Sekilas Info
Home | Inspirasi | Gaya Hidup | Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti,

Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti,

Bagi Indonesia, pesan kehidupan Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, seolah hanya milik orang Jawa atau bahkan mungkin ada yang cenderung mengaggap “kejawen”, beberapa hari ini mungkin ada yang mengannggap milik Jokowi.  Jadi penasaran …..

Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.  Jika ditranslate ke bahasa (dari berbagai sumber), kurang lebih adalah suatu pesan kehidupan yang menjelaskan bahwa segala kekakuan/keras hati, kebencian/kepicikan, kemarahan/angkara murka, hanya bisa dihadapi dengan sikap bijak, lembut hati dan kesabaran.

doa dan gundahJasmerah. Kalimat diatas bukan milik Jokowi, sebab sudah ditulis sebelum Jokowi lahir. Hanya dalam akun yang dilabel dengan nama yang mengadung kata Jokowi itu sedang rame dibahas.   So ? boleh jadi  Jokowi sedang mengingat pesan kehidupan itu. Bagi yang paham wayang kulit, tentu paham bahwa begitu rupa para wali mentransform Islam ke dalam kehidupan manusia di nusantara – dengan kelembutan hati, dengan nuansa welcome bijak bestari, namun tetap bersabar di jalan Allah.

Bisa jadi Jokowi sedang gundah lalu mengadu kepada Tuhan menurut pengetahuannya.

Atau mungkin Jokowi sedang “berdakwah” dengan caranya ?

Jika seseorang ( siapapun dia ), sedang menjalani gelar  Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, apakah salah atau benar ?

Wallohu a”lam.

Pendahulu. Jika kita simak sejarah, sepertinya kelembutan hati, bijak bestari dan sabar adalah sebagian ajaran Islam yang mewarnai sikap para wali saat itu dalam menyampaikan ajaran Islam dan upaya manusiawi untuk mendekati “status” dicintai Allah. Allah itu Maha Segalanya, barang siapa dekat/dicintai Allah, tentu berbagai hal bisa terjadi.

Sikap hidup lain yang didakwahkan para wali antara lain adalah “sekaten” (syahadatain – dua kalimat syahadat – two commitment).  Cara saat itu di masyarakat saat itu adalah tidak to the poin, namun melalui teknik ribbon. Termasuk sikap untuk tidak mensekutukan Allah dimasukan melalui cara mengajak untuk tidak mentang-mentang (karena yang Maha Kuasa hanyalah ALLAH).

Brigif 16Syirik (sikap musyrik) yang banyak menghinggapi manusia berkuasa dan berilmu adalah syirik yang tersembunyi.

Berbagai dakwah/ajakan untuk hidup lebih bermakna dunia akhirat, antara lain adalah mengajarkan sikap yang menjauhi syirik yang tersembunyi ini dibahasakan ke dalam bahasa yang dimengerti masyuarakat yang didakwahi sebagai Ojo Adigang Adigung Adiguno (jangan mentang-mentang dan sok paling hebat).

Sikap apatis terhadap kehidupan akhirat, sikap malas dan borjouis yang banyak menghinggapi sebagian kaum miskin sampai kaum bangsawan saat itu, “diperangi” melalui ajakan untuk senantiasa beramal sholeh yang dibunyikan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat yang didakwahi dengan “Urip iku Urup” ( Urup = kontribusi, menghadirkan manfaat, berbuat baik, dsb).   Bahwa hidup di dunia ini untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan di akhirat ( cut-off-nya adalah mati ).

Keengganan penguasa untuk mencegah hal-hal negatip atau menghentikan kebiasaan buruk, terutama yang sudah menjadi tradisi, amatlah sulit. Caranya banyak, antara lain melalui ajakan untuk  senantiasa melakukan amar ma”ruf nahi munkar yang dibunyikan dalam bahasa yang dimengerti masyarakat yang didakwahi dengan “Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto Dur Hangkoro”.

Dan masih banyak lagi.

Bijak. Kalau ngomongin bijak, saya kira begitu banyak telah kita dengar sejak masa kecil sampai sekarang. Soal paham atau belum, itu amat bergantung bagaimana perjalanan hidup seseorang menyerap tebaran hikmah yang ditaburkan Allah pada sepanjang perjalanan tiap-tiap manusia. Monggo disimak diri sendiri.

