Sekilas Info
Home | Inspirasi | SMART OFFICE : APA PERLU ?

SMART OFFICE : APA PERLU ?

Smart working oleh sebagian penggagas dikorelasikan dengan smart city , dan…… Jakarta bisa dikatakan, secara infrastruktur internet sudah begitu rupa tersedia. Cuma ya itu tersedia saja. Kurang jelas mengapa kok nggak ada gerakan yang secara cethar membahana untuk menjadikan ketersediaan itu sebagai bagian dari solusi kemacetan Ibukota.  Bukankah ini tantangan jaman bagi para pendekar telco dari berbagai perguruan atau sekedar “yah…….memang begitu keadaannya?”. what’s on your mind ?

Crowded Jakarta.  Kemacetan Jakarta semakin terasa saja, itu fakta. Kalau nggak percaya, ya rasakan saja tanpa menggunakan “pasukan pemecah ombak”.

Tidak dalam konteks ingin ikutan menyalahkan para Gubernur2 DKI  sejak bang Yos, bang Foke, bang Jokowi  sampai bang Ahok.  Yakin deh, semuanya punya niatan dan visi bagus. Cuma ya itu, macet !!!.

Oke sedang ditata infrastruktur dan diperbanyak moda transportasi publik.  It’s fine, okay.

Soal transportasi publik transjakarta dan commuterline sedang terus diimprove, meski belum juga nampak hasil yang signikan bagi mengurai kemacetan.

Benar, pembenahan transportasi publik itu urusan pemda DKI dan dinas/kantor terkait.

Tapi …… mungkin nggak ya, di jaman internet ini ada sumbangan solusi budaya kerja (mohon tidak di-notasi-kan ke irama politik) bagi kota metropolitan seperti Jakarta dengan mengoptimalkan manfaat kehadiran jaringan internet ?

http://famouswonders.com/jakarta/

http://famouswonders.com/jakarta/

Konon, di jaman internet ini telah timbul pemikiran untuk melakukan perubahan2 budaya kerja dengan berbagai istilah seperti smart office, kerja secara flexible time, smart working, dsb.

Cuma pengin nyentil ajah :  apa dan bagaimanakah  smart office, flexible time, smart working dapat berkontribusi untuk ikut mengatasi problem kemacetan – minimal berkontibusi, atau ……….. justru hanya utopia yang sulit diwujudkan ? Anda lebih punya jawaban.

Bagaimana gambaran sekilas internet di Jakarta, smart oofice, felxible time dan smart working itu ?

Jakarta Kebanjiran Infrastruktur Internet. Kita tahu, hampir semua operator seluler sudah mengembangkan kapasitas kanal data/internetnya dengan meng-upgrade dan meng-up date teknologinya serta memperluas jangkauannya. Sementara operator teve-kabel juga sudah menjual produk saluran internet dengan kapasitas yang semakin besar.

http://hazelbreath.blogspot.com/2013/ 12/korea-selatan-siapkan-adopsi-jaringan-5g.html

http://hazelbreath.blogspot.com/2013/
12/korea-selatan-siapkan-adopsi-jaringan-5g.html

WiFi tersedia di berbagai lokasi, baik yang disediakan oleh operator telco untuk publik secara tertentu, maupun disediakan secara pribadi (hotel, cafe, warteg, sampai rumah kost-kostan) karena mereka banyak yang sudah berlangganan wired broadband.

Bisa dikatakan di pucuk gedung sampai di base ment serta sepanjang jalan, akses internet (bisa seluler bisa WiFi), tersedia secara begitu banyak.

Dukungan Aplikasi. Aplikasi telah begitu rupa berkembang sehingga sulit membedakan mana komputer mana smartphone. Komputer (termasuk laptop) bisa berfungsi sebagai sarana komunikasi (voice, text, gambar, dsb), Begitu pun smartphone, semain banyak yang memiliki fitur yang men dukung bekerja dimana saja (mendekati komputer dan dalam sisi lain bahkan lebih baik lagi).

