Sekilas Info
Home | Jalan-jalan | SOKARAJA

SOKARAJA

Inget Sokaraja, inget Mendoan, inget Sroto…………….. cuma itu ?  

 

 

Jendral SudirmanDo You Know ?  Sekedar meng-ingat2 saja. Sokaraja tempo doeloe, seolah menjadi semacam “gudangnya motor Banyumasan”. Kawasan yang disebut Banyumasan itu meliputi seluruh wilayah Karesidenan Banyumas.  Terkadang karena  dialek bahasa ngapak juga sampai ke Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal, maka bagian dari karesidenan Pekalongan ini, menjadi serumpun dengan Banyumasan.  Begitu pun dengan daerah di sekitar Gombong sampai Kembumen, dialek ngapaknya memberikan tanda bahwa bagian dari wilayah karesidenan Kedu itu masih serumpun dengan Banyumasan. Karenanya, tokoh (alm) Jendral Soesilo Sudarman menyebutnya dengan daerah Dumas ( Karesidenan Kedu dan Banyumas ).

Karesidenan Banyumas itu semacam sub-province dari Jawa Tengah, coordinator dari 4 Kabupaten : Kabupaten Banyumas itu sendiri, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara.

Dulu ibukota karesidenan Banyumas itu ya kota Banyumas.  Konon dikarenakan sungai Serayu sempat “marah2″ sehingga airnya meluap sampai menggenangi kota ini berkali-2, maka ibukota karesidenan Banyumas dipindah ke Purwokerto. Boleh jadi sejak  saat itu, kota Banyumas mengalami keredupan sinar kehidupannya, menjadi kota “terlantar”.

Sementara Sokaraja semakin ramai namun ruwet juga lalu-lintasnya. Posisi Sokaraja sebagai juction :  Banyumas – Purwokerto dan Banyumas – Pubalingga serta Purwokerto-Purbalingga.   Segala yang ada di sana, bagi masyarakat Sokaraja tempoe doeloe, posisi ini dimanfaatkan untuk mngembangkan seni, budaya dan entepreneurship.  Masyarakat Sokaraja sekarang tinggal menikmati buah tanaman, sebagian merusaknya menjadi nggak jelas.

Mau tahu apa yang pernah dikembangkan oleh masyarakat Sokaraja tempoe doeloe ?

ART & SELEBRITAS.

Football.  Di bidang olahraga sepakbola, dulu Sokaraja itu punya kesebelasan paling top se-karesidenan Banyumas, namanya Hamas – singkatan dari Himpunan Anak Muda Sokaraja.  Kesebelasan ini se-jaman dengan jaman PSSI saat mampu mengalahkan jago kesebelasan kaliber dunia dengan pemain terkenalnya bernama Ramang (kalau nggak keliru). Kiper Hamas yang terkenal antara lain Juremy, bukan Jeremy.  Kemana persepakbolaan Sokaraja yang pernah berjaya menjadi icon karesidenan Banyumas ? Jangankan kesebelasan, lapangan sepakbola di Sokaraja saja sudah nggak jelas ada dimana ?

lukisan sokarajaSeni Lukis. Di bidang seni lukis, di saat lukisan cat minyak belum popluer dan menyebar,  Sokaraja mengembangkan aliran seni lukis cat minyak yang sangat terkenal dan punya ciri khas, dalam lukisan palet maupun kuas, yakni aliran Sokaraja yang sekitar tahun 70-an nyaris menyaingi aliran Bali dan Yogya. Banyak kolektor lukisan dari Jakarta dan juga konon dari negri2 Asia lainnya meminta dibuatkan copy lukisan koleksi Bung Karno sampai lukisan2 berkelas dunia di Sokaraja seperti karya Da Vinci.

Lukisan ini dipopulerkan lagi oleh http://lukisan-sokaraja.com/

Lukisan ini dipopulerkan lagi oleh http://lukisan-sokaraja.com/

Kini entah kemana dan siapa peduli dengan para seniman lukis yang punya dedikasi membangun aliran tersendiri, entah juga sekarang aliran lukisan itu masih ada yang meneruskan atau sudah menjadi milik negri lain ? Web ini dan ini http://lukisan-sokaraja.com mangajak untuk membangun kembali entrepreneurship dan keunggulan budaya Sokaraja.

