Sekilas Info
Home | Inspirasi | TEKNIK LAMA + JAMAN BARU + PEMBAHARUAN = LEBAY?

TEKNIK LAMA + JAMAN BARU + PEMBAHARUAN = LEBAY?

Sehebat apapun nasionalisme yang digelorakan, kalau cara bersikapnya ego sentris, apalagi secara tidak sadar (karena terlena pujian asing) justru mengintimidasi anak atau saudaranya sendiri,  maka apa hasilnya ya ………..?  Anda lebih pandai mengisinya.  JASMERAH !!!!

Negri Anemia bisa belajar dari Indonesia. Di sejarah perjalanan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan, kita mengenal sosok pemimpin Soekarno (1945-1967), memperkenalkan jaman sebagai jaman revolusi. Kemudian Soeharto (1967-1998), memperkenalkan jaman sebagai jaman pembangunanKedua beliau ini memimpin untuk kurun yang relatip lama, dan mengalami pengakhiran masa kepemimpinan melalui proses yang Anda bisa simak sendiri di dokumen2 negara.

Kemudian memasuki masa yang dikenalkan sebagai jaman reformasi yang presidennya berganti secara relatip cepat seperti Habibie, Gus Dur dan Megawati. Barulah SBY memiliki masa kepemimpinan yang lebih lama dari ketiga beliau sebelumnya.

http://wingchunindonesia.com/indonesia-pernah-membuat-acara-olahraga-tandingan-olimpiade/

http://wingchunindonesia.com/indonesia-pernah-membuat-acara-olahraga-tandingan-olimpiade/

Pada jaman revolusi (jaman Soekarno), pengelolaan negri dengan memperkenalkan musuh bersama berupa come back-nya penjajah dan atau bentuk baru penjajahan (biasa dikenalkan ke rakyat dengan nekolim, yang kalau nggak salah kependekan dari Neo Kolonialism & Imperialism).

Rakyat yang baru menikmati suasana kehidupan berbangsa dan bernegara secara merdeka, berhasil dikelola energynya untuk membangun benteng hidup di seantero nusantara, terutama yang mendengar pidato2 bung Karno melalui radio atau membaca selebaran propaganda pemerintah yang disebarkan melalui pesawat udara atau helikopter.

Alat pemerintahan negara dalam mengelola rakyat yang berupa public education (termasuk propaganda, dsb) adalah radio, utamanya adalah RRI (Radio Republik Indonesia) – belum ada radio FM, karena radio AM saja belum ada. Menyadari falsafah “kekuatan sapu lidi” dan sebagai bangsa yang baru mewujudkan negri merdeka, bangsa ini menemukan momentum untuk menggalang kekuatan bersama dengan sesama negri2 yang juga baru merdeka.

Konperensi Asia-Afrika adalah momentum bersejarah, juga penyelenggaraan pertandingan persahabatan antar  warga dari negara2 yang baru merdeka – GaNeFo, lalu gedung Konperensi Asia-Afrika, gelanggang olahraga Senayan (kini namanya Gelora Bung Karno), dan Monas serta masjid Istiqlal adalah bagian dari upaya2 menunjukan ke dunia akan kemampuan bangsa ini.

Konsep operasional strategis di luar mempertahankan kemerdekaan – seperti konsep untuk mengisi kemerdekaan, sudah pula dibuat. Bagaimana pelaksanaannya ? bisa Anda pelajari sendiri.

