Sekilas Info
Home | Inspirasi | “RAHASIA” INDUSTRI TELCO (1)

“RAHASIA” INDUSTRI TELCO (1)

Hanya beberapa waktu saja, Telkomsel berhasil merubah paradigma industri dan memperngaruhi cara hidup pelaku pasar, masyarakat luas, pelanggan dan berbagai stakeholder-nya.

Melalui berbagai gagasan di Telkomsel, percaloan sampai wartawan boderek di industri telco berhasil diminimalisir, dan berganti dg sinergy nyata antar elemen untuk menghadirkan yang terbaik bagi INDONESIA.

Sekejap Kilas Balik. Tahun 1995 adalah masa kejayaan pager, AMPS, fixphone, telex.  Indonesia yang dikenal pelopor penggunaan satelit di Asia dengan nama proyek yang keren – SKSD = Sistim Komunikasi Satelit Domestik.

willy MunandirSKSD adalah suatu karya besar dari rezim Soeharto di saat Perumtel (Telkom) di pimpin oleh Willy Munandir.

Indonesia secara geo-politik di tingkat regional maupun global menempati posisi paling keren dan paling “ditakuti”. SKSD melengkapi dan mengamplifikasi kekuatan menthal bangsa dan negara Indonesia dalam memandang dan dipandang oleh bangsa dan negara sekitarnya, di tingkat Asia dan bahkan di tingkat dunia.

Kejayaan ini, sepertinya membuat sebagian besar pelaku industri ini seolah sedang terlena menikmati kemasyhuran dan hasil kue modernisasi telco (otomatisasi, digitalisasi dan integrasi jaringan telco internasional).

Keterlenaan ini boleh jadi yang dtitunggu2 oleh pihak2 lain untuk maksud2 dan kepentingannya.

Terkait ini…………………… Anda lebih paham

Umum. Industri dan operator telco saat itu masih “sederhana” dalam arti tidak ada kompetisi riil antar operator telco. Semua operator mendapatkan jatah kapling yang beda2.

Di tataran BUMN misalnya, Telkom sebagai operator telco domestik (begitu istilahnya), sementara Indosat sebagai operator telco Internasional (lebih kepada mengelola Sambungan Langsung Internasional). Keduanya,  praktis menjadi BUMN yang memonopoli bisnis dari masing2 jenis layanan.

Telkom mernjadi penguasa tunggal per-telepon-an, per-telex/telegraph-an dengan berbagai keunggulan seperti memiliki SKSD dg satelit Palapa-nya, dan otomatisasi sampai digitaisasi sistem per-telepon-an dan sistem per-telex-an dengan pendapatan dalm bentuk Rupiah.

Indosat menanggguk aliran dolar yang bersliweran pada trafik pembicaraan Telepon Internasional, baik incoming call dari mancanegara maupun out going call ke berbagai mancanegara.

Di tataran BUMSwasta, ada operator telco lain seperti Metrosel dan Komselindo sebagai operator telepon mobil AMPS  dan  Rajasa Hasanah Perkasa sebagai operator telepon mobil NMT 450. Lalu ada beberapa operator yang mengoperasikan layanan paging (pager). Lalu ada operator GSM satu2nya yang sepertinya mengkhususkan diri sebagai operator “life style”  secara terbatas di Jakarta – Satelindo.

Mungkin saja saat itu belum semua insan2 penentu kebijakan di industri ini membayangkan adanya jaman konvergensi semua layanan telco sebagaimana sekarang kita rsakan.

Itu sekelumit industri telco sampai dengan seputar tahun 1995.

telkomTelkom saat itu. Ada suatu masa di Telkom (dulu bernama Perumtel) para karyawannya saat itu merelakan untuk tidak naik gaji beberapa tahun (yg saat itu juga nggak seberapa besar dibanding gaji perawat medis saat itu), berhasil holobis kuntul baris bersama manajemen dan pemerintah, menyisihkan dana untuk mendukung program pemerintah bidang telco untuk beli satelit SKSD Palapa.

Akhirnya Perumtel berhasil meningkatkan  penerimaan usaha, memodernisir teknologinya,  meski mutu pelayanan kepada calon pelanggan maupun kepada pelanggannya kurang bertumbuh.

Percalonan pasang baru sambungan telepon hampir tiap hari mewarnai keluhan masyarakat ke YLKI maupun yang sempat diloloskan untuk menghiasi bagian halaman di harian umum (seperti Redaksi YTH Kompas).

Pemerintah saat itu menemukan sosok yang dianggap mampu melanjutkan proses memajukan BUMN telco domestik.

Cacuk SudarjantoTokoh Kontroversial. Sepertinya penugasan kepada tokoh yg kontroversial saat itu, lebih ditekankan pada upaya2 untuk meng-inseminasi cara berpikir insan2 BUMN itu, secara kultural modern dan semangat melayani dan memiliki sensistivitas atas mutu pelayanan yang diselenggarakannya (kebalikan suasana yg ada saat itu – birokrat).