Beatles. Bidang seni hiburan musik, di saat  the Beatles menjadi band top dunia, di karesidenan Banyumas ada “the bitels” yang bernama the Cramos – Creamic of Sokaraja,  band milik dari pabrik Ceramic Sokaraja.  Band ini sangat terkenal dan pemainnya menjadi idola banyak orang.  Kini jangankan pemain dan alat band-nya, pabrik keramiknya saja sudah rata dengan tanah.

414076_batikbanyumas

Batik. Bidang seni membatik. Sokaraja tempo doeloe mengembangkan aliran batik tersendiri, bahkan Persatuan Batik Indonesia – PERBAIN,  membangun gedung PERBAIN yang saat itu sangat megah (untuk ukuran dan jamannya). Gedung dua lantai, punya meeting hall untuk keperluan exhibition.  Hampir separo pasar Sokaraja dipenuhi dengan karya2 batik khas Sokaraja. Kini gedung itu sudah rata dengan tanah entah kemana, pasarnya pun sudah nggak jelas bentuknya.  Web ini dan ini http://blognewb1e.blogspot.com/2011/01/batik-banyumas.html mengajak   untuk membangun kembali entrepreneurship dan keunggulan budaya Sokaraja.

INDUSTRIALISASI

pabrik sokarajaCeramic. Industri Keramik Porselin.  Pegunungan kapur selatan, khususnya di seputar daerah Gombong yang saat itu masih bagus mutunya, juga belum dikelola.  Entah Belanda atau Pemerintahan Soekarno, melihat potensi itu lalu mendirikan pabrik keramik di Sokaraja.  Hasil keramik ini saat itu untuk memenuhi kebutuhan kitchen dan dinner set, memasok  kebutuhan kota2 besar di Jawa.   Kini jejaknya saja sudah lenyap.

Pabrik Logam. Industri Pengecoran Logam. Orang Banyumasan tempo doeloe menyebutnya pabrik logam. Pabrik ini sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai pabrik pengecoran logam. Produknya adalah alat2 pertanian tradisional (cangkul, dkk ) dan alat pertanian bermesin ( onderdil mesin diesel untuk pompa irigasi, dkk ).  Sepertinya pabrik ini adalah karya jaman pemerintahan Soekarno, karena namanya Wisaya Yasa.  Kini pabrik itu juga entah kemana.

pabrik gula kalibagorPabrik Gula.  Industri Makanan Gula Pasir. Di karesidenan Banyumas, mungkin pabrik Gula Kalibagor merupakan supplier utama kebutuhan gula pasir.  Kalau ini jelas tinggalan Belanda.  Pabrik ini begitu besar dan megahnya. Infrastruktur lahan tebu beserta irigasi dibangun. Rel kereta khusus – kereta tebu, yang ukuran rel dan lokomotip lebih kecil dari kereta api publik pun dibangun.  Sistem sosial dibangun, mungkin saat jaman Belanda ada berbau kerja paksa. Sistem manajemen juga di bangun dengan berbagai kemewahan bagi para officer pabrik.  Konon pabrik itu bangkrut karena degradasi mutu gula yang dihasilkan akibat mesin yang dugunakan sangat tidak up to date, konon juga ujung awal semua itu karena budaya borjo dan korup yang menjangkiti penjabat dan keluarga besar manajemen pabrik gula. Kini pabrik dan loji2 perumahan mewah sudah nggak terurus mirip lokasi film horor.

Pabrik Tapioca. Industri Makanan Tepung Ketela. Ketela pohon yang menjadi tanaman yang cocok dan mentradisi di pegunungan Banyumas, entah oleh Belanda atau pemerintahan jaman Soekarno, dilihat sebagai potensi untuk menghasilkan tepung sari (pati ketela)  dan tepung ketela (casava).  Dibangunlah pabrik tapioca di Sokaraja. Pabrik ini memiliki ukuran yang setara dengan pabrik keramik dan kira2 mendekati pabrik gula.  Kini pabrik itu entah dimana.

Peternakan Sapi.  Industri Ternak Sapi. Di Sokaraja tempo doeloe, juga terdapat peternak sapi perah dan sapi potong. Masyarakat Sokaraja keturunan Cina sepertinya men-spesialisasi diri untuk fokus mengelola peternakan sapi perah. Sementara Masyarakat Sokaraja keturunan Arab menspesialisasi bidang sapi potong, karena kehalalan proses penyembelihan ternak boleh jadi terasa lebih afdol.    Instalasi pemrosesan susu puan dan abatoar (pemotongan hewan) pun dibangun.  Suppy daging dan susu puan (susu sapi perah segar)  ini, utamanya untuk memenuhi kebutuhan para pejabat pemerintahan dan manajemen pabrik (gula, keramik, logam, tapioca) dan keluarganya, baru masyarakat luas.  Kini abatoar dan instalasi pemrosesan susu puan entah juga masih ada atau tidak.

