Sekilas Info
Home | Inspirasi | PRESIDEN ANEMIA 2014 : SIPIL or MILITER ?

PRESIDEN ANEMIA 2014 : SIPIL or MILITER ?

Di Anemia, sempat pula populer berbagai istilah : Supremasi Sipil, Potong Satu Generasi, Back to Barrack, dsb……. supremasi sipil itu apa ya ?  Bagaimana dengan di Indonesia 

Supremasi Sipil.    Kalau ikuti alur pikir riset ala cak Lontong, maka kata supremasi sipil ini terdiri dari dua unsur, yakni : (1) supremasi dan (2) sipil. Secara singkat, kata supremasi itu erat kaitannya dengan penguasa, kekuasaan tertinggi dan serupa itu.

Nah …. yang menjadi pertanyaan adalah apa maksud dari kata sipil itu ?.  Kalau anda berada di kantor militer di Indonesia (bukan di Anemia), istilah sipil itu untuk membedakan dan lebih kepada arti non-militer. Sementara kalau anda telusuri asal kata sipil itu adalah civil – masyarakat, atau civilization – peradaban.

Apakah yang dimaksud dengan supremasi sipil itu kekuasan tertinggi dipegang oleh non-militer atau kekuasaan tertinggi ditentukan oleh masyarakat atau kekuasaan yang dikelola secara berperadaban ?  Anda dan para pakarlah yang lebih tahu.

back to fortDominasi Militer Anemia. Di  Anemia, sempat ada phobia terhadap militer. Dalam sejarahnya, militer Anemia seolah keenakan dan terlena serta mempertahankan posisi menguasai jajaran birokrasi administrasi negara. Itulah mungkin sebabnya, mengapa ada keinginan sebagian elit di Anemia untuk meminta militer “back to barack”.

http://sejarahri.com/tag/sejarah-indonesia/page/36/

http://sejarahri.com/tag/sejarah-indonesia/page/36/

Dari sejarahnya, Anemia bukan negara yang kemerdekaannya diberi, namun sebuah negri yang diperjuangkan oleh rakyat yang mengusir penjajah.  Secara naluri, rakyat Anemia memang memiliki kecintaan pada negri dan keberanian luar biasa. Melawan pasukan penjajah yang sudah menggunakan meriam, bom yang ditembakan dari darat, dari udara dan dari lautan, serta tank dan panser pun tak gentar. Rakyat di seluruh penjuru Anemia terus menyerang, menyerang, maju, maju dan seterusnya akhirnya menang.

Negri Patriotik & Pnya Kepribadian. Kemerdekaan Anemia dipimpin oleh tokoh gerilyawan yang sakit2an, pejuangnya kebanyakan adalah penduduk biasa yang hanya bersenjatakan bambu runcing.  Mereka tidak takut pada kematian dan penjajah, takutnya hanya kepada Allah, sampai2 seorang jendral dari sekutu negri penjajah – negri yang merasa sudah mengenal civilization, berhasil diserang sampai begitu dekat dan bahkan bisa  dibunuh oleh rakyat yang mayoritas hanya bersenjatakan bambu runcing.

Rakyat Anemia yang patriorik itu memiliki semangat yang didasarkan pada meyakini kecintaannya pada negri akan dicintai Allah, dan ingin menghentikan penjajahan bangsa lain, ingin menghentikan diskriminasi nyata dan terstruktur, diskriminasi biadab yang menjadikan kaum pribumi malah menjadi strata  yang amat jauh di bawah, mereka tidak ingin pribumi ditindas dan dihabisi serta dicuci otaknya oleh kaum penjajah dan antek2nya yang ikutan mencari makan di bumi Anemia.

Beruntung,  di Anemia dilahirkan seorang kharismatik yang mampu berpidato secara terstruktur, secara memukau, dengan visi ke depan dan missi yang hebat. Setiap ucapan pidatonya seolah bagaikan sihir yang mempesona, setiap kehadirannya selalu dielu2kan   (kalau di Indonesia mungkin setara dengan Soekarno).  Seokarno, tokoh Indonesia, tidak mengenal model pencitraan dan memang memiliki kemampuan nyata dalam pikiran dan tindakan serta pidato2nya. Agak berbeda dengan generasi dan tokoh di negri  Anemia masa kini yang merasa atau sok merasa seperti Soekarno Indonesia, namun pikiran tindakan dan pidatonya masih amat jauh.