Secara tangible, yg mudah dilihat oleh insan2 BUMN itu, adalah melakukan pembenahan sistem administrasi perusahaan dan proses pelayanan pelanggan,  memaksa semua administrasi dilakukan secara terintegrasi (dari permintaan alokasi dana, pembelanjaan/pengdaan barang dan jasa, penyimpanan barang/inventaris  sampai  proses menjadi jsa yang siap untuk dijual (amat berbeda dan nyaris berkebalikan dg kondisi umum saat itu, terutama di BUMN).

Berupaya menurunkan warna birokrat, warna sok penguasa, dsb amat mendominasi insan2 BUMN dan menjadi berperilaku egaliter, kita adalah melayani, melayani itu dg senyum, tidak bermain2 dengan proyek pembangunan, pengadaan barang/jasa itu terintegrasi dg rencana penjualan dan penerimaan jangka pendek dan jangka pajang, dsb,

Semua dilakukan secara sadar meski dengan susah payah.

Tokoh terkenal saat itu adalah alm. Cacuk Sudarijanto (sebagai CEO), Hiro Tugiman (Internal Auditor),dan banyak karyawan muda potensiil yang berhasil menelorkan gagasan baru secara out of the box.

Serius dan Menyeluruh. Pembenahan menthal karyawan di semua lini dan level dilakukan, melalui pertemuan evaluatip tingkat hi-level yang di label dg nama commander’s call, melalui pendadaran kader2 pimpinan masa depan yang di lebel dg nama Suspim, melalui pendadaran penyelia2 masa depan yang di label dg nama Suslia, dan berbagai pelatihan tak luput dari upaya pembenahan menthal.

Selain upaya sebagaimana di atas, upaya2 menghilangkan menthal percaloan pasang baru sambungan telepon, upaya menghilangkan menthal menthal ngutil proyek juga dilakukan melalui pembenahan sistem pembukuan dan integrasi secara nasional dan terukur, dsb.

Ada yang menggagas modernisasi sitem penganggaran dan integrasinya secara nasional, sehingga antara proyek pembangunan dan potensi revenue dapat dipantau dan memiliki ketersambungan secara link and match.

Begitu pun modernisasi teknologi per-telepon-an sampai di IKK (Ibukota Kabupten/Kota) dengan gerakan otomatisasi dan digitalisasi sistem telepon-nya (sampai tahun 1980-an teknologi telepon manual, baik sistem Central Batere maupun Local Betere, masih banyak dijumpai di kota2 kabupaten di pulau Jawa sekalipun).

Telkom berhasil menata sebagian cara berpikir sebagian manusianya. Meski nafas percaloan dan menthal ngutil pada sebgian manusianya mellui un-integrated pada pengelolaan administrasi proyek2 pembangun belum sepenuhnya berhsil, belum sepenuhnya rela dilepaskan oleh sebagian manusia Telkom lainnya.

( Bagaimana kondisi jaman sekarang, Anda  lebih paham )

Indosat dll Saat itu. Sementara Indosat, tanpa bersusah payah sebagaimana Telkom, mendapatkan aliran dolar pada setiap gerakan trafik dari semua pelanggan Telkom yg berhubungan telepon internasional.

Secara alamiah, manusia2 Indosat paling banyak bersentuhan dengan dunia internasional. Wajar jika sebagian manusia Indosat saat itu memiliki pemandangan tentang internasional lebih baik dari rata2 manusia di operator telco domestik (sekalipun ada segelintir manusia Telkom yang justru memiliki visi teknik dan internasional yang lebih baik dari manusia Indosat).

Komselindo, Metrosel, dan Satelindo pun sedang asyik masuk dengan kekuasaan dan kenikmaan keuntungan penjualan handheld AMPS/NMT/GSM.

Saat tu, cara aplikasi berlangganan telepon mobil sangat menguntungkan operator. Saat itu, handheld alias ponsel tidak (boleh) dijual di toko2 dan hanya bisa di beli di kantor operator yang hanya ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Joga. (ITC , kios atau konter2 HP belum ada).

Lazy, Stupid or Hazard ?.  Pasar tidak digarap, karena secara umum (saat itu) para pelaku industri pola pikirnya amat birokratik dan monopolistik. Sesuatu yang menjadi fokus perubahan bagi Cacuk Sudarijanto melalui konsep perubahan menthal dengan label K-321.

caloBeberapa “jargon” kronis dari para pelaku pelayanan saat itu antara lain “kalau bisa begini, kenapa harus begitu” . “kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah”.  ”lewat prosedur hasilnya TBM, lewat calo hasilnya TM” ( TBM = secara Teknik pelayanan Belum Memungkinkan ).

Sistem Pelayanan yang Transparan tidak mendapat dukungan di banyak lini dan level.

