Sekilas Info
Home | Menjalani Kehidupan | “TERIMAKASIH”, Daeng Tiro Sosok Yang Inspiratip

“TERIMAKASIH”, Daeng Tiro Sosok Yang Inspiratip

Investasi Tanpa Modal uang. Mau ? …. amat mudah caranya amat ringan cicilannya. Silakan simak prosedurnya. 

Slow Down dulu. Pada umumnya, kata syukur biasa diarahkan ke al-Khalik, sementara kata syukron (berterima kasih)  biasa diarahkan ke sesama mahluk/manusia.  Keduanya merefleksikan ungkapan dari sikap bathin menerima dengan sukacita pemberian/ni’mat yang diterimanya.   Ada yang dilanjutkan dengan lisan (kata2) dan atau sikap dzohir atau perilaku atau gestur. Soal bagaimana kehidupan ini akan bertumbuh ? mudah2an kisah inspiratip ini membuka hati kita untuk berhikmah. Itulah sekelumit konsep investasi tanpa uang.

Kalau mau merujuk konsep investasi ini (manfaat syukur/syukron) bisa diambil dari kitab suci antara lain pada ayat ini : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

INSPIRASI PAKET BUKU.

http://lissarankin.com/how-to-be-less-sperm-more-egg-martha-becks-4-technologies-of-magic-part-4

http://lissarankin.com/how-to-be-less-sperm-more-egg-martha-becks-4-technologies-of-magic-part-4

Pada tahun 1945, sesudah perang dunia kedua selesai, kebanyakan orang Jerman kekurangan makanan. Maklum, Jerman kalah perang melawan sekutu. Pada waktu itu seorang Yesuit tua mendapat kiriman satu lusin telur, tanpa nama pengirim (mungkin kalau di sekitar kita biasa dikenal dengan istilah pengirimnya “hamba Allah”).

Dengan penuh kegembiraan ia mengirim surat ucapan terimakasih kepada orang yang ia sangka sebagai pengirim telor.

Salah sangka ! Ternyata orang yang dikirimi ucapan terimakasih itu bukan orang yang mengirimi telur. Dan sudah barang tentu orang yang mendapat surat terimakasih itu langsung mengirim satu lusin telor. Sekarang pastor tua itu harus berpikir lagi : Siapa yang (sebenarnya) mengirim telor ?

Dia menerka dan mengirim ucapan terima kasih pada orang lain lagi. Salah lagi ! Begitu kejadian itu berulang-ulang, sehingga terkumpul berlusin-lusin telor. Setelah lusinan telor berdatangan karena dia  berterima kasih pada orang yang salah, akhirnya dia menyerah. Malu,  kapok dan berhenti mengirim surat ucapan terimakasih.

Jangan berhenti berterimakasih pada Allah dan pada manusia. Ungkapan dari sikap bathin yang berterima kasih itu penting bagi perkembangan relasi pribadi yang menyenangkan bagi kedua belah pihak.

Ungkapan lain yang sering kita dengar,“Dont worry, be happy”, itu tidak cukup. Ungkapan itu seolah tentang sesuatu atau keadaan yang kurang disukai atau negatif, atau kejadian worst case yang out of control.

Sebaliknya, semakin kita merasakan dan menikmati hadiah dari Tuhan [yang biasanya lewat manusia], semakin kita mempunyai alasan untuk tiap saat senyum bahagia.

[disadur dari tulisan  Zahnweh SJ dari bukunya  “Hidup Itu Indah”]

INSPIRASI PAKET TV.SCTV.

Bahwa, benarllah apa yang kita yakini, barang siapa bersyukur, Tuhan akan menambah nikmatNya.  Berterimakasih kepada orang lain adalah wujud rasa syukur pula, tidak aneh jika Tuhan menambah nikmatNya atas orang tersebut, meskipun terimakasihnya yang tulus itu salah sasaran/salah alamat –  seperti dalam cerita diatas.