Kemerdekaan negri ini yang patriotik dan “sangat tradisional” ini dikenal sebagai peristiwa heroik yang menginspirasi banyak manusia terjajah di belahan dunia lain. Dan negri ini menjadi “momok” bagi negri2 lain, ditakuti. Mirip sejarah tokoh Indonesia : Bung Tomo yang berperan sebagai membangunkan spirit melalui teriakan Allahu akbar !!! Panglima Besar Soedirman yang secara cerdas dan tekun mengatur siasat perang gerilya dari atas tandu dalam keadaan sakit2an, dan para pemoeda yang “memaksa” Soekarno-Hatta untuk membacakan pernyataan Kemerdekaan yang disambut dengan gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia.

http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung/03.html

http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Bandung/03.html

Disegani & Menginspirasi. Sebagaimana Indonesia, di negri Anemia, sesaat dan setelah merdeka, semangat itu terus membara, semangat patriotisme. Tentu saja ada plus minusnya.  Plusnya, negri ini ditakuti oleh negri manapun karena mereka paham bahwa bagi bangsa Anemia, senjata bukan masalah, tapi semangat dan patriotisme itulah yang sulit dilawan.

Sebagai negri yang baru merdeka, maka neri Anemia belum sempurna betul wujud tatanan adminsitrasi dan proses pengelolaan. Namun negri ini sudah memiliki cita2 dan nilai serta semangat yang luar biasa.  Visinya jauh ke depan, missinya untuk perdamaian dunia yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.  Jadilah Anemia sebagai negara yang bukan saja ditakuti oleh sebagian negri, namun juga menjadi inspirasi bagi bangsa yang saat itu masih terjajah, diperbudak bangsa lain.

Penduduk Anemia semula banyak yang buta huruf, namun dengan kesadaran dan kebijakan pemimpin negri Anemia, secara berangsur jumlah sekolah dasar, menengah sampai perguruan tinggi terus ditingkatkan jumlah dan penyebaran serta partisipasinya.  Laju populasi demikian pesat, karena sebelumnya belum dikenal KB dan tradisi serta situasi yang ada memungkinkan untuk berkeyakinan “banyak anak banyak rejeki”.

Kesadaran masyarakat untuk bekerja, mencukupi sandang, pangan, papan, dsb semula masih amat rendah (mungkin telah lelah akibat dijajah begitu lama dan ada fase penjajahan yg kejam). Namun lambat laun semua menjadi lebih baik. Begitupun insfrastruktur ekonomi masih sangat minim, kalau pun ada itu karena legacy penjajah  Secara perlahan dan pasti, bendungan, irigasi, listrik, telepon, angkudes, radio, televisi,dsb dibangung secara besar2an.

Gegar Budaya & Stabilitas. Di sesi perjalanan tertentu, Anemia mengalami semacam culture shock (istilah dari prof Selo Sumardjan dari Indonesia, adalah Gegar Budaya) sebagai akibat dari proses internalnya, rakyatnya semakin pinter,  phisiknya semakin kuat, mobilitasnya semakin mudah, dsb. Secara materi, bisa dikatakan proses kesejahteraan rakyat Anemia semakin membaik.  Proses ini amat dimungkinkan karena adanya stabilitas keamanan.

Dalam konsep stabilitas kemananan yang dilakukan di Anemia saat itu, antara lain, siapa saja yang mencoba mengganggu proses pembangunan Anemia menuju lebih maju, lebih makmur dsb akan dilebel sebagai tindakan makar. Semakin mengganggu, semakin mbanggel sesorang atas proses yang sedang dilakukan Penguasa (yang secara fakta didominasi oleh mereka yang berstatus atau menyandang gelar militer) untuk rakyat dan bangsa Anemia, maka tindakan aparatur negara Anemia akan semakin tegas.

Begitu pun setiap ancaman dari luar sekecil apapun selalu dipantau, namun hubungan dengan tetangga dijaga agar harmonis dan saling menghargai. Negri mana saja yang bermaksud negatip pada proses pengembangan negri Anemia pasca kemerdekaan, akan dihajar.  Stabilitas keamanan amat mendukung proses pembangunan ekonomi, proses pencerdasan, proses pembangunan Anemia.

http://otherwords.org/week-otherwords-november-6-2013/

http://otherwords.org/week-otherwords-november-6-2013/

Kelompok Oportunis. Anemia mengalami kemajuan. Disamping kemakmuran, memang Anemia mengalami masalah kesenjangan sosial.  Sebagian mengatakan bahwa kesenjangan sosial di Anemia itu bukan karena by design, bukan kesengajaan secara struktural, lebih karena proses pembelajaran bangsa dan rakyat Anemia. Meski faktanya nampak, kesejangan ini bersifat struktural, sehingga sebagian menyimpulkan bahwa ini by design (entah kesimpulan hasil provokasi atau punya maksud tertentu).

