Sekilas Info
Home | Inspirasi | RADIKALISME DAN TEROR KULINER

RADIKALISME DAN TEROR KULINER

Konon, pihak asing sudah mampu merasuk ke pasar kuliner INDONESIA sampai ke pelosok. Sementara baru2 ini ada pemberitaan tentang makanan yang digemari banyak kalangan berbahan dasar mengandung racun, zat adiktip, dsb.  Ada nggak sih hubungannya ya ? suatu kelengahan media atau inisiatip edukatip yang belum selesai ? …. monggo dipun pikir kanthi adem ati.

Berita negatip, memberikan efek bola salju ke-parno-an para orangtua begitu rupa.  Aktivitas itu membangun stigma tentang kuliner “sesat” yang telah membuat “teror”  dan menghantui para orangtua.  Payahnya kuliner itu adalah ASLI kreasi anak bangsa INDONESIA. Lebih payah lagi adalah pihak luar memang sedang berekpansi untuk menyedot pasar sebagaimana produk2 elektronik.

INDONESIA adalah pasar yang luar biasa di bidang kuliner. Jaman kemarin, INDONESIA sempat punya “pasukan” kuliner yang mampu menyerbu ke seluruh dunia – Mie Instant. Itupun nyaris terbunuh oleh anak bangsa sendiri dengan berbagai isu dan gosip yang (seolah) mengandung FAKTA. Entah itu hasil rekayasa atau hasil penelitian pesanan pihak lain.

Alam INDONESIA membuat kuliner asli INDONESIA memberikan efek “kesengsem” kepada siapa saja yang pernah merasakannya. Presiden Obama adalah contoh nyata yang terngiang dengan sate, bakso dan nasi goreng. Sebelumnya adalah para opsir VoC (kumpeni) kesengsem dengan nasi goreng, krupuk, sambal terasi. Ekspatriat masa kini akan mearasakan “tidak enak badan” kalau sehari nggak ketemu nasi. Dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa gerai kuliner waralaba yg di negrinya jualan sejenis roti, kini juga jualan nasi dan telur dadar (bukan omelet lho) serta menu citarasa asli INDONESIA.

Mudah2an  kita, pemerintah, para peneliti (apalagi yg hobi terima pesanan asing untuk indirect destruct kuliner INDONESIA) menyadari kehebatan yang diwariskan generasi pendahulu.

Kepada saudara2ku dari jenis manusia2 culun di bidang kuliner, mohon waspada !!!!

Karena keahlian anda dan “karakter” anda, adalah pintu termudah untuk membangun aliran kuliner sesat sampai terorisme kuliner yang ujung2nya adalah hancurnya industri kuliner asli.

Juga kepada para peneliti “asongan”, mohon tidak melacurkan diri pada kepentingan dan pesanan asing.

Kepada media2, mohon titik beratkan pada kepentingan industri kuliner nasional. Syukur kalau sudi ikut men-dunia-kan kehebatan, keragaman, dan kelezatan serta keaslian kuliner nusantara.

Para pejabat negara, mohon sadar, bahwa anda2 juga potensi digunakan untuk menghancurkan industri kuliner nusantara.

Sekali anda mengeluarkan statemen yg vulgar (padahal tanpa anda sadari, itulah “pesanan” pihak tertentu), media akan menuliskan, dan rakyat secara beramai2 ketakutan serta pelan tapi pasti industri kuliner nusantara yg anda sebut akan rusak.

Monggo …………….

http://www.kulinerbdg.com/index.php/component/content/article/9-makanan/80-sate-cilok-aisyah

Teror Kuliner & LoL. Tidak sedikit warga yang “parno” melakukan tindakan radikal dengan “memblokir” akses anak2nya kepada jajanan yang diberitakan sebagai kategori berbahaya (“sesat”) dan mengundang kecemasan serta mengancam keselamatan jiwa (“teror” ) itu.

Secara tidak disadari, masyarakat Anemia (termasuk media dan pemerintahnya) sedang membunuh anak bangsa yang kreatip, tidak suka protes, namun giat membuka usaha dan lapangan kerja di bidang kuliner.

Ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja, sebab bukan tidak mungkin ada pihak luar yang sedang mengincar pasar kuliner secara DOMINAN, melalui pengungkapan FAKTA yang memang ada di Anemia.

Diantara pedagang dan aktivis kuliner di Anemia, tentulah ada saja yang memang berbakat “sesat” dan “jahil”. Kaum ini dari sebagian mereka yang bodoh, namun sebagian lagi punya otak encer tapi ya itu …. “jahil”.

Mau yang bodoh maupun yang otaknya encer, kedua jenis ini memang berbakat untuk (ter/di)-”sesat”-(kan) dan diboosting untuk menimbulkan “teror”.

Sebagai tambahan, Anemia merupakan pasar potensiil untuk bisnis kuliner.

Jika ini merupakan strategy “kuliner war” pihak luar, dan kelengahan media serta pemerintah Anemia, atau  tanpa disadari malah justru bangga dan “kejam” menindak anak bangsa yang “sesat” itu, maka pihak luar akan LoL…..

Jika perang ini berhasil dibangun dan dimenangkan pihak luar, maka sekian juta penduduk Anemia yang kreatip dan tidak menuntut ke pemerintah akan lapangan kerja, akan terkapar kehilangan pasar dan menjadi pengangguran besar2an.

Untungnya …  hal itu terjadi di negri Anemia.

Alhamdulillah INDONESIA lebih baik …………

Fakta yang Terungkap. Sebagian (kecil) penjual  kuliner Anemia, ada yang menganut aliran “radikal sesat dan teror”. Sebagian besar diantara mereka adalah dari kalangan bodoh dan jahil. Namun, dikabar sebagian mereka dengan kecerdasannya sudah menggunakan situs sebagai pemasarannya.

Mereka menjual berbagai jenis kuliner yang merupakan asli kreativitas rakyat Anemia dan digemari diseantero Anemia. Ada pedagang kuliner menjual “meat ball sesat” dari campuran daging sapi dengan daging bangkai dinosaurus. Ada situs yang dikabarkan menjual “burger sesat ” yakni burger dg taburan marijuana.

Keduanya membikin “teror” yang mengancam kesehatan pencinta kuliner sekaligus mengancam keberlangsungan industri kuliner Anemia. Penjual meat ball sesat sudah ditindak tegas dengan jalur hukum Anemia yang kejam ke bawah. ( mengapa tidak dilakukan pembinaan untuk kembali ke jalan kuliner yang sehat dan “lurus”)

Anehnya,  pemerintah Anemia tidak setegas pemerintah INDONESIA. Situs yang antara lain menjual “burger sesat”  bertabur marijuana itu sama sekali tidak dikabarkan di blokir oleh badan kuliner anti radikal dan sesat Anemia, padahal potensiil menjadi ancaman perusakan generasi muda melalui “kuliner sesat”, selain itu amat merusak industri kuliner Anemia yang asli baik2.

Entah logika apa yang digunakan oleh elit di negri Anemia.

Aneh ngGak ya ? ….

http://ecocatlady.blogspot.com/2013/01/the-war-on-drugs-hits-home.html

Kuliner War. Anemia harus belajar dari INDONESIA dalam melindungi rakyatnya, terutama dalam kecepatan melakukan tindakan/merespons hal-hal yang berbau “sesat”, “radikal” dan teror”.

Anemia belum menyadari bahwa lahan strategis dalam suatu perang (sejak jaman batu sampai kapan pun) adalah ekonomi dan pasar.  Sementara sesat, radikal dan teror hanyalah alat (tools) untuk memenangkan perang.

Tools paling mudah dan murah serta resikonya kecil adalah menggunakan “bahan lokal” dari manusia2 bodoh dan jahil. Kondisi kondusifnya adalah melenakan pemerintah setempat dan membangung stigma dan persepsi negatip terhadap warga lokal yang semestinya dibina/dicerdaskan karena kobodohan dan kejahilannya.