Mengembalikan sektor ini membutuhkan kebijakan dari pemerintahan yang bijaksana untuk membangkitkan kembali pengelolaan sumberdaya setempat.  Pegunungan kapur, ketela, kedelai, sapi, kambing, sampai tambang emas di pegunungan Banyumas, seolah memanggil para kaum cerdik dan kaum bijak bestari masa kini dari Sokaraja untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dari generasi Sokaraja tempo doeloe.

INFRASTRUKTUR TERINTEGRASI

Saluran Rumah Terintegrasi. Saat saya SD, senang melihat selokan di sepanjang pinggir jalan Sokaraja. Selain ikan kecil2nya bisa ditangkap, juga nampak sekali perancang Sokaraja tempo doeloe berpikiran maju, berkonsep modern. Di sisi selokan itu sudah ada pipa gas, pipa leideng, pipa anim dan pipa ptt.  Pipa gas untuk menyalurkan gas ke rumah2. Pipa Leideng (begitu dulu disebutnya), untuk menyalurkan air bersih dari perusahaan air bersih. Pipa anim untuk menyalurkan aluran listrik ke rumah2 dari perusahaan listrik dan pipa ptt untuk menyalurkan saluran tilpun ke rumah2 dari sentrum tilpun ptt. Kini selokan, ikan2 kecil dan pipa2 saluran distribusi entah kemana.

stasiun sokaraja doeloe Stasiun Kereta Api.   Mass Transportation. Saat ini membangun infrastruktur kereta api akan membutuhkan biaya bertriliun2 rupiah. Sayangnya ada “warisan nggelethak” – legacy berupa infrastruktur kereta api, kok nggak dipelihara.  Stasiun KA Sokaraja itu stratgeis. Letaknya dekat dengan Pasar Induk, Pasar Hewan,  Abatoar, Pabrik Tapioca, Pabrik Keramik dan Pabrik Logam serta kantor telpun PTT.  ( Dibangun tahun 1897 oleh perusahaan patungan yang bernama Serajoedal Stoomtram Maatschappij ). Konsep “kota” ini sangat hemat dan tidak menimbulkan potensi trafffic yang memacetkan.  Kini banyak CBD ( Pusat Bisnis dan Hunian ) di Jakarta menggunakan konsep serupa – satu lokasi ada semua dan terintegrasi.

Stasiun KA ini menghubungkan jalur Purwokerto sampai Wonosobo.  Kota Banyumas yang saat itu menjadi ibukota karesidenan, tidak memungkinkan punya stasiun KA. Jadi Sokaraja oleh desaigner masterplan doeloe, boleh jadi merupakan semacam hinterland dari ibukota Karesidenan.

Terkait yang ini, seolah juga memanggil kaum cerdik cendekia nan bijakbestari untuk berbuat yang lebih baik dan tidak sombong. Belanda saja serius membangun Sokaraja  ? Berbuatlah lebih baik tanpa harus merusak yang sudah baik, kecuali memang sudah rusak. Kalau pun secara fungsi terlantar, periksalah cara berpikirnya, jangan menjadi keblinger.

Sekedar gagasan, mengambil hikmah hancur leburnya industri gula pasir Sokaraja. Kalau sempat ada yg berbuat sebagaimana (konon) generasi muda di China, yang membuat mesin pemeras tebu yang mobile, maka kereta tebu cukup membawa gerbong “tetes”  untuk mengangkut “sari tebu” ke pabri Kalibagor.  Manfaatnya : (1) biaya yang ditanggung petani kecil – tidak perlu sewa truk, (2) pabrik mendapat pasokan raw material siap pakai – biaya opex dan capex bisa untuk improvemnt system & machine, (3) lahan pabik dan karawan bisa dioptimumkan, (4) nggak bikin nambahin ruwet traffic jalanan, (5) industri logam hidup karena mendapatkan oder pembuatan mesin pemeras tebu, (6) sapi dan ternak mendapat pakan yang lebih bergizi dari perasan dan pucuk tebu – industri ternak sapi bisa berkembang lebih baik,  (7) dlll yang intinya secara makro akan bertumbuh secara efisien, masyarakat semakin sejahtera.

Banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan, asal nggak keblinger dan sombong. Ingat perjuangan dan ketulusan serta “kreatif”-nya para pendahulu di berbagai bidang.  Malu lah sama penjajah yang serius membangun Sokaraja.

KREATIVITAS KULINER

kuliner sokarajaKuliner Kreatip.  Tidak selamanya bisnis berjalan bagus, konon dulu pun ada semacam ekonomi lesu (jaman sekarang disebut resesi ekonomi). Produk dari pabrik (tapioka, gula, keramik, dsb) kurang berhasil dipasaran.  Konon jika pasar (dunia) lesu, maka karyawan/buruh pabrik tapioca dibayar pakai tepung. Begitu pun dengan pabrik gula, pabrik keramik, dsb. Dulu nggak ada demo buruh, meski konon di saat sulit pun manajemen pabrik tetap bisa borjo, khususnya pabrik gula.  Pemikiran kreatip bin enteprenership masyarakat Sokaraja, ternyata bukan saja menjangkiti para seniman (lukis dan batik), tapi para “ahli kuliner”.

No Pia. Kreativitas kuliner buruh pabrik dan keluarganya. Konon mereka memanfaatkan “bayarannya” berupa tepung itu untuk membuat No Pia (semacam bakpia yang isinya “coklat Jawa” ).  Kulit No Pia memiliki komposisi terbesar tepung tapioka, isi bagian dalamnya didonimasi oleh campuran berbagai ramuan yang didominasi oleh gula kelapa.  Sebagian masih bisa dilacak keberadaan No Pia ini meski di Sokaraja terkadang sulit menemukannya.  Kalau pun ketemu, penjualnya tidak punya sense of service.

mendoanMendoan.  Kedelai dari dulu sudah menjadi bagian dari tanaman para petani di Banyumas. Entah mengapa, dan terasa sekali adanya penurunan supply kedelai. Masyarakat Sokaraja tempo doeloe yang kreatif, kokoh dan ulet menghadapi “menghilangnya” kedelai secara bertahap, terus menanam kedelai dan sebagian mengembangkannya menjadi mendoan. Makanan yang nikmat dan lezat, bergizi mengoda selera dan ngangeni itu, kini sudah “mendunia”.  Konon  beberapa bule, Arab,  dan warga Singapur, Hongkong serta Malaysia yang pernah menikmatinya, kangen untuk menikmati kembali.

Jika dulu ada pertanyaan keheranan terkait nongol-hilangnya kedelai, kini kita diherankan kenapa jaman sekarang ada orang2 yang sok pinter mengatakan negri kita tidak cocok untuk tanam kedelai. Mudah2an mereka tobat dan sadar serta sudi mengkoreksi kekeliruan pemahaman serta mengembangkan ilmu secara benar.

Kreativitas kuliner masyarakat asli Sokaraja dengan memanfaatkan kelebihan suppy kedelai dengan menghasilkan mendoan. Mendoan itu lebih kepada seni membuat ramuan tempe (komposisi dan citarasa tempenya khusus untuk mendoan) dan seni membuat ramuan tepung serta seni menggorengnya. Bukan sekedar tempe goreng.  Mendoan kini sudah “mendunia”, untungnya di Sokaraja masih ada yang asli dan enak.

Klanting, Sriping & Gropak.  Kreativitas membuat creacker  juga berkembang.  Sebelum banyak gembar-gembor diversifikasi pangan dan produk pangan lainnya,  masyarakat Sokaraja dan sekitarnya memanfaatkan kelebihan supply ketela pohon (boled – bhs Banyumasan) dengan membuat Gropak dan Klanting.  Gropak adalah nama creacker asli dari ketela dengan bumbu khas dan campuran daun kucai.  Kini Gropak sudah “mendunia” dan anehnya di Sokaraja seolah tidak lagi dikenali.  Palembang malah gencar mempopulerkan Gropal dengan khas rasa ikannya.  Klanting adalah semacam snack goreng untuk cemilan. Klanting Sokaraja jaman dulu tidak keras dan tidak berasa kecut cuka. Kini klanting seolah juga tidak lagi dikenali di Sokaraja. Purworejo menggencarkan klanting dan memanfaatkan kelebihan supply ketela itu. Sriping adalah cemilan kripik dari ketela. Kini sulit menemukan Sriping asli Sokaraja, namun untungnya sudah ada enterpeneur yang mengekolanya  secara modern dengan inovasi cita rasa sesuai selera segmen pasarnya oleh berbagai pabrikan seperti Qtela, dkk