Artinya, secara infrastruktur internet, Jakarta telah “dicukupi” dalam variasi sarananya, jumlah maupun kapasitas akses internetnya.

Internet Hanya Sarana Darurat. Memang sudah ada sebagian orang menggunakan hal itu untuk mendukung aktivitas yang biasa dilakukan di desktop kantor atau warnet.  Biasanya lebih  sekedar bisa untuk digunakan sebagai sarana mobile dalam melakukan lihat email secara lebih kenceng  atau serupa itu, namun konon lebih banyak digunakan untuk  chatting, lihat situs, lihat status FB, dsb.

http://www.pulsk.com/index/terbaru/62262

http://www.pulsk.com/index/terbaru/62262

Dan……….. hanya secara “darurat” saja akan digunakan untuk hal-hal yang terkait dengan perkantoran seperti mengerjakan tugas-tugas perkantoran (swasta maupun pemerintahan) – “darurat” disini misalnya terkena dead-line atau “dimarahi boss” padahal dirinya sedang terkepung banjir atau terjebak kemacetan.

Ada juga yang digunakan untuk jualan on-line,  melihat-lihat situs prono, melihat-lihat situs geng motor sampai situs yang (konon) dikategorikan sebagai situs radikal.

Kenapa semua kemajuan dan “banjir kanal internet” ini tidak/belum memunculkan secara cethar membahana solusi budaya kerja baru yang memberi kontribusi pada menurunkan level stress akibat macet dan banjir ?

Soal kemacetan sedang disolusi dengan pembuatan insfrastruktur jalan dan transportasi publik, ya bagus2 saja dan  insya Allah ada manfaatnya. Hanya seberapa cepat itu terwujud dan apakah industri otomotip dan industri finansiil (kredit pinjaman)  bisa kalah cepat ?  mungkin solusi itu menjadi semacam never ending story dg siklus yang semakin pendek (kalau budayanya tidak dilakukan revitalisasi).

Lalu ………….untuk apa internet yang melimpah tidak terkorelasi untuk menjadi bagian dari solusi itu ?

Monggo dipun pikir ……………………

http://blog.designersofthings.com/ post/60265865152/concept-shows-smart-home-smart-office-and-smart

http://blog.designersofthings.com/
post/60265865152/concept-shows-smart-home-smart-office-and-smart

Smart Office. Secara umum, smart office ditandai dg penggunaan teknologi yang mutakhir, gaya interiornya mencerminkan/mengkondisikan kreativitas para penghuninya, hubungan dan budaya kerja yang berorientasi pada efektivitas dan kemudahan pengelolaan/control/evaluasi, termasuk dalam hal keamanan dan pengamanan perkantoran (fisik dan system).

Smart office memberi kesan adanya kcerdasan yang terdapat dalam system dan people.  System disini meliputi piranti tangible seperti bentuk kantor (interior exterior), peralatan kantor (tata ruangan dan piranti di dalamnya), sampai hal-hal yang sifatnya intangible seperti pengorganisasian (struktur, control/monitoring dan evaluasi kinerjanya), yang berdampak pada system presensi (mungkin saja ada unit yang memang wajib berada terus di kantor, ada juga unit atau fungsi yang bisa bekerja secara flexible time, ada yang memungkinkan bekerja secara mobile,  dsb).

Termasuk golongan yang intangible antara lain juga :  system appraisal dan berbagai sistem kolateral logis lainnya.

Dan semuanya beroperasi secara smart working.

http://www.picturequotes.com/ hard-work-quotes/4

http://www.picturequotes.com/
hard-work-quotes/4

Sekali lagi, Smart Office. Jika lebih dalam lagi, bagian intangible dari smart office boleh jadi termasuk komitmen perusahaan terhadap karyawan untuk mendukung smart office itu berjalan dengan semestinya, seperti :  kebijakan dan system transportasi karyawan,  kebijakan system nutrisi karyawan selama bekerja, kebijakan dan system penjaminan kelancaran pelaksanaan tugas saat tidak di domestic officenya atau saat sedang mobile di seputar domestik office (kantor domestic).