Makna Bijak. Sikap bijak jika dilihat dari kacamata penganut  “insta” – instant and tangible , adalah serupa dengan sikap yang nggak jelas bin lamban. Jika dilihat dari penganut aliran “strafo” – straight forward, akan dibaca sebagai sikap tidak konsisten. Dan sebagainya.

http://www.mataperisaham.com/2013/09/albert-einstein-pemikiran.html

http://www.mataperisaham.com/2013/09/albert-einstein-pemikiran.html

Sikap bijak itu bukan sesuatu yang berada dalam dimensi logika semata, namun sesuatu dari hasil kemistri yang lebih kompleks dari sekedar logika dan perasaan. Disitu ada unsur silaturakhim/humanis (nge-wong-ke), ada unsur  istiqomah/komitmen pada kebenaran dan kemaslahatan bagi banyak orang dan waktu panjang.

Misal, hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka ( manusia ) yang telah lebih dulu membunuh orang lain, suatu sikap bijak. Dalam dimensi lain sering dilihat sebaliknya.

Namun setelah ditunjukkan oleh Sang Pencipta berbagai kejadian akibat dari perilaku “sang pembunuh”  sebagian baru menyadari bahwa itu sesuatu yang bijak, meski ada yang bersikukuh (entah apa motiv-nya) untuk memandang hukuman mati seperti itu sebagai sesuatu yang “biadab”.

Mengapa ? barangkali hidayah itu memang tidak diberikan kepada semua orang.

Wallohu a’lam.

Mohon lakukan blusukan cyber, simak  file2 di situs berita : banyak berita karena satu tindakan seseorang yang dalam kendali narkoba, mampu menewaskan (untuk menghindari kata membunuh), begitu banyak manusia lain yang tak bersalah dan bahkan kenal juga tidak dengan si “pembunuh” itu.

Contoh : Christoper (tragedy Pondok Indah) yang “membunuh” begitu banyak manusia yang kenal pun tidak dengan Christoper. Begitupun dengan Apriani (tragedy Tugu Tani), dan begitu banyak kejadian yang sudah diberitakan media (silakan simak di file teve maupun media on-line). Teroris saja “dianggap wajar” di DOR, dan teroris itu banyak ragam dan jenisnya : namun disitu ada semacam kebrutalan dan sifat “dajjal” – mahluk “bermata satu”.  Narkoba membuat manusia waras menjadi “bermata satu”.

Itulah sikap bijak, begitu jelas keberpihakannya pada kebenaran, keadilan, kemaslahatan, perlindungan manusia sekarang dan ke depan.

Lembut Hati. Entah mengapa, kata lembut hati lebih sulit dicari ketimbang lemah hati. Padahal bagi yang paham, lembut hati dengan lemah hati itu amat berbeda. Apakah kebanyakan manusia itu lebih menyukai kondisi keras hati sehingga sisi lainnya ( lemah hati)  juga lebih banyak dijumpai.

Lemah hati itu lebih dekat dengan tidak punya pendirian, keras hati lebih dekat dengan tidak mau menerima nasihat, sulit menerima pendapat orang lain.

Sementara, lembut hati itu lebih dekat dengan berpegang teguh pada kebenaran namun dalam pengejawantahannya tidak harus dengan pemaksaan, cenderung memberikan kesempatan pihak lain untuk mencerna dan membuat sendiri kesimpulannya, dan berharap memiliki khasanah pemaandangan yang sama.

Lembut hati bukan lawannya keras hati, karena “ia” kawan dari yang keras hati dan yang lemah hati.

Muhammad rasulullah s.aw dalam menyampaikan kebenaran menggunakan cara ini,  tidak ada paksaan dalam beragama.  Apakah dengan begitu Muhammad rasulullah s.aw itu lemah hati atau meragukan kebenaran ?  Anda keliru besar.

Bagaimana Muhammad mampu dan bahkan menjadikan seorang Umar bin Khattab sebagai sahabatnya dalam menyampaikan kebenaran (monngo simak sejarahnya). Tentu Anda juga bisa simak bagaimana Muhammad rasulullah s.aw saat berhubungan dengan karakter dari sahabat  yang lainnya , seperti sayidina Ali yang dikenal cerdas, sayidina Usman dan syaidina Abu Bakar serta sahabat2  lainnya.

Bagi yang sudah bersyahadat, apakah Anda menjadikan Muhammad sebagai ultimate reference ? Monggo !!