Sebagian rakyat ada yang terkena propaganda lain sehingga ada gejolak pembrontakan disana-sini. Ada yang bersifat kedaerahan, ada juga yang berbau ideologi (silakan simak sendiri sejarah ini di dokumen negara). Cara penanganannya tentu saja dengan pendekatan militer, karena ini kedaulatan negara yang terancam, bukan keamanan sipil yang terganggu.

http://www.berdikarionline.com/editorial/20121025/bahasa-dan-bangsa.html

http://www.berdikarionline.com/editorial/
20121025/bahasa-dan-bangsa.html

Bersyukur, pendahulu dan pejuang/syuhada negri ini mewariskan nilai2 luhur ( eh …. jaman sekarang namanya “meninggalkan legacy”). Ada Soempah Pemoeda (Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – INDONESIA ). Ada Bhineka Tunggal Ika ( yang merefleksikan kesadaran penyatuan berbagai elemen ASLI Indonesia yang memang berbeda, namun meng-ika-kan diri sebagai SATU. Bukan elemen para migran yang mengusir atau meng-genosida penduduk ASLI. Mohon dicermati terkait ini).

Ada Pancasila yang memuat esensi nilai2 luhur mulai dari makro kosmis sampai ke mikro kosmis  (silakan simak juga sejarah ini di dokumen negara). Ada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang mudah2an dipelajari oleh para elit untuk dijabarkan, bukan dirubah2 karena merasa tidak sesuai dengan KEINGINANnya (silakan simak juga di dokumen negara). Dan….. masih banyak lagi……

Pada jaman Pembangunan (jaman Soeharto) pengelolaan negri dengan memperkenalkan musuh bersama berupa kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan sosial-ekonomi. Disini bangsa memiliki momentum untuk bersama-sama membangun sekolah sampai ke pelosok negri dengan “senajata” Inpres ( seperti SD Inpres, perbanyakan SMP Negri, SMA negri sampai Perguruan Tinggi Negri).

senjata jaman pembangunan“musuh bersama” lainnya adalah isu “demografi bomb” alias ledakan penduduk sehingga KB dan Puskemas menjadi senjata sekaligus infrastruktur untuk menjinakan bomb tersebut. “musuh bersama yang lainnya lagi” adalah busung lapar dan kemiskinan dimana “senjatanya” diramu dalam bentuk Insus (instruksi khusus) dan binmas (pembinaan masyarakat) dengan pembangunan irigasi besar-besaran dimana2 serta penyediaan bibit unggul pertanian dan peternakan bagi rakyat yang sedia (konon, dulu tidak semua orang sedia menerima bantuan pemerintah).

“Senjata” untuk memerangi keterbelakangan ekonomi, keterbelakangan pemahaman umum dalam kaitan dengan dunia luar dilakukan dengan listrik, televisi dan telpon. Dengan listrik masuk desa, maka peluang “jam melek” manusia Indonesia menjadi bertambah, dan dapat bermanfaat untuk hal-hal produktip (belajar atau mengerjakan PR untuk pelajar/mahasiswa misalnya, atau jam siaran RRI bertambah sehingga inseminasi konsep2 pembangunan bisa dilakukan lebih banyak), sampai untuk menerangi jalan (keamanan/kenyamanan/keindahan).

senjata jaman pembangunan 2“Senjata” televisi (dimulai dari TVRI Jakarta terus TVRI Daerah2), digunakan selain memberikan hiburan (tontonan)  juga digunakan sebagai tuntunan yakni untuk menyampaikan nilai baik (siaran ceramah keagamaan ) dan nilai2 produktip yg sejalan dengan kebutuhan dan jamannya ( klompencapir misalnya – Anda bisa simak sendiri terkait peran dan mnafaat klompencapir bagi pengelolaan enegry bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan secara umum ),  hal serupa dengan RRI sebagai media hiburan, dan tuntunan yang kondusif+konstruktip+positip+keatip  yang persuasip tanpa agitatip serta jauh dari materi fitnah memfitnah, intrik mengintrik, kultus mengkultus atau benci membenci.