Kantor domestik disini hanya istilah untuk menjelaskan bahwa pada dasarnya dalam kurun waktu tertentu, karyawan harus di-register sebagai “penduduk” suatu kantor. keperluan ini terkait dengan fitur kerja yang menjadi tugas/kewajiban/haknya. Mirip konsep HLR di system mobilephone.

Dengan kompleksitas kerja dan lingkungan kerja yang “menghamburkan waktu” (macet, banjir, hujan, tight schedule, dsb), smart office sepertinya mampu menawarkan solusi untuk keberlangsungan pelaksanaan tugas secara seamless kapan pun dimana pun.

Artinya menjadi solusi kemacetan sekaligus menjamin keberlangsungan penyelesaian tugas2 kantor.

Karyawan dapat mengerjakan tugas secara mobile atau berada di remote office yang berada relatip jauh dari kantor domestiknya.

Smart office dapat dirancang dan di arahkan untuk mengurangi mobilitas fisik karyawan sehingga akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tingkat kemacetan di jalan raya,  namun proses penyelesaian tugas tidak lagi terkendala oleh faktor2 tradisonal khas metropolitas Jakarta (macet, banjir, tight schedule, dsb).

Begitu apa begitua ya ?

http://www.employerbrandingtoday.com/ blog/2012/

http://www.employerbrandingtoday.com/
blog/2012/

Flexible Time.  Flexible time lebih mengarah pada perubahan pola/system presensi dan berorientasi pada penyelesaian tugas tidak harus dalam rentang waktu “traditional office hours”.  Bahkan menurut pengertian yang dikembangkan oleh sebagian orang di Inggris, konon bekerja secara flexible time itu artinya dapat mengerjakan tugas di/dari rumah.  Orientasinya adalah menyesuaikan kebutuhan karyawan didalam menyelesaikan tugas.

Apa yang disebut dengan bekerja secara flexible time ( able working from home), boleh jadi merupakan evolusi yang berangkat daritradisi/budaya industrialisasi di negri sono. Di awal industrialisasi, pekerja wajib datang ke kantor/pabrik/workshop. Produk yang dihasilkan dan cara pemrosesannya memnang menghadruskan kehadiran pekerja di mesin/sarana produksi saat itu (mesin ketik, mesin telx sampai mesin di pabrik mewajibkan dedicated atau attended ).

Kini,  produk dan sarana produksi semakin bervariasi, bahkan ada yang produknya berupa intangible (aplikasi, jasa konsultasi, dsb) dan atau sarananya pun semakin banyak yang memungkinkan atau tidak harus berada secara menetap (mobile)

Pekerja boleh melakukan tugasnya di rumah, namun sesuai dg syarat dan ketentuan. Disini perlu budaya  ‘making a statutory application’ atau membangun aplikasi suatu aturan (ora iso sak karepe dewe).

http://andalucia-jogja.blogspot.com/ 2013/11/wisata-batik-dan-kerajinan-perak.html

http://andalucia-jogja.blogspot.com/
2013/11/wisata-batik-dan-kerajinan-perak.html

Sekali lagi Flexible Time. Walaupun produk dan sarana kerjanya semua tangible, namun jika ditelaah mendalam, sebenarnya konsep serupa ini telah dikembangkan oleh juragan2 di tanah Jawa (dan beberapa pulau lainnya) dan berkembang pesat paska kemerdekaan.

Contoh :  konsep bekerja di industri batik. Para juragan, membolehkan para pekerja untuk membawa pekerjaannya (untuk dikerjakan) di rumah sendiri/masing2.