Ada yang mengatakan bahwa kesenjangan sosial muncul diantaranya disebabkan karema adanya sekelompok oportunis yang mengelilingi pusat kekuasaan. Kelompok oportnis ini tentu saja orientasinya adalah keuntungan bagi dirinya, peduli amat dengan rakyat, mirip kelompok “wani piro” di Indonesia.  Semua proses adminsitrasi negara Anemia, haruslah memberikan bulky dollars bagi kelompok oprtunis ini, bagi kelompok wani piro ini.

Pengkhianatan Kaum Oportunis. Jika pengkhianatan kepada negri Anemia, telah berhasil dicegah dan ditumpas, rupanya Anemia yang belum sempurna itu, perlu memperhatikan sejarahnya. Ada kaum oportunis yang biasanya beraliansi dengan sebagian kaum pencari makan di Anemia.  Kaum oportunis ini  adalah  kaum yang cerdik tapi licik,  pinter tapi ngapusi, gila harta dan tegaan demi harta, dan serupa itu. Kaum oportunis ini dengan caranya, akan mampu dan selalu mengelilingi penguasa.

Tujuan kaum oportunis mengelilingi penguasa adalah untuk memperkaya diri, terkadang membuat proyek yang dilebel atau berkedok untuk kepentingan rakyat atau dinuansakan agar sejalan dengan pemikiran penguasa.

Barisan Sakit Hati. Kelompok oportunis amat rajin dan bangga memamerkan hasil jarahan (uang negara dan ngutil dari hak rakyat Anemia) secara luar biasa. Perilaku itu amat menyakitkan sebagian rakyat Anemia. Kaum oportunis ini seperti mirip  manusia Ori Imitation @KW4 Inside,  juga pandai memanfaatkan lingkungan kekuasaan untuk menghajar rakyat yang berteriak kesakitan melihat ulah kaum oportunis itu. Semakin sakitlah rakyat yang melihat kepongahan dan merasakan sakitnya kesenjangan yang tidak berkeadilan dan kedholiman yang sengaja dipelihara dan dirasakan sebagai dipertontonkan dengan telanjang.

Disisi lain, sebagian rakyat melihat dan merasakan bahwa penguasa pun tertutup dari informasi sebenarnya, sehingga sebagian rakyat Anemia yang semakin tinggi level pendidikannya itu memungkinkan terbentuknya komunitas rakyat yang merasakan perlakukan semena2 aparatur negara Anemia.  Oleh kaum oportunis malah sering dipopulerkan sebagai “barisan sakit hati”.   Semakin benar2 sakitlah hati rakyat itu.

Penguasa seolah telah dibutakan matanya oleh kaum oportunis, telah dirusak telinganya sehingga tak lagi mampu melihat dan mendengar jeritan rakyatnya. Disisi lain, penguasa dibangunkan fasilitas super untuk “menjaga kesehatan” penguasa, sehingga  yang sering terdengar oleh penguasa adalah hal-hal yang baik2 saja. Kalaun pun ada letupan yang terdengar, akan segera dirubah, didistorsi menjadi bisikan tentang rakyat yang “bengal”.  Tak heran jika sebagian rakyat yang “bengal” itu mengira penguasa itu sebagai setan yang mengangkang.

Bagaimana pun, penguasa adalah juga  manusia biasa (yang punya kelebihan dan kekurangan), jika niyatnya  bermaksud baik untuk negri bangsa dan rakyatnya, kok malah dikata-katain sebagai “setan yang mengangkang”, mungkin saja bisa bikin telinga merah.  Kelompok oportunis ini memang pandainya setara setan (bukankan setan berhasil menggoda Adam ?).  Telinga penguasa yang memerah, justru dimanfaatkan kaum oportunis untuk menghajar habis rakyat yang “bengal” itu.  Rakyat semakin benci, penguasa semakin marah.  Kelmpok oportunis  justru berpesta pora bagaikan hyena.

Islah. Beruntung, Anemia memilki tokoh nyleneh ( kalau di Indonesia mungkin semacam Gus Dur ) yang dengan santai memandang persoalan “ruwet” dengan seloroh “Gitu aja kok repot”. Tokoh ini berhasil meredam dan mengobati sebagian luka2 akibat percekcokan yang tidak semestinya ada diantara orang2 yang sama2 cinta negri dan sama2 memegang amanah, bahasa lain adalah islah.