“Senjata” Listrik dan Telepon digunakan untuk menjadi infrastruktur yang seolah mengamplifikasi aspek kehidupan apa yang berlangsung di sektor2 lain, dalam bahasa asing biasa disebut sebagai multiplier effect (katanya). Sementara pabrik semen yang juga dikembangkan, pabrik pupuk serta berbagai support system lain (di jaman itu), juga dikembangkan menjadikan semacam manfaat yang menggandakan secara ekponensiil pada upaya amplifikasi memajukan berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Industri strategis pada jaman itu ( PINDAD, PAL, NURTANIO, LAPAN, LEN, INKA, INTI,  dsb) menjadi value added bangsa ini ke dalam maupun ke luar negri.  Indonesia disegani kaena memang memiliki kesiapan dan kemampuan yang lebih dalam percaturan global maupun pengembangan kemampuan (entah mengapa sepertinya kok ada yang merontokan).

Begitu pun upaya mengkonsolidasi kekuatan regional dalam rangka menciptakan ketertiban dunia dan perbamaian abadi yang berdasar pada kemanusiaan yang adil dan beradab, serta adanya perubahan politik global (pergeseran blok barat blok timur) dilakukan melalui pembentukan ASEAN, OPEC, OKI, dsb dimana bangsa ini kembali menjadi dinamisator dan terkadang leader.  Upaya ini ini menyangatkan peran negara ini dalam konstelasi perpolitikan global.

presiden RI sd SBYJaman Reformasi (khususnya mulai dari Habibie sampai SBY).  Bangsa ini menemukan momentum tentang berbagai hal baru akibat pencapaian penurunan angka buta huruf dan peningkatkan level pendidikan, kesejahteraan, kesadaran akan hak-hak, kekuatan diri, dsb. ( dampak dari pengelolaan energy bangsa d jaman sebelumnya )

Tahapan ini merupakan akumulasi dari efek/manfaat lain dari semakin banyaknya kesempatan bersekolah –  SD Inpres sampai Penyebaran Perguruan Tinggi Negri/Swasta,  tingkat kesehatan yang membaik karena Puskesmas dan Keluarga Berencana yang sukses,  berat badan dan kekuatan otot dari rata2 manusia Indonesia yang semakin bagus akibat pertanian dan peternakan rakyat yang difasilitasi negara juga berkembang, pemahaman global yang juga meluas akibat listrik, televisi dan telepon yang semakin meningkat densitasnya. Dan sebagainya.

Momentum lain yang bisa dimanfaatkan (secara konstruktip maupun destruktip) adalah meleknya sebagian warga (terdidik) akan hak-haknya, terutama hak sebagai warga negara dan hak sebagai rakyat, sehingga menuntut tanggung jawab pengelola negara atas berbagai hal yang baru diketahuinya (mendapat momentum untuk menuntutnya). Entahlah bagaimana dan disini memang tidak menyorot bagaimana kesadaran akan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai rakyat.

Pengetahuan dan wawasan keilmuan (murni) terutama ilmu2 sosial, begitu cepatnya berkembang.  Radio2 asing menjadi rujukan oleh sebagian penduduk negri ini (terutama yang merasa bosan atau muak dengan materi siaran RRI. Entahlah muak karena apa, Anda mungkin lebih paham).  Tentu sah-sah saja jika radio negri asing itu menyiarkan materi menurut versinya dan sudah tentu seringkali berbeda dengan materi siaran RRI. Dan ini menarik, karena sebagian materi mengandung kebenaran sebagian lagi opini (terlepas dari apa motiv dibalik penyiaran materi itu).

http://klikharry.com/2014/01/16/korupsi-di-partai-demokrat-siapa-menyusul/

http://klikharry.com/2014/01/16/korupsi-di-partai-demokrat-siapa-menyusul/

Materi pembahasan publik secara sembunyi2 (waktu itu) yang mengandung hal-hal yang faktual adalah seputar KKN (Koupsi, Kolusi dan Nepotisme) di jaman Soeharto.  Pendekatan pengelolaan energy negara ini secara “diktaktor otoriter”. Konon kekayaan keluarga dan kroni Soeharto amat banyak, dan itu diindikasi sebagai hasil korupsi dan kolusi pada proyeks negara. Bener nggaknya, Anda lebih paham…….

