam, ASLI paham berdakwah, dsb ) terkesan terhalangi aksesnya ke elit penguasa.

Entah dihalangi oleh kaum the HATERS, atau elitnya juga termasuk “gagal paham bernegara”  alias negarawan puber.  Anda lebih paham tentang ini

Sementara itu, rakyat  jaman itu  (kemarin dan kemarin dulu) mencantholkan idealisme dan romantisme bernegara pada apa yang digagas oleh elit2 jaman itu (jaman perjuangan – simak Pembukaan UUD 1945 yang asli).

Kini, idealisme dan romantisme lebih dikendalikan pada kapitalisme dan liberalisme.

Contoh : idealnya (kelirumologi) adalah negara itu HARUS ngasih uang dong pada rakyatnya. “Idealisme” seperti ini akan mendorong sifat malas, dan menyuburkan ogah berkeinginan untuk dibukakan/membuka lapangan kerja.

Jauuhhhhhh …. dari idealisme negara wajib mensupport warganya yang kreatip, yang baik2, yang kerja keras, yang produktip, dsb, dsb .

Antrean blt Bantuan Langsung Tunai (BLT).  BLT terkesan hanya sebagai short cut untuk katup sosial, yang lebih tepatnya (mungkin) untuk ngathok atau nyogok ke rakyat sendiri.

Apakah ini mencerminkan gagal paham para elit dalam mengengelola negara, mengelola sumberdaya, mengelola rakyatnya ?

Gagal tapi kepingin “dicintai”, dan akhirnya penyakit “gagal bernegara” pun menular secara massive ke rakyat.

Anda lebih paham !!!

Kini BLT terkesan anti korupsi dengan bentuk seperti kartu debit dari  penguasa. Apakah benar kesan anti korupsi di lapangan ? ……..sebaiknya blusukan sampai ke mereka yg kecewa dan yang jingkrak2 )

Antrean KJPSeolah mau memperbesar jumlah rakyat yang gemar menjalankan budaya “Penguasa Minta Pulsanya dong”.

Sementara, disisi lainnya rakyat kreatip malah menjadi ditangkap aparat – mungkin karena ada undang2 yang membuatnya seperti itu

Padahal dia tidak subversip, tidak korupsi maupun koruspstor, bukan begal, bukan bandar narkoba, bukan tukang gendam, dsb.

Aneh nggak ? ….. wes mbuh itu tugas atau kelakuan oknum dari mereka2 yg digaji dg duit rakyat.

InvestigationUndercover Blusukan. Sesekali mungkin diperlukan “undercover blusukan” oleh siapapun yang mencintai Indonesia.

Juga, oleh yang ingin korupsi dan manuipulasi berkurang drastis dari perilaku birokrat pengelola uang negara..

Blusukan menyatu bersama para “penikmat  budaya Penguasa Minta Pulsanya dong”.

Simak juga berita lulusan SD cari nafkah dg jualan teve bekas rongsokan, yang diperkarakan.

Bukankah ia (lulusan SD, cari nafkah halal)  itu kreativitas dan aktivitas yang semestinya dilindungi dan dibina oleh negara (bukan dibinasakan).

Bukankah mereka yang sudi untuk membuka lapangan berusaha, minimal untuk dirinya juga serupa itu ?

Simak juga pikiran koplak dari sebagian elit “negarawan puber” yangmau melarang ojek on-line karena ngiri atau asli koplak.

Dari contoh ini, terkesan ada salah asuh dalam membangun idealisme bernegara (penguasa, berilah aku uang), dan membangun romantisme yang berdasarkan hepeng ( misik apa coba ? )

Monggo !!!

Simpson IdiotIdealisme Salah Tafsir.  Banyak orang belajar agama, namun bukan meniru perilaku rasululloh (Adam …………. Musa, “Isa dan Muhammad).

Sebagian lebih suka menirukan dan patuh pada “pemuka agama” meski yang ditiru dari “sang pemuka agama” jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh nabiyulloh dan rasululloh.

“pemuka Agama” itu bisa saja oleh awam  ditokohkan sebagai “ustadz” atau sebutan serupa itu di agama bukan Islam.

Contoh (1) : miras itu jelas2 dilarang di kitab suci (baca kitab suci masing2),  secara budaya juga nista ( mungkin tengoklah kearifan Jawa Ma Lima), malah ditenggak karena “pemuka agama” tidak melarang dan terkesan menganjurkannya.

Alam Sutera BomContoh (2) : nyolong (korupsi)  jelas2 dilarang di kitab suci (baca kitab suci masing2),  secara budaya juga nista ( mungkin tengoklah kearifan Jawa Ma Lima), malah atasnama partai, atasnama kestabilan, gotong royong,  dan (mungkin saja ada) yg mengatasnakan agama, malah rajin nyolong duit negara (korupsi).

Contoh (3) :  membunuh manusia lain, jelas2 ayatnya dilarang, kecuali oleh sebab yang diperbolehkan Allah (seperti saat berperang, melakukan qisas setelah proses pembuktian yang teliti dan adil, dsb), lha kok malah membomb berbagai bangunan/gedung yang dihuni manusia2 yang tak tahu apa2 dan kenal pun  tidak, atau membunuhi manusia lain.

Ada yang alasan ekonomi (seperti perebutan ladang minyak di belahan luar Indonesia, dsb) dimana melakukan pengebomban sadis ke berbagai kota (bukan saja bangunan) oleh manusia2 biadab dengan dalih macem2.

Ada yang alasan “secret” (seperti al-Aqsa) dimana orang mau beribadah dihalangi sampai ditembak oleh manusia aneh dengan berbagai dalih.

Ada alasan “SARA” (seperti Bomb Alam Sutera, Bomb Sarinah/Thamrin) dimana orang2 yang sedang beraktivitas harian menjadi korban bom oleh orang2 bodoh yang tercuci otaknya untuk bertindak brutal.

Dan sebagainya…..

Terkesan dengan amat jelas, bahwa mereka yang berbuat biadab itu salah tafsir dalam mengaplikasikan ajaran untuk berbuat baik, berbudi mulia, beramal sholeh.

Yang ditiru bukan nabiyulloh dan rasululloh ( Adam ……… Musa, Isa dan Muhammad), tapi ajaran “pemuka agama” – manusia biasa.  Ini mungkin salah satu bahaya dari kultus individu (pada sosok orang, pemuka agama, dsb) .

Monggo !!!

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu .

 

 

 

Scroll To Top