Cara absens/presensinya juga amat flexible, boleh datang kapan saja, boleh ambil quota tugas sesuai dengan kesanggupannya, dsb.

Kalau sakit, juragan tidak mengharuskan ini itu,  cukup silakan istirahat/berobat dan nggak usah maksain bekerja, dsb. Namun para pekerja juga amat sangat jarang yang melakukan tepu2 pura2 sakit, padahal males atau ingin plesiran kemana gitu.

Budaya dalam konsep industri para juragan ini, sangat kondusif seperti : saling mengenal, saling percaya, saling menjaga diri untuk tidak menipu (pekerja) dan juga tidak ada penindasan (majikan/pengusaha).

Perbedaan budaya yang mendasari (mungkin) karena yg satu berkembang di tanah di Jawa dan pulau lain di Indonesia (dimana “pengerten” menjadi salah satu nilai yg dipegang teguh), dan tentu amat berbeda dengan majikan-buruh di negri2 yg dulunya hobi apartheid dan eksploitasi.

Jadi flexible time itu bukan barang baru (bagi sebagian orang Indonesia), namun akan dirasakan baru bagi sebagian lainnya.

Wes jal, piye ta ?

http://smart-it-solutions.co.uk/ how-to-improve-business-productivity/

http://smart-it-solutions.co.uk/
how-to-improve-business-productivity/

Smart Working.  Smart working sepertinya bagian atau elemen dari smart office, yang melekat dalam system dan people-nya dalam kerangka budaya yang sesuai . Jadi bagian yang intangible dari pada smart office. Budaya disini adalah budaya dalam menyelesaikan tugas/kerja. Didalamnya boleh jadi ada flexible time.

Smart working = (smart system + smart people) + culture.

Bagi sebagian negri maju yang penduduknya sedikit, kehadiran internet idmanfaatkan untuk meningkatan mutu pelayanan. fleksibilitas lokasi dan waktu pelayanan, serta kemudahan publik dalam mengakses pelayanan. Salah satu pejabat “pemda” di negri Inggris berujar ” ………………  to provide a guide to the new ways of working brought in through the Civil Service Reform programme which will enable all parts of the Civil Service to work seamlessly across locations, and at times that are more advantageous to citizens, employees and taxpayers”

Di Inggris, konon tahun 2015 menjadi tonggak smart working.  Bagi “pemda” di Inggris, perihal perlunya perubahan konsep kerja adalah bukan sekedar ingin punya :  Transforming the way we work is not a ‘nice-tohave’. It is the only way to make sure we provide the services our customers expect and demand – now and in the future

Bagi negri yang banyak penduduknya, maka smart working memiliki manfaat lebih. Termasuk dapat menjadi solusi atau bagian solusi untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas di kota2 metropoilitas seperti :  Jakarta, Surabaya, Medan, Makasar, Bandung, dsb …..

Bagaimana ggagasan  smart working dan prinsip2 apa saja yang diperlukan untuk penjabaran itu ?………………. Anda mungkin sudah punya rancangannya.

Infrastruktur internet sudah melimpah, aplikasi2 kian konvergen dan mendukung, dan ……………… problema kemacetan sudah (dihadirkan Allah) di depan mata.

Kyai Mursyid berpesan bahwa orang beriman itu akan diuji, dan ujian itu bermacam2 bentuknya. Bisa sukacita, bisa duka nestapa, bisa juga yang lainnya seperti tugas kemanusiaan.  Namun semua ujian bagi mereka yang beriman itu sudah ditakar sedemikian rupa,  sambil mensitir firmanNYA: “Allah tidak membebani/memberi ujian  seseorang/kaum,  melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [Qs. Al-Baqarah : 286].

Tinggal buktikan saja bahwa Indonesia Bisa !!!!  Indonesia Hebat !!!!

Begitu apa begitua ya ?

Ya Emangbegitu

terjemah selengkapnya, surat al-baqarah 286 adalah :

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Scroll To Top