Sebagian melihat bahwa kesadaran pencatatan dan kesediaan menuliskan secara benar yang belum menjadi bagian dari budaya bangsa ini, sehingga manipulasi berkembang secara negatip, sebagai biang munculnya KKN.

Bagi kelompok yang memang ditakdirkan serakah, maka kondisi budaya seperti ini merupakan peluang yang harus dipertahankan (untuk dan agar bisa KKN). Ssementara bagi yang bermoral bagus, memiliki kecintaan pada negri, sedia ikut bertanggung jawab menjaga kemakmuran negri (sekalipun secara perjuangan moral),  jaman pak Harto perlu dikoreksi dari sisi moral untuk tidak membiarkan pihak2 yang serakah untuk menguasai dan memanipulasi administrasi negara (antara lain dengan pembentukan KPK, MK, LSM asli ).

Kalau nggak keliru niteni, jaman reformasi itu muncul dari semangat ingin merapikan pengelolaan negara dengan memberantas KKN.  Hal ini diperkuat dan diingatkan dengan nyata oleh pak SBY dengan slogan “katakan tidak pada korupsi”.

Entahlah apakah jaman reformasi itu memang benar2 diimplementasikan  untuk memberantas KKN sebagimana tuntutan pada demo besar2an menjelang lengsernya pak Harto, atau sekedar permainan semacam “Go Back Through the Door” alias gobagsodor  atau malah ada yang memanfaatkannya sebagai momentum untuk melampiaskan balas dendam atau sekedar melampiaskan kebencian pada sosok yang dibenci oleh orang2  itu (entah apa sebabnya),   atau malahan……………. justru memeratakan KKN ?

Mana yang benar2 terwujud ? Anda tentu lebih paham dan memiliki data lengkap.

twitter sbyStrong & Weak Poin Reformasi di jaman pak SBY. Banyak hal positip dicapai bangsa ini di jaman reformasi  dan yang signifikan dikukuhkan di jaman pak SBY, antara lain (1) kebebasan berpendapat dan (2) kesediaan pemerintah dikritik habis. Dua hal ini sesuatu yang amat sulit dijumpai di jaman pak Harto.  Serta (3) komitmen pemberantasan korupsi.

Terkait dengan  kedaulatan negara,  khususnya aset negara yang strategis, di jaman pak SBY, sepertinya tidak (ada/banyak) melakukan penjualan aset negara, TNI sudah berhasil mereformasi pada segi2 tertentu, sudah semakin diperhatikan peran dan fasilitasnya setelah sempat (seolah) dipandang sebagai musuh oleh sebagian kalangan.

Namun terdapat juga “tradisi” yang berkembang di jaman reformasi yang menjadi weak poin dan patut dijaga untuk tidak terulang adalah (1) fakta (masih atau bahkan semakin) banyak korupsi yang dilakukan oleh pejabat dan keluarga serta kroninya di Pusat/Daerah dan (2) nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta terhadap produk dalam negri sekalipun (seperti krupuk, mie instan, tahu, tempe, dsb) seolah-olah “keok”.

Dengan kebebasan berpendapat, maka semua rakyat tidak merasa perlu takut untuk menyatakan kebenaran dan memperjuangkannya, meski berhadapan dengan pemerintah sekalipun. Di jaman seperti ini, pembungkaman pendapat berbeda tidak lagi dilakukan (koreksi total terhadap model pengelolaan di jaman pak Harto ).