Anemia yang memiliki kekayaan kuliner asli dan digemari bukan saja oleh rakyat asli Anemia, namun bangsa manapun yang pernah mencicipinya, akan menyukai. Kalau di INDONESIA, kuilner sambal terasi, kerupuk, nasi goreng, sate, telah diakui kelezatannya sampai oleh pemimpin2 Amerika, begitupun dengan kuliner Anemia.

Anemia juga memiliki kekayaan tradisi busana tradisional maupun kreasi bersalut religi yang mendunia.

Untungnya rezim pemerintahan Anemia telah menyuarakan hal ini ke penjuru dunia dan mengamankan dari pen-daku-an hak intelektual milik asli bangsa Anemia. Sayang soal kuliner belum ada gerakan yang cethar membahana dalam mengamankan kekayaan asli kuliner Anemia.

Bukankah ini kesempatan berbuat baik untuk negri sendiri ? ………….

http://m.dakwatuna.com/2013/05/18/33472/ahmad-fathanah-antara-opini-dan-fakta-persidangan/

Peran Media  . Beruntung, media2 di INDONESIA tidak seheboh media negri Anemia dalam memberitakan berbagai kuliner rakyat, yang diindikasi dan ditemukan faktanya mengandung racun, barang haram, zat adiktip, dan berbagai “teror” kuliner lainnya.  Kuliner itu terkait dg mulut dan perut, yang jika kemasukan “teror” akan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Meski tidak semua pedagang berbuat sepereti itu, namun tidak dipungkiri, beberapa pedagang dan pelaku penjual jajanan rakyat di Anemia,  ada yang yang bodoh dan jahil. Pedagang yang bodoh dan jahil serta para “parno”is yang melakukan “pemblokiran” akses anak2nya terhadap kuliner rakyat  itu, kebanyak dari kaum yang kurang paham sejarah kuliner Anemia.

Dulu, jajanan rakyat itu hanya disukai kalang menengah ke bawah, namun kreativitas generasi muda  Anemia, telah mampu mendongkrak jajanan rakyat itu menjadi masuk mall  dan ada di sekolah2 elit.

Terhadap berita ini, khususnya pengungkapan pedagang jajanan yang bodoh bin jahil, warga Anemia layak berterima kasih kepada media.

Namun sebaiknya tugas para elit Anemia  -khususnya negara/pemerintah adalah melindungi segenap tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa Anemia

nyong-tresno-i-love-WARTEGPerang Imajiner di Kuliner & “Patriot” Bangsa. Kini jajanan rakyat itu sedang dibombardir dengan stigma sebagai jajanan “sesat” yang menimbulkan “teror”.   Ini luar biasa, dan sebaiknya para elit Anemia dan pemerintahnya tidak boleh hanya terpaku dan membiarkan begitu saja, terutama jika pemerintah Anemia benar2 memikirkan rakyat, memajukan bangsa dan negara Anemia (bukan negri lain).

Seperti halnya INDONESIA, Anemia juga (ingin) mewaspadai serbuan kuliner MEA setelah serbuan kuliner global yang telah menelan korban banyak.

Kalau di  INDONESIA, jajanan rakyat yang disukai banyak orang dari semua kalangan ekonomi antara lain adalah cireng, cimol, cilok, brownis, es putyer, es jadul, bakso, dsb. Kuliner ini telah mampu menggeser minat anak muda perkotaan sampai di pelosok negri sehingga mencintai kuliner asli INDONESIA.

Kekuatan kuliner ini serupa dengan kekuatan kuliner asli yang telah dikembangkan generasi terdahulu seperti : warung Padang, warung Tegal, warung makan Lamongan, kedai mie Aceh, konro dan coto Makasar, Sroto dan Mendoan Sokaraja Banyumasan, tahu campur Suroboyo, pecel dan sambel tumpang  Kediri, dan berbagai kuliner asli INDONESIA.

Anemia sangat kagum dengan perlakukan elit INDONESIA, dimana para pelaku kuliner telah memliki landasan kebijakan yang mendukung dimana para generasi muda kreatip di bidang kuliner adalah “patriot”2 bangsa. Entah dari mana Anemia menyimpulkan kesan bagus terhadap INDONESIA seperti itu.