Gambaran Orang Yang Sulit Bersyukur, Enggan Berterima Kasih. Selain orang yang sedia dan suka berterima kasih, ada juga orang-orang yang sangat berat mengucapkan terimakasih, padahal ucapan itu nggak perlu bayar loh.

undin hansp pencari TuhanLihat saja si Udin, hansip yang ada dalam sinetron Para Pencari Tuhan di SCTV. Si Udin itu sering digodain oleh pak Jalal,  karena berat benar lidah si Udin ini mengucapkan terimakasih. Dia lebih senang mengucapkan  kalimat yang panjang-panjang untuk mengelak dari mengucapkan kata terimakasih.

Apa sih susahnya mengucapkan terimakasih ?

Nggak ada!

Energi yang diperlukan juga nggak seberapa.

Sementara, baru beberapa detik ia (si Udin) diberi hadiah oleh seorang dermawan, energynya malah dihabiskan untuk hal-hal yang menjauh dari peradaban orang2 yang berbudaya alias tahu sopan santun. Ia lebih menyukai “kalkulasi” egonya, gengsinya, dsb.

Padahal jika dikalkulasi, jumlah energy untuk mengucap kata terima kasih (boleh syukron, boleh matur nuwun, boleh hatur nuhun, boleh muliate,  boleh thank you, dsb) , jauh lebih lebih hemat (less energy) ketimbang mengucapkan rentetan alasan, atau rangkaian  kata2 nyinyir, dsb.

Mengapa si Udin berat mengucapkan terimakasih ? Mungkin karena dia tidak merasa menerima sesuatu dari pak Jalal, menurut pikirannya, donasi yang diterimanya dari pak Jalal setiap bulan itu sudah kewajiban pak Jalal sebagai orang kaya kepada dirinya. Atau ada rasa kesombongan yang tersimpan di dalam hati si Udin, atau ada rasa ngiri di dalam hati si Udin, atau rasa gengsi dalam hati si Udin, dan serupa itu lainnya.

Hati orang2 seperti si Udin tadi,  disibukkan oleh “seharusnya-seharusnya yang dia tuntut dari orang lain” sampai lupa dengan keharusan yang menjadi tanggung jawabnya sendiri, yaitu berterimakasih.  Mungkin perilakunya yang tidak bersyukur itulah yang membuat hidupnya tidak beranjak dari menjadi seorang hansip loyo yang selalu mengeluh dan mengeluh dan mengeluh dan mengeluh.

INSPIRASI PAKET LINGKUNGAN

daeng TiroRealita di Sekitarku. Sama-sama hansip, di tempat tinggalku ada hansip tua namanya Daeng Tiro, orang Makasar. Orangnya kecil mungil dan sudah tua pula, kami memanggilnya pak Tiro.  Nek didelok dari potongane ngono, gak pantes  dadi hansip, diajak gelut karo maling yo mesthi kalahe.  Namun dia punya kelebihan dari hansip  lain , sehingga kehidupannya juga bisa lebih baik dari hansip-hansip sejawatnya. Pak Tiro,  orang yang  pandai bersyukur.

Pada umumnya hansip, akan berjaga mulai jam sebelas malam sampai subuh. Namun pak Tiro tidak sebatas itu, dia “emnyumbangdirinya” untuk teruskan berjaga hingga jam sembilan atau jam sepuluh. Dia pernah bilang jam-jam setelah subuh hingga waktunya orang berangkat kantor, itu rawan dengan pencurian kendaraan.

Jika dalam tugas  ekstranya itu dia melihat ada orang yang mencurigakan, dia datangi orang tersebut.  Ditanya-tanya dengan sopan, :” Apa ada yang bisa saya bantu?  Bapak dari mana? Sedang nunggu siapa ? Atau sedang mencari siapa ? Boleh saya antar? “. Yaaaahh . . pokoknya dideketin terus, ditempel terus dan ditanya-tanya terus sampai orang yang mencurigakan tersebut  risih dan pergi sendiri.

Cara yang cerdas untuk menjaga lingkungan, nggak perlu adu otot yang memang dia tak memilikinya. Sehingga lingkungan kami relatif aman.