Begitupun pembreidelan alias menutup akses publik atas media juga amat nyata TIDAK dilakukan pak SBY. Bahkan dengan adanya kemajuan teknologi dan sosial media, pak SBY juga tidak melakukan pembreidelan sekalipun atas media, situs atau akun yang mencerca pak SBY dan keluarganya atau memojokan pemerintah dalam kepemimpinannya. Anda tentu paham banyak penggiat “anti SBY” di media-sosial yang tidak dilakukan apapun oleh pak SBY dan tim serta keluarganya. Paling2 pak SBY merespons dengan caranya di media terkait atau media lainnya.(Ini pencapaian bangsa dalam kepemimpinan pak SBY yang patut diberikan acungan jempol – likes).

Komitmen pemberantasan korupsi dilakukan secara nyata melalui pembentukan KPK dan upaya menjaga independensinya, termasuk  sampai di jaman pak SBY (mudah2an ke depan dijaga terus independensi KPK, jangan masuk angin atau ikutan latah mode pencitraan ).

Fakta dimana besan pak SBY (Anda tahu siapa beliau) menjadi pesakitan KPK, Pengurus,  Bendaharan sampai Ketua Umum partai besutan pak SBY menjadi pesakitan dan juga menjadi bulan2an pemberitaan di media massa dan media sosial, adalah bukti nyata komitmen pemberantasa korpsi (mudah2an keberanian KPK dalam melakukan penegakan juga tetap berjalan netral dan tidak terbawa mode benci-membenci atau kultus-mengkuktus). Ini juga pencapaian bangsa ini d jaman pak SBY.

Korupsi secara bersama keluarga dan kroninya, bisa disimak diberbagai media atau pun daftar pejabat yang tertangkap KPK, mulai pejabat di Pusat sampai pejabat di Daerah, bahkan ada aktivis partai yang juga mampu secara sistemik mengambil uang negara/rakyat.

Hands Over = the New Tradition, but sedikit Lebay. Sebentar lagi pak Joko Widodo dan pak Jusuf Kalla akan dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia menggantikan pak SBY dan pak Boedono.

http://beta.diylol.com/posts/655309-jadi-kamu-membentak-orang-tuamu-bagus-sepertinya-kita-punya-malin-kundang-di-era-modern

http://beta.diylol.com/posts/655309-jadi-kamu-membentak-orang-tuamu-bagus-sepertinya-kita-punya-malin-kundang-di-era-modern

Entah dimulai jaman pak SBY atau sebelumnya, ada tradisi baru hands-over antara incumbent dengan successor. Tradisi baru ini bagus untuk perjalanan b angsa ke depan, namun ada nuansa sedikit lebay di bidang pengamanan. Sejak dari awal,  mind-set rakyat sudah di”kondisi” kan oleh media2 tertentu serta oleh opinion maker tertentu dimana seolah akan ada “sesuatu” yang membutuhkan pengamanan ekstra.

Ke-lebay-an show off terasa sejak media tertentu mengkondisikan mind-set publik sampai jajaran petugas dan alat pengamanan mempertontonkan “kesiapannya”. Konon untuk tahun 2014 ini, melibatkan “pasukan” dari sekitar  10 Polda ( ck ck ck …… ruarrrrr biasa).

Meski baik untuk kewaspadaan, namun jika lebay menjadi tidak bagus bagi pendidikan bangsa ke depan.

Belum lagi statement politisi dan pihak keamanan serta sebagian stasiun teve yang membangun kesan secara lebay (khususnya meninggikan “tensi publik” dengan cara membangun kesan akan ada sesuatu yang membahayakan (entah membahayakan siapa : negarakah  bangsa kah atau apa ? Anda lebih paham).

Entah sejak kapan hal itu dimulai atau siapa yang menginisiasi pelantikan dengan nuansa ekstra ketat, seolah negri ini akan diserbu “Belanda” atau malah justru (faktanya) adalah sebaliknya: sudah ada “Belanda”  di inner power ring yang takut sama rakyat Indonesia yang jeli melihatnya.

Hal yang tidak bagus untuk perjalanan ke depan adalah pihak pemenang pemilu seolah ingin membangun kesan atau memberi tahu ke publik (dengan “tuduhan” ) bahwa yang kalah pemilu itu “pihak amat jahat” akan mengacaukan negara, dsb.