Mudah2an fakta menjurus kesitu.

Jajanan “Sesat” & Kehadiran Negara. Pemerintah Anemia mestinya meniru INDONESIA dimana memiliki Undang2 Dasar yang begitu rupa menjangkau kebutuhan masa depan. Di UUD Indonesia terdapat kewajiban negara untuk melindungi senegap tumbah darah dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jadi pembeli perlu dilindungi oleh negara (yg mikirin dan membuat kebijakan ya pemerintah to ?) dari perilaku merusak dari masuia2 bodoh dan jahil melalui penyajian jajanan “sesat”. Dalam hal ini media telah mengambil peran itu, lalu apa tugas pemerintah selanjutnya. Membuat kebijakan  yang melindungi itu, misal menghukum pelaku pembuatan jananan “sesat”.

Namun, boleh jadi kebodohan dan kejahilan pelaku itu lebih disebabnya oleh ketololan yang tanpa pernah mendapatkan pembinaan tentang : kebersihan, kesehatan, bahaya zat2 kimia dan MORAL. Tanpa pembinaan, mereka mendapatkan ilmu secara serampangan, ada yang tetap njalur di jalan yang lurus, namun banyak yang masuk ke jalur kuliner “sesat”. Disini tugas negara, negara harus hadir juga.

Mereka adalah “patriot” sejati yang tidak pernah nggrecoki pemerintah dari rezim manapun : (1) tidak menunut lapangan kerja, malah membuka lapangan kerja – minilan untuk diri sendiri, (2) tidak mengeluh, tidak pernah membuat aksi demo seperti menuntut kenaikan UMP, (3) tidak memberontak meski sebagian mereka senantiasa menjadi “musuh” pol PP alias trantib – terkait ini negara semestinya hadir dalam pembinaan, bukan pengusiran paksa, kecuali yg jualan miras dan sengaja membangkang agar jalanan macet.

Tanpa  kehadiran negara dalam wujud perlindungan dan pencerdasan, maka serbuan MEA akan semakin lancar, dan begitu banyak “patriot2″ bangsa di bidang kuliner rakyat akan tewas mengenaskan.  Bukan oleh serbuan itu, tapi oleh stigma “teror” dan “sesat” yang menempel pada pedagang kecil itu dan aksi “radikal” dari konsumen setianya yang mem”blokir” akses anak2 mereka untuk menikmati sajian kuliner khas rakyat Anemia.

Mudah2an media2 kita, elit2 kita dan penentu kebijakan Indonesia menyadari adanya  strategi “perang kuliner imajiner” yang sedang berlangsung.

Monggo …. dipun penggalih rumiyin.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

INDONESIA memiliki masyarakat yang sebagian aneh, dimana produk asli, (oleh media tertentu atau tokoh tertentu) dikesankan jelek. Sementara sebagian pejabat pemerintahan yang berweang terkait itu, lebih rajin sweaping ketimbang melakukan pembinaan agar terjaga :kehalalan, mutu dan citarasa serta mengajarkan untuk membangun global image.

Seandainya desakan kuliner asing serta destruction kuliner asli INDONESIA oleh sekelompok tertentu – entah disadari atau tidak (media tertentu, tokoh tertentu, peneliti tertentu, serta kelengahan pejabat yang berweang biudang ini) ini sebuah strategi jitu pihak luar, maka serupa dengan menyuruh pihak tertentu itu untuk membunuh industri rakyat sendiri.   Na’udzubillah.

Beruntung INDONESIA punya laskar2 kuliner hebat dalam “divisi”2 : Warung Padang, Warung Tegal, Warung Solo, Warung Lamongan, Sroto Sokaraja, Soto Ambengan, Soto Kudus, Soto Madura, Coto Makasar, RM Padang, RM Masakan Jawa, RM Masakan Manado, RM Masakan Aceh, dan masih buayanyak lagi “divisi” laskar kuliner berasal dari seluruh pelosok negri

Beruntung INDONESIA punya “amunisi”2 yang cethar membahan seperti : nasi goreng, sate, bakso, mendoan, tahu isi,

Scroll To Top