Di Telkom misalnya, Siskmaya ( kalau nggak keliru Siskamaya = Sistim Kabel, Pemasaran dan Pelayanan) dibuat oleh anak2 muda yg kreatip (saat itu) dengan tujuan untuk mengintergrasikan data dan informasi terkait data kabel primer sampai di titik pembagi ujung – DP (Distrbution Point), data info demand dan keputusan pelayanan tersistem, dsb,

Sebagian manusia seolah malah mendorong agar Siskamaya menjadi berujung pada kesan “proyek mubazir”.

Tidak semua lini dan level sedia menginput data secara update dan akurat. Akibatnya Siskamaya yang sudah dikreasi dan disediakan untuk membantu kecepatan dan ketepatan pelayanan Pasang Baru Sambungan Telepon bagi petugas front line, menjadi semacam stupid atau dumb computer serta kesan “mubazir” adanya.

End of Cacuk Reformation ? Meski tidak 100%, paling tidak, pak Cacuk dan tokoh2 itu berhasil menanam bibit menthal terbaik pada sebagian manusia Telkom. Sebagian lainnya tentu ada yang menjadi “brutus” dan hobi berkolaborasi dengan para “durna”, sebagian lainnya tidak tahu apa2, sebagian lagi cuwek bebek meski kalo insentip naik jingkrak2nya melebihi loncatan grass hopper.

Cacuk yang muslim sempat dikabarkan menyembunyikan jati diri sebenarnya, dan berbagai terpaan isu. Apakah isu itu dihembuskan oleh para brutus dan durna yang kehilangan pasokan “extacxi” ?  apakah isu itu malah terblow-up oleh mereka2 yang tidak tahu apa2 ? apakah juga diamplifikasi oleh manusia2 yang cuem bebek terhadap upaya perbaikan dan kinerja usaha ?

Kulo mboten ngertos.

Apakah Cacuk Sudarijanto juga terjebak (dijebak) di ujung karirnya sebagaimana laporan di Majalah TEMPO edisi 17 Oktober 1992  ?

Apakah yang menjebk Cacuk adalah para “brutus” internal dan berkolaborasi dengan “durna” eksternal ?

Anda  yang lebih paham’

Wallohu a’lam

Dan …………… Anda mungkin jauh lebih paham tentang ini.

Bahwa tidak tertutup kemungkinan adanya potensi sebagian manusia lainnya (saat itu) masih berada pada zona menthal calo, menthal memainkan proyek, berhasil memasuki main stream birokrasi,  dan …….. mungkin juga  sebagian senior (saat itu) juga “berhasil” menularkan virus menthal seperti  itu kepada sebagian juniornya (saat itu).

Mengapa dan bagaimana selanjuta

Siapa tokoh2 pembaharu pasca Cacuk  yang punya idealisme, siapa yang berusaha meng=kesan=kan diri serupa Cacuk dengan menthal yang berkebalikan, dan ……………. siapa juga yang menjadi kelompok hazard disitu, Anda jauh lebih paham.

Monggo !!!!!!!!!!

TselfiraYang dilakukan Tselfira. Sebagian insan Telkom secara diam2 dan menempati ruang tugas yang terisolasi dan fasilitas yang minim layaknya sel, membuat bahtera “nabi nuh” bernama proyek Telkom-sel.

Proyek yang saat itu amat tidak populer dan cenderung dilecehkan oleh kalangan internal maupun stakeholder terkait.

Proyek yang masyarakat awam atau bahkan karyawan di Telkom amat jarang yang mendengarnya.

Sampailah pada jaman dimana Telkom dan Indosat melakukan sinergy BUMN dengan mengirimkan manusia2 terpilihnya (ada yang mengatakan sebagai insan2 yang dibuang, disingkirkan, dsb, meski ……… waktu jualah yang membuktikan kebenaran/ketidak benaran itu).

Secara umum, yang dilakukan oleh insan2 terpilih dari Telkom dan Indosat – yang akhir2 ini sering dipopulerkan dengan nama Tselfira, antara lain (detail praktek “rahasia” ini akan di muat dalam artikel lainnya)  :

  1. menggunakan setiap kesempatan bertemu (dengan staf) untuk menjelaskan dan meng-update strategi umum pengelolaan perusahaan, termasuk saling berbagi gagasan tentang visi personal atas upaya memajukan industri, dan Indonesia.
  2. menggunakan kesempatan kumpul2 (dengan staf) untuk melihat, mengevaluasi dan memikirkan bersama kangkah2 ke depan untuk kemajuan dan keberhasilan usaha (jauh dari memikirkan kursi untuk diri sendiri).
  3. memandang semua orang (staf) memiliki potensi kontribusi dan merupakan bagian penting dalam memajukan perusahaan ( sikap ini diwujudkan dalam perilaku, bukan sekedar omdo atau bluffing).
  4. menjadikan setiap suasana pelaksanaan tugas sebagai hal yang serius namun dilakukan dalam format yang tanpa sekat dan rilex.

Sesuatu yang saat itu amat sulit dijumpai di suasana kerja di BUMN.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu

Scroll To Top