Waspada sih boleh2 saja, namun jika ada terbesit niatan seperti itu (fitnah yang keji), maka sesungguhnya ini justru sifat yang amat jahat bagi saudara sebangsa- mirip kaum berkasta Ori Imitation @KW4 Inside (di aspek yg lain)..

Waspada dan Interospeksi Nasional. Sebagian kalangan terlena sehingga berpotensi terjadinya penurunan kewaspadaan terhadap (1) kemungkinan berpindahnya asset negara ke pihak asing dan (2) timbul ketidak sadaran bersama adanya “perlombaan senjata” antara petugas keamanan negara dengan petugas pengamanan masyarakat.

Ke-lebay-an itu bahkan cenderung mengaburkan kejernihan berbangsa dan menyuburkan syahwat ingin dipuji pihak asing. Seolah ingin memamerkan ke dunia bahwa “gua berani dan hebat lho” (hanya saja kok terhadap rakyatnya sendiri ya,  hebat itu kalau digunakan untuk mengayomi rakyat dengan menurunkan angka kriminalitas dan menaikkan tingkat rasa aman rakyat terhadap kejahatan. Itu baru HEBAT !).

Atau memang ada skenario “invisibkle” pihak tertentu (bisa saja pihak dalam negri atau asing atau aliansi keduanya) untuk membenturkan petugas2 negara yang kini nyaris sama2 bersenjata yang setara –  Naudzubillah.

Ada baiknya mencermati alias niteni lebih baik lagi. (kasus Cebongan, dan yang baru2 ini kasus Batam, sepertinya hanyalah letupan magma dari kebijakan yang perlu dievaluasi dengan sungguh2). Semua itu saudara2 kita, semua itu digaji dengan uang kita, semua itu dibeli dengan uang kita, uang rakyat, uang APBN.

Sekedar remind atau refleksi , pernah ada kejadian mempersenjatai secara berlebih sesuatu yang tidak semestinya (tidak dipsenjatai)  dengan alasan tertentu,  agak nya perlu dievaluasi (pernah terjadi di jaman doeloe). JASMERAH !!!.

demokrasi web colse Pihak Lain Siap Tepuk Sorai LOL. Silakan saja amati perilaku elit politik, media atau opnion maker, atau bahkan pejabat2  tertentu yang seolah justru “mentakdirkan dirinya menjadi babu pihak antah berantah, namun justru kejam pada anak2 dan saudara2 sendiri. bukan dialog atau musyawarah”, ada juga ada kesan beraliansi dengan pihak luar untuk memanfaatkan ini bagi kepentingannya (pujian, harta, status, akses, dsb dengan alasan soal negara atau soal bangsa dsb dsb. Na’udzubillah).

Apakah fenomenon2 di atas sama benar atau tidak ? Anda yang lebih paham tentunya.

Sebaiknya sih dipikir lagi,  Semua duduk bersma untuk mereview dengan berkaca diri, bukan niru bangsa lain yang memang punya maksud tertentu ( wajar saja kok pihak asing begitu, karena mereka punya versted interest. Kitanya yg harus waspada dan memiliki kejelasan dalam berpihak : kepada negara mana ? kepada  bangsa apa ? serta kepada rakyat atau sponsor ?).

Hindari atau tepatnya, jangan suka bertengkar (kisruh politik, memecah belah lembaga DPR, partai, dsb sampai “fenomena” kasus Cebongan, Batam jilid I, Batam jilid II ). Malu kan kalau sampai dilihat dunia malah terkesan Indonesia sedang disandra sama manusi2 yang suka bikin “to LOL”.

Kalau memang pernah/ada kebijakan yang keliru, maka wajar saja dirubah. Perubahan itu harus sifatnya improve, bukan untuk mengulang kekeliruan di masa kemarin2 (kalau ada dan kalau inget ).