Jika teman-teman hansip yang lain begitu mendengar adzan subuh langsung bubar, bagi hansip ini sebagai pertanda jam pulang tugas jaga, namun tidak demikian untuk pak Tiro.

Dia tetap bisa mengingat Allah, dia teruskan jaga sampai jam sembilan pagi sambil nyapu sepanjang  jalan dilingkungan kami.

Sehingga sepanjang jalan Melati Dalam dan jalan Jeruk selalu bersih jika pak Tiro lagi jaga.

Pemilik rumah yang merasa senang karena jalan didepan rumahnya jadi bersih, tiap bulan memberi tip sendiri pada pak Tiro. Gaji dobel donk, kadang dari tip-tip ini dia  bisa mengumpulkan uang lebih besar dari gaji bulanannya yang memang nggak seberapa. Dan ucapan alhamdulillah ringan terdengar dari mulutnya.

Jika lebaran tiba, setiap malam ada saja orang entah dari mana datang naik motor atau mobil yang mencari pak Tiro, untuk memberikan bingkisan lebaran padanya. Selain itu dia orang yang tidak malu mengungkapkan terimakasihnya, dikasih apapun oleh siapapun selalu dengan riang dan ringan mengungkapkan terimakasihnya.  Ucapan terimakasihnya itu terdengar sampai dalam rumahku jika malam begitu sepi. Tentu saja yang memberi menjadi senang pula hatinya, dan lebaran-lebaran berikutnya nama pak Tiro tetap dalam daftar orang yang diberi hadiah lebaran.

Pada lebaran tahun 2005,  pak Tiro dapat ngumpulin hadiah-hadiah lebaran itu hingga tujuh juta rupiah. Sangat luar biasa bukan ? Karena gajinya sendiri sebagai hansip (saat itu – tahn 2005) hanyalah 200 ribu per bulan.

Doanya Dikabulkan. Di sela2 tugas jaganya, terkadang ia menyampaikan “pikirannya” bahwa ia bangga sebagai hansip, namun ia juga ingin anak keturunannya lebih baik darinya.

Tugas sebagai hansip dilakukan dengan ikhlas, dan profesional namun humanis. Nggak heranlah jika  dua orang anaknya bisa kuliah di Universitas Siliwangi, memilih menjadi guru  dan ngajar di sekolah Islam. Salah seorang darinya baru-baru ini dapat angkatan pegawai negeri.  Itulah yang kulihat dari pak Tiro, seorang hansip yang mau memberi service lebih dari sekedar tugas pokoknya.

http://yantwant.blogspot.com/2012/02/guru-tanpa-tanda-jasa.html

http://yantwant.blogspot.com/2012/02/
guru-tanpa-tanda-jasa.html

Dan dia bersyukur atas apapun yang Tuhan berikan dan berterima kasih pada manusia dengan hati ringan.

Sekarang pak Tiro sudah tidak menjadi hansip lagi, anak-anaknya melarangnya. Sebagian besar warga di lingkunganku, aku dan warga sekitar merasa begitu kehilangan seorang hansip yang  kecil mungil namun mampu memberi kami perasaan tentram. Terakhir dia silaturahmi dengan warga diantar oleh menantunya, dengan menenteng handphone pula. Katanya itu handphone dibelikan oleh menantunya, agar mudah dihubungi.

Demikian cerita yang dapat aku tuliskan, cerita yang mampu membuatku bertanya pada diri sendiri.

Sudahkah aku berterima kasih pada Ibu dan Bapakku ? Sudahkan aku berterima kasih pada suamiku ? Sudahkan aku berterima kasih pada saudara-saudaraku ? oh Tuhan,  sudahkan aku bersyukur atas kehidupanku ini ?  Dengan tulisan ini aku berharap bisa menyebarluaskan apa yang aku pelajari tersebut. Semoga ada manfaatnya.

Syukur/berterima kasih adalah investasi termudah dan GRATIS !!!

Jum’at Kliwon 13 Maret 2009.

by : Binti Samuri

 

Scroll To Top