Stabilitas yang menjadi instrumen, telah disandra oleh kaum oportunis untuk menggunakan aparatur negara guna menghajar rakyat yang berteriak2 secara “bengal”.  Akhirnya frustrasi pun semakin menyebar luas. Rakyat yang juga semakin cerdas, meski tidak mearasakan kepahitan sebagaimana yang dialami rakyat “bengal” itu pun casino online menaruh simpati dan bersama melihat “apa yang terjadi di negriku?”.  Entah ada intruder atau kepentingan pihak asing  yang semula takut dengan patriotisme dan lajut perkembangan negri Anemia atau keblingernya sebagian kaum pinter di Anemia atau gabungan dari berbagai hal, maka terlihat jelas oleh banyak kaum yang mengedepankan kajian ilmiah, yang dengan kacamatanya itu disimpulkan “kita butuh supremasi sipil”.

Terjadilah gerakan mosi tidak percaya kepada pemerintah Anemia yang faktanya ada dominasi kaum militer, ada penghajaran kepada rakyat yang menuarakan aspirasinya atau menyampaikan sikap kritis, dan …. ada kaum oportunis yang menyandra administratur negara dan militer negri Anemia untuk menghajar rakyat yang “menggoyang”  comfort zone, merusak kesukacitaan hedonisme, dsb . Mungkin diantara kaum pinter ada yang benar2 paham memaknainya, ada yang melenceng persepsinya, ada juga yang ikut2an agar terlihat masuk dolongan orang pinter.  Ada pula seloroh “militer back to barack”.

Stabilitas, Militer & Intelijen.  Jika dirunut ke belakang, fakta dominasi aparatur negara Anemia saat itu adalah mereka yang berasal dari militer, kebanyakan mereka  memang bekas pejuang kemerdekaan, atau bagian dari rakyat yang saat pasca kemerdekaan aktip berperan serta dalam mempertahankan kemerdekaan, menjadi bagian dari gerakan pembebasan Anemia dari pejajahan dan kemungkinan comeback-nya penjajahan dengan modus baru.  Saat perjuangan dan saat mempertahankan kemerdekaan Anemia, mereka2  sebagian besar diwadahi, dilatih, dan akhirnya dijadikan sebagai militer.

Sebagai tambahan, di 15 tahun pertama setelah kemerdekaan Anemia, terjadi berbagai upaya mengagalkan berdirinya negri Anemia serta pengingkaran perjanjian terhadap negri Anemia. Penggagalan ini ada yang secara frontal dilakukan oleh pihak asing, dan tidak sedikit yang menyusup menggunakan anak2 bangsa Anemia untuk berbuat sedemikian rupa agar Anemia kacau.  Kebanyakan direkrut dari  anak2 bangsa Anemia dari kaum yang tidak memiliki ketulusan cinta pada negri Anemia, sebagian karena iming2 duniawi, sebagian lagi karena kebodohannya

Kehadiran para kawakan dan pensiuan militer eks pejuang saat memperjuangkan dan saat mempertahankan kemerdekaan dari upaya come backnya penjajah  , mengisi hampir semua lini aparatur.   Manfaatnya memang besar bagi upaya menjaga stabilitas kemananan dari gangguan di dalam maupun dari luar.

Bisa dikatakan, satelit terhebat saat ini yang dimiliki negra maju sekalipun kalah jauh dengan kecanggihan dan keakuratan informasi dalam menjaga keamanan negri Anemia saat itu.  Tugas intelijen berjalan sampai ke tingkat terbawah, kalau di Jepang mungkin setara dengan tingkat perfectur atau kalau di Indonesia mungkin dikenal dengan Babinsa.

Wajar jika anak2 bangsa yang berperilaku mengacaukan perjalanan pembentukan dan pembangunan negri Anemia itu oleh instrumen aparatur negara Anemia, disebut sebagai  boneka2 dan antek2 asing. Disebut boneka, karena secara pemikiran, sebenarnya anak2 bangsa ini masih klas TK ( istilah GusDur – tokoh dari Indonseia), tapi lagak-lagunya seperti profesor.  Disebut antek asing, karena perilakunya hanya menuruti kepentingan asing dan tidak memahami apa dibalik tujuan akhir dari pihak asing itu.