Kesabaran.  Sabar itu bukan pasrah bongkokan, bukan juga nrimo ing pandum, bukan juga opo jare. Sikap2 itu : pasrah bongkokan lebih kepada kondisi powerless, nrimo ing pandum lebih kepada access less atau quota less, serta opo jare itu lebih dekat dengan hope less. Semua sikap2 ini hanya tepat jika direlasikan dengan al- Khalik, Yang Maha Segalanya.

Menurut seorang kyai di Jawa komitmen pada kebenaran dan berjuang dengan sungguh2 untuk mewujudkan kebenaran, itu perwujudan sikap sabar.  Allah itu menyukai orang2 yang sabar, Allah itu memuji kepada orang2 yang sabar, dan masih banyak lagi manfaat sabar.

Sabar dlm Bahasa JawaDalam bahasa pewayangan Jawa, sering kita dengar pesan kehidupan sbb : Sabar iku ing araning mustakaning laku jumbuh karo unine bebasan. Sabar iku kuncining swarga, ateges margining kamulyan. Sabar iku lire momot kuwat nandhang sakehing coba lan padhadharaning ngaurip, naming ora ateges gampang pepes kentek-an pengarep-arep. Suwalik-e malah kebak pengarep-arep lan kuwawa nampani apa bae kang gumelar ing salumah-e jagad iki.

[ Sabar dalam artian upaya yang diunggulkan dalam menjalani hidup,  terwujud dalam perilaku dan tutur kata. Sabar itu "password" masuk surga, yang juga memberikan akses pada kemulyaan hidup. Sabar itu tercermin dari kemampuan mengelola tugas/cobaan kehidupan yang besar dan gelar kehidupan yang terpapar di depannya/dihadapi, namun bukan berarti putus-asa/hilang pengharapan.  Adalah sebaliknya,  jiwamya penuh pengharapan (optimis) dan sedia menerima tugas kehidupan yang dihadirkan Allah di dunia ini.

Hal yang biasa ada di sebaliknya adalah sikap yang ngotot kepingin sesuatu dan hobi mengambili apa saja yang nampak terlihat di dunia ini (serakah, korup, tidak tahu batas, dsb) .

Rasulullah Muhammad banyak memberikan contoh2 bagaimana sabar itu dijabarkan dalam berbagai segi kehidupan.

Sabar itu perintah Allah.   Silakan simak di alkitab Qur’anul karim. Bagi yang ingin segera tahu, ini adalah cuplikannya (mohon dicross chek ulang ya).   QS.2: 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Masih banyak ayat yang memiliki pesan serupa ini ( simak di Qur’an).  Monggo !!

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Qur’an : Ali Imron : 200)

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qur’an : Al-Baqarah 177)

Apakah Anda yang sudah bersyahadat sudah minimal memahami makna sabar sebagaimana firman Allah dalam kitab  Qur’an ? Monggo !!!

Hots & Bengkel HatiMasa Kini. Teknik/cara para pendahulu dalam berdakwah begitu rupa. Kini juga ada yang melakukan dalam bentuk  HOTS (Hafidz On The Street ) yakni menjelaskan dan mengajak ummat sekarang bahwa menghafal Qur”an itu mudah, semudah berjalan di jalanan.  Ada yang Bengkel Qulbu Siraman Hati yang menjelaskan bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang itu bersumber dari qolbunya. Dan masih banyak lagi.

Kepandaian para pendakwah pendahulu itu (sekaligus bisa ditafsirkan sebagai menjadi kekuarangannya) adalah membiarkan apa yang disampaikan itu seolah berasal dan menjadi pemikiran masyarakat itu sendiri.

Perbedaan teknik/cara berdakwah adalah khasanah sekaligus nikmat. Yang mau menjadikan itu sebagai suatu hikmah atau pelajaran, monggo .

God”s Call. Tidak ada masa dulu dan masa kini dalam berdakwah, karena tugas dakwah itu menyampaikan kebenaran ditempat, waktu dan kondisi yang dijumpainya. Setiap yang paham, memiliki God”s call untuk itu.  Apakah berhasil ? semua diserahkan kepadaNYA.

Tentang apa yang dilakukan pak Jokowi apa ? saya tidak tau

Wallohu a”lam

Jika seseorang ( siapapun dia ), sedang menjalani gelar  Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, apakah salah atau benar ?

Monggo !!!

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top