Monggo.

Anemia dan Indonesia, Bhineka Tunggal Ika. Anemia, negri yang sedang mencoba ilmu impor bernama demokrasi. Suatu ilmu yang konon berhasil sukses diterapkan di negri yang multi kultur, banyak ras, banyak kepentingan.

Anemia mirip Indonesia dan agak mirip negri multi kukltur/multi ras.  Anemia elitnya lebay, Indonesia elitnya bijak, sedang multiras lain elitnya rasional.

Soal sejarah kebhinekaan, Anemia lebih mirip dengan Indonesia, negara ini dibentuk oleh para tokoh (sultan, raja, kepala suku, tetua adat, dsb) dari penduduk Asli, penduduk pendatang ada yang berasal dari jaman penjajahan.  Anemia juga pernah dijajah bangsa lain dalam waktu yang berabad-abad.

Berbeda dengan negri yang juga multikultural dimana penduduk aslinya ( konon ) nyaris musnah dan entah berperan entah tidak. Penduduk negri didominasi oleh kaum pendatang/migran dan berbagai benua. Anehnya tidak merasa menjajah atau minimal berhutang budi karena “boleh merampas hak atas tanah leluhur”.  Suku aslinya sering kita saksikan dalam beberapa film  (sebagian digambarkan sebagai suku yang begitulah, katanya suka makan orang, suka membunuh orang asing, dsb.  Entah yang sebenarnya bagaimana – Anda mungkin lebih tahu).

Pemimpin Anemia : Dulu Mengayomi, Kini Hangapusi. Pendaduhu dan elit2 negri Anemia memiliki kepercayaan diri, memiliki dan memegang teguh identitas bangsanya,  memperjuangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya,  melakukan pergaulan dunia (politik global) untuk perdamaian abadi dan keadilan sosial secara bebas dan aktip.

http://dielasunan-diela.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

http://dielasunan-diela.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

Sementara, para pengganti dan elit2 negri Anemia di jaman sos-med ini selain banyak yang lebay, juga hobi suka pencitraan, suka bohong, demen nglimpeake alias membuat aksi menarik dan berbalik haluan saat publik sedang terkesima, hobinya membayar lembaga survei untuk tujuan ngapusi rakyat Anemia, mengatakan ke Utara padahal sedang berjalan ke arah Selatan (rujak sentul), dsb.

Pemimpin Anemia bukan menyampaikan visi dan gagasan untuk kemajuan Anemia, namun lebih mempopulerkan hobi menggunakan jurus2 memelas (kalau di Indonesia mungkin disebut sebagai carmuk ke rakyat ). Sebelum, saat berlangsung dan sesudah proses carmuk, meminta lembaga rating untuk memantau dan mengevaluasi posisinya serta meminta agar semakin populer lagi. Caranya terserah lembaga rating atau sekondan yang akan disuruhnya atau disuruh oleh “invisible hands”

Beberapa bentuk hobi pemimpin Anemia seperti mempertontonkan video bagaimana ada sekelompok orang sedang berlatih memanah gambar dirinya yang memberikan pesan publik ke rakyat Anemia bahwa dirinya patut dikasihani karena terdholimi dan  dalam bahaya.

Ada juga yang menceritakan ke publik bahwa dinding rumah dan mobilnya dipasang alat penyadap oleh orang yang ingin memata-matainya. Ada juga yang suka membangun kesan bahwa perjalanan karir kepemimpinannya akan dijegal dan dihadang oleh sekelompok manusia2 jahat. Semua mengesankan bahwa si pemimpin ingin dikasihani dan pihak lain itu jahat lho.

Pengamat Anemia ada yang jeli mengamatinya membuat kesimpulan bahwa pemimpin2 Anemia itu kurang ilmunya dalam meniru pemimpin2 Indonesia terdahulu ( bung Karno dan pak Harto) dalam mengelola energy rakyatnya.