getuk gorengGethuk Goreng. Wet food berbahan ketela juga dikreasi oleh masyarakat Sokaraja tempo doeloe untuk memanfaatkan kelebihan supply ketela. Kreativitas kuliner ini menghasilkan Gethuk Teles dan Gethuk Goreng serta Gethuk Lindri. Yang berhasil “lolos” sampai menjadi icon Sokaraja adalah Gethuk Goreng.  Hampir sepanjang jalan di Sokaraja, dipenuhi dengan tulisan dan Toko Gethuk Goreng.  Bahkan beberapa lokasi di luar Sokaraja juga sudah “membuat”  cabang lengkap dengan nama dan kekhasannya.

Sroto.   Kelebihan pasolan daging sapi, dimanfaatkan oleh para entepreneur kuliner Sokaraja tempo doeloe dengan menghasilkan Sroto.  Bukan sekedar Soto.   Bumbu yang khas, campuran sayuran yang khas dan sambal yang khas dengan daging pilihan dari pasokan abatoar Sokaraja, telah menghasilkan SROTO.  Kini selain bersaing menguasai ruang di sepanjang jalan Sokaraja, dengan Gethuk Goreng, Sroto Sokaraja juga sudah “mendunia”.  Di  berbagai kota besar di Jawa dan Jakarta sudah ada tempat untuk mencicipi atau sekedar kangen.

Cenil,  Oyek, Mokho’ dll. Masyarakat Sokaraja tempo doeloe memang kreatip dan memiliki entepreneurship yang mantap. Untuk ketahanan pangan dan keanekan ragaman sajian, begitu kreatipnya. Cenil adalah kue kukus berbahan dasar ketela, tanpa rasa,   biasanya diberi warna merah atau hijau. Disajikan dengan “dress” dari parutan kelapa muda dan juruh (gula yang dicairkan dalam temperatur dan waktu tertentu, berwarna coklat). Oyek adalah sintetis beras berasal dari ketela. Oyek adalah kreativitas dengan sentuhan industri untuk mensiasati kelebihan pasokan ketela sekaligus untuk menjaga ketahanan pangan jika ada masa paceklik (gagal panen padi). Kini oyek menjadi kuliner yang eksotik. Mokho’ adalah kreasi roti berbahan dasar ketela.  Kini mokho’ entah kemana, atau mungkin proses entepreneuership yang belum selesai, karena saat itu, memang terkait citarasa dan keempukan roti ini belum sempurna.

http://id.wikipedia.org/wiki/R._Suprapto_(pahlawan_revolusi)

http://id.wikipedia.org/wiki/R._Suprapto_(pahlawan_revolusi)

http://www.tempo.co/read/news/2008/12/17/055151490/Mengenang-Iskandar-Alisjahbana-Teringat--Satelit-Palapa

http://www.tempo.co/read/news/2008/12/17/055151490/Mengenang-Iskandar-Alisjahbana-Teringat–Satelit-Palapa

Jendral Soeprapto dan Reko Rio. Beberapa orang Sokaraja yang memiliki prestasi dibidangnya adalah Jendral Soperapto.  Ia wafat bersama jendral lain dalam huru-hara tahun 1965.  Rekario adalah salah satu tokoh yang pernah populer di ITB. Saat listrik masih jarang dan pompa listrik juga belum dikenal luas, Rekario memperkenalkan pompa listrik ke masyarakat Sokaraja sepulang dari Jepang.

Sokaraja adalah bagian dari Banyumasan  dengan tokoh antara lain Panglima Besar Soedirman,  Raden Bei Aria Wirjaatmadja - Pendiri BRI, Jendral Soesilo Sudarman – penggagas Sapta Pesona Pariwisata Indonesia dan Visit Indonesia bersama Joop Ave,  pelawak Kasino Warkop DKI,  dll.  Tentulah banyak tokoh lain dari Sokaraja dan Banyumasan  yang punya prestasi namun katerbatasan informasi dan halaman ini, mohon maaf tidak/belum termuat disini.

Ya Emangbegitu

Scroll To Top