Maka, konsep stabilitas & intelijen Anemia itu, secara internal mendapat serangan yang dimotori oleh anak2 bangsa yang telah disihir menjadi boneka dan antek2 asing,  dan secara externally dirasa “mengganggu” rencana besar negri2 lain yang menginginkan Anemia hancur, yang ingin mengeruk kekayaan Anemia, dsb. Kesmitri pun bisa terjadi, dan efek dari kemistri ini mempengaruhi pemikiran sebagian anak2 bangsa Anemia yang baru melek ilmu.

Beruntung, kini hampir semua elemen dan anak2 bangsa Anemia, termasuk dari kalangan militer, sudah saling memahami. Kaum yang baru melek ilmu, jumlahnya besar, dan sebagian terlupakan untuk memahami sejarah negri Anemia, namun rakyat yang semakin cerdas melihat proses pengelolaan adminsitrasi negara Anemia juga semkain banyak. Mereka sudah paham “kita bukan berperang melawan kita. itu adalah cara penjajah mengadu domba”,  dan “siapa pun yang mengijinkan Anemia dijajah kembali, itu perlu disadarkan, jika membandel perlu tindakan yang lebih tegas”.

Bagaimana tentang Indonesia ?  Andalah yang paling paham.

Supremasi Sipil. Indonesia bisa belajar dari peristiwa di Anemia,  rakyat Indonesia bisa belajar dari  perilaku rakyat Anemia dalam menilai pemimpinnya, rakyat bisa belajar dalam mewaspadai bahwa penguasa Anemia amat sangat mungkin diselimuti oleh kaum2 oportunis, yang tega mencongkel matanya menyumbat telinganya,  membuat ba-al sistem syaraf pemimpinnya, dsb. Sementara calon2 pemimpin Indonesia juga bisa belajar bagaimana kaum oportunis (dari kalangan keluarga, kalangan partanya, kalangan koleganya, dsb) akan mampu menyandra sampai kehilangan kejernihan hubungan dengan rakyatnya.   Semuanya bisa belajar bahwa kejadian kekisruhan dan tawuran bin eker-2an antar elit Anemia hanya akan mengundang “sumbangan” sukarelanegri asing yang menginginkan Anemia semakin terbakar dan semakin terbakar, dan …….. negri lain yang semula ketakutan terhadap kultur patriotisme dan nasionalisme Anemia akan semakin LOL.

Militer bukan untuk menindas rakyat sendiri, bukan pula untuk membantai bangsa sendiri sekalipun dengan alasan apapun. Bahkan bukan pula untuk menyerbu dan memsnahkan bangsa lain. Rakyat perlu dibina, dididik dengan nasionalisme yang benar. Militer amat sangat diperlukan untuk menjaga marwah, menjaga martabat bangsa. Militer bermanfaat untuk mengawal perdagangan hasil2 Indonesia ke negri lain, menjaga keamanan lalulintas ekonomi antar negara sebagaimana negri2 lain.

Kultur patriotik yang diwariskan oleh generasi terdahulu, amat ditakuti bangsa lain, karena sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa senjata itu bukan masalah, bahkan sejarah bangsa2 lain pun membuktikan bahwa patriotisme menjadi energy tak terkalahkan oleh kehebatan senjata apapun. Patriotisme yang didasarkan pada hanya takut kepada Allah dan hidup ini untuk menghadirkan manfaat terbaik bagi manusia yang lain, bagi alam semesta, bersahabat dengan siapa saja dengan penuh cinta dan kasih sayang (rokhman rokhim),  tidak memperbudak diri sendiri  atau memperbudak pihak lain, tidak membenci dan tidak pula mengkultuskan, dsb sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Indonesia negri yang kaya, banyak pihak luar siap bepesta dengan segala yang ada di Indonesia. Semoga para calon pemimpin dan calon wakil rakyat paham sejarah bangsanya, terbebas dari pengaruh atau tekanan pihak luar. Kalau memang mencalonkan diri untuk dan demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia, maka buktikan saja janjimu, wujudkan semangatmu dan niyatmu yang mulia itu. Saksinya Allah, rakyat mendukung sekaligus memantaumu  (kalau memang Pancasilis sejati). Semoga bangsa, rakyat dan elit Indonesia benar2 semakin dewasa, semakin bijak, semakin paham negri dan sejarah perjalanan bangsa sendiri, dan dijauhkan dari perilaku buruk dan perilaku kebodohan dalam (perasaan) kepinterannya atau dalam bahasa lain dihindarkan dari sifat jahiliyah,  dijauhkan dari sifat dan perilaku yang hanya akan menjadikan bangsa Indonesia “to LOL”.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top