Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | CERMATI STASIUN2 PRODUK DEMOKRASI ……………………………………………………….. Apakah Agen Penjual Telur Busuk ?

CERMATI STASIUN2 PRODUK DEMOKRASI ……………………………………………………….. Apakah Agen Penjual Telur Busuk ?

 Dalam jaman ini (dan jaman kapan pun), waras itu penting. Waras itu bukan semata sehat badannya, namun lebih kepada sehat akalnya, sehat logikanya, sehat jiwanya ………  Monggo !!!

BEST PERCEPTION. Jika Anda calon pemBELI produk demokrasi, atau bahkan jika Anda bagian dari tim penJUAL produk demokrasi, maka ketahuilah bahwa pencitraan (creating image) itu selalu dilakukan oleh pedagang produk demokrasi, meski yang diJUAL itu adalah “telur busuk” sekali pun.

8 TIPSInti pencitraan adalah menjadikan sosok yang diJUAL memiliki BEST PERCEPTION di mata dan benak public – menjadi Top of Mind.

Cara yang umum, bisa Anda baca2 di buku2 marketing communications, biasanya amat normative.

Sementara produk politik tidak selamanya “waras”, sehingga ada saja praktek2 yang dilakukan menjurus pikiran/niyat yang bersifat “kriminal”.

Yang penting BEST PERCEPTION menjadi miliki sosok yang diJUALnya.

Kelakuan “criminal” dari upaya membuat BEST PERCEPTION itu banyak ragamnya, namun ada beberapa ilustrasi yang bisa Anda gunakan untuk menyimak atau cermati kelakuan para penJUAL.

Mudah2an Anda tidak tidak kecewa lantaran terkecoh dan terlanjur memBELI yang ternyata adalah Telur Busuk.

Sosok Paling Bersih. Sebagai pemBELI, wajar jika Anda pengin memBELI sosok yang “bersih” hati pikiran dan jiwanya. Dan kaki-tangan penJUAL amat paham keinginan Anda itu.

SelfieUmumnya, orang itu melihat dari visual, dari kulitnya, dari kemasan, dari bungkus, dari cangkang telur yang dijajakan.

Pedagang “criminal” kelakuannya antara lain :

  1. Sedia menyikat bersih kulit telur busuk sampai tidak ada sedikit pun kotoran ayam yang menempel di kulit.
  2. Kalau pun ada noda yang sulit dibersihkan, maka diupayakan untuk ditutup2i.
  3. Kalau pun noda itu terlihat oleh Anda, maka penJUAL akan membuat Anda teralihkan penglihatannya dengan berbagai cara.
  4. Kalau pun juga ada orang di sekitar Anda ada yang menunjukkan adanya noda itu, maka ia bisa menghardik/mengancam/menuduh melakukan fitnah dsb.
  5. dsb

Detail  ilustrasinya kira2 sbb :

Pusat2 icon religi. Masjid/pesantren, gereja, pura, vihara, dsb  adalah symbol hidup dengan hati yang bersih. Maka telur baik2 dan bahkan “telur busuk” pun ramai mengunjungi icon religi. Di upayakan dengan segala cara agar semua icon religi itu menyambut baik kunjungannya.

Publikasi digencarkan, sehingga public (termasuk Anda) terkesima, minimal para calon pemBELI ragu2 “ini telur bener atau telur busuk?”

Jika ada pihak yang tahu dan mengingatkan bahwa diantara yang berkunjung itu ada “telur busuk”, maka pihak itu akan diserang dengan tuduhan SARA sampai fitnah. Tujuannya agar public (termasuk Anda) ragu2 dan cenderung menduga itu telur bener.

Para penJUAL telur busuk, memilih lokasi icon religi yang paling mungkin. Namun kalau bisa yang memiliki pengaruh ke public. Semakin besar pengaruhnya semakin dipilih untuk dikunjungi.

Mereka tidak peduli “standar religi” dari icon yang dikunjunginya.

Tokoh2 religi. Tokoh2 agama juga menjadi icon sumber “fatwa” akan kebersihan jiwa, sumber stempel “halalan thoyiban”.  Semakin kondang, semakin besar pengaruhnya semakin dipilih untuk didekati/dikunjungi.

Hanya soal pengaruh yang dipedulikan, lain2 dari itu “emang dipikirin”.

Publikasi terkait kunjungan/kedekatan dengan tokoh agama pun dilakukan dengan gencar. Agar calon2 pemBELI terkesan bahwa produk itu telah mendapatkan mendapatkan “stempel”.

Seperti halnya dengan kunjungan ke icon religi, maka jika ada yang memberikan imbangan informasi terkait pencitraan seperti itu, maka serangan pun digencarkan, SARA fitnah dsb adalah jenis “pelurunya”.

Padahal yang mengingatkan itu mirip2 dengan upaya perlindungan konsumen agar tidak salah BELI.

Ketahuan Ada Noda.  Jika telur yang kulitnya sudah diupayakan untuk terKESAN bersih dan siap JUAL, ada yang tahu (mungkin Anda sendiri juga tahu) serta penJUAL sadar akan situasi ini, maka perhatian public (termasuk Anda) akan dialihkan sedemikian rupa dengan berbagai cara.