Bung Karno dan pak Harto itu orientasi pengelolaan energy rakyatnya adalah untuk dalam negri (menjaga kedaulatan, ketahanan, kekuatan, kemakmuran kesejahteraan negara dan bangsanya) dan menciptakan “musuh virtual” secara tepat untuk dan dalan rangka semata bagi bangsa dan negaranya.

Semantara pemimpin dan elit Anemia entah apa orientasinya, namun “musuh virtual” yang diciptakannya dimanfaatkan untuk menjadikan dirinya terkensan terdzolimi atau minimal terancam atau akan dijegal dan menuduh serta merta bahwa pihak lain (padahal saudara sendiri lho) itu jahat bin kejam bin sadis -pokoknya agar terkesan terancam dan terdzolimi( ck…. ck ”” ck ”” hebat apa jahat kalau begini. Jahat itu tidak harus bringasan, dan yang bringasan belum tentu jahat lho. Pokoknya gitu deh !!!).

Namun perjalanan kehidupan berbangsa ini telah sampai pada  rakyat semakin muak dengan upaya yang lebih kepada pencitraan dan kebohongan bersalut kejujuran dan kesahajaan ( seolah sederhana, seolah hidupnya simple).

Kyai Mursyid berpesan bahwa orang yang pandai itu adalah orang yang mampu menyederhanakan hal2 yang rumit.  Jadi  kalau ada hal kecil lalu dibesar-besarkan itu artinya apa ?  sampeyan ngerti dewe ta?. Terkait bagaimana hukum alam atau sunnatullah dari moral buruk, jika kita ambil dari kearifan tutur budaya Jawa, maka ingatlah “becik ketitik, ala ketara”.

Pak Karno, pak Harto, pak Habibie, Gus Dur, bu Mega, dan pak SBY serta juga pak Jokowi itu manusia biasa yang tentu saja punya kekurangan disamping kelebihannya. Kita tidak boleh membencinya dan jangan pula mengkultuskannya. Cukuplah berterima kasih atas jasa-jasanya serta mohonkan ampun atas kesalahan dan kekeliruannya, semoga diampuni dosa2nya. Bagi yang masih hidup, doakan semoga semakin bertamnbah keimanannya, semakin nyata ketaqwaannya, semakin bersih hatinya, jernih pikirannya, mulia akhlaknya, dan semakin bijak dalam menghantarkan rakyat INDONESIA untuk selamat aman damai sejahtera sentosa dunia akhirat.

Kita tidak selayaknya memujui2 orang yang belum bekerja dan hasilnya juga nggak jelas. Nanti kalau sudah purnabhakti  seperti bung Karno, pak Harto, pak Habibie, Gus Dur, bu Mega dan pak SBY, ya silakan saja lakukan pujian yang proporsional dan faktual, asal pujian itu hanya se level pujian manusia terhadap manusia (karena yang se-BENAR2-nya patut dipuji hanyalah ALLAH).

Kalau tidak suka jangalah membencinya, kalau suka janganlah membabi-buta menyanjungnya (apalagi mengkultuskan seolah tanpa cela. Beliau2 adalah juga manusia seperti kita semua yang punya kekuarang dan kelebihan).

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, selamat bekerja untuk pak Joko Widodo dan pak Jusuf Kalla, serta terima kasih untuk kepemimpinan pak Susilo Bambang Yudhoyono dan pak Boediono.  Juga kepada tradisi baru dari pak Prabowo dan jajaran koalisi Merah Putih, selamat membangun bangsa untuk menjadi lebih baik lagi.  JASMERAH !!!!

Jika sekiranya diantara pembaca ada yang ingin menambahkan ucapan, itu bagus2 saja dan ……………… silakan kepada langsung kepada beliau-beliau hehehe ….. pis brosis !!!.

Begitu apa begitu ya ?

Ya Emangbegitu.

Scroll To Top