Lalu membangun upaya (pencitraan) lain sehingga noda tadi sudah “tidak tampak” lagi, sudah tidak menjadi perhatian publik (termasuk Anda). Upaya ini  bisa juga dilakukan dengan cara seperti memutar telur busuk itu sehingga bagian yang ada nodanya sulit terlihat (misal dilindungi, di rekat habis agar tidak bisa berputar,  dsb)

Lagi2 jika ada pihak yang tahu upaya “criminal” ini, maka akan mendapat serangan berupa penyebar fitnah, SARA, melakukan penjegalan, dsb.  Padahal ini semacam perlindungan konsumen agar tidak salah BELI.

Tampilkan Komparasi Secara Unballance. PenJUAL telur busuk, amat pandai mengecoh. Bahkan ketika Anda sedang sadar pun bisa dikecoh.

Ia akan menampilkan (mempresentasikan, mempublish, dsb) komparasi jajaran jenis telur sedemikian rupa sehingga siapa pun yang melihat (tanpa berpikir), akan menyimpulkan “telur itu lebih bagus”. Tujuannya untuk mendorong keputusan BELI. Soal kecewa dikemudian hari “emang dipikirin”.

Untuk memuluskan trik ini, biasanya public diarahkan untuk “membenci” bicara detail, dan pada umumnya memang public tidak suka detail. Jika “wabah” tidak suka detail itu terjadi, maka presentasi/penampilkan membandingkan fakta dan kenyataan secara unbalance akan membuat kebanyak orang (termasuk kita juga) terkesima.

Biasanya ada publikasi yang menggambarkan komparasi. Misal temanya mengunjungi pemukiman kumuh. Maka agen penJUAL telur busuk sudah mengirim juru foto yang akan memotret moment negative/apatis/serupa itu dari sosok yang akan di destruct. Disisi lain, ada juru foto yang mengambil gambar dengan moment positive/cooperative/warm/serupa itu dari sosok yang akan diJUALnya.

Hasil foto keduanya (dalam beraneka rupa/kesempatan) dijajarkan secara sedemikian rupa agar sosok yang akan diJUAL disimpulkan is the best. Jajaran foto itu biasanya dibingkai dengan tajuk “gambar lebih banyak bercerita”.

Komparasi ekspresi secara Unballance  ini akan mudah jika memang karakternya asli berbeda, namun terkadang juga dilakukan untuk karatek yang sama.

Contoh :

(1)  foto orang yang dikenal sehari2nya perilakunya congkak, disandingkan dengan foto orang yang dikenal perilaku sehari2nya ramah. (ini original pesan)

(2) foto kedua orang yg sama2 congkak, namun yang satu diasjikan dalam moment yang menyangatkan kecongkakannya, sementara yang satunya dalam moment yang justru tidak terlihat kecongkakan aslinya. (rekayasa pesan)

Ojo Gumunan. Masih banyak trik sampai ilusi yang akan digunakan oleh para penJUAL telur busuk. Karenanya mengajarkan hidup waras, pakai otak, tidak gumunan, dsb kepada keluarga, lingkungan dan siapa itu penting.

Nasehat simbah “sing eling lan waspada”. Eling itu ingat kepada Allah. Allah itu Maha Berilmu, Maha Detail, Maha Mengetahui, dsb.

Jadi eling itu ya gunakan akal pikiranmu, sadar, waras. Pahami ilmu2, termasuk ilmu pencitraan, ilmu jualan, dsb. Sehingga tidak sembrono dalam melihat, dalam memandang, dalam menyimpulkan. Orang sembrono itu lebih mengedepankan emosinya. Orang sembrono, biasanya juga tidak paham detail, lebih tepatnya tidak suka detail.

Saran.  Ini jaman Gen Z, bukan lagi jaman Gen Y apalagi jaman Gen X. Demokrasi, transparansi, internet, openmind, dsb.

Jika Anda ingin rakyat/bangsa dan negara Anda maju dalam berdemokrasi, maka buatlah semacam komunitas perlindungan konsumen agar tidak salah BELI.

Komunitas ini harus rajin menyimak, rajin menginvestigasi, rajin mempublikasi, dsb. Agar public mendapatkan informasi yang seimbang dan jujur, bukan upaya pencitraan, namun juga bukan upaya destruction atau character assassination.

Kuncinya : jujur ( tidak menyebarkan fitnah, hoax, dsb), tanggung jawab (tidak mencla-mencle, berkomitmen untuk memajukan peradaban),  komunikatip (rajin menyampaikan pesan/info secara positive, persuasive, constructive, dsb), dan pakai otak (rajin memahami ilmu2, rajin mengamati,  mampu menganalisa, dsb shg bukan asal njeplak, bukan ngawur, punya tujuan).

Semangatnya : Membangun Demokrasi yang sehat dan bertanggung jawab.

Monitor dan cermati semua stasiun Penyiaran Produk Demokrasi, karena diantaranya ada yang potensi menjadi agen penJUAL telur busuk.

Begitu apa begitua ya ?

Ya Emangbegitu